Dave pulang dari rumah sakit tanpa izin dokter. Ia memakai kemeja yang kancingnya dipasangkan perawat, bersandar pada tongkat hitam yang dipinjam dari klinik, dan menolak kursi roda dengan sopan dan tegas. Andrew mengemudi, dan Dave baru berbicara ketika mobil sudah melewati gerbang rumah sakit. Sepanjang pagi ia memeriksa dari ranjangnya semua yang bisa diperiksa dengan ponsel: kamera, taksi, daftar pegawai bar. Semuanya kosong dengan cara yang sama, bersih sampai ke tepi, dan kebersihan seperti itu bagi Dave lebih mencurigakan daripada kekacauan.
"Putar balik, Andrew. Ke gedung timur. Aku mau menengok seseorang."
Stefani berada di kamar kelas dua di lantai empat, dengan perban tipis menutup pelipis kanan dan selang infus yang tampaknya sudah ingin ia cabut sejak kemarin. Ketika Dave mengetuk, ia sedang memainkan ponsel di pangkuan dengan cemberut, dan wajahnya langsung cerah begitu melihat siapa yang masuk.
"Dave! Ya ampun, kamu kelihatan seperti baru digiling."
"Terima kasih, Nona Stefani. Anda juga." Dave menurunkan tubuh ke kursi tamu dengan hati-hati, menahan rusuknya. "Bagaimana kepala Anda?"
"Katanya gegar otak ringan. Aku bilang pada dokter, kalau otakku bisa bergetar, itu artinya masih ada isinya." Stefani tertawa, lalu meringis. "Mereka tidak membolehkan aku pulang sampai besok. Padahal aku ingin tahu semua." Senyumnya surut. "Dave, apa benar Alexa sudah pulang? Aaron bilang begitu lewat telepon, tapi aku tidak percaya sampai ada orang yang kukenal bilang langsung."
"Benar. Pukul tiga dini hari, di depan gerbang rumah Carter."
"Syukurlah." Stefani menutup mata dan menekan ponselnya ke dada. "Aku sudah menyalahkan diriku berhari-hari. Seharusnya aku tidak mengusulkan pesta di bar itu."
"Itu bukan salah Anda. Saya ingin bertanya, kalau Anda berkenan." Dave membuka buku catatannya. "Apa yang Anda ingat tentang malam itu? Dari saat alarm berbunyi."
Stefani menceritakannya perlahan. Asap dari dapur, jeritan Merry, Aaron berlari dengan lap basah, pelayan baru yang menarik lengan Alexa. "Dia bilang lewat lorong belakang jalur evakuasi, Alexa percaya saja. Aku lihat dia sempat menoleh dan memanggil namaku. Aku lari menyusul. Di gang ada van, dua pria, satu besar. Alexa melawan, Dave. Dia memukul dan menendang sekuat tenaga. Itu terakhir yang kuingat. Lalu gelap." Ia menyentuh perban di pelipisnya. "Waktu aku bangun, orang-orang sudah mengangkatku ke ambulans."
"Alexa tidak bercerita ke Anda sesudahnya?"
"Belum. Tidak ada kabar langsung. Kenapa?"
"Beliau bercerita pada keluarga bahwa ia berhasil kabur ketika van berhenti di sebuah SPBU. Lari ke taman di belakangnya, lalu naik taksi."
Kening Stefani berkerut. Ia diam sebentar. "Itu tidak cocok."
"Maksud Anda?"
"Dave, aku sudah kenal Alexa lama sekali. Kalau dia sempat kabur, dia tidak akan lari ke taman. Dia akan menelepon polisi, menelepon aku, menelepon Nick, siapa pun, dari telepon siapa pun yang bisa dipinjam. Dan dia tidak akan menaiki taksi tanpa membayar, karena dia akan menangis sampai sopirnya mau mengantar balik ke bar untuk mengambil aku." Suaranya meninggi. "Dia tidak pernah meninggalkan orang di aspal. Tidak pernah."
Dave menuliskan sesuatu di bukunya dan tidak berkata apa-apa.
"Aku salah?" tanya Stefani.
"Saya belum tahu, Nona. Itu sebabnya saya bertanya." Dave menutup buku catatannya. "Apakah Anda sudah menghubunginya?"
"Belum, ponselnya katanya hilang, nomor barunya baru diberikan Aaron." Stefani sudah mengetik cepat. "Biar kucoba. Lihat saja, dia pasti menjawab dengan emoji bebek karet. Itu leluconku sejak kuliah."
Ia menekan kirim. Mereka menunggu. Tiga menit kemudian ponselnya bergetar, dan Stefani membaca layar dengan alis naik makin tinggi.
"Aku baik-baik saja, Stef. Terima kasih sudah peduli. Maaf membuatmu khawatir." Ia mengangkat wajah. "Tidak ada bebek karet. Tidak ada 'kamu bodoh, jangan nangis'. Dave, ini bukan cara Alexa menulis."
"Mungkin karena ia masih terguncang."
"Mungkin." Stefani mengangkat wajah, dan suaranya merendah. "Dave, satu lagi. Gelang perak tipis dengan liontin bintang, yang kupinjamkan sebagai something borrowed. Punya nenekku. Apakah dia masih memakainya waktu pulang?"
Dave mengingat pergelangan tangan perempuan di sofa itu, memar kebiruan dan kulit polos tanpa apa pun. "Saya tidak melihatnya, Nona."
"Mungkin hilang." Stefani mengangguk, tetapi tangannya mencengkeram ujung selimut. "Atau mungkin Alexa sedang menjaganya di tempat lain."
Stefani mengetik lagi. Kali ini ia menulis: Video call sebentar? Aku mau lihat mukamu. Balasan datang lebih cepat. Belum bisa, Stef. Aku masih trauma. Nanti ya.
Stefani menurunkan ponselnya ke selimut seperti menaruh sesuatu yang panas.
"Aku mau menjenguknya," ujarnya pelan. "Besok, sesudah aku keluar dari sini."
"Saya akan menyampaikan permintaan itu kepada Tuan Carter."
***
Carter menerima Dave di ruang kerjanya dengan satu tangan di meja dan tangan lainnya menggenggam pena yang belum menulis apa pun. Matanya melirik tongkat Dave sebelum menatap wajahnya.
"Seharusnya kau di rumah sakit."
"Saya sudah mengurus yang perlu diurus, Tuan." Dave tetap berdiri meski kursi di depan meja jelas disediakan. "Satu permintaan. Nona Stefani ingin menjenguk Nona Alexa begitu keluar dari rumah sakit besok. Ia sahabatnya, dan ia sendiri korban."
"Tidak."
Satu kata, tanpa jeda. Dave menunggu penjelasan yang tidak datang.
"Tuan..."
"Sampai pernikahan, tidak ada tamu. Tidak Stefani, tidak Aaron, tidak siapa pun yang pernah ada di bar itu." Carter meletakkan pena. "Orang yang kuduga dalang kejadian itu masih berkeliaran, dan aku tidak tahu siapa di antara teman-teman Alexa yang diawasi, diancam, atau dibayar. Aku tidak punya waktu menilai satu per satu. Pintu ini tertutup untuk semua orang."
"Nona Stefani dipukul pingsan karena membela Nona Alexa."
"Dan aku akan membalas budi itu dengan rumah sakit terbaik dan bunga sebanyak yang ia mau. Bukan dengan pintu." Suara Carter tidak keras. "Dave. Aku tahu kau curiga pada banyak hal. Kau benar soal Zurich, aku akui. Tetapi kau tidak akan menjadikan anak itu bahan penyelidikan. Dia sudah cukup menderita."
Dave menunduk. "Baik, Tuan."
Ia berbalik menuju pintu. Tongkatnya mengetuk lantai marmer satu kali, dua kali. Di ujung koridor, di balik pot palem, seorang perempuan berdiri dengan baki teh yang tidak sempat ia letakkan. Ia menatap Dave sekilas, tersenyum, dan berbalik masuk ke ruang makan tanpa suara.
***
Sore itu Dave menelepon Stefani dari kursi belakang mobil. Ia menjelaskan bahwa Carter menolak, dengan kalimat sehalus yang bisa ia susun, dan bahwa ia menyesal. Di seberang sana Stefani terdiam lama sampai Dave mengira sambungan terputus.
"Dia tidak mau bertemu denganku," ujar Stefani akhirnya.
"Bukan keputusan Nona Alexa. Keputusan Tuan Carter."
"Dave, dengar." Napasnya terdengar pelan, tetapi bukan pelan yang menyerah. "Aku kenal Alexa. Kalau dia benar-benar mau melihatku, ia akan memaksa datang ke sini walau harus merangkak. Walau harus melompati pagar. Dia pernah memanjat pagar rumahku jam dua pagi hanya untuk membawakan sup waktu aku demam, dan jatuh, dan tetap tertawa." Ia berhenti, menelan sesuatu di tenggorokannya. "Tiga hari ini dia tidak mengirim satu pun lelucon. Tidak mencoba satu kali pun menembus penjagaan itu. Kalau dia benar Alexa, dia akan datang walau harus merangkak."
Dave memegang ponsel sedikit lebih lama setelah sambungan terputus. Di jendela mobil, rumah-rumah London berlalu berderet. Andrew tidak bertanya apa pun, dan Dave tidak menjelaskan. Ia menutup buku catatannya dan menyimpannya di saku dalam jasnya.