"Alexa?" Nick menekan ponsel lebih rapat ke telinganya. "Alexa, kamu masih di sana?"
Di seberang hanya terdengar raungan alarm, desis, dan bunyi sesuatu yang terjatuh. Lalu sambungan terputus. Ia menatap layar yang kembali menampilkan foto mereka berdua di tepi danau, menekan nama Alexa sekali lagi, dan tidak ada nada sambung sama sekali.
Ruang tamu rumah Carter malam itu hanya diterangi satu lampu baca. Nick berdiri di tengah ruangan, kemeja tergulung, surat paginya masih terselip di saku celana. Ia menelepon lagi. Mati. Lagi. Mati.
Ponsel di tangannya bergetar. Bukan Alexa, melainkan Aaron. Suara bartender itu pecah sebelum Nick sempat mengucapkan salam.
"Tuan Nick. Alexa dibawa. Ada kebakaran kecil di dapur, asapnya palsu, dan pelayan baru itu... dia membawa Alexa lewat pintu belakang. Aku lihat dari dapur. Ada van putih. Dua pria. Satu bertubuh besar, ada garis di alisnya."
"Alexa di mana sekarang?"
"Aku tidak tahu. Mereka pergi. Stefani terkena pukulan, dia pingsan, sekarang di dalam ambulans. Pengawal yang berjaga di gang belakang ditemukan pingsan di tembok." Napas Aaron terengah. "Maaf. Maaf, Tuan. Aku seharusnya..."
"Aaron." Nick memotongnya, suaranya aneh, datar dan jernih. "Kirim semua yang kamu lihat ke Carter. Sekarang."
Ia menutup telepon. Di ambang pintu, Carter berdiri dengan ponsel di tangan dan wajah yang sudah lebih dulu tahu. Di belakangnya, Angelica menutup mulut dengan kedua tangan.
"Dad."
"Aku sudah mendengar." Carter melangkah masuk, dan setiap langkahnya terdengar seperti palu. "Alexa diculik dari bar yang kujaga dengan sembilan orang. Dalam satu malam, di bawah hidung mereka."
"Dad, siapa..."
"Jessy."
Carter menyebut nama itu dengan suara keras. Nick menatap ayahnya. Ia tidak mengingat wajah Jessy; yang ia punya hanya tulisan di suratnya dan cerita yang dibacakan Dave. Tetapi tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada ingatan: napasnya tertahan, tinjunya mengepal.
"Jessy di Swiss," bisik Angelica. "Julie bilang..."
"Julie bilang apa yang dikatakan putrinya padanya." Carter sudah menekan nomor lain. "Gerakkan semua orang. Semua. Aku mau setiap jalan keluar London diperiksa, setiap van putih dilacak, setiap rumah sewaan di pinggir kota dibuka. Aku tidak peduli siapa yang terbangun."
"Aku ikut mencari," kata Nick.
"Kau tinggal." Carter menatapnya tanpa berkedip. "Ke mana pun dia pulang, dia akan mencarimu lebih dulu. Dan aku tidak mau kehilangan dua orang dalam satu malam."
"Dia tidak pulang, Dad. Dia diculik."
"Kalau begitu kau tetap di sini supaya ada yang kutemui di kepalaku saat aku membongkar kota ini," kata Carter, lebih pelan. "Duduklah, Nick. Tolong."
Nick tidak duduk. Tetapi ia tidak lagi membantah.
Selama satu jam berikutnya rumah itu berubah menjadi markas. Pengawal keluar-masuk, telepon berdering terus-menerus, peta kota dibentangkan di meja makan. Angelica duduk di sofa memeluk bantal, wajahnya basah. Nick tidak duduk sama sekali.
***
Di ranjang rumah sakit, Dave menolak obat penenang. Perawat yang menunggui tempat tidurnya sudah dua kali menyuruhnya berbaring, dan dua kali pula ia mengabaikannya. Lengan kirinya sudah dibalut, rusuknya dililit kencang, tetapi tangan kanannya menggenggam ponsel seperti senjata.
"Andrew," ujarnya pelan. "Pinjam dua orang dari kantor keamanan RX. Periksa kamera lalu lintas di sekitar bar dari pukul delapan sampai sekarang. Cari van putih, pelat apa pun, arah apa pun. Jangan peduli izin."
"Baik, Tuan Dave."
"Hubungi juga Tuan Jack." Dave memejamkan mata sebentar karena denyut di rusuknya. "Minta orang Galaxi menelepon rumah sakit dan klinik pribadi di luar London. Cari yang menerima pasien perempuan malam ini dengan bius ringan."
"Tuan, Anda sendiri yang harus istirahat."
"Aku akan istirahat setelah Nona Alexa pulang." Dave membuka mata. "Dan Andrew. Kalau ada yang menelepon minta tebusan, aku mau tahu detik itu juga."
Pintu kamar terbuka, dan seorang perawat memasukkan kepala. "Tuan Dave, jam besuk sudah lewat."
"Aku bukan sedang menerima tamu," katanya tenang. "Aku sedang bekerja. Tutup pintunya, tolong."
Telepon berdering dua kali dalam satu jam, tetapi bukan dari penculik. Carter menelepon untuk menanyakan hal yang sama. Tidak ada tebusan. Tidak ada permintaan apa pun. Dave menatap langit-langit lama setelah panggilan itu selesai, dan alisnya berkerut dalam.
***
Menjelang tengah malam, tidak ada kabar lain. Nick duduk di tepi sofa panjang, menolak pelukan Angelica, menolak teh yang disodorkan pelayan, menolak untuk naik ke kamar. Surat paginya tergeletak terbuka di meja. Ia menulis di halaman kosong dengan huruf besar-besar: ALEXA DICULIK. JESSY. TUNGGU.
Ia membaca tiga kalimat itu berkali-kali, bukan untuk esok pagi, melainkan agar tangannya tidak gemetar. Beberapa kali ingatannya tersandung: ia lupa kenapa Carter berdiri di jendela, lupa kapan Angelica menangis. Tetapi ia menulis lagi, mengingatkan dirinya sendiri, dan menolak tidur.
Angelica akhirnya duduk di sampingnya, dan untuk sesaat keduanya hanya diam. Jam dinding berdetak keras di ruangan yang terlalu sunyi.
"Mommy takut," ujar Angelica lirih. "Mommy takut kamu menyalahkan diri."
"Aku tidak ingat apa yang terjadi kemarin, Mom. Tetapi aku ingat Alexa menelepon dan tertawa." Nick menatap kertas di pangkuannya. "Kalau aku menyalahkan diriku, aku akan lupa itu besok. Karena itu aku tidak mau menyalahkan siapa pun sebelum dia pulang."
Angelica menyentuh pipinya. Nick tidak menoleh, tetapi ia membiarkan tangan itu tinggal.
Pukul tiga dini hari, interkom di dinding berbunyi.
"Tuan Carter," suara penjaga gerbang terdengar tegang. "Ada seseorang di gerbang depan. Perempuan. Sendirian. Ia berjalan terhuyung ke arah kami."
Seluruh ruangan membeku. Carter menyambar interkom. "Siapa?"
"Gaunnya robek, Tuan. Rambutnya kusut. Wajahnya..." Penjaga itu terdiam sebentar. "Tuan, ini Nona Alexa."
Nick sudah berlari sebelum kalimat itu selesai. Ia menerobos pintu depan, melewati teras, menuruni undakan batu tanpa alas kaki. Udara dini hari menusuk, tetapi ia tidak merasakannya. Di ujung jalan masuk, di bawah lampu gerbang yang berkedip pucat, seorang perempuan berdiri bersandar pada tiang besi, satu tangan memegang gerbang, satu tangan lagi menutupi perutnya.
Gaun pestanya sobek di bagian bahu. Pergelangan tangannya penuh memar kebiruan. Pipi kirinya bengkak dan rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah, tetapi garis dagu, lengkung alis, dan sudut bibirnya adalah wajah yang ia hafal dari foto di Kotak Pagi.
"Nick," bisik perempuan itu, nyaris tak terdengar. "Maaf. Aku... mereka..."
"Jangan bicara. Nanti saja."
Gerbang terbuka. Nick menjangkaunya dan merangkul tubuh yang gemetar itu begitu erat hingga ia sendiri kesulitan bernapas. Ia membenamkan wajah di rambutnya yang bau asap dan tanah basah.
"Kamu di sini," bisiknya terus-menerus. "Kamu di sini. Aku di sini. Kamu aman."
Di belakangnya, Angelica menjerit kecil dan menutup mulut, sementara Carter berhenti di tengah jalan masuk, tangan terkepal di sisi tubuh, matanya berkaca-kaca, sesuatu yang jarang dilihat siapa pun.
Perempuan di pelukan Nick menyandarkan dagu di bahunya, dan wajahnya terselip di balik kerah kemeja pria itu, tempat tak seorang pun bisa melihatnya. Di sana, di antara kain dan rambut yang kusut, bibirnya melengkung kecil, tipis, tenang, dan sama sekali tidak gemetar.