Halaman suratnya pagi itu penuh coretan kecil di pinggir, pertanda seseorang membacanya berulang-ulang. Nick berdiri di depan cermin sambil mengancingkan kemeja, telunjuknya menelusuri satu baris tulisan tangannya sendiri: Hari gladi. Waktu aku tertidur, Alexa membisikkan kalimat pagi di telingaku. Katanya supaya aku mengenalinya dalam mimpi.
"Kamu berhasil," ujarnya ketika Alexa masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Aku tidak ingat mimpiku, tetapi surat ini bilang tiga hari lalu aku tidur dengan senyum. Dave mengamati dan mencatatnya."
"Dave mencatat senyummu?"
"Dave mencatat segalanya." Nick tersenyum. "Selamat pagi, Alexa."
"Selamat pagi, Mr. Anterograde," bisiknya, dan seperti biasa tangan Nick bergetar sedikit di bahunya, lalu mereda. Mereka duduk berdampingan di tepi ranjang, tanpa bicara, sampai langkah Dave terdengar di koridor, ritmenya agak lebih tegas dari biasanya.
Malam itu Dave memang berangkat sesuai rencana.
Gudang penyedia bunga terletak di pinggiran kota, di antara pabrik-pabrik kecil yang sudah tutup dan lapangan parkir kosong. Dave memarkir mobilnya di bawah lampu jalan yang berkedip, sementara mobil kedua, berisi dua orang suruhan Carter, berhenti dua puluh meter di belakangnya. Ia mengetuk pintu seng yang setengah terbuka dan masuk tanpa menunggu jawaban.
Pemilik gudang adalah pria gemuk bercelemek lusuh, tangannya masih basah oleh air batang mawar. Ia berdiri menatap Dave dengan mata yang tidak yakin harus takut atau marah.
"Pesanan keluarga Carter sudah dibatalkan, Tuan. Saya sudah menyerahkan semuanya ke penyedia lain lewat manajer hotel."
"Saya tahu. Saya ke sini bukan untuk menagih." Dave menyodorkan secarik kartu. "Saya ingin tahu kenapa Anda membatalkannya."
"Urusan keluarga."
"Anda tidak punya urusan keluarga. Saya sudah memeriksa dua kali." Dave berkata datar. "Siapa yang membayar Anda?"
Pria itu menelan ludah. Dari balik rak bunga yang menjulang, kipas pendingin berdengung, mengisi keheningan dengan suara kosong. Akhirnya bahunya merosot.
"Saya tidak tahu namanya. Sumpah demi ibu saya. Seorang pria datang sembilan hari lalu, bertopi, wajahnya menunduk terus. Ia menawar dua kali lipat dari bayaran keluarga Carter, tunai, di tempat. Ia bilang saya harus mundur dengan alasan apa saja, karena ada pihak yang tidak mau bunga dari gudang saya dipakai." Ia mengusap keningnya. "Anak saya sakit, Tuan. Biayanya mahal."
"Pria itu bicara dengan logat apa?"
"London. Biasa saja, tak ada yang aneh."
"Ada tanda di wajahnya? Bekas luka, tato, apa pun?"
"Topinya turun sampai ke alis. Saya tidak melihat." Pria itu menggeleng. "Tuan, saya tidak tahu mereka mau berbuat apa. Saya cuma ingin anak saya sembuh."
Dave menaruh amplop kecil berisi uang di atas meja kayu. "Untuk obat anak Anda. Jangan bilang pada siapa pun saya ke sini."
Ia keluar dengan perasaan seperti membawa pulang teka-teki yang kehilangan setengah kepingannya.
Dalam perjalanan pulang, jalan makin sepi. Dave menyetir dengan satu tangan, memutar siaran radio hanya untuk mengusir sunyi. Di kaca spion, lampu mobil kedua mengikuti dari jarak cukup jauh, kadang terlihat, kadang hilang di tikungan.
Jembatan baja tua itu muncul di depan, menyeberangi sungai kecil dengan tikungan tajam di ujungnya. Dave memperlambat laju. Dari balik tikungan, tanpa lampu, tanpa bunyi klakson, sebuah truk besar meluncur keluar dan membelok ke arah mobilnya.
Ia membanting setir ke kiri. Sisi truk menghantam bagian belakang kanan mobil, dan dunia berputar. Logam menjerit, kaca pecah, lalu tubuhnya terbanting ke pintu sebelum mobil itu menabrak pagar jembatan dan terhenti miring dengan roda berputar di udara.
Hal terakhir yang ia lihat sebelum gelap adalah lampu belakang truk itu menyala, merah, jauh di ujung jembatan, lalu padam.
Dua puluh detik kemudian, mobil kedua berhenti dengan rem berdecit di tepi jalan. Dua pria melompat keluar, yang satu langsung berlari ke arah pagar jembatan dan yang lain menyorotkan senter ke jurang kecil di bawahnya. "Dia di dalam!" teriak yang pertama. "Panggil ambulans! Dan lapor Tuan Carter, sekarang!"
***
Ruang tunggu rumah sakit itu berbau antiseptik dan kopi basi. Nick duduk di kursi plastik dengan siku bertumpu di lutut, sementara Alexa berdiri di sampingnya dengan tangan menyilang di dada. Carter berdiri di depan jendela, punggungnya membelakangi mereka, sama sekali tidak bergerak sejak mereka tiba.
Seorang dokter keluar dari pintu ganda dan mengatakan Dave sadar. Tulang rusuknya retak, lengan kirinya patah, dan ada luka di pelipis yang tidak dalam. Ia boleh dijenguk sebentar.
Dave terbaring dengan wajah pucat, sebagian kepalanya diperban. Matanya terbuka sebelum mereka sampai ke sisi ranjang.
"Tuan Nick," katanya serak. "Tuan Carter."
"Diam dulu," kata Nick. "Jangan bicara."
"Saya harus." Dave menelan ludah. "Truk itu menunggu mobil saya. Bukan kebetulan. Lampunya dimatikan. Ia keluar tepat saat saya lewat." Matanya beralih ke Carter. "Tunda pernikahan, Tuan."
Ruangan itu hening sampai suara mesin pemantau jantung terdengar jelas.
"Tidak," kata Carter.
"Tuan..."
"Aku tidak akan menunda apa pun." Carter berbalik. Wajahnya keras tetapi suaranya terkendali. "Kalau aku menunda, mereka menang. Kalau mereka tahu aku takut, mereka akan datang lebih berani. Pernikahan berjalan sesuai jadwal." Ia menarik napas pendek. "Aku menambah penjaga. Kepala pengawal akan memimpin sampai kau berdiri lagi."
"Mereka mengincar saya dulu karena saya yang mencurigai mereka," ujar Dave lemah. "Berikutnya bukan saya."
"Mungkin." Carter tidak berkedip. "Dan aku sudah menyiapkan itu."
Nick maju satu langkah, meletakkan tangan di bahu Dave yang tidak diperban. "Cepat sembuh. Aku butuh kamu tiap pagi."
Dave menatapnya lama. Matanya berkilat sekejap sebelum ia memejamkan mata. "Baik, Tuan."
Di koridor, Alexa bersandar di dinding dengan kedua tangan memeluk lengannya sendiri. Nick berdiri di depannya, tidak menyentuhnya, hanya menunggu.
"Jangan bilang apa-apa," katanya pelan. "Aku mau memikirkannya dulu."
"Aku yang bicara." Nick menggeleng. "Besok malam pesta lajangmu. Kita bisa membatalkannya. Tak seorang pun akan menyalahkan."
"Siapa yang akan bahagia kalau kita membatalkannya?"
Nick terdiam.
"Mereka akan." Alexa mengangkat dagu. "Siapa pun mereka. Mereka ingin aku bersembunyi di kamar tamu, mengunci jendela, menunggu hari pernikahan seperti orang di rumah yang terbakar. Aku tidak mau, Nick. Aku tidak mau hidup bersembunyi."
"Dave nyaris mati."
"Dan karena itu aku harus berhenti hidup?" Suaranya bergetar, tapi tidak mundur. "Aku akan menikahimu dalam dua hari. Aku mau satu malam normal dengan sahabat-sahabatku sebelum itu. Satu malam saja."
Carter muncul di ujung koridor dan berhenti beberapa langkah dari mereka. Ia sudah mendengar semuanya. Ekspresinya tidak berubah, tetapi sorot matanya melembut sepersekian detik.
"Di mana?" tanyanya.
"Bar Aaron, Dad."
"Bar itu tutup untuk umum malam itu. Semua pintu dijaga. Hanya nama yang kuperiksa sendiri boleh ada di daftar." Carter menatap Nick. "Dan kau tidak boleh pergi."
"Aku tidak diundang," kata Nick datar. "Itu pesta lajang."
Carter mengangkat satu alis, tampak ingin tersenyum tetapi menahannya. "Baiklah. Satu malam."
"Terima kasih, Dad."
"Jangan berterima kasih. Pulang dan tidur." Carter berbalik, lalu berhenti. "Alexa. Kamu benar soal tidak bersembunyi. Aku yang terlambat belajar itu."
Ia pergi sebelum Alexa sempat menjawab. Nick menatap punggung ayahnya sampai hilang di tikungan koridor, lalu menoleh pada Alexa dengan senyum yang lelah.
"Besok pagi aku tidak akan ingat Dave terluka," katanya. "Tolong, jangan sampai aku bangun dan bertanya kenapa dia tidak membawakan kopiku. Tulislah di suratku dengan huruf besar."
"Aku tidak boleh menulis di suratmu. Itu aturanmu sendiri."
"Kalau begitu bangunkan aku lebih awal." Nick menggenggam tangannya. "Dan katakan langsung. Aku lebih percaya pada suaramu daripada tulisanku sendiri."