Jack Rodwell datang pukul dua siang dengan seikat lili putih dan wajah yang sudah dilatih untuk tidak menunjukkan apa pun. Pengawal di gerbang memeriksa mobilnya dua kali, membuka bagasi, dan menahan ponselnya di pos jaga. Carter sendiri yang menunggunya di ruang tamu, berdiri bersandar di dinding dengan tangan dilipat.
"Sepuluh menit, Rodwell."
"Cukup, Tuan Carter. Terima kasih." Jack menunduk sedikit. "Saya tidak akan lebih lama dari itu."
Angelica duduk di sofa dengan sulaman di pangkuan yang tidak ia sulam. Dari pintu dalam, perempuan itu muncul dengan gaun rumah biru pucat dan cardigan yang lengannya turun sampai punggung tangan. Rambutnya disisir licin ke belakang. Ia tersenyum, senyum yang rapi, lalu berhenti satu langkah dari Jack.
"Jack. Terima kasih sudah datang."
Jack mengamatinya satu detik terlalu lama untuk ukuran sopan santun. "Alexa. Syukurlah kamu pulang."
Ia mengulurkan lili itu dan tangan kanannya yang bebas, sebagaimana kebiasaan pria yang menyapa orang yang pernah ia hormati. Tangan itu melayang di udara beberapa detik. Perempuan itu menerima bunganya dengan kedua tangan, menghirup aromanya, dan tidak menjabat.
"Maaf," ujarnya pelan, matanya menunduk. "Aku masih belum nyaman disentuh siapa pun. Aku ingat tangan laki-laki yang memegang lenganku di gang itu."
"Tentu. Maafkan saya." Jack menurunkan tangannya dan menaruhnya di saku. "Kamu tidak perlu menjelaskan."
Mereka duduk. Pelayan menaruh teh. Jack menerima cangkirnya dan mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu dengan senyum kecil. Perempuan di seberangnya tidak mengucapkan apa pun ketika cangkirnya sendiri diletakkan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack.
"Lebih baik. Dokter bilang aku cuma perlu tidur dan jangan terlalu banyak berpikir."
"Dave bilang kamu menolak bertemu siapa pun."
"Dad yang menjaga. Aku tidak keberatan." Ia menoleh pada Carter, yang tidak bereaksi. "Lagi pula Jack sibuk, kan? Aku tidak mau mengganggu Galaxi."
Jack mengangguk. Ia memperhatikan bagaimana perempuan itu berbicara: tegas, ringan, hampir seolah memberi izin, dan sekali pun tidak menyebut "Tuan" sebelum namanya. Alexa yang ia kenal sebagai atasan, yang selalu menunduk setiap kali masuk ke ruangannya, tidak akan memanggilnya "Jack" bahkan setelah ia meminta maaf dengan paling tulus. Panggilan itu bertahan seperti dinding.
"Merry menitip salam," ujarnya. "Waktu kita bersulang di lorong kantor, hari terakhirmu, dia hampir menangis. Kamu ingat?"
"Samar-samar." Perempuan itu menyentuh pelipisnya. "Hari-hari sebelum malam itu rasanya masih berkabut. Dokter bilang itu wajar. Sampaikan salamku untuk Merry."
"Berkabut," batin Jack. Alasan yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa dibuktikan.
"Kamu sering merindukan kantor?" ia mencoba.
"Sedikit." Perempuan itu tertawa pendek, lalu berkata cepat, "Tidak. Tidak terlalu."
Ia mengangkat tangan hendak menyibak rambut ke belakang telinga, tetapi hanya sampai pipi, lalu menurunkannya lagi, dan tidak ada yang tersibak. Rambut itu memang sudah terikat licin. Jack mencatat gerakan yang tidak selesai itu dalam diam.
"Klinik kantor menitip salam," ujarnya santai. "Dokter jaga menanyakan lengan kirimu. Bekas cakaran itu. Bagaimana?"
Jeda yang sangat kecil. Terlalu kecil bagi Angelica yang menunduk pada sulamannya, tetapi tidak bagi Jack.
"Sudah sembuh."
"Boleh saya lihat? Hanya supaya saya bisa memberi tahu dokter."
Perempuan itu menarik cardigannya sedikit lebih rapat dengan tangan kanan. "Jack, dokter keluarga sudah memeriksanya. Ini ruang tamu orang lain, dan bukan tempat membuka lengan baju."
Itu kalimat yang pantas, cukup keras untuk membuat Carter melangkah setengah langkah dari dinding. Jack mengangkat tangannya dengan menyerah. "Maaf. Saya tidak pantas bertanya."
"Waktu habis," ujar Carter.
Jack bangkit dan menunduk pada Angelica. Perempuan itu juga berdiri, memeluk lili itu seperti perisai. "Terima kasih lilinya," katanya, dan Jack baru sadar ia tidak mengucapkan terima kasih untuk kehadirannya.
***
Taman belakang rumah Carter sedang sepi. Dave menunggu di bangku kayu dekat pohon plum yang daunnya hampir gugur semua. Tongkatnya bersandar di lutut dan buku catatannya tertutup di pangkuan. Jack menghampirinya tanpa basa-basi, duduk, dan memandang lurus ke depan.
"Dia bukan Alexa."
Dave tidak terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"
"Dia memanggil saya Jack. Selama bekerja di Galaxi Alexa tidak pernah, bahkan ketika saya memintanya. Dia tidak menyelipkan rambut ke belakang telinga sebelum menolak saya, padahal itu kebiasaan yang selalu muncul tiap dia hendak mengatakan tidak. Dia tidak menyentuh ibu jarinya. Dia menolak berjabat tangan dengan saya." Jack menarik napas. "Dan dia memakai lengan panjang di ruangan sehangat itu."
"Saya melihatnya juga, Tuan Jack."
"Lalu kenapa kita duduk di sini seperti dua orang yang menunggu bus, Tuan Dave?"
"Karena kita hanya dua pria yang sedang cemas." Dave menatap pohon plum. "Tanpa bukti, kita hanya dua pria yang tidak diterima di rumah ini. Tuan Carter melarang saya menjadikan Nona Alexa bahan penyelidikan. Tuan Nick, yang membaca surat paginya, percaya bahwa tunangannya pulang dengan memar di tangannya dan menangis di bahunya. Kalau saya menuduh, saya yang kehilangan akses, bukan dia."
"Bukti apa yang Anda perlukan?"
"Sesuatu yang tidak bisa dibantah. Yang bisa dipegang." Dave membuka buku catatannya, membuka halaman tertentu, menutupnya lagi. "Gelang yang dipinjamkan Nona Stefani tidak ada di pergelangannya. Tetapi gelang bisa hilang di tangan penculik. Kebiasaan bisa dilupakan karena trauma. Setiap hal kecil punya penjelasan yang masuk akal, itulah yang membuat semuanya begitu rapi."
Jack terdiam. Di kejauhan seekor burung menembus semak. Lalu ia berkata, hati-hati, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah, "Klinik Galaxi menyimpan foto luka cakaran di lengan Alexa. Dokter jaga mengambilnya hari itu, sebelum saya mengobatinya, dengan catatan tanggal dan ukuran. Waktu itu saya tidak berpikir apa-apa. Sekarang saya berpikir itu mungkin satu-satunya benda yang tidak bisa dipalsukan."
Dave mengangkat kepala. Ada cahaya di matanya yang tidak datang dari obat.
"Cakaran itu pasti meninggalkan bekas halus."
"Lebih dari tiga minggu sudah lewat. Kalau lengannya benar Alexa, bekasnya ada. Kalau tidak..."
"Maka kita punya sesuatu." Dave tersenyum tipis. "Tetapi bagaimana kita melihat lengan itu, kalau ia tidak mau membukanya?"
"Itu yang belum saya tahu." Jack menggosok pangkal hidungnya. "Fotonya akan saya ambil sendiri dari klinik, bukan lewat bagian arsip. Saya akan menyimpannya di brankas rumah saya. Kalau ada yang mengawasi server Galaxi, mereka tidak akan menemukan apa-apa."
"Itu bijaksana. Dan jangan bilang pada siapa pun, termasuk Merry, sampai kita tahu apa yang kita lihat."
"Saya tidak pandai berahasia."
"Anda pandai menyembunyikan wajah. Saya melihatnya tadi, ketika Anda keluar dari ruang tamu." Dave nyaris tersenyum. "Itu cukup."
Mereka diam, dua pria di sebuah bangku taman, masing-masing memegang sepotong kebenaran yang belum bisa digabung.
***
Di jendela lantai dua rumah itu, tirai tipis tersingkap setinggi mata. Seorang perempuan berdiri di baliknya, bunga lili terselip di lekuk lengannya, dan memandang ke bawah, ke taman, ke dua laki-laki yang saling berbisik di bawah pohon plum.
Wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Tidak marah, tidak takut, tidak penasaran. Hanya wajah yang sangat tenang, dengan mata yang mengikuti setiap gerak bibir mereka dari jauh, seperti orang yang mencoba membaca apa yang tidak bisa ia dengar.