Pamela's POV
Aku memutarkan kursi singgasana ku, diriku merasa sangat bosan di ruangan ini, Aku memiliki ruangan khusus di kantor Ayahku, tentu saja. Dan Aku mendengar suara pintu terbuka tanpa memencet belnya, mendongak untuk melihat ada siapa disana yang berani-berani nya masuk ke Ruangan ku tanpa ijin dariku dan disana berjalan lah seorang Zoe, dengan wajahnya yang benar-benar seperti Jalang. Aku serius.
"Kenapa? Kau bosan? Aku bisa menghubungi ayahku dan meminta tugas baru untukmu," ujarku dan Zoe menggeleng, dia duduk di Sofa yang ada di Ruanganku. Dia hanya ketempat ku saat ia bosan karena tidak ada pekerjaan lagi dan saat ini Akupun bosan, sebenarnya.
"Aku butuh membawamu ke Dokter obgyn dan memeriksa apakah kemaluanmu baik-baik saja setelah bercinta dengan Harry," ujar Zoe membuatku melemparkan pena dengan tulisan nama perusahaan Ayahku ke kepalanya.
"Aku tidak bercinta dengannya, bodoh," ujarku dan Zoe malah mengejekku.
Dia berjalan kearah meja ku dan menyandarkan pinggangnya di ujung meja, dia mengelus kepalaku dan yang terakhir menepuk nya, membuatku mengaduh. Sialan. "Kau itu Jalang, dan tentunya kau tidak tahan jika dekat-dekat dengan lelaki panas macam Harry, apalagi kalian tidur di satu kamar."
Aku menggeleng, "Aku bersumpah, Aku belum pernah bercinta dengannya," Zoe mengangguk namun pandangan matanya masih menyiratkan ketidak yakinan.
"Makan siang bersamaku?" tanya Zoe membuatku menatapnya aneh sekarang.
"Kemana pacarmu yang berpenis kecil itu?" tanyaku dan dia memutar kedua bola matanya. Ouch, tumben dia tidak menyerangmu karna mengatai kekasihnya tercinta itu.
"Dia sibuk," ujar Zoe membuatku memiringkan kepalaku.
"Sibuk apa?"
Zoe mengedikkan bahunya, "tidak tau, sibuk membesarkan penisnya mungkin," ujar nya tidak peduli.
Aku tertawa, menendang kakinya, "kalian sedang berkelahi?" tanyaku dan Zoe mengangguk. "Kenapa?"
"Kemarin Aku mengajaknya bercinta dan ia malah mementingkan pekerjaannya, padahal semua orang tau itu hari sabtu dan itu hari libur. Beruntunglah kau dimanjakan oleh Pria panas itu, padahal dia bukan kekasihmu, ups," ujar Zoe membuatku memutar kedua bola mataku.
"Lebih baik mana ketimbang yang pacaran dan tidak dapat apa-apa? Lebih baik Aku, kami tidak ada hubungan dan Pria tampan itu benar-benar menggoda," ujarku dan Zoe langsung saja cemberut.
"Apakah Maddie dan Harry benar-benar bukan sepasang kekasih?" tanya Zoe dan itu benar-benar membuat mood ku hancur, padahal tadi aku baru saja bahagia karena melihat Zoe kesal. Dia memang bisa saja membalikkan keadaan.
Aku menggeleng, "tidak, semua perkiraan mu itu salah. Kemarin Harry dan Maddie sudah bilang padaku jika mereka memang tidak memiliki hubungan apa-apa," jawabku, lantas Aku kembali memberikan penjelasan kepada Zoe. "Mereka hanya bersahabat, sejak kecil."
"Dan Aku tebak disalah satu dari mereka memiliki perasaan lebih, itu sudah biasa dalam persahabatan antar lelaki dan perempuan," ujar Zoe dan Aku merasa benar-benar tertohok, dia benar. Lantas Aku tidak bisa mengelak lagi.
"Ya, Maddie bercerita padaku jika ia menyukai Harry sejak dulu namun dia tetap ingin bersahabat dengan Harry, dia tak ingin merubah keadaan yang menurutnya itu cukup diantaranya dan Harry," kelasku panjang lebar, Aku memainkan tumpukan kertas HVS kosong yang baru kuambil dari laci, melihatnya atau mencoret-coretnya.
Zoe menjentikkan jarinya, "i know right," ujar nya dan Aku cemberut, lantas mengangguk. "Kenapa sedih? Kau menyukai Harry?" tanya Zoe membuatku menggeleng.
"Tidak, hanya kau tau... Aku tidak suka Maddie dekat - dekat dengan Harry, kau mengerti kan perasaanku? Aku tidak menyukai Harry namun, argh! Aku tidak tau bagaimana menjelaskanya," Zoe mengangguk dan terkekeh.
"Aku tau, aku tau." Zoe menegakkan tubuhnya, dia seperti teringat sesuatu, "Oh, Pamela!" pekiknya seperti ada bohlam dikepalanya.
"Kenapa?" tanyaku malas.
"Bukankah Ayahmu akan bertemu dengan Harry setelah makan siang ini? Oh s**t, Aku lupa memberitahu-mu jika nanti siang kita ada meeting dengan Styles' Tribes Company!" Aku menatapnya tidak percaya, oh benarkah?
"Akankah Harry datang?" tanyaku padanya, "biasanya CEO-CEO sibuk seperti Harry akan menyuruh Asisten atau bawahannya yang lain untuk hal seperti itu," ujarku dan Zoe menggeleng.
"Aku yakin jika kesini ia akan turun tangan langsung! Kita lihat nanti," ujar Zoe dan Aku mengangguk. Aku tidak tau jika hari ini ada meeting dan sialnya Ayahku juga tidak memberitahu kepadaku, dan Aku berasumsi jika Aku tidak dibutuhkan dalam meeting kali ini, namun Aku akan tetap datang. Siapa yang tidak mau melihat Lelaki panas, tampan dan kaya ber-presentasi didepan-mu? Aku tidak se-rela itu membiarkan karyawan Ayahku yang lain menikmati itu sedangkan Aku yang notabe-nya anak pemilik Perusahaan ini tidak menikmati ciptaan Tuhan yang akan datang sebentar lagi.
"Oh, kita belum makan, sebaiknya kita mengisi ulang tenaga sebelum melihat si Tampan itu," ujar Zoe dengan semangat dan Aku terkekeh, menatap jijik kearahnya.
Lantas Kami turun ke Kafetaria karena tidak ingin menghabiskan waktu pergi ke Restoran lain, "Kau ada rencana tidak untuk serius dengan Harry?" tanya Zoe membuatku tertawa dan menatapnya tidak percaya.
"Serius? Kau menanyakan itu?" tanyaku dan Zoe memukul lenganku sambil mendecak tidak suka.
"Ya, Aku serius, Pamela."
Aku mengangguk, "okay, uhm untuk soal itu. Aku saja baru kenal dengannya, jika ia serius Akupun akan serius, namun Aku melihat dia sama sekali tidak menunjukan hal tersebut. Kami hanya sama-sama ingin bersenang-senang dulu, Dia sebagai CEO perusahaan besar yang tentunya butuh menghilangkan penat, dan Aku adalah wanita jalang yang bersedia akan itu, uhm. Kau tau maksudku, Aku juga tidak ingin terburu-buru," ujarku sambil menggigit bibirku dan Zoe mengangguk.
"Aku mengerti," ujar Zoe dan Aku sangat bersyukur memiliki sahabat yang sangat mendukungku seperti ini, dia selalu Ada disaat Aku susah maupun Sulit dan begitupun denganku. Hidupku simpel, jika orang baik dan tidak membuat masalah pada diriku, Aku bisa baik pula padanya. Dan sebaliknya, jika ia suka berbuat masalah atau yang kulihat dia tidak cocok bagiku, Aku akan menjauhinya. "Memangnya jika kalian bertemu, kalian hanya akan membahas hal tentang bersenang-senang, maksudku, tentang ranjang?" tanya Zoe dan Aku menggeleng.
Kami mulai memasuki pintu kaca Kafetaria dan Aku menggeleng atas pertanyaan Zoe tadi, "Tidak, maksudku kami hanya menjadi dua manusia normal. Aku dan dia tentu saja tidak bisa membahas hal seperti itu terus-menerus. Kami akan berpelukan layaknya sepasang kekasih dan bercerita tentang kehidupan kami yang memang pantas untuk diketahui, yang tidak terlalu privasi maksudku. Namun kami tidak terikat apa-apa dan Aku baik-baik saja dengan itu, Harry-pun sama," ujarku dan Zoe mengangguk, dia tampak kurang suka dengan perkataanku baru saja. Lantas saat kami duduk di salah satu Meja yang sudah kami pilih, dia dengan bijak tersenyum padaku dan menepuk tanganku yang ada diatas meja.
"Ya, asal kalian berdua tau batasan, yang terlalu jauh dan Akan membuat kalian melakukan hal-hal yang berlebihan, yang dapat menyakiti satu sama lain."
Aku tersenyum dan mengangguk, Zoe adalah Ibuku. Kurasa. "Tenang saja, Zoe."
----------
Aku menyeringai, memerhatikan Harry yang sedang ber-presentasi didepan, didepan Ayahku dan beberapa kepala Divisi perusahaan Ayahku ini. Oh Tuhan, tubuh tingginya dengan jarinya yang sibuk memencet remot untuk mengarahkan laser pada Layar yang terpampang di depan kami, menunjukan apa yang ia dan Ayahku akan lakukan untuk kerja sama mereka dalam beberapa bulan kedepan. Dan tentunya akan sangat menguntungkan bagi dua belah pihak, perusahan Harry sangat besar dan mana mungkin Ayahku yang gila harta itu melewati nya begitu saja.
Matanya menangkap mataku yang jelas-jelas memerhatikan nya dengan sangat lakat, Aku gelagapan dan mengalihkan pandangan ku darinya. Lantas Aku berpura-pura berbicara pada Bethany-Divisi pemasaran, agar Aku tak perlu malu lagi dihadapan Harry. Sialan.
Aku-pun sebenarnya tidak dibutuhkan dalam rapat ini, Aku tadi hanya masuk kedalam ruangan dan mengambil kursi, sedangkan Ayahku hanya mengangguk senang saat Aku kedapatan disini. Entahlah, namun Aku merasa Ayahku memiliki tak-tik tersendiri untuk kerja samanya kali ini, dia seperti... Menjual ku pada Harry? Itu kusadari saat dia menyerahkan ku begitu saja pada Harry saat malam pesta perayaan Perusahaan temannya kemarin, lalu saat ia tau Aku menginap di Rumah Harry dan Ayahku sama sekali tidak marah. Dan sekarang, dia senang saat mengetahuiku ingin ikut pada rapat ini padahal Aku sama sekali tidak diajak.
"Bagaimana, Miss Crawford? Adakah saran dari anda untuk kerja sama ini kedepannya?" Oh Sial, Harry sialan yang sayangnya sangat panas didepan situ. Aku menggigit bibir bawah ku bingung, uh bisakah Ayahku membantuku kali ini saja? Aku hampir saja menendang b****g Zoe saat ini, karena dia sedang menahan tawanya. "Baiklah, jika tidak ada, bisa kita lanjutkan. Kupikir diwajahku tidak ada penjelasan tentang ini maka lihat pada layar."
Oh sial.
Aku benar-benar bisa mati menahan malu jika terus bersama Harry, dia selalu pandai dalam berkata - kata, ini benar-benar memalukan, Aku harus menemuinya setelah ini.
"Lihat, Pamela. Untung saja karyawan Ayahmu tidak menyadari jika kau sedari tadi memandangi Harry dengan napsu."
Aku menginjak kaki Zoe agar dia diam, sial.
-----------
Me.
Harry, Apakah kau mempunyai photocopy hasil rangkuman Rapat tadi? Aku lupa untuk memintanya pada Asisten Ayahku.
Oh, tidak. Aku bahkan sama sekali tidak membutuhkan fotokopi sialan itu, hanya untuk menarik Lelaki panas agar memasuki Ruangan ku ini.
Harry.
Ya.
Me.
Bisakah kau mengantarkannya ke ruangan ku, ruangan ku ada di lantai 14.
Kupikir dia akan datang dengan cara seperti ini, namun otak licik ku kembali berpikir jika seperti ini dia bisa saja menyuruh Asistennya untuk mengantar ke Ruangan ku.
Me.
Ada yang ingin kubicarakan juga. Terima kasih.
Nah, Aku memang cerdas. Dengan ini dia akan langsung menuju ke Ruanganku.
Aku menunggunya, mengecek ponselku dan hanya ada tulisan read disana. Huh.
Bel berbunyi, dan senyumku mengenang. Itu dia, buronan ku. Aku lantas membukanya dan tersenyum, dia membawa kertas-kertas yang sudah di rangkap menjadi satu.
"Masuk, kuharap kau memiliki banyak waktu," ujarku.
Dia duduk di Sofa yang sama sepertiku ku, lantas Akupun duduk di depannya. Uh sial, "Ada apa?" tanyanya.
Aku menggigit bibir bawah ku, kenapa Aku menjadi gugup sedangkan tadi Aku yang mengajaknya untuk bertemu?
Aku menggeleng, melipat kertas-kertas seperti kebiasaanku, "uhm--"
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, biarkan Aku yang berbicara," ujarnya membuatku menatap padanya.
"Apa?" tanyaku.
Dia menggerakkan matanya menyuruhku mendekat padanya, lantas Aku menurut. Aku menggigit bibir bawah ku benar-benar kuat saat merasakan wajahnya maju mendekatiku, "Apakah kertas fotokopi sialan itu hanya sebagai alasan untuk menarik ku, nona?" bisiknya dan benar saja, bulu kuduk ku meremang. Dan Aku menatapnya seperti bagaimana kau tau? "Karena Aku tau dirimu bahkan tidak diundang dalam rapat itu, jadi apa fungsi kertas itu bagimu?"
Aku memainkan jariku, gugup dan malu dan napsu menghiasi diriku sekarang, seperti kau hewan hasil tanggapan yang tertangkap basah dan dikurung didalam kandangmu dan soalnya orang-oranh menonton mu. Benar-benar terasa terancam.
"Tidak, maksudku Aku benar-benar ingin membahas sesuatu denganmu."
"Membahas masalah ranjang di Ruang kerja bukan hal baik."
Aku menatapnya tajam, berusaha mengintimidasi nya balik dan dia malah terkekeh, uh menyebalkan. Aku kira ia akan takut. Wajahnya berseri tepat didepan wajahku, dia seperti menggodaku dengan wajahnya yang tampan. Mereka seperti menjerit cium aku! Cium aku!
Aku mengalungkan tanganku dan Harry menyeringai, dia seperti menghipnotis ku. Dan seringai nya seperti meneriakkan ayo, satu langkah lagi, Pamela!
Aku memajukan wajahku, sebelum itu Aku sempat terkejut saat dia menarik pinggang ku sehingga Aku duduk diatas pangkuannya. Dia mengecup bahuku yang telanjang karena Aku melepaskan blouse-ku tadi. Aku lantas mengusap rambutnya yang halus dan mulai mengecup bibirnya, mengelus rahang ang yang kokoh dan menyerang saat ia membalas ciuman ku tak kalah hebat.
"Aku akan bertanggung jawab atas kejadian pagi itu."
Harry melepaskan ciumannya, menatapku dan dia menyeringai senang atas ucapanku barusan. Aku memang meninggalkan nya dalam keadaan bonner yang Zoe bilang blue ball. Dan ini kurasa waktu yang tepat untuk itu.
Dia mendorongku, menjatuhkanku dari pangkuannya membuatku berbaring di Sofa.