"Mereka menambah dua orang di sisi belakang rumah," lapor Vince dari ambang pintu. Ia bersandar pada kusen dengan bahu lebar yang hampir menutup lorong, bekas luka melintang di alis kirinya tampak lebih putih di bawah lampu klinik. "Saya mengawasi rumah itu dari seberang jalan, dan sebelum penjaga ditambah ada seseorang berdiri di seberang pagar belakang, menatap jendela kamar tamu. Orang itu Sean."
Jessy tidak menoleh. Ia duduk di kursi periksa dengan punggung tegak, dagu terangkat, dan menatap pantulan dirinya di cermin oval di dinding seberang. Perban terakhir masih melingkar di sekitar telinga kirinya. "Kau yang menyuruhnya ke sana?"
"Bukan, Nona. Dia datang sendiri. Dua malam berturut-turut, dan sekali dia sempat mendekati pagar, lalu mundur lagi. Sejak penjaga ditambah dia belum kelihatan."
"Mereka tidak akan menangkapnya," kata Jessy. "Pria kurus yang berdiri diam terlihat seperti orang malang, bukan ancaman."
"Mau saya usir dia, Nona?"
"Jangan." Jessy mengatakannya dengan nada yang membuat Vince mengerjap. "Pria yang mengintai karena gelisah jauh lebih meyakinkan daripada pria yang kusuruh mengintai. Biarkan saja dia."
Dokter Sloane Mercer masuk membawa nampan logam berisi gunting kecil dan kapas. Ia perempuan jangkung berusia empat puluhan dengan rambut ditarik ke belakang dan wajah yang tak pernah menunjukkan perasaan apa pun. Ia mengangguk singkat pada Vince, yang langsung memahami isyarat itu dan menutup pintu dari luar.
"Duduk tegak, Nona. Jangan bicara sampai selesai."
Gunting itu bergerak sepanjang garis rambut di balik telinga. Jessy merasakan lilitan kain mengendur, lalu terlepas, lalu udara sejuk menyentuh kulit yang selama enam hari terkurung. Ia memejamkan mata sampai Sloane berkata, "Sudah."
Ia membukanya.
Perempuan di cermin itu menatapnya balik. Pipinya masih sedikit bengkak, dan ada kebiruan samar di bawah mata kiri. Tetapi garis hidungnya, lengkung alis, dan sudut bibir yang naik tipis di sebelah kanan semuanya adalah milik orang lain. Milik perempuan di foto-foto yang ia simpan di laci kamar hotel.
"Delapan hari lagi bengkaknya hilang," ujar Sloane sambil menempelkan plester tipis di balik telinga. "Jangan menyentuh sayatannya. Jangan terkena matahari langsung. Dan jangan terlalu banyak tersenyum, ototnya masih belajar."
"Aku bahkan belum tersenyum."
"Itu bagus." Sloane mengemas nampannya. "Pembayaran akhir saya terima malam ini. Setelah itu, saya tidak pernah mengenal Anda."
"Aku tidak keberatan."
"Satu hal lagi." Sloane berhenti di pintu. "Matanya. Nona Alexa kebiruan, Anda cokelat. Lensa kontak itu bukan bagian dari pekerjaan saya, jadi urus sendiri. Dan jangan memakainya lebih dari sepuluh jam."
"Aku sudah memesannya."
"Tentu saja sudah."
Sloane keluar tanpa menoleh. Jessy duduk lama di depan cermin, memiringkan kepala ke kiri, ke kanan, mencoba tersenyum seperti yang ia lihat di rekaman: sudut bibir naik pelan, kelopak mata sedikit turun. Pertama terlalu lebar. Kedua terlalu tegang. Ketiga hampir. Di ponselnya ada video pendek yang direkam diam-diam oleh Vince dari seberang jalan: Alexa keluar dari gedung kantor, menunduk berterima kasih pada satpam, lalu tertawa pada sesuatu yang dikatakan perempuan di sampingnya. Jessy memutar potongan itu berulang-ulang, mengucapkan kalimat-kalimat pendek yang terbaca dari gerak bibirnya, mencocokkan nada. Suara Alexa lebih rendah dari yang ia kira, dengan ujung kalimat yang selalu naik sedikit seolah meminta izin. Ia membenci kebiasaan itu dan memaksa tenggorokannya menirunya.
Ia mengambil kertas dari meja dan menandatangani sebuah nama dengan huruf A yang melingkar besar di awal. Tanda tangan itu bukan miliknya. Ia sudah menirunya empat ratus kali.
Ponselnya bergetar di meja. Nama di layar membuatnya menegang: Mama. Panggilan itu masuk untuk kesebelas kali hari ini. Ia membiarkannya mati sendiri, lalu membuka pesan suara yang tertinggal di bawahnya dan menyalakan pengeras suara hanya setengah.
"Jess, ini Mama." Suara Julie terdengar parau, seperti orang yang menangis tanpa air mata. "Mama tidak tahu kamu di mana. Penagih datang lagi ke rumah tadi pagi, dan Mama bilang ada waktu tiga puluh hari. Mereka bilang itu kebaikan hati orang lain. Pulanglah, Nak. Kita cari jalan. Mama tidak peduli soal Nick, tidak peduli soal apa pun. Pulang saja."
Jessy menekan hapus sebelum pesan itu selesai. Tangannya tidak gemetar. Ia hanya diam lebih lama dari yang diperlukan, memandangi layar yang kembali gelap, dan membiarkan satu-satunya kalimat yang tidak ia tahu cara menjawabnya menguap dari ruangan.
Pintu terbuka lagi. Vince masuk membawa map cokelat dan duduk di kursi seberang tanpa diminta.
"Tas saya disita waktu lari dari gang itu," katanya. "Isinya sudah diamankan keluarga Carter. Tapi itu tidak mengubah apa pun. Fotonya cuma foto. Catatannya cuma catatan. Rencananya tetap jalan."
"Apa yang kau bawa?"
"Soal Sean." Vince membuka map. "Saya lihat dia mengintai bar itu tiga hari sebelum Nona minta saya cari. Saya ikuti sampai kontrakannya. Ternyata dia menunggak pada seorang rentenir. Jumlahnya tidak besar bagi Nona, tapi besar bagi dia."
"Lalu?"
"Saya bayar lunas sesuai perintah. Dia diberi tahu bahwa ada seseorang yang mau mempekerjakannya untuk menjaga seseorang di rumah di luar kota. Dia belum tahu siapa orangnya. Dia tidak bertanya, karena memang tidak punya pilihan."
"Dan dia tidak tahu itu Alexa."
"Tidak. Saya sudah bilang jangan sampai dia tahu dari saya." Vince menutup map. "Saya juga sudah menyewa rumah kayu di tepi hutan Epping. Tidak ada tetangga dalam jarak dua mil. Kuncinya di kantong saya."
Jessy menyentuh pipi kirinya dengan ujung jari. "Dari mana uang untuk rentenir itu?"
"Dari perhiasan dan tas Nona yang dijual lewat orang kepercayaan saya. Semuanya habis dalam dua minggu."
"Aku tahu." Mata Jessy sempat berkilat. Tas-tas itu dulu dipamerkannya di depan teman-temannya, satu per satu, dan sekarang tidak ada satu pun yang tersisa di lemari ibunya. Ia mengenyahkan pikiran itu. "Hanya itu?"
"Ada satu lagi. Pelayan baru di bar Aaron sudah dibayar. Namanya tidak penting. Dia mengirim kabar tadi sore: ada rencana pesta lajang kecil malam sebelum pernikahan, di bar itu, tanpa alkohol."
Jessy tertawa. Suaranya pelan dan kering. "Tanpa alkohol. Perempuan itu benar-benar hidup menurut aturan."
"Nona mau saya melakukan apa dengan kabar itu?"
"Tidak sekarang." Jessy memutar tubuh menghadapnya. "Penagihan utang keluargaku ditunda tiga puluh hari. Perempuan itu sendiri yang memintanya, karena dia terlalu baik untuk melihat orang tenggelam di depan matanya. Aku berterima kasih untuk tiga puluh hari itu. Aku akan memakainya sampai bengkak ini hilang."
Vince berdiri. "Ada lagi, Nona?"
"Ponsel."
Vince menyerahkan ponsel dari saku jaketnya. Jessy membuka galeri, menggulir sampai menemukan foto yang ia cari: tangan Alexa di tepi danau, jari manis terangkat, berlian biru berkilau di bawah matahari yang hampir tenggelam. Ia memperbesar gambar itu sampai batas piksel.
"Jariku akan muat," ujarnya.
Vince tidak menjawab. Ia sudah terlalu lama bekerja untuk orang-orang kaya untuk tahu kapan harus diam.
Setelah pintu menutup, Jessy menatap cermin sekali lagi. Perempuan di dalamnya balas menatap dengan mata yang bukan matanya. Ia menarik napas, menurunkan bahu, melembutkan rahang, dan membiarkan suaranya turun satu tingkat sampai terdengar hangat seperti orang yang baru bangun dan menemukan seseorang yang disayanginya di sisi tempat tidur.
"Selamat pagi, Hubby," katanya.
Ia mendengar suara itu menggema di ruangan sempit, jernih dan sempurna, dan tertawa pelan.