Hari kedua di rumah kayu itu berlalu tanpa ada yang mengetuk pintu, kecuali tangan yang menaruh nampan lewat celah bawah. Alexa makan karena harus, bukan karena lapar. Siangnya ia mengetuk dinding satu per satu, mencari papan yang longgar, dan menemukan bahwa rumah itu dibangun oleh orang yang tahu cara membuat kayu bertahan seratus tahun. Ia mencoba engsel pintu dengan kuku, dengan gelang perak Stefani, dengan sendok yang ia selipkan diam-diam. Sendok itu bengkok. Gelangnya selamat. Menjelang malam, ketika bunyi mesin di luar berhenti dan langkah-langkah Vince menjauh ke arah teras, kunci kamarnya berputar pelan sekali.
Pintu terbuka hanya selebar bahu. Sean menyelinap masuk dengan sepiring nasi hangat dan menutup pintu itu dengan punggungnya, matanya terpaku pada lantai.
"Jangan menjerit," bisiknya. "Dia pergi menjemput seseorang. Aku punya sepuluh menit. Mungkin kurang."
Alexa berdiri di sudut kamar dengan kursi terangkat setengah di tangannya, siap diayunkan. "Keluar."
"Aku tidak tahu itu kamu." Suara Sean pecah. Ia meletakkan piring di lantai dan mundur, tangannya terbuka di depan dada seperti orang menyerah. "Demi Tuhan, Alexa, aku tidak tahu. Mereka bilang menjaga seseorang. Utangku dilunasi, semuanya, ayahku sudah tidak perlu ketakutan lagi. Aku tidak bertanya siapa. Aku pikir seorang saksi, atau seorang yang berutang..."
"Dan kau tidak bertanya karena tidak mau tahu."
Sean menunduk. "Ya."
"Kartu di makam orang tuaku. Itu kamu."
"Itu aku." Ia nyaris tak bersuara. "Aku ingin bilang maaf, tapi tidak sanggup mengetuk pintumu. Jadi aku menaruhnya di sana."
"Maaf yang ditaruh di batu nisan, supaya tidak perlu melihat mukaku."
Jawaban itu jujur dan itulah yang membuat Alexa ingin melempar kursinya. Ia meletakkannya perlahan. "Kau tahu apa yang mereka lakukan padaku di bar? Ada seorang perempuan dipukul sampai pingsan di aspal, sahabatku. Kau tahu itu?"
"Aku tidak ada di sana. Hanya Vince dan satu orang lain, dan pelayan baru itu." Ia mengusap wajah. "Aku akan membantumu, tetapi belum bisa. Dia membawa pistol di sabuknya, dan aku tidak tahu siapa lagi yang menunggu di luar. Beri aku waktu."
"Waktu." Alexa tertawa pendek, getir. "Tiga tahun tidak cukup untukmu?"
Sean tidak menjawab. Dari kejauhan terdengar deru mobil mendekat, jauh lebih cepat dari perkiraannya. Ia tersentak seperti orang disengat. Ia meraih piring kosong yang terlupa di lantai, memberi isyarat diam dengan telunjuk di bibir, lalu menghilang lewat pintu.
Alexa menyeberang ke jendela dan menempelkan mata di celah papan.
Lampu depan sebuah mobil sedan gelap menyapu halaman, berhenti, dan padam. Vince turun dari kursi sopir lebih dulu, membuka pintu belakang. Seorang perempuan keluar dari sana, rambut panjang tergerai, mengenakan gaun rumah krem yang Alexa kenal sampai ke kancingnya. Gaun itu miliknya. Gaun yang ia tinggalkan di lemari kamar tamu rumah Carter.
Jantung Alexa seakan lupa cara berdetak.
***
Kunci berputar lagi dan kali ini pintu terbuka lebar. Vince berdiri di samping, menyalakan lampu gantung. Perempuan itu masuk perlahan, dengan langkah yang tidak tergesa, seperti seseorang yang memeriksa rumah baru.
Dagu yang sama. Alis yang sama, dengan sedikit lengkung di ujung. Rambut cokelat panjang yang jatuh di bahu persis seperti rambut Alexa saat baru disisir. Matanya biru, biru yang tidak terlalu biru bila dilihat lebih dekat, sebab ada tepi tipis lensa di sana. Dan di jari manis tangan kirinya, berkilau di bawah lampu, cincin berlian biru itu. Cincin dari Nick.
Ia berhenti satu langkah dari Alexa dan tersenyum. Senyum itu bukan senyum Alexa. Terlalu lebar di sebelah kanan.
"Cantik, bukan?" katanya, dan suaranya persis suara Alexa, dengan nada hangat dan napas lembut yang sudah dilatih. Lalu suara itu mendadak turun, lebih tajam. "Aku butuh dua minggu hanya untuk menirukan caramu mengucapkan 'Hubby'."
Alexa menatap garis halus di balik telinga kiri perempuan itu, tempat rambutnya tersibak sedikit. Garis tipis kemerahan, sisa jahitan. Mulutnya terasa kering.
"Kenapa Jessy harus hadir di dalam pernikahanku ini?" bisiknya, hampir tak terdengar. "Bahkan dia sampai menjadi aku?"
"Karena itu pernikahanku." Jessy memiringkan kepala. "Tahu apa yang Nick lakukan padaku setelah kau datang? Kerja sama keluargaku diputus dalam semalam. Para penagih mengetuk pintu rumah ibuku. Aku menjual semua tas dan perhiasanku demi rencana ini. Jadi jangan bicara padaku tentang apa yang seharusnya adil." Ia mengusap cincin di jarinya dengan ibu jari, gerak kecil yang bukan kebiasaannya, tetapi ia melakukannya seakan pamer. "Yang seharusnya sudah jadi pernikahanku sejak Angelica menjodohkan kami. Kau cuma lewat. Seperti perempuan-perempuan lain."
"Nick membatalkannya di depan semua orang. Kau yang pergi dengan memaki."
"Dan sekarang aku kembali dengan wajah yang disukainya." Jessy tersenyum. "Ia tidak punya ingatan, Alexa. Ia hanya punya kertas, rekaman, dan orang-orang yang percaya padaku. Dini hari kemarin dia memelukku di gerbang sampai hampir meremukkan tulang rusukku. Dia menangis di rambutku."
Tangan Alexa terkepal di sisi tubuhnya. "Tubuhnya mengenaliku. Dokter sudah membuktikannya."
Untuk sepersekian detik, senyum di wajah yang meniru wajahnya itu menegang. Hanya sepersekian detik. Lalu Jessy melangkah mendekat dan merendahkan suara sampai nyaris menjadi bisikan.
"Kalau begitu kau pasti tahu kalimat itu. Kalimat pagi. Aku membaca satu baris di surat Nick, 'ada satu kalimat yang hanya akan kukenali dari dia.' Tanpa kalimatnya. Katakan." Ia menatap lurus. "Dan nama itu. Nama yang kau pakai untuk memanggilnya waktu kau bilang iya. Nick menulis di suratnya bahwa kau punya nama untuknya, dan ia tidak menuliskan apa namanya."
"Tidak."
"Alexa."
"Dave sudah memperhatikanmu," ujar Alexa pelan. "Aku tahu caranya menatap. Dia tidak akan berhenti."
"Dave menatapku seperti orang membaca laporan, ya, aku sadar." Jessy tersenyum tipis, tetapi matanya mendingin. "Karena itulah aku butuh kalimat itu. Orang yang punya jawaban tidak perlu membela diri. Katakan, dan aku tidak perlu menanyakannya pada yang lain."
"Tidak akan." Alexa menegakkan punggung. "Kau boleh pakai wajahku, pakai gaunku, pakai cincinku. Itu satu-satunya yang tidak akan kuberikan."
Tamparan itu datang tanpa peringatan. Kepala Alexa terhempas ke samping dan pipi kirinya terbakar. Ia tidak jatuh. Ia tetap berdiri dengan telapak menempel ke wajah, napasnya terputus, dan ketika kembali menatap Jessy ia tidak menangis.
Jessy menatap telapak tangannya sendiri sebentar, seolah heran. Matanya turun ke pergelangan Alexa, ke gelang perak tipis yang bergeser karena gerakan tadi. "Gelang apa itu?"
"Pinjaman sahabatku."
"Tidak ada di fotomu, jadi tidak masalah." Ia mengedikkan bahu, melepaskan perhatian itu semudah ia melepaskan sehelai benang. Lalu ia merapikan lengan gaun rumah itu, menarik napas, dan wajahnya kembali tenang.
"Aku bisa menunggu. Aku punya sembilan belas hari." Ia berjalan ke pintu, berhenti di ambang. "Sembilan belas hari lagi aku jadi Nyonya Carter, dan kau dilupakan seperti Nick melupakan semua orang."
Vince menutup pintu. Kunci berputar. Dari luar terdengar suara mobil dihidupkan, melaju pergi, lalu sunyi.
***
Alexa terduduk di tepi ranjang. Telinganya berdenging, pipinya berdenyut. Ia membiarkan dirinya gemetar selama semenit penuh karena tak ada yang melihat.
Sesudah itu ia mengangkat wajah dan menatap jendela. Papan-papan di sana dipaku dengan paku besar berkepala bulat, jumlahnya tak banyak. Dua belas paku silang, empat di tiap sisi. Ia menghitung dengan jari. Dua belas. Lalu ia menghitung sekali lagi dengan suara kecil, seperti anak yang baru belajar, dan melanjutkan dengan hitungan yang lain: sembilan belas.