Pamela's POV
Aku memakai pakaian salah satu pembantu disini, karena pembantu Harry sangat banyak di Rumah sebesar ini, tak membuatnya tidak memiliki pembantu yang umur nya hampir seumuran denganku. Dia masih muda, dan untungnya ukuran tubuhnya hampir sama denganku dan otomatis Harry meminjam bajunya untuk kupakai pagi ini. Bodohnya Aku membuat keputusan untuk menginap di rumah Harry tanpa memikirkan hal sekecil ini, cukup menyesal. Namun tidak dengan kejadian tadi pagi saat kami bangun tidur. Berpelukan, menyelipkan kaki diantara kaki panjang Harry, berciuman, itu sama sekali tak kusesali. Dia memang selalu seksi dalam keadaan apapun.
Aku memutuskan untuk turun selagi Harry mandi, menemui Maddie. Dia pasti akan terkejut, namun Harry memintaku agar menyampaikan pada Maddie jika kami tidak sekamar. Aku sebagai tamu, anak dari Rekan bisnis Harry. Dan Aku menyetujuinya, kupikir Aku sangat tidak tau malu jika mengatakan pada Maddie kalau Aku sekamar dengan Harry. Setidaknya tidak sekarang, walaupun Aku percaya mereka hanya teman, namun tetap saja ini bukan waktu yang pas. Aku bahkan baru kenal dengan Harry.
Turun dan menuju ke Dapur, menemukan Maddie yang sedang membantu salah satu tukang masak di Rumah Harry untuk menata sarapan diatas meja makan. Lantas Aku menyiapkan senyumanku dan ikut membantunya, "Selamat pagi, Maddie," sapaku dan ia tentu saja terlontar kaget.
"Pamela?" wajahnya terkejut, "Oh, selamat pagi juga, Pamela."
Dia tersenyum, "Bagaimana bisa kau sepagi ini disini?" Jika Zoe yang bertanya seperti itu, tentu saja Aku akan menjawab sama seperti kau, kenapa kau ada disini sepagi ini? Namun ini Maddie.
"Aku ada urusan bisnis dengan Harry, Ayahku rekan bisnisnya. Jadi kami tadi malam mendiskusikan tentang perusahaan. Namun karena hari sudah terlalu malam, Harry menyuruhku menginap dikamar tamunya," ujarku dan Maddie mengangguk, dia tersenyum sangat manis.
"Oh baiklah. Bagaimana tidurmu?"
"Baik. Dan tentunya nyenyak, Harry memang pandai memilih hiasan kamar, itu membuatku nyaman," Dan jarinya yang panjang berhasil menusuk hidungku sampai Aku bangun.
Maddie mengangguk, "Mau bantu Aku menyiapkan sarapan bersama Brenda?" tanya Maddie menunjuk pembantu Harry, oh ini yang namanya Brenda. Dia yang meminjamkan bajunya padaku.
"Tentu saja," Aku tersenyum dan mendekat pada mereka, memotong buah mangga serta beri, untuk pendamping Pancake kami nanti.
Selagi Brenda memasak Pancake, Aku dan Maddie memotong-motong buah. "Kau temannya Harry?" tanyaku padanya, berusaha terlihat ramah dengan senyuman yang terus menghiasi wajahku.
Maddie tersenyum penuh arti, "Aku sahabat kecilnya, Ibuku dan Ayahku sudah tidak ada dan dia yang selalu menemaniku. Dia seperti pahlawan dan malaikatku, dia pelindungku. Aku sangat menyayanginya," ujar Maddie membuatku tau, ternyata mereka hanya sahabat. Namun mereka sangat dekat, mungkin itu akibat dari mereka sejak kecil sudah dekat. "Aku seperti membutuhkan sosok lelaki di hidupku karena Ayahku sudah tidak ada, dan ia datang membantuku," jelasnya lagi.
"Dan kembaranmu?" tanyaku, "dia juga sahabat Harry?"
Maddie menggeleng, "Sebenarnya, dia menyukai Harry. Namun dia menutupi itu," ujar Maddie membuatku terdiam. "Aku dan Siena kenal dengan Harry saat umur kami 8 tahun, dan Harry 10 tahun."
Aku menoleh padanya, mungkin ini bisa menjadi sumber bagiku agar Aku tau jelas ada apa diantara Harry, Maddie dan Siena. "Lantas?"
"Saat Aku dan Siena berumur 9 tahun, kami berdua kedapatan menyukai Harry, pria yang sama. Lantas Aku dan Siena berkelahi saat itu, namun kami adalah kembar dan wajah kami benar-benar sama. Jadi saat umur 9 tahun itu kami sering berkelahi untuk merebut Harry. Namun, saat umur kami menginjak 15, kami mulai matang dalam berpikir, dan Siena mengalah padaku. Ia membiarkanku dekat dengan Harry, Siena sangat baik." Aku seperti tertohok, selama ini yang menjadi tamengku adalah Harry yang berkata jika ia adalah teman dari Maddie, dan itu benar. Namun Aku sangat terkejut ketika mendengar kabar ini. Kupikir Maddie hanya sayang biasa pada Harry, seperti adik dan kakak atau seperti sahabat.
Aku kembali fokus pada buah beri yang sebagian belum ku potong, Aku tidak mungkin bertanya jika ia masih cinta pada Harry atau tidak. Aku memiliki cara lain, "dan perasaan suka itu masih ada sampai sekarang? Wow, kau hebat, Maddie," arti lain 'kau masih mencintainya?'
Maddie tersenyum, menoleh kearahku dan mengangguk, "Ya, Aku sayang padanya dan rasa itu tetap ada. Namun Aku tau Harry punya kehidupan sendiri, dan Aku tidak bisa memaksanya. Berada setiap Hari bersama nya dan menemaninya seperti sekarang ini sudah sangat cukup bagiku. Sudah seperti berpacaran, walaupun tanpa status yang jelas. Aku ikhlas jika Harry hanya menganggap ini tanda kasih sayang dari sahabat, padahal Aku mengartikannya dalam hal lain." Ceritanya, dia menutup mulutnya dan menatap terkejut kearahku, dia juga terkekeh kecil, "Maaf, Aku jadi curhat padamu."
Aku tersenyum, sedikit dipaksakan, "Tak apa, Maddie."
Maddie mengangguk, "uhm, Kumohon jangan bilang ini semua pada Harry. Aku ingin seperti ini terus dengannya."
Aku mengangguk ragu, dan tersenyum. Bagaimanapun juga Harry pasti jauh lebih menyayangi Maddie daripada Kau dan Aku tidak ada hak apapun pada Harry. Dalam sebuah Hubungan, Aku merasa diriku hanya sebagai perusak atau jalang yang mengganggu Harry. Menggodanya, naik ke atas Ranjangnya. Namun itu tujuan awalku, hanya bermain, dan seperti perkataan Zoe, Aku memang wanita liar dan tak pernah serius. Jadi Aku tak perlu untuk mengurus hubungan Harry dan Maddie. Kami bagaikan partner dengan keuntungan, namun menyelipkan hal-hal manis disetiap pertemuan kami. "Tenang saja, Maddie. Aku akan menjaganya."
"Terima kasih, Pamela."
Aku mengangguk, kembali memotong buah-buahan beri yang memiliki berbagai jenis. Hingga Aku dengar seorang lelaki bersiul, lantas mendengar Maddie terkekeh. "Kau tunggu disana, Harry. Kami akan siap sebentar lagi," ujar Maddie. "Berhenti bersiul," peringat nya.
Aku menoleh padanya yang sedang bersandar dikulkas dan menatapnya tajam, dia terus saja bersiul dan menatap nakal kearahku, "Berhenti atau kau tidak dapat jatah sarapan," bisikku tajam.
Dia terkekeh dan berlalu, tak lupa tangan nakalnya memukul b****g ku membuatku terlonjak kaget, hampir saja ujung pisauku terkena jari. Aku berusaha bersikap se normal mungkin agar Maddie tidak menyadari apapun.
Setelah semuanya selesai, Aku mengantar piring Pancake ke Meja makan dimana Harry sudah ada disana memainkan ponselnya. Diikuti Brenda, pembantu Harry yang membawa semangkuk buah campur yang tadi ku potong dan Maddie yang tadi ia bilang masih hendak mencari dimana letak persediaan Sirup maple, sedangkan Madu sudah ada ditanganku.
Harry membalikkan piring yang ada didepannya, bersiap untuk mengambil pancake nya. Namun Aku menahannya, "biar Aku," ujarku, Aku mengambil empat lembar pancake untuk Harry, dan menyendokkan buah beri dan mangga yang telah kami potong tadi. "Kau ingin madu atau sirup maple? Jika ingin sirup maple, tunggu sebentar, Maddie sedang mengambilnya," ujarku dan Harry menggeleng.
"Madu saja," ujarnya dan Aku mengangguk, menuangkan madu segar keatas pancake dan buahnya.
"Terima kasih," ujarnya dan Aku mengangguk.
Aku duduk disebelahnya, "bolehkah Aku ikut makan?" tanyaku untuk sekedar basa basi, Aku terkekeh.
"Tentu, sebagai bayaran telah menemaniku malam ini," Aku terkekeh dan mengangguk.
"Mau ditemani lagi?" tanyaku sembari Aku mengambil pancake milikku.
"Asalkan macan betina ini tidak keberatan," ujar Harry membuatku hendak melemparkan sendok yang ada ditanganku kearah mukanya.
Aku duduk disebelah Harry, sedangkan Maddie yang baru datang membawa sirup maple duduk didepan kami, tak lupa Brenda yang Maddie ajak untuk ikut makan disini. "Selamat makan," ujarnya dan Kami berdo'a, Maddie memang sangat berbeda denganku.
Jika Aku dan Zoe, kami akan saling mengejek sebelum makan, menentukan pria mana yang paling panas yang kami temui dijalan, atau mendiskusikan ukuran milik lelaki yang menggoda kami di Club. Sangat berbeda dengan Maddie yang berdoa terlebih dahulu.
Kami makan dengan khidmat, dan Aku mulai menelan potongan pancake pertamaku.
Saat pancake ku yang tinggal sedikit, dan Aku melihat Harry yang sudah selesai dengan makannya, dan dia terkekeh karena melihat ponsel nya. Aku mengerutkan dahiku, apa yang membuatnya terkekeh?
Lantas Aku mengintip, namun Aku mengecam saat kemampuan mengintip ku tidak sama dengan Harry saat mengintip ku ketika sedang membalas pesan dari Zoe. "Harry, habiskan teh-mu," peringatku dan dia mengangguk tanpa meminumnya. "Nanti sudah tidak hangat lagi."
Harry mengangguk sekali lagi, lantas sekarang Maddie yang menegurnya, "Minumlah, Harry. Sebelum Brenda mengangkutnya dan hendak mencucinya, habiskan."
Harry tetap saja fokus pada ponsel nya dan melirik kearah Maddie dengan tersenyum, "Ya, Maddie," ujarnya dan kembali pada ponsel nya.
Aku hendak marah karena dua hal. Satu, dia tidak menjawab ku dan hanya menangguk, sedangkan Maddie, dia menjawabnya. Sialan! Dan juga, dia tak mendengar kataku untuk menghabiskan teh nya.
Aku menambahkan tanganku pada pahanya, mengingatkanku pada kejadian semalam di pesta rekan kerja Ayahku. Dan tangan kananku kugunakan untuk memakan potongan buah.
Aku menemukannya, lantas Aku mengelus nya dan terus mengunyah, kurasakan Harry terdiam dan meletakkan ponselnya. Dia menambahkan tanganya pada pinggang ku, "Menggoda-ku di pagi hari, huh?" bisiknya dan Aku mengangguk mantap.
"Karena seseorang lelaki panas tidak menuruti perkataanku untuk meminum tehnya," ujarku dan semakin merambatkan tanganku, dan Aku benar-benar merasakan benda keras itu saat menelan mangga ku. Mengapa menjadi Aku yang tersedak?
Aku mengelus nya, meminum habis teh-ku dan melirik kearah Harry yang ada disampingku. Dia berusaha bersikap dan berekspresi se normal mungkin, hingga saat nya Brenda dan Maddie minta ijin untuk mengangkut piring-piring kami untuk mencucinya. Lantas Aku mengangguk, "Ya, Terima kasih banyak."
Maddie dan Brenda-pun berlalu, Aku menoleh kearah Harry yang mengarahkan kepalanya, urat lehernya mulai menyembul, tak lupa wajahnya yang mulai berkeringat, jangan lupakan rahangnya yang tegas dialiri keringat. "Hentikan, Aku tidak mau melakukannya diatas meja makan, disini banyak orang," yang dia maksud adalah pembantunya. Dan Aku sama sekali tidak peduli.
Oh ternyata pancake dan buah bisa membuat aura jalangku keluar seperti halnya vodka. Aku berdiri, duduk diatas pangkuan Harry, dia menyeringai dan kembali menyerang saat lututku tak sengaja menyentuh apa yang sedang ku elus saat ini. Dia membuka mengangkat kaus bagian punggungku dan mengelusnya, "Genggam, Pamela," erangnya. Lantas Aku menurutinya dan menggenggamnya. Agak terlalu susah karena masih terlalu sibuk celana pendek dan dia memakai bokser didalamnya.
Wajahnya mendekat pada bibirku, mengecup ujungnya, membuatku mengingat saat pertemuan kami yang kedua dimana saat dia pertama kalinya menciumku diujung bibir. Lantas dia berpindah ke rahang ku dan mengisapnya.
Jari-jarinya yang panjang mulai meraih hotpants-ku, dan Aku tidak masalah dengan itu, dia membuka kancingnya dengan wajah frustasinya. Aku terkekeh kecil akibat wajahnya yang imut, lantas semakin meremas miliknya yang sekarang benar-benar membatu, keras.
Dia mengerang kuat, hingga suara menginterupsi kami, "Harry? Kau tak apa?" Itu Maddie, dari arah dapur.
"Damn, Pamela. Kau harus bertanggung jawab setelah Maddie pulang," bisiknya di leherku. Dan Aku dengan senang hati mengangguk.
Mendekat kearah lehernya, "tentu, Mr." Lantas menghadiahkan nya ciuman dileher.