Pamela's POV
Oh sialan, Aku tau hari ini hari sabtu, artinya perusahaan Ayahku sedang libur. Dan yang membuatku rasanya ingin mencekik orang pada pagi hari adalah saat Aku merasakan sebuah benda yang masuk kedalam hidungku, lantas Aku memukul benda itu dan tak lama setelahnya terdengar suara kekehan seseorang, suaranya berat dan seksi, tak lupa serak khas bangun tidur.
Aku akhirnya membuka mataku, lantas mengucek mataku agar ia terbuka lebar. Dan yang pertama kali kulihat pagi ini adalah wajah jahil Harry yang menyembunyikan tawanya, "Kau terbangun karena jari telunjukku," ujarnya, Aku tak membalasnya dan langsung saja bangkit menuju kamar mandi.
Aku menatap diriku dicermin, membasuh wajahku agar lebih segar dan membersihkan kotoran mataku, lantas Aku berkumur dan kembali ke ruangan dimana tadi lelaki yang sialnya tampan itu memasukan jari telunjuknya di hidungku.
Aku menatapnya malas, dan kembali berbaring disebelahnya, Aku masih mengantuk walaupun sudah membasuh wajahku, "Kau masih mengantuk?" tanyanya membuatku mengangguk.
Aku menarik pundaknya yang lebar, lantas memeluknya, aku tak peduli lagi untuk hal malu saat ini, Aku sangat mengantuk dan sangat ingin memeluknya, tubuhnya sangat hangat dan nyaman, Aku bisa saja benar-benae tertidur, jika kau memiliki seorang bayi dan ia susah tidur, kau bisa menggunakan tubuhnya agar bayimu tertidur. Aku kembali memejamkan mataku, "Kau sangat agresif, kucing hutan," ujarnya membuatku membuka mataku kembali dan mencubit bahunya.
Setelah lima menit menunggu untuk Aku tidur kembali, dan Harry-pun hanya diam saat kupeluk, membuatku mendecak kesal karena jari telunjuk sialan milik Harry membuatku tidak ingin tidur lagi. Sepertinya bermalas-malasan diatas kasur bersama Harry bukan masalah besar, Aku tau dia hari ini juga tidak bekerja, Akupun begitu.
"Harry," panggil ku, namun Aku masih memejamkan mataku. Setelah menunggu beberapa detik, Aku sama sekali tidak mendengar jawaban darinya. Lantas Aku menyelipkan satu kakiku diantara kakinya, dan kakiku melingkar disatu pahanya.
"Harry!" panggilku lagi.
"Hmm?" tanyanya. Aku membuka mataku dan melihat dirinya yang ada disampingku.
"Kau tinggal disini sendiri?" tanyaku, dia menatapku dan menggeleng.
"Aku bersama 20 pembantuku," ujarnya membuatku memutar kedua bola mataku.
"Maksudku, keluargamu."
Harry menggeleng, "mereka di Holmes Chapel," ujarnya dan Aku mengangguk.
"Kau disini sendiri?"
"Kakakku ada di London." Aku mengangguk paham, lantas kembali menjatuhkan kepalaku didadanya. "Jika kau?" tanya Harry membuatku mengedikkan bahuku.
"Kau sudah tau terlalu banyak saat kita pertama kali bertemu," ujarku dan dia terkekeh.
"Hanya mengetahui kedua orang tuamu," ujarnya, "kau lahir dimana?"
"Aku lahir di Leeds, Yorkshire," ujarku dan Aku dapat merasakan kepalanya mengangguk, dagunya mengenai ubun-ubunku.
"Apa motivasimu menjadi Kucing liar?" tanya Harry membuatku menyentil putingnya yang benar-benar ada didepan mataku.
"Harry, mengapa kau tau semua isi pesanku dengan Zoe? Kau membobol sistem pon----"
"Aku melihatnya diujung mataku," ujarnya membuatku menatapnya tidak percaya. "Seperti saat kau meminta nomor ponselku dengan cara licik itu," sambungnya lagi.
Aku mendongakkan kepalaku, lantas menatapnya marah, "Aku tidak meminta nomor ponselku! Aku saat itu benar-benar lupa dimana letak ponselku, kau tak ingat jika Aku mabuk?!"
"Kau tak pandai berbohong, Pamela. Kau agresif, kau benar-benar mudah ditebak. Ibu macan."
"Kau ini apa? Cenayang? Paranormal? Mengapa kau bisa tau semuanya?"
"Tidak semuanya, Pamela. Hanya saat kau ada didepanku, Aku bisa mengetahuinya."
"Dengan cara apa?" tanyaku penasaran, siapa tau Aku bisa mengetahui apa yang sedang ia bicarakan di ponselnya dan membaca raut wajahnya.
Dia hanya diam, menatap wajahku, lantas Aku menatapnya dengan tanda tanya, "dengan cara apa? Bolehkah Aku mengetahuinya?" Okay, kali ini Aku akan memakai cara lembut.
Dia masih saja menatapku, matanya mengarah kedua arah, ke arah mataku dan--- oh Tuhan. Lantas Aku mengecup bibirnya dan ia terkekeh, "kurang," ujarnya dan Aku mengecupnya lagi.
Dia tetap diam, "jangan ulangi kesalahan kedua, Pamela."
Lantas Aku mendecak dan mengarahkan bibirku pada bibirnya, membawa tanganku ke rahangnya yang tegas dan mulai menikmati ciuman pagi. Biasanya Aku tidak akan mendapat ciuman pagi jika di Apartemen ku sendiri, dan ini adalah nilai plus saat Aku berpura-pura mabuk di depan orang tuaku dan menginap di Rumah si Tampan ini.
"Ayo, beri tahu Aku bagaimana bisa kau mengetahuinya," ujarku sebelumnya Aku telah melepas tautan bibir kami.
Dia tersenyum puas, seperti telah meminum satu liter s**u segar di pagi hari. "Ibuku seorang psikiater, lantas dia sangat suka membaca diriku. Aku tak bisa berbohong jika bersamanya, dan kupikir Aku perlahan terbiasa dan aku-pun bisa sepertinya. Akan sangat gampang membaca raut wajah orang, Pamela."
Aku mengangguk, "dan isi pesan di ponselku?"
"Aku mengintip," bisiknya ditelingaku membuatku memukul dadanya.
Tiba-tiba wajah jalang favorit-ku a.k.a Zoe terlintas diotakku, lantas Aku menjulurkan tanganku untuk mengambil ponselku yang ada dinakas.
Dan benar saja, sudah ada beberapa pesan masuk darinya, dan beberapa dari Ibuku dan Ayahku.
Mom.
Kau sudah di Apartemen? (11.25 PM)
Mom.
Balaslah. (11.28 PM)
Mom.
Oh, Apakah kau sudah tertidur? (11.30 PM)
Dad.
Kau bersama Harry? (11.30 PM)
Dad.
Jawab pesan ayah. (11.35 PM)
Dad.
Aku akan menelfon Harry. (11.37 PM)
Lantas Aku menoleh pada Harry. Dia menatapku dengan tatapan bertanya, "Ayahku menelfonmu tadi malam?" tanyaku dan ia mengangguk.
Aku memucat, oh gawat. Sialan. Kenapa wajah Harry sangat tenang? "Lalu? Kau mengatakan jika Aku benar-benar bersamamu?"
Dia mengangguk lagi, "Ya, Aku bilang kau menginap."
"Ayahku marah tidak? Jujur, Harry. Dia tidak mungkin tidak marah jika Anak gadis satu - satunya dibawa oleh lelaki lain yang bukan pacar atau suaminya. Aku ini berharga baginya. Ayo jawab, Ayahku marah tidak?" Aku menggoyangkan lengannya, memaksa jawaban.
"Tidak."
Dia tertawa kencang, Aku terdiam. Kurasa ucapan Zoe benar, Aku memang bodoh dan-- Arrgh! Ini masih sangat pagi dan Aku sudah malu dihadapannya. Lagi dan lagi!
Aku cemberut, kenapa Aku menjadi sangat sering malu jika sedang bersamanya.
Lantas Aku membuka ponselku lagi, dan membuka pesan yang paling spesial. Kurasa Aku tak perlu lagi membalas pesan dari Ayah atau Ibu karena pastinya mereka sudah mengetahui jawabanya.
Aku sangat exited membaca pesan dari Zoe. Namun sebelum membalas pesan Zoe, Aku mengantisipasi agar Harry tidak melihatku sedang berkirim pesan. Aku mendongak kearahnya, dia menutup matanya dengan lengan kirinya dan lengan kanannya dia gunakan untuk memeluk pinggang ku. Bagus.
Zoe.
Heh b***h. Kau benar-benar tidur? Dengan Harry? Berdua? Satu ranjang? oh Tuhan sahabatku tercinta, kau benar-benar--- Aku tidak bisa berkata - kata lagi. (00.11 AM)
Zoe.
Apakah Harry kasar? Kau sepertinya tertidur. Selelah itukah kau? Memangnya dia hebat? Jangan lupa ukur. (00.15AM)
Zoe.
Kau tau, tidur sehabis bercinta itu dapat menyebabkan kematian. Kau lebih baik membalas pesanku. (00.26 AM)
Zoe.
Bitch, jika kau tidak membalas pesanku. Ku do'akan kau hamil anaknya. (00.30 AM)
Me.
Aku tidak bercinta dengannya sialan.
Me.
Kami hanya tidur biasa
Me.
Kau labil, Zoe. Kemarin kau yang menyuruh ku bercinta dengannya dan sekarang kau yang takut jika Aku bercinta dengannya. Kau iri?
Me.
Jawab.
Zoe.
Aku baru saja bertengkar dengan Sammy.
Zoe.
Tadi Aku mengajaknya bercinta dan dia menolak. Kali ini Aku setuju padamu jika miliknya kecil.
Zoe.
Berikan Harry padaku.
Me.
Oh tidak bisa.
Me.
Cari yang lain. Harry jatahku.
Me.
Zoe. Aku ingin bercerita.
Zoe.
Apa? Ceritakan.
Me.
Kemarin Aku makeout bersama Harry di mobil saat kami berhenti didepan Rumahnya. Dan kau tau Apa? Dia tiba-tiba menghentikannya.
Me.
Padahal Aku sudah membayangkan Apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia memang menyebalkan.
Zoe.
Hahahahah! Jadi kau menginginkannya?
Me.
Oh sialan. Tentu saja. Bagaimana perasaanmu jika berada di posisiku?
Zoe.
Dear little b***h. Seharusnya kau bilang sejujurnya padanya jika kau menginginkan dia.
Aku mengetik balasan untuk Zoe. Dia sungguh menyebalkan. 'Oh Tuhan, Zoe! Menga--'
"Benar kata Zoe, jika Kau ingin kau bisa bilang padaku, cupu. Jangan jadi munafik."
Aku mendongak, Aku tidak tau sudah semerah apa wajahku menahan malu yang sangat sangat sangat parah ini. Demi Tuhan.
Napasku naik turun, Aku ingin Ibu!
"KAU! BISAKAH----"
Tok tok tok.
"Harry?"
Aku dan Harry terdiam, menatap satu sama lain. Oh, Aku kenal suara ini.
"Harry? Kau mandi?"
Gawat. Ini Maddie!
Aku menarik selimut yang menutupi tubuh Kami berdua, "dimana Aku sembunyi?" bisikku.
Harry memegang lenganku, dia menyuruhku untuk bersembunyi di bawah selimut, jadi kepalaku sejajar dengan perutnya. Dan dia berselimut dari batas d**a hingga ujung kakiku.
Harry juga meletakkan guling disebelah tubuhku dan memeluk guling itu, jadi seolah-olah dia ikut memelukku juga. Oh dia memang cerdik. Aku harus menahan napasku sementara.
Dan kalian tau apa? Di depan mataku. Sekarang. Saat ini juga. Aku melihat tato kupu-kupu yang ada di perutnya, napasku tersengal. Ini sangat indah. Lantas Aku menjalankan jari-jariku menyusuri tato kupu-kupu itu. Dapat kurasakan tubuhnya menegang membuatku terkekeh, dia akhirnya menekan kepalaku membuatku mengaduh. "Diam," bisiknya.
"Masuklah, Maddie! Tidak dikunci," ujarnya.
Aku mendengar suara pintu dibuka, "Oh kau masih disini. Mandilah, Harry. Aku akan memaksakan mu sarapan."
"Baiklah, Terima kasih."
"Apa itu? Guling mu besar sekali. Apakah kau membeli boneka beruang?"
"Tidak, tidak. Ini guling biasa."
Aku diam, namun ide jahil ku kembali bermunculan. Lantas Aku mendekatkan wajahku ke arah tatonya dan menjilatnya. "Oh shit." Aku hampir saja tertawa jika tidak ingat ada Maddie disini. Dia mengerang.
"Kenapa?"
"Tidak, Maddie. Kurasa Aku harus mandi."
"Oh baiklah. Aku akan turun."
Saat kudengar pintu tertutup, lantas Aku mengeluarkan wajahku yang pengap ini dari selimut. Oh akhirnya.
Harry menatapku dengan seringai nya, "Kau benar-benar akan mewujudkan tantangan Zoe jika selalu seperti itu, Pamela."
Aku menggigit bibir bawah ku, "bukan masalah."
"Oh ya, Apakah Aku akan tetap disini sampai Maddie pulang?"
Harry menggeleng, "Kau bisa sarapan bersama kami. Namun kau bisa mengaku jika kau tidur dikamar tamu."
Oh ini. Ini yang membuatku berpikir jika Harry dan Maddie adalah sepasang kekasih seperti kata Zoe.