Hari terakhir di Galaxi dimulai dengan kardus terakhir Alexa, yang tidak berisi apa-apa selain sebuah pot kaktus kecil, dua pulpen yang tintanya hampir habis, dan bingkai foto kosong yang entah kenapa tak pernah ia isi. Ia meletakkannya di atas meja, memandangi ruangan yang sekian lama ia tempati, lalu menarik napas panjang.
"Nona Alexa."
Merry berdiri di ambang pintu dengan kotak pipih berpita biru di kedua tangannya. Di belakangnya, hampir seluruh staf lantai tujuh berjajar di koridor, berpura-pura sibuk dengan berkas dan cangkir kopi, padahal semuanya jelas sedang menunggu.
"Merry, aku sudah bilang jangan repot."
"Ini bukan repot, Nona. Ini patungan." Merry mengulurkan kotak itu. "Tanpa seorang pun yang boleh menolak."
Alexa membuka pita dan menemukan syal sutra berwarna biru pucat, selembut kabut pagi, dengan pinggiran yang dijahit tangan. Ia menyentuh kainnya dengan ujung jari. Seseorang di koridor berdeham, dan beberapa orang tertawa gugup.
"Kami memilih warna yang sama dengan cincin Nona," kata Merry cepat-cepat. "Kata Tuan Dave, biru itu paling dekat."
"Dave ikut?"
"Dia membayar separuhnya diam-diam. Kami tahu karena kuitansinya mampir ke meja akunting." Merry menahan senyum. "Dia bilang jangan bilang Nona."
Alexa tertawa, lalu tertawa lebih keras ketika air matanya mulai turun. Satu per satu staf masuk dan memeluknya: seorang staf keuangan, seorang staf yang selalu salah mengeja namanya, pria tua di bagian arsip yang tidak pernah bicara kecuali tentang cuaca. Ketika pelukan terakhir selesai, sebuah suara dari ujung koridor membuat semuanya menoleh.
"Saya diizinkan masuk?"
Jack Rodwell berdiri dengan nampan berisi gelas-gelas tinggi berisi cairan keemasan. Ia mengenakan setelan abu gelap dan senyum yang tidak sepenuhnya mencapai matanya. "Sari apel berkarbonasi. Saya diberi tahu tidak boleh ada yang lain."
"Siapa yang memberi tahu?" tanya Alexa sambil mengusap pipi.
"Tuan Dave. Lewat dua telepon dan satu pesan teks." Jack membagikan gelas kepada staf, lalu menyodorkan gelas terakhir pada Alexa. "Selama kamu di sini, Alexa. Saya tidak pernah menemukan sekretaris yang lebih teliti dan lebih jarang mengeluh. Saya akan rugi besar."
"Tuan Jack terlalu baik."
"Saya sedang berusaha." Ia mengangkat gelasnya. "Untuk Alexa. Semoga setiap pagi menjadi pagi yang baik, walau pagi itu harus dimulai dari awal."
Alexa terdiam sepersekian detik. Jack tahu tentang kalimat itu dari Nick, mungkin dari Dave, tetapi caranya mengucapkannya begitu hati-hati hingga tak menyisakan ruang untuk dikasihani. Ia mengangkat gelasnya.
"Terima kasih, Tuan Jack."
Gelas-gelas berdenting, dan ruangan itu penuh dengan tawa yang terdengar sedikit terlalu keras.
***
Sore itu, setelah semua orang kembali ke mejanya, Merry menemukan Alexa di pantry kecil di ujung lorong, berdiri memegang syal sutra dengan dua tangan. Ia menutup pintu di belakangnya.
"Nona."
"Aku baik-baik saja, Mer."
"Saya tidak bertanya apakah Nona baik-baik saja." Merry bersandar di meja kecil. "Saya mau bertanya, kalau Nona tidak marah. Apakah Nona takut? Menikahi pria yang..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Alexa memutar syal itu perlahan di jarinya. Di luar jendela kecil pantry, awan menggantung rendah di atas atap-atap gedung. "Takut sekali," katanya akhirnya. "Aku takut pada pagi hari. Pada detik pertama ketika dia membuka mata dan tidak tahu aku siapa. Tetapi..." Ia menggeleng. "Aku lebih takut tidak menikahinya. Itu rasa takut yang berbeda. Yang itu lebih besar."
Merry mengangguk lama. "Ibu saya selalu bilang, orang yang berani mencintai sesuatu yang bisa hilang itu lebih berani daripada orang yang tidak pernah mencintai apa-apa."
"Ibumu bijak."
"Ibu saya galak." Merry tersenyum. "Tetapi dia bilang rumahnya selalu terbuka untuk Nona, kapan saja, kalau Nona butuh tempat bersembunyi, tempat menangis, atau tempat makan sup bayam yang rasanya hambar. Saya menyampaikan ini atas perintahnya, dan saya tidak berani bilang tidak."
Alexa memeluknya erat, lama, dan Merry yang biasanya kaku membalasnya dengan canggung.
"Terima kasih, Mer. Dan sampaikan terima kasihku pada ibumu."
"Nona akan menyampaikannya sendiri. Dia pasti memaksa Nona datang."
***
Dave mengantar Alexa pulang dengan mobil kedua, bukan mobil biasa. Ia menyetir sendiri, pelan, dengan mata yang lebih sering melirik kaca spion daripada jalan di depan. Alexa memangku kardus berisi kaktus kecil dan menunggu. Ia sudah mengenal Dave cukup lama untuk tahu kapan pria itu sedang menyusun kalimat.
"Nona," kata Dave akhirnya. "Saya mau jujur."
"Silakan."
"Saya tidak percaya pada Zurich."
Alexa menoleh. Dave tidak menatapnya, tetapi rahangnya mengeras. "Tuan Carter yakin. Pihak maskapai membenarkan, kamera bandara membenarkan, ibunya membenarkan. Saya tahu semua alasan untuk percaya, Nona, dan saya tetap tidak bisa."
"Karena semuanya cocok."
"Karena semuanya cocok," ia mengulang. "Dan ada hal lain. Dua hari lalu, penyedia bunga pernikahan mendadak diganti. Pihak hotel bilang yang lama mundur karena urusan keluarga dan pengganti sudah ditunjuk. Saya sudah bertanya dua kali. Dua-duanya dijawab dengan lancar dan tidak ada yang bisa saya bantah."
"Itu bisa saja kebetulan."
"Bisa." Dave berhenti di lampu merah. "Karena itu sebelum hari pernikahan saya sendiri yang akan memeriksa gudang penyedia bunga yang lama. Saya tidak akan menakut-nakuti Nona. Saya hanya minta Nona tidak sendirian, dan kalau ada hal kecil yang terasa aneh, saya ingin tahu."
"Janji." Alexa menunduk menatap kaktus di pangkuannya. "Dave, soal pria di gerbang belakang. Apa dia masih datang?"
"Dua malam ini tidak, Nona. Sejak penjaga bertambah, dia seperti mencium sesuatu." Dave menggeleng sedikit. "Orang yang tahu kapan harus mundur biasanya bukan orang yang putus asa. Itu juga mengganggu saya."
"Aku tidak mau jadi orang yang melihat hantu di mana-mana."
"Nona tidak sedang melihat hantu. Nona hanya sedang berhati-hati." Ia menyempatkan menoleh sebentar. "Dan Tuan Nick butuh itu. Orang yang mengingatnya tiap pagi harus orang yang tidak mudah dibohongi."
Lampu berubah hijau. Dave menginjak gas pelan-pelan. "Terima kasih, Nona."
***
Malam itu, ketika rumah sudah sunyi, lampu di kamar Nick masih menyala. Ia duduk di meja kerja kecil, kemejanya digulung sampai siku, dan di hadapannya terhampar selembar kertas bergaris yang sudah dicoret tiga kali. Surat paginya sudah selesai dan dilipat rapi di dalam Kotak Pagi. Yang ini bukan surat.
Kepalanya sudah jauh lebih jernih sejak kemarin. Harlan meminta ia istirahat, tetapi Nick tahu ada satu hal yang tidak bisa menunggu sampai kepalanya benar-benar sembuh. Ia menulis kalimat pertama, membacanya, lalu mencoretnya. Ia menulis lagi.
Janji pernikahan.
Dua kata itu saja yang tertinggal di kertas, ditulis miring ke kanan, dengan pulpen yang ia tekan terlalu dalam. Di bawahnya ia mulai menulis sesuatu yang lain, baris demi baris, berhenti, menghela napas, dan melanjutkan.
Terdengar langkah di koridor. Nick menoleh ke pintu, lalu cepat-cepat membalik kertas itu dan menyelipkannya ke laci kedua meja, di bawah buku catatan dan kartu nama lama. Ia memutar kunci kecil di laci itu dua kali. Saat pintu dibuka sedikit, ia sudah kembali memegang pulpen di atas surat paginya.
"Belum tidur?" tanya Alexa dari ambang pintu. Rambutnya terurai, dan di tangannya ada secangkir cokelat hangat.
"Sebentar lagi."
"Menulis apa?"
"Kamu." Nick tersenyum tanpa merasa bohong sedikit pun. "Supaya besok aku tahu persis siapa kamu."
Alexa meletakkan cangkir di mejanya dan mencium puncak kepalanya. Setelah pintu menutup, Nick menunggu sampai langkahnya hilang sebelum membuka laci kedua lagi. Ia menarik keluar kertas tadi, menatap dua kata di atasnya, dan menambahkan satu baris kecil di sisi surat paginya.
Ada janji di laci kedua. Jangan dibaca siapa pun sebelum hari itu.