Pukul sepuluh pagi, kamar tamu di lantai dua baru terbuka. Angelica sudah dua kali melewati pintu itu sejak subuh dan dua kali pula mengurungkan niat mengetuk. "Anak perempuan itu perlu tidur," batinnya, "dan Mommy sendiri perlu belajar menahan tangan."
Ketika akhirnya perempuan itu turun ke ruang makan dengan rambut belum disisir, Angelica sudah menunggu dengan celemek terlipat di lengan kursi. Pelayan menata roti panggang dan telur di meja. Nick sudah berangkat ke RX bersama Andrew setelah menolak sarapan tiga kali.
"Selamat pagi, sayang." Angelica tersenyum. "Mommy sengaja tidak membangunkanmu. Bagaimana tidurmu?"
"Cukup. Kepalaku masih pusing, Mom." Perempuan itu duduk dan memandangi piringnya tanpa menyentuh. "Aku bermimpi buruk."
"Mau Mommy temani ke dokter?"
"Tidak usah. Dokter keluarga kan sudah datang. Aku hanya butuh waktu." Ia melirik jam di dinding. "Nick sudah berangkat?"
"Sejak pukul tujuh. Dia menitip pesan, katanya kamu tidak perlu menunggunya makan siang." Angelica memperhatikan cara perempuan itu mengaduk teh yang belum datang, jari-jarinya memutar sendok kosong. "Sayang, kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Mom." Senyumnya pas sekali, rapi sekali.
"Wajar sekali." Angelica menyodorkan celemek itu dengan ringan. "Mommy punya ide. Bagaimana kalau kita masak sup jamur lagi seperti dulu? Memasak selalu menenangkanmu, ingat?"
Sedetik jeda. Perempuan itu menatap celemek itu seperti menatap sesuatu yang kotor.
"Aku tidak bisa, Mom. Tanganku masih gemetar. Lihat." Ia mengangkat tangan kanan dan menunjukkan getaran halus di jari-jarinya. Getaran itu tampak sungguh-sungguh. "Pisau saja aku takut memegangnya."
"Tentu. Tentu saja." Angelica menarik celemek itu kembali, sedikit terlalu cepat. "Besok, mungkin."
Seorang pelayan paruh baya, yang sudah tiga belas tahun bekerja di rumah ini, datang membawa teko teh dan menuang ke cangkir di depan perempuan itu. Gerak tangannya terlalu cepat atau mungkin cangkirnya yang terlalu penuh. Seteguk teh panas melompat dari bibir cangkir ke taplak dan percikannya mengenai punggung tangan perempuan itu.
"Aduh!" Perempuan itu menarik tangannya, dan wajahnya berubah seketika. "Kau tidak punya mata? Lihat apa yang kaulakukan! Aku baru saja diculik dan kau menyiramku dengan air panas?"
"Maaf, Nona. Saya tidak..."
"Pergi dari sini. Bawa teh itu keluar."
"Alexa," ujar Angelica, tajam, lebih tajam daripada yang ia maksud.
Perempuan itu menoleh. Ada sesaat kosong di wajahnya, sekilas, seperti topeng yang bergeser. Lalu air mata muncul dan ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Maaf. Maaf, Mom. Aku tidak tahu kenapa aku begitu. Aku takut pada semuanya."
Angelica memeluk bahunya. Pelayan itu mengambil teko dan pergi dengan kepala menunduk, tangannya gemetar lebih parah daripada tangan siapa pun di ruangan itu.
***
Menjelang malam rumah itu kembali sunyi. Nick pulang dari RX dengan wajah letih dan membaca surat paginya sambil makan malam. Di seberang meja, perempuan itu bercerita tentang gaun yang harus dibuat ulang, bunga yang harus dipesan lagi, tamu yang harus diundang lagi. Ia bicara cepat dan banyak, dan Nick mengangguk di tempat yang tepat.
"Kamu menulis apa tentang aku hari ini?" tanyanya tiba-tiba, menyondongkan badan.
"Rahasia," jawab Nick, setengah bercanda. Ia menunggu perempuan itu mengelus ibu jarinya dengan telunjuk, kebiasaan yang ia catat di Kotak Pagi, tetapi tangan perempuan itu hanya memegang gelas. Ia menepis pikiran itu seperti menepis lalat. "Orang lelah tidak punya kebiasaan," batin Nick. Ia naik ke kamar lebih awal. Di koridor lantai dua ia berhenti di depan pintunya sendiri karena ada langkah yang mengikutinya.
"Hubby."
Perempuan itu berdiri di bawah lampu dinding. Gaun tidurnya panjang, rambutnya terurai, dan ia memandang Nick dengan mata yang seluruhnya berharap. "Aku mau bilang selamat malam."
"Selamat malam, Alexa." Nick tersenyum. "Tidurlah. Dokter bilang kamu butuh istirahat."
"Hanya itu?" Ia melangkah mendekat. "Sudah dua hari kamu cuma memegang tanganku. Aku ingin dicium, Nick. Satu saja. Aku rindu."
Nick mengangguk pelan, karena menolak terdengar kejam, dan membiarkan wajahnya mendekat. Napas perempuan itu hangat dan berbau mint. Bibirnya hampir menyentuh bibir Nick ketika sesuatu di dalam tubuhnya melompat. Bukan pikiran, melainkan otot lehernya sendiri, yang memutar wajahnya ke samping, sehingga ciuman itu mendarat di pipinya.
Hening sejenak.
"Maaf," ujar Nick, bingung pada dirinya sendiri. "Aku... Entah kenapa. Mungkin aku terlalu lelah. Maaf, bukan kamu."
Perempuan itu tersenyum, tetapi senyum itu tertahan sepersekian detik di sudut bibir. Kedua tangannya mengepal di sisi gaun. "Tidak apa-apa, Hubby. Aku mengerti. Kamu butuh waktu."
"Ya. Waktu." Nick mundur setengah langkah. "Selamat malam."
Ia masuk dan menutup pintu, lalu berdiri diam dengan telapak menempel ke pipi yang tadi dicium. Surat paginya ada di meja. Ia mengambil pulpen dan menulis dua kata saja: bukan salahnya. Lalu ia menatap dua kata itu dan menambahkan: tapi kenapa tubuhku menolak?
***
Hampir tengah malam, Carter keluar dari ruang kerjanya untuk berbicara dengan kepala pengawal di serambi, meninggalkan pintu ruang itu sedikit terbuka. Lampu meja masih menyala. Bayangan perempuan berbaju tidur muncul di lorong, berhenti, dan menoleh ke kiri dan kanan.
Ia masuk tanpa suara.
Ruang kerja itu berbau cerutu dan kulit. Di sudut ada meja besar dengan laci-laci berderet. Perempuan itu mengamati satu per satu, dan matanya berhenti pada laci tengah dengan lubang kunci kuningan kecil yang jelas dipasang lebih baru daripada yang lain. Ia menyentuhnya. Terkunci. Di atas meja terbentang peta Eropa dengan tiga lingkaran merah di sekitar Zurich, bekas coretan Carter yang belum sempat ia bersihkan. Bibir perempuan itu hampir melengkung, tetapi ia menahannya.
Di rak paling bawah, di antara buku-buku bersampul kulit, ada kotak cerutu kayu dengan tutup sedikit tak rapat. Ia berlutut, mengangkat tutup itu dengan ujung kuku. Kosong, kecuali sebuah anak kunci kecil yang tergeletak miring di sudut. Matanya bergerak cepat, mengukur ukuran kunci dan lubang. Ia menutup kotak itu persis seperti semula dan berdiri.
"Alexa?"
Carter berdiri di ambang pintu. Ia tidak menaikkan suara, tetapi tangannya sudah berada di sisi pinggang, di tempat yang biasa ditempati senjatanya.
Perempuan itu berbalik dengan wajah pucat dan mata basah. "Dad. Maaf. Aku tidak bisa tidur. Aku turun mencari air, lalu melihat lampu di sini." Ia menelan ludah. "Aku cuma ingin berada di tempat yang berbau Dad. Rasanya aman."
Carter diam. Lalu bahunya turun. "Kamu tidak boleh keluyuran sendirian di rumah ini, sayang. Ada penjaga di mana-mana, dan malam ini mereka gugup."
"Aku tahu. Maaf."
"Naiklah. Aku antar sampai tangga."
Ia mengantarnya sampai ke kaki tangga dan berdiri di sana sampai pintu kamar tamu menutup. Di balik pintu itu, perempuan itu bersandar dengan napas tertahan, lalu mulai tersenyum untuk dirinya sendiri. "Satu langkah," batin perempuan itu. "Hanya satu langkah."
***
Di dapur yang sepi, seorang pelayan paruh baya sedang mencuci cangkir yang sebenarnya sudah bersih. Angelica turun mencari segelas susu hangat dan menemukan perempuan itu berdiri membelakanginya, bahu naik-turun.
"Nyonya." Pelayan itu menyeka matanya dengan cepat. "Maaf, saya tidak tahu Nyonya turun."
"Jangan minta maaf padaku. Dialah yang berutang maaf." Angelica menaruh tangannya di lengan pelayan itu. "Dia baru mengalami hal yang mengerikan."
"Saya mengerti, Nyonya." Pelayan itu menggeleng pelan. "Saya sungguh mengerti. Hanya saja..." Ia ragu, lalu menatap Angelica dengan mata yang berani. "Nona Alexa yang dulu selalu mengucapkan terima kasih."