Perempuan itu baru bersuara setelah segelas air hangat ada di tangannya. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan selimut Angelica di bahu, gaunnya yang robek tertutup sampai ke lutut, dan Nick duduk di sampingnya tanpa melepas genggaman pada jari-jarinya yang dingin. Carter berdiri di dekat jendela. Angelica berlutut di depan sofa, menyeka pipi perempuan itu dengan kain basah, dan setiap kali ia menyentuh bagian yang bengkak, perempuan itu meringis.
"Pelan-pelan, sayang," bisik Angelica. "Tidak usah bercerita sekarang."
"Aku harus bercerita, Mom. Kalau tidak sekarang, aku takut lupa urutannya." Suaranya serak dan patah-patah. "Setelah aku telepon Nick, ada asap, lalu pelayan itu menarikku keluar lewat lorong. Di gang ada van putih. Dua laki-laki, wajahnya tertutup masker hitam. Satu bertubuh besar, di alis kirinya ada bekas luka panjang."
Carter tidak bergerak, tetapi rahangnya mengeras.
"Mereka menutup hidungku dengan kain. Waktu aku bangun, aku di dalam van, tanganku dipegang. Yang bertubuh besar bilang pada yang satunya, 'Nona Jessy tidak mau dia lecet. Jangan kasar.'" Ia menelan ludah. "Jessy, Dad. Mereka menyebut namanya dua kali."
"Teruskan," ujar Carter.
"Aku tidak tahu berapa lama. Aku bangun dan tidur lagi, kepalaku berat sekali. Yang kuingat cuma bau karet, bau bensin, dan jalan yang berlubang." Ia mengerjap, seolah masih mencium bau itu. "Mereka tidak bicara padaku. Mereka bicara satu sama lain, dan aku pura-pura masih pingsan."
"Pintar," ujar Carter pelan. Ia tidak tersenyum, tetapi bahunya sedikit turun, dan itu cukup untuk membuat Angelica menarik napas lega.
"Van berhenti di sebuah SPBU. Sopirnya turun untuk membayar, dan yang besar ikut turun karena ponselnya berbunyi. Pintu geser tidak terkunci rapat. Aku menendangnya dan lari." Ia menunduk, dan bahunya mulai bergetar. "Aku lari ke taman di belakang SPBU, bersembunyi di semak sampai lampu van lewat. Lalu ada taksi. Sopirnya tidak mau menerima uang karena aku tidak punya apa-apa. Dia menurunkanku di ujung jalan ini."
"Stefani," kata Nick tiba-tiba. "Kamu ingat Stefani?"
"Stefani..." Perempuan itu mengangkat wajah, matanya merah. "Dia jatuh, Nick. Aku lihat dia jatuh di aspal dan tidak bangun. Dia selamat?"
"Dia di rumah sakit, sudah sadar," jawab Carter dari jendela. "Tidak ada yang mati malam ini."
Perempuan itu menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis, dan Nick merangkulnya lebih erat. Tak seorang pun melihat bahwa jari-jarinya yang gemetar itu, yang tadi dingin, kini kembali tenang begitu wajahnya tersembunyi.
Dokter keluarga datang dua puluh menit kemudian dengan tas hitam di tangan. Ia memeriksa pergelangan tangan itu di bawah lampu, menekan pipi yang bengkak, dan memeriksa denyut nadi. Ia berkata memar itu akibat cengkeraman kuat dan belum lama, pipinya hanya membengkak tanpa retak, dan yang paling dibutuhkan pasien adalah tidur. Angelica memejamkan mata dan meremas ujung selimut, lega sampai tak sanggup bicara.
Nick menunggu sampai dokter selesai, lalu bertanya hal yang sejak tadi mengganjal di kepalanya. "Kamu ingat ke mana arah van itu?"
"Aku tidak tahu, Nick. Semuanya gelap." Perempuan itu menggeleng, dan air matanya jatuh lagi. "Maaf. Aku ingin sekali bisa membantu."
"Jangan minta maaf." Nick mengusap punggung tangannya. "Kamu sudah pulang. Itu cukup."
Carter meninggalkan ruang tamu dan kembali sepuluh menit kemudian, sudah berganti pakaian. "Orang-orangku sedang menyisir London dan Zurich. Aku sudah menelepon Julie, dan ia bersumpah putrinya di Swiss, sebab itulah aku tidak percaya." Ia menatap perempuan di sofa itu lama. "Terima kasih sudah selamat."
***
Fajar belum datang ketika anak buah Carter melapor satu per satu di serambi. Bar Aaron sudah diperiksa sampai ke gudang. Pelayan muda yang baru bekerja di sana sejak seminggu lalu tidak ada di mana pun, lokernya kosong, dan catatan alamatnya palsu. Kamera lorong belakang mati sejak pukul tujuh malam. Dua pengawal yang berjaga di gang sudah siuman di rumah sakit, dan keduanya ingat hanya segelas kopi yang diberikan pelayan itu dengan senyum ramah.
"Dia sudah menyiapkan semuanya sejak lama," gumam Carter, lebih untuk dirinya sendiri. "Dan aku membiarkannya karena percaya Jessy di Swiss."
Tak seorang pun menyanggah. Di seberang ruangan, Angelica memeluk lengannya sendiri, menatap suaminya dengan wajah yang sulit dibaca. Carter berbalik ke ruang tamu, tempat Nick masih belum beranjak dari sisi sofa. Pagi ini seharusnya hari pernikahan anaknya. Tukang bunga, penata rias, dan seratus tamu sudah menunggu di hotel, dan Carter tahu persis berapa banyak telepon yang harus dijawab sebelum matahari terbit. "Pernikahan ditunda," katanya.
"Dad, jangan," sela perempuan itu, dan Nick menoleh kaget. Suaranya lemah tetapi jelas. "Aku sudah menunggu pernikahan ini. Kalau ditunda, berarti Jessy menang."
"Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal kamu hampir hilang malam tadi." Carter tidak menaikkan suara. "Dua puluh hari lagi. Selama itu aku mau Jessy sudah di tangan kami dan rumah ini dikunci seperti benteng. Tidak ada keberatan."
Perempuan itu menunduk, diam sebentar, lalu mengangguk pelan. "Baik, Dad. Dua puluh hari."
Nick mengepalkan tangan di pangkuannya. "Aku tidak mau menunda sehari pun."
"Aku tahu." Carter menatap putranya. "Dan kau akan menurut."
"Aku akan menurut." Nick menarik napas pendek. "Tetapi aku tidak menyukainya."
"Siapa pun tak menyukainya, Nick."
Angelica membantu perempuan itu berdiri dan menuntunnya naik ke kamar tamu di lantai dua, yang sudah dibereskan pelayan sejak pukul empat. Di tangga, perempuan itu berhenti, menoleh ke arah Nick yang berdiri di dasar tangga, lalu mengucapkan sesuatu tanpa suara. Nick mengerti dari gerak bibirnya: terima kasih. Ia tersenyum, sedikit kaku, dan baru sesudah punggung kedua perempuan itu hilang di tikungan, ia sadar ia belum sempat bertanya satu hal pun.
Di jari manis kirinya, ia tadi memperhatikan, tidak ada cincin.
"Mereka mengambilnya," kata perempuan itu tadi, ketika Nick bertanya sambil memegang tangannya. "Waktu aku masih pingsan. Maaf, Nick. Maaf sekali."
"Itu cuma cincin," jawab Nick saat itu, dan ia sungguh-sungguh. Tetapi sekarang, sendirian di dasar tangga, kalimatnya sendiri terdengar seperti sesuatu yang ia ucapkan untuk menutup lubang.
***
Menjelang subuh, Nick duduk di meja kecil di kamarnya. Surat Paginya masih terbuka dan baris ALEXA DICULIK. JESSY. TUNGGU. dicoret satu garis tegas. Ia menulis di bawahnya dengan hati-hati, menyebut malam yang terjadi, siapa yang pulang dan jam berapa, dan bahwa Dave terluka di rumah sakit tetapi hidup. Matanya perih. Ia sudah lupa dua kali sejak tengah malam apakah Carter sudah menelepon polisi, dan dua kali pula ia membaca catatan sendiri untuk menemukannya: tidak, Carter menolak polisi.
Pulpennya berhenti. Ia menulis: Dia selamat. Aku lega.
Itu benar. Itu bagian paling benar dari seluruh surat. Ia membacanya sekali dan merasakan bahunya turun, setelah tegang berjam-jam.
Tetapi tangannya belum meletakkan pulpen. Ada sesuatu yang menempel di tubuhnya, seperti bekas pelukan yang tidak pas dengan ingatan otot-ototnya, dan ia tidak tahu bagaimana menamainya. Ia menunggu sampai tulisan itu muncul dengan sendirinya, lalu menambahkan satu baris lagi di bawahnya.
Pelukannya terasa asing; mungkin aku hanya lelah.
Nick menatap kalimat itu cukup lama. Ia hampir mencoretnya, lalu membiarkannya, melipat surat itu dan menyelipkannya ke Kotak Pagi di samping bantal.
Pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Di celah tipis itu, Angelica berdiri membawa nampan berisi roti dan teh yang tidak jadi ia antarkan, dan ia sudah berdiri di sana cukup lama untuk melihat anaknya berhenti, menulis, berhenti lagi, dan menulis sekali lagi dengan pulpen yang ditekan pelan, seperti orang yang takut tulisannya sendiri benar.
Ia tidak masuk. Ia membawa nampan itu turun lagi, dan baru di dapur ia sadar bahwa tangannya sendiri yang gemetar.