Kursi berlengan di dekat jendela kamar Nick berderit pelan, dan bunyi itu cukup untuk membangunkannya. Langit di luar masih abu-abu. Alexa duduk di kursi itu dengan kaki tertekuk dan selimut tipis di bahu, jelas belum tidur, dan di pangkuannya ada cangkir cokelat yang sudah dingin.
Alexa meletakkan cangkir, berjalan ke sisi tempat tidur, menunduk, dan membisikkan kalimat paginya. Nick tidak langsung bangun, tetapi tangannya bergerak mencari tangan Alexa di atas selimut, dan menemukannya dengan tepat.
"Kamu menepati janji," gumamnya, suaranya masih serak. "Lebih awal."
"Aku bilang akan memberi tahumu langsung." Alexa menarik napas. "Dave terluka kemarin malam. Truk memaksa mobilnya keluar di dekat jembatan. Tulang rusuk dan lengan kirinya patah. Dia sadar dan sudah bicara. Dad menambah penjaga."
Nick terdiam. Alexa melihat kata-kata itu masuk dan menetap. Rahangnya mengeras, dan matanya yang masih menyisakan kantuk menjadi sangat jernih.
"Dave," ulangnya. "Dia bilang apa?"
"Tunda pernikahan. Dad menolak."
"Dan kamu?"
"Aku tidak menunda apa pun." Alexa tersenyum tipis. "Tapi aku menginginkan satu hal malam ini. Pesta kecil di bar Aaron, dengan Stefani dan Merry. Dad sudah setuju."
Nick membuka lipatan surat paginya dengan tangan yang lain, membaca dua baris, lalu menyimpannya kembali. "Pergilah. Aku akan menunggu di rumah dengan tangan terikat dan pelayan membawakan kopi yang hambar." Ia mengusap punggung tangan Alexa dengan ibu jarinya. "Telepon aku. Sekali saja, supaya aku dengar tawamu."
"Aku telepon."
"Janji?"
"Janji."
Sepanjang siang rumah Carter terasa seperti kapal yang menahan napas. Menjelang malam, Alexa berangkat dengan mobil hitam yang dikawal dua mobil lain. Tiga penjaga berpakaian biasa duduk di depannya, dan sepanjang jalan tak seorang pun dari mereka berbicara.
***
Bar Aaron malam itu tidak seperti bar mana pun. Lampu-lampunya digantung lebih rendah, meja-meja digeser ke tepi, dan di tengah ruangan terhampar taplak kotak-kotak merah-putih dengan piring besar keripik kentang. Aaron berdiri di belakang konter dengan topi karton berbentuk kerucut, wajahnya merah karena malu dan tawa. Di sampingnya, seorang pelayan muda berompi hitam menata gelas dengan gerakan cekatan. Pengawal Carter sudah memeriksa dokumennya sore tadi dan tidak menemukan apa-apa.
"Aku dipaksa Stefani," katanya lebih dulu.
"Dia dipaksa dan dia bahagia," sahut Stefani dari kursi tinggi, mengenakan topi karton yang sama dengan pita merah muda. Di sampingnya, Merry duduk kaku dengan topi yang tersangkut miring di atas rambutnya yang rapi.
"Aku belum pernah memakai ini," bisik Merry.
"Itu masalah semua orang, Mer." Alexa tertawa dan mengambil topi dari tangan Stefani. "Ayo, kita foto dulu sebelum topimu jatuh."
Stefani merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak kecil. "Sebelum lupa. Something borrowed." Ia membuka kotak itu dan memperlihatkan gelang perak tipis dengan liontin bintang. "Ini punya nenekku. Kamu pinjam sampai besok malam, lalu kamu kembalikan. Kalau tidak, aku tuntut."
"Kamu tidak punya alasan hukum."
"Aku punya alasan sahabat. Itu cukup bagiku."
Alexa memakai gelang itu dan memutar liontinnya di pergelangan sambil menahan haru. Mereka berempat bersulang dengan jus jeruk yang dituang ke gelas kaki tinggi, dan denting kaca terdengar lebih jernih daripada di pesta mana pun yang pernah ia hadiri.
Di luar, tiga pengawal Carter berdiri di depan pintu, dua lagi di sudut jalan, dan satu di gang belakang dekat pintu dapur. Aaron sudah menutup tirai jendela. Hanya tawa dan musik pelan yang bocor ke trotoar.
"Tuan Jack titip salam," kata Merry sambil mengambil keripik dengan dua jari, seperti takut mengotori sarung tangan yang tidak ia pakai. "Beliau bilang Nona tidak perlu membalas. Katanya cukup bahagia saja."
"Dia bilang begitu?"
"Dengan wajah seperti sedang mengucapkan sumpah jabatan."
Alexa tertawa, lalu melirik Aaron. "Dia masih datang? Maksudku, orang yang kamu ceritakan."
"Tiga hari terakhir tidak." Aaron mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. "Temannya Dave juga sudah ditarik. Kupikir dia tahu kita sedang diawasi."
"Atau dia memang sudah mundur," kata Stefani. "Orang yang pergi tiga tahun biasanya tahu cara pergi lagi."
Alexa tidak menjawab. Ia memutar liontin di gelang barunya, lalu mengambil sepotong keripik dan mengunyahnya pelan-pelan, seolah ingin menelan kalimat Stefani sekalian.
"Kue lemon," Aaron mengumumkan, membawa piring dari dapur. "Resep ibumu. Aku tidak berani mengubah apa pun."
Alexa menatap kue itu lama sebelum mencicipi. Rasanya asam, manis, sedikit gosong di tepinya, persis seperti yang ia ingat dari dapur kecil di rumahnya dulu. Ia menutup mata sejenak.
"Enak sekali," ujarnya. "Terima kasih, Aaron."
"Jangan menangis dulu, besok masih ada pesta yang jauh lebih besar." Stefani menyodorkan ponsel Alexa. "Telepon calon suamimu. Aku mendengar dia sudah menunggu dari tadi."
Alexa mencari nama Nick, menekan, dan menempelkan ponsel ke telinga. Suara Nick menjawab pada dering pertama.
"Kamu tertawa?" tanyanya tanpa salam.
"Aku sedang memakai topi karton," kata Alexa, dan tawa pecah dari dadanya. Dari seberang sana terdengar Nick ikut tertawa, tawa yang rendah dan lega, dan untuk beberapa detik ia lupa pada truk, pada kartu di makam, pada semua yang menggantung di atas hari-hari terakhirnya.
"Bagus," ujar Nick. "Itu yang ingin kudengar. Jangan tutup dulu. Aku mau mendengar sampai habis."
Dari arah dapur terdengar bunyi nyaring menusuk, sirene alarm kebakaran yang meraung di seluruh bangunan. Asap tipis kelabu mengalir dari celah pintu dapur, bergulung rendah di lantai.
"Kebakaran!" teriak seseorang.
Pintu depan terbuka, dan dua pengawal menyerbu masuk. "Semua keluar lewat depan! Cepat, jangan berhenti!"
Stefani menarik Merry berdiri. Aaron berlari ke dapur dengan lap basah menutupi hidungnya. Di tengah kekacauan, seorang pelayan muda berompi, yang sejak sore mondar-mandir membawa nampan, menyambar lengan Alexa.
"Nona, lewat sini! Itu jalur evakuasi! Pengawal sudah menunggu di belakang!"
"Nick, aku akan..." Alexa menurunkan ponsel dari telinganya, mencoba melihat melalui asap. "Aku telepon lagi nanti!"
Ia mengikuti pelayan itu melewati lorong sempit di samping dapur. Lampu darurat berkedip hijau, dan bau terbakar menyengat. Pintu besi di ujung lorong terbuka ke gang belakang yang gelap dan lembap. Ia melangkah keluar, napasnya terengah.
Pengawal yang tadi berjaga di gang sedang duduk bersandar di tembok, kepalanya terkulai, gelas kopi plastik menggelinding di dekat kakinya. Hanya sebuah van putih dengan pintu geser yang sudah terbuka, dan dua pria berdiri di sampingnya. Salah satunya bertubuh besar, dan di bawah lampu gang, bekas luka melintang di alis kirinya tampak pucat.
"Itu dia," ujar si pelayan, dan mundur ke dalam bayang-bayang.
Alexa berbalik hendak berlari. Tangan besar menangkap lengannya.
"Lepaskan!"
"Alexa!" Suara Stefani pecah dari pintu besi, memanggil dan menjerit sekaligus. Ia berlari ke arah gang, rambutnya berantakan, topi karton tersangkut di bahunya. "Lepaskan dia! Tolong!"
Pria kedua melangkah ke samping dan mengayunkan tinjunya. Stefani jatuh tanpa suara, kepalanya membentur aspal basah, dan tidak bergerak.
"Stefani!" Alexa meronta sekuat tenaga. Sebuah kain basah dengan bau tajam menutup hidung dan mulutnya. Kakinya melemas, gang itu miring, dan lampu-lampu berputar menjadi garis-garis kabur. Ia sempat melihat wajah Aaron muncul di ambang pintu dapur, matanya membelalak, mulutnya terbuka tanpa suara.
Jari-jarinya yang terkulai dipegang seseorang. Cincin biru itu ditarik pelan dari jari manisnya.
"Masukkan," kata si pria bertubuh besar. Pintu van menggeser menutup.
"Ke mana?" tanya sopir.
Vince naik ke kursi depan dan membanting pintunya. "Langsung ke Epping."
Van itu melaju, dan gang kembali sunyi, kecuali jerit alarm yang masih meraung dan topi karton yang menggelinding pelan di atas aspal.