Ketukan tiga kali di pintu, pelan dan sabar, memecah tidur Nick. Di balik pintu itu suara Andrew berkata bahwa makan siang sudah lewat dan ia akan menunggu di bawah. Nick menatap jam di dinding, yang menunjuk lewat tengah hari, dan selama beberapa napas ia tidak tahu apa pun: kamar siapa ini, kenapa kemejanya kusut, kenapa dadanya terasa seperti baru ditinggalkan seseorang.
Tangannya meraba samping bantal dan menemukan Kotak Pagi. Ia membuka tutup kuningannya, mengeluarkan lembaran paling atas, dan membaca dengan jari menelusuri tiap baris. Alexa dibawa pergi. Alexa pulang pukul tiga. Pernikahan ditunda dua puluh hari. Dave di rumah sakit, rusuk dan lengan kiri patah, tetapi hidup. Di dekat bagian bawah tulisannya sendiri mengatakan: Dia selamat. Aku lega.
Dan satu baris lagi, dalam tinta yang lebih tebal dari baris lain, yang membuatnya mengernyit: tentang pelukan yang terasa asing.
"Baiklah," gumam Nick pada kertas itu. "Aku memang lelah."
Ia mandi, mengganti baju, dan baru membuka pintu ketika mendapati seorang perempuan sudah berdiri di koridor. Rambutnya disisir rapi, ada sisa bengkak di pipi kiri yang ditutup bedak tipis, dan lengan gaun rumahnya panjang sampai pergelangan. Di belakangnya, agak jauh, Angelica berdiri di ujung koridor memegang sehelai handuk lipat, seolah kebetulan lewat.
"Selamat siang, Hubby," ujar perempuan itu, tersenyum kecil.
Nick membalas senyumnya dengan sopan. Hatinya, anehnya, tidak ikut bergerak. Ia mencari getaran di tangannya seperti yang dijanjikan suratnya pagi-pagi lain: satu kalimat yang akan ia kenali. Jari-jarinya tenang.
"Kamu sudah makan?" tanya Nick.
"Mom menyuapiku bubur seperti anak kecil." Ia tertawa pendek. "Hubby, kamu sudah baca suratmu, kan?"
"Sudah. Katanya ada satu kalimat pagi yang hanya kamu yang punya. Aku akan mengenalinya saat mendengarnya." Nick menatapnya dengan penuh harap. "Boleh aku mendengarnya sekarang?"
Perempuan itu menyentuh pelipisnya. "Nick, aku masih gemetar. Kalau aku mengucapkannya sekarang, suaraku akan pecah dan itu merusaknya. Biarkan aku mengucapkannya nanti, ya? Setelah aku bisa tidur."
Itu masuk akal. Nick mengangguk, dan sesuatu di dalam dirinya yang bersiap kecewa justru lega karena ditunda. Ia merasa bersalah untuk kelegaan itu.
"Tentu. Kita ke rumah sakit dulu. Aku ingin melihat Dave."
***
Andrew membukakan pintu mobil di pelataran rumah sakit, dan Nick turun lebih dulu untuk mengulurkan tangan. Perempuan itu keluar tanpa menoleh pada sopirnya, lalu mendorong pintu itu hingga menutup dengan bunyi keras yang membuat dua perawat di dekat lobi menoleh. Andrew menatap pintu yang bergetar itu sedetik terlalu lama. Nona Alexa, yang ia antar hampir tiap hari selama tiga minggu, selalu mengucapkan terima kasih sebelum kakinya menyentuh aspal, dan menutup pintu seakan takut membangunkan sesuatu.
Ia menghela napas dan mengunci mobil. "Seorang perempuan baru saja diculik," batin Andrew. "Tidak adil menuntut sopan santun pada hari seperti ini."
"Lantai tiga," ujar Nick di lobi, dan perempuan itu berjalan setengah langkah di belakangnya tanpa bertanya nomor kamar.
Dave berbaring dengan punggung bertopang tiga bantal dan lengan kiri tergantung dalam penyangga. Di meja samping tempat tidurnya ada tablet, dua ponsel, dan buku catatan hitam yang jelas tidak ia izinkan perawat menyentuhnya. Ia menegakkan badan begitu Nick masuk, menahan sakit di rusuknya sampai pelipisnya berkeringat.
"Tuan. Nona." Ia menunduk sedikit. "Syukurlah Anda selamat."
"Jangan bangun, Dave," ujar Nick. "Kamu yang harus bersyukur kamu masih bisa bicara."
"Dave." Perempuan itu melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjangnya, terlalu dekat, nyaris menyentuh selimut di atas lututnya. "Kamu tidak boleh pergi sendirian lagi. Aku tidak mau ada yang terluka karena aku. Mulai sekarang kamu istirahat sampai dokter bilang boleh. Itu perintah."
Dave menatapnya sebentar, terlalu sebentar untuk disebut menilai. "Baik, Nona."
Nick tersenyum geli. "Dia memang tidak pernah patuh kalau diperintah dokter. Tapi sama Alexa mungkin lain."
Perempuan itu tertawa lembut. Dave tidak. Ia mengamati cara perempuan itu duduk dengan satu kaki disilangkan ke depan, tangan ditumpangkan di lutut, dagu terangkat sedikit. Alexa yang dikenalnya biasa duduk di kursi tamu, menaruh tas di pangkuan, dan menyampaikan "terima kasih, Dave" sebelum ia sempat mengucapkan apa pun. Terima kasih untuk kopi, terima kasih untuk antaran, terima kasih untuk pesan singkat pukul dua pagi. Perempuan di tepi ranjangnya ini belum mengucapkannya sekali pun, dan ia sudah berada di ruangan itu hampir sepuluh menit.
"Mungkin trauma," batin Dave. "Orang yang diculik bisa berubah dalam semalam."
"Ada satu baris di suratku yang membuatku bingung," ujar Nick sambil duduk di kursi tamu. "Katanya aku pernah menyuruhmu jangan berhenti curiga. Sekarang Alexa sudah pulang, dan aku tidak tahu harus bagaimana dengan perintah itu."
"Saya tidak berhenti karena perintah, Tuan," jawab Dave. "Saya berhenti kalau pekerjaannya selesai. Pekerjaannya baru selesai di hari pernikahan."
Nick tertawa kecil, lelah. Perempuan di tepi ranjang itu ikut tersenyum, tetapi matanya sempat turun ke buku catatan hitam di meja, hanya sedetik, lalu naik lagi.
"Dave, kamu dengar?" Nick menepuk bahu pria itu pelan. "Aku mau bicara dengan dokter sebentar. Alexa, tunggu di sini atau ikut aku?"
"Aku ikut," jawab perempuan itu, dan menggandeng lengan Nick. Di ambang pintu, ia menoleh. "Cepat sembuh, Dave."
Pintu menutup. Dave tidak bergerak selama hampir satu menit.
Andrew yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan topi di tangan akhirnya bersuara. "Tuan Dave."
"Kamera, Andrew." Suara Dave datar dan sangat pelan. "Yang kuminta tadi pagi. Jalan utama dan SPBU yang disebut Nona Alexa. Apa hasilnya?"
"Ada dua SPBU di jalur keluar kota yang searah dengan rute van dari bar," ujar Andrew. "Rekaman keduanya saya periksa sendiri semalaman. Tidak ada van putih berpintu geser berhenti di sana sejak pesta dimulai sampai pagi. Kamera di taman belakang SPBU kedua rusak sejak seminggu lalu, kata petugasnya. Jadi tidak ada gambar seorang perempuan pun lari ke sana."
"Dan taksi?"
"Perusahaan taksi mana pun belum ada yang melapor mengantar perempuan bergaun pesta ke daerah kita."
"Dan pintu mobil tadi," tambah Andrew, lebih pelan. "Maaf, Tuan. Mungkin saya berlebihan."
"Kau tidak berlebihan. Kau sedang memperhatikan." Dave memejamkan mata. "Terlalu rapi," gumamnya, sama seperti yang pernah ia ucapkan tentang Zurich. "Cari lagi, Andrew. Jangan bilang siapa pun, bahkan kepada Tuan Carter. Aku belum punya apa-apa selain rasa tidak enak, dan itu tidak cukup untuk menuduh perempuan yang baru selamat."
***
Di lorong lantai tiga, sementara Nick masih bicara dengan dokter di meja perawat, perempuan itu berhenti di depan jendela kaca besar dan berpura-pura membetulkan rambut. Dari saku gaun rumahnya ia mengeluarkan ponsel prabayar kecil, menekan satu nomor dari ingatan, dan menempelkannya ke telinga.
Jawaban datang pada dering kedua. Suara berat laki-laki, tanpa salam. "Ya."
"Dia masih tidur?" tanyanya, dengan suara yang jauh lebih rendah daripada suara yang ia pakai di kamar Nick.
"Masih. Dua kali bangun, dua kali tidur lagi."
"Baik. Jangan sampai dia keluar kamar sebelum aku bilang. Dan jangan telepon aku di rumah itu lagi, aku yang akan menelepon." Ia memandang pantulan dirinya di kaca, wajah yang bukan wajahnya sendiri, dengan dagu yang terlalu tajam untuk perempuan yang baru menangis. "Dave sudah sadar. Dia menatapku seperti orang membaca laporan."
"Dia terluka. Mestinya tidak ada yang bisa dilakukannya."
"Dia asisten Nick. Dia bisa melakukan banyak hal dengan satu lengan." Jessy mengelus bibirnya dengan ujung jari, mengingat satu baris di catatan kebiasaan yang ia hafal berminggu-minggu: selalu berterima kasih pada siapa pun, bahkan pada sopir. Tadi ia melewatkannya, dua kali, di depan dua orang yang paling pantas memperhatikannya. "Aku lupa berterima kasih pada Dave. Aku perlu belajar lagi."