Kalimat pelayan itu menempel di kepala Angelica sepanjang malam seperti kerikil di dalam sepatu. Ia tidak membalasnya di dapur. Ia hanya menepuk lengan perempuan paruh baya itu, mengambil susu hangatnya, dan naik ke kamar tanpa menoleh, takut kalau menoleh ia akan membenarkan sesuatu yang belum berani ia pikirkan.
Paginya, ia mengetuk kamar tamu lebih awal daripada yang ia rencanakan. "Sayang, ikut Mommy ke dapur. Hanya kita berdua. Pai apel, ya? Seperti waktu itu."
Perempuan itu memakai cardigan krem dengan lengan menutupi sampai pergelangan, walau pagi hangat. Ia menatap Angelica sejenak, lalu mengangguk. "Baik, Mom. Aku coba."
Dapur rumah Carter luas dan putih, dengan jendela besar yang menghadap taman. Angelica sudah menyiapkan semuanya di meja: apel hijau, tepung, mentega dingin, kayu manis. Ia memberikan pisau kecil yang tajam kepada perempuan itu, lalu pura-pura sibuk mengupas kayu manis.
Dua menit ia membiarkan keheningan, dan memperhatikan dari ekor mata.
Perempuan itu memegang pisau dengan seluruh telapak, jari-jarinya melingkar kaku di gagang, dan mengiris apel ke arah tubuhnya sendiri. Irisan pertama tebal sebelah. Irisan kedua nyaris putus di tengah. Ia berhenti, melirik Angelica, tersenyum kikuk, dan melanjutkan.
Alexa yang Angelica kenal memotong apel tipis-tipis sekali tarik, dengan ibu jari terlipat di belakang mata pisau, sambil bercerita sesuatu yang lucu tentang kantor lamanya. Irisannya selalu rata, selalu bening seperti kaca.
"Pelan-pelan, sayang," ujar Angelica. "Mom tidak buru-buru."
"Tanganku masih tidak mau menurut." Perempuan itu menurunkan pisau dan menatap jari-jarinya. "Setiap kali memegang benda tajam, aku teringat gang itu. Mom, aku minta maaf. Aku tahu Mom ingin aku seperti dulu."
"Tidak ada yang meminta kamu seperti dulu."
"Tapi Mom menatapku seperti itu."
Angelica terdiam. Perempuan itu memang benar, ia sedang menatap. Ia membuang napas, menggeleng kecil, dan mengambil alih sebagian apel. "Mom hanya khawatir. Itu saja."
"Mom," ujar perempuan itu sambil meratakan adonan dengan telapak, "Dave sudah pulang dari rumah sakit?"
"Belum. Dokter menahannya sampai tulang rusuknya cukup kuat." Angelica tidak mengangkat kepala. "Kenapa kamu tanya?"
"Cuma ingin tahu. Dia sangat berjasa. Aku mau berterima kasih langsung." Kalimat itu terdengar manis dan dipasang tepat pada tempatnya. "Siapa tahu dia sudah bisa menerima tamu."
"Nanti Mommy sampaikan."
Mereka bekerja berdampingan. Adonan dibentuk, apel dimasukkan, loyang dimasukkan ke oven. Angelica yang memutar timer. Sementara menunggu, ia menarik dua kursi tinggi ke meja dapur dan menuang teh.
"Ingat cerita Mommy tentang Oma?" tanyanya, seringan mungkin. "Yang Mommy ceritakan di ruang keluarga."
Perempuan itu mengaduk tehnya. "Tentu saja ingat, Mom. Oma yang menjodohkan Dad dengan perempuan yang tidak dicintainya, dan Dad malah membawa Mommy pulang ke rumah. Persis seperti Nick membawaku di rumah ini." Ia tersenyum lembut. "Aku sering memikirkannya. Rasanya seperti sejarah yang berulang."
Jawaban itu benar. Terlalu benar, terlalu lengkap, seakan sudah dihafal. Angelica menyesap tehnya dan memandang wajah itu: mata biru itu, dagu itu, bibir yang melengkung tepat di tempat yang seharusnya. Tak ada satu cela pun. Dan justru itu yang membuat tengkuknya dingin.
Pandangannya turun ke tangan yang memegang cangkir. Alexa yang ia kenal berkuku pendek dan polos, karena tangan yang sering bersentuhan dengan tepung dan pisau tidak bisa dibiarkan panjang. Kuku di cangkir itu lebih panjang dan dipoles bening, dan jari-jarinya lebih ramping dari yang ia ingat. Ia menepis pikiran itu. Orang bisa menumbuhkan kuku dalam seminggu.
"Mommy menceritakan di ruang keluarga lantai dua, bukan?" ujarnya pelan. "Ada teh melati saat itu."
"Benar. Dengan sisa kue." Perempuan itu tersenyum tanpa jeda. "Mom, Mommy pasti lupa. Aku yang bawa kue itu dari dapur."
Bukan Alexa yang membawanya. Pelayan yang membawa. Angelica ingat sekali, karena ia sendiri yang menyuruh. Tetapi ia hanya mengangguk, tersenyum, dan berkata, "Mungkin Mommy yang lupa."
Timer berbunyi. Bau gosong menyergap dapur beberapa detik kemudian. Pai itu menghitam di pinggirnya, apelnya mengerut seperti kertas terbakar. Perempuan itu menutup mulutnya dengan tangan, dan tawanya yang menyusul terdengar sedikit terlalu keras.
***
Malam itu rumah mulai tidur satu per satu. Carter masih di ruang kerjanya, Nick di kamarnya dengan lampu padam, perempuan itu di kamar tamu yang pintunya tertutup rapat. Angelica turun lewat tangga belakang dengan jaket tipis dan membuka pintu kaca menuju rumah kaca.
Di antara pot-pot anggrek dan pot lemon, ada bangku besi putih tempat ia dulu sering duduk menunggu Nick pulang sekolah. Di pangkuannya sekarang terletak dua lembar surat bergaris, tulisan tangan Nick, yang ia ambil dari Kotak Pagi pada jam anaknya di kantor. Ia tidak pernah membuka surat itu sebelumnya. Ia selalu merasa itu seperti membaca buku harian orang yang sedang berdoa.
Ia membuka lipatan pertama di bawah cahaya senter kecil.
Dia selamat. Aku lega.
Lalu satu baris di bawahnya, dengan tinta yang lebih tebal, seperti ditulis oleh tangan yang tidak mau ragu: Pelukannya terasa asing; mungkin aku hanya lelah.
Surat kedua, ditulis dua hari sesudahnya. Dua kata saja di bagian bawah: bukan salahnya. Lalu: tapi kenapa tubuhku menolak?
Senter itu bergetar di tangan Angelica. Ia teringat tangan yang menggenggam tangannya di ruang keluarga lantai dua, hangat dan kasar di ujung jari, dan tangan yang mengaduk teh tadi pagi, dingin dan licin. Dua tangan yang tidak mungkin milik satu orang, kata hatinya, lalu hatinya yang lain membantah dengan suara lebih keras: itu bukan bukti. Ia menarik ponselnya dari saku, menyalakan kamera, dan memotret tiap halaman dengan jari yang tidak mantap. Cahaya blitz tak ia nyalakan. Setelah itu ia duduk lama sekali, menatap deretan anggrek yang bergoyang karena pendingin ruangan, dan tidak berani menyebutkan apa yang ia pikirkan, bahkan pada dirinya sendiri.
***
Pukul satu dini hari, Carter naik ke kamar dan menemukan istrinya duduk di tepi ranjang, berselimut, matanya terbuka.
"Mom. Kamu belum tidur?"
"Dad, duduk dulu. Mommy mau bilang sesuatu."
Carter menanggalkan jasnya dan duduk di sampingnya. Ia mengenal suara itu. Itu suara Angelica ketika menyadari ia akan mengatakan hal yang tidak ingin didengar.
"Mommy rasa ada yang tidak benar dengan Alexa."
"Tentu ada yang tidak benar. Dia diculik, Mom." Carter menghela napas panjang dan mengusap wajahnya. "Dia hampir mati ketakutan. Kita sendiri tidak pulih secepat itu dari hal sepele, apalagi dia."
"Mommy tahu."
"Dia berubah karena trauma. Dia membentak pelayan, dia takut pisau, dia tidak mau memasak. Aku pernah melihat anak buahku sendiri bertingkah begitu setelah ditahan musuh selama tiga hari." Carter menggenggam tangan istrinya. "Kamu hanya terlalu sayang padanya. Sama seperti aku." Ia berhenti sejenak. "Dave juga curiga pada Zurich, dan aku mengabaikannya, dan beberapa hari kemudian dia hampir kehilangan nyawa. Aku tahu rasanya salah menilai. Tetapi bukan yang ini, Mom. Anak itu pulang dengan memar di tangannya dan menangis di pelukan Nick. Aku melihatnya sendiri."
"Mommy juga melihatnya."
"Kalau begitu apa yang kamu cari?"
"Mommy tidak tahu." Angelica meremas selimut. "Itu yang paling menakutkan."
Angelica diam cukup lama. Lalu ia menggeleng, perlahan.
"Mommy tidak bilang dia berbohong," ujarnya. "Mommy bilang tangannya berbeda."
Carter tidak menjawab. Ia mematikan lampu di sisi ranjang, dan dalam gelap Angelica mendengarnya menarik napas panjang, sekali, seperti orang yang menyimpan sesuatu di dadanya. Dari celah bawah pintu kamar, di seberang koridor yang sunyi, terlihat satu garis cahaya tipis dari kamar tamu yang belum padam.