Saya terima nikahnya Asea Nacita Juana Binti Bimo Juana, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!
- Aldeno Putra Julian -
*****
"KELUAR!"
Satu per satu dari mereka menunjukkan wajah, sebagian sudah tak asing lagi di ingatan. Namun, sebagian lagi aku tak tahu, apa mereka baru saja merekrut anggota baru?
"Mau kalian apa? Gak bosen kalah terus?"
"Dari pada lo bacot terus, sini maju."
Arthur, pria itu tak pernah lelah mencari masalah. Dasar mantan sahabat yang tak tahu diuntung! Lagi pula, untuk apa ia menculiknya? Sedangkan mereka adalah ....
"Den, kita kejebak," ujar Rio dari belakang.
Tunggu!
Aku paham artinya, penculikan ini hanya drama. Ini sudah direncanakan. Buktinya seseorang membebaskan wanita itu, mereka tertawa.
"Hajar!" perintah Arthur.
Mereka yang lebih dari sepuluh orang menyerbu kami yang hanya empat orang. Kami tak akan kalah. Wajahku terkena pukulan dari cowok dengan tubuh tambun, sakit.
Pertarungan sengit antar Elang versus si pecundang telah selesai, dimenangkan oleh Elang. BANGGA! Mereka semua tergeletak di atas lantai dengan luka mengenaskan. Aku menatap ketiga temanku, wajah mereka pun penuh luka, termasuk aku sendiri. Di ujung sana, wanita itu berdiri, menatap kami dengan kosong.
Hari ini adalah hari Sabtu, sungguh hari yang paling terkutuk. Sudah wajah babak-belur, nyeri di sana-sini, dan lagi aku yang masih kelas dua belas harus menikah dengan gadis sialan itu. Bahkan aku tak pernah membayangkan untuk mengenalnya. Nyatanya sekarang malah aku harus menikah dengannya. Mimpi buruk apa ini Tuhan?
Semalam saat aku pulang pun masih dimarahi habis-habisan oleh bunda.
Aku memasuki rumah dengan mengendap-endap agar tak ada suara yang ditimbulkan. Namun, nyatanya usahaku gagal karena bunda sudah menunggu di ruang tamu.
"Ke mana saja?" Raut wajahnya sangat tidak bersahabat, marah atau kecewa aku tidak tahu.
"Nolong teman, Bun."
"Mantan kamu itu kan?"
Aku terdiam, dari mana bunda tahu jika teman yang dimaksud adalah 'dia'? Lebih baik bunda tak perlu tahu bahwa kami dijebak.
"Jawab, Den."
"Iya, Bun."
"Kamu ngapain, sih? Kenapa masih berhubungan sama dia? Kamu udah mau nikah loh, Den. Jangan bikin Bunda sama yang lainnya kecewa. Lagi, dia cuma mantan yang gak tahu diri. Kenapa kamu mau berkorban buat dia?"
Bunda berdiri menghampiriku, menatap luka lebam di beberapa bagian wajah lalu membelai lembut.
"Dia disekap sama musuh Deno, Bun. Gak mungkin Deno biarin gitu aja, dia bisa mati."
"Itu bukan urusan kamu, Den. Lupain dia. Kamu udah ada Sea."
"Tapi, Bun ...."
"Nurut atau kamu pergi."
Frustasi rasanya jika seperti ini. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah babak belur, dimarahi bunda, dan sekarang harus menikah secara paksa. Menyebalkan sekali, aku seperti ingin kabur dari acara ini seperti di film-film yang aku tonton. Atau tidak, aku ingin dihisap oleh lumpur hisap dan akhirnya menghilang. Namun, itu semua hanya khayalan saja.
Namun, bagaimanapun juga, aku telah menyetujui pernikahan ini. Meskipun dengan berat hati. Harus menerimanya dengan segala resiko dan akibat yang akan datang. Aku juga akan belajar mencintai Sea, gadis sialan itu. Meskipun terpaksa.
Sekarang aku berada di salah satu kamar di rumah keluarga Juana. Memakai setelan jas putih. Sebenarnya, pernikahan ini seharusnya dilaksanakan di rumahku. Namun, Sea menolak dengan alasan ingin memiliki kenangan terakhir sebelum pindah dari rumahnya. Alhasil semua dekorasi yang sudah dipasang mendadak harus dicopot dan dipindahkan.
Aku keluar dari kamar dengan bunda yang menggandeng tanganku. Kami menuruni satu per satu anak tangga. Di bawah sana, sudah ada penghulu, beberapa kerabat dan ketiga temanku, minus Bang Daniel yang sedang kuliah di Jerman. Hanya itu saja. Kami tak ingin ada orang lain yang tahu. Apalagi jika muncul rumor bahwa aku menghamili atau melakukan perbuatan tidak terpuji pada Sea.
Duduk tepat di depan Om Bimo. Hanya terhalang oleh satu buah meja kecil, dengan beberapa buku tergeletak tapi di atasnya. Kedua telapak tanganku terasa berkeringat. Sungguh sangat gugup. Apakah image sebagai seorang cool boy akan sirna hari ini? Entah.
Tak berapa lama, dari tangga muncul seorang wanita yang akan segera menjadi istriku, tentu dengan mamanya yang menuntunnya perlahan. Gaun putih panjang yang menjulur, serta riasan yang tak begitu menor. Seolah memberikan kesan tersendiri. Aku terpesona sesaat, dan tersadar ketika bunda menyenggol lenganku.
Dengan malu-malu, Sea duduk di sampingku. Sedikit berjauhan, entah karena memang malu atau karena tak nyaman.
Acara akan segera dimulai. Om Bimo membaca basmallah seraya menjabat tanganku.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya. "Saya nikahkan kamu, Aldeno Putra Julian bin Arno Julian, dengan putri saya, Asea Nacita Juana binti Bimo Juana, dengan seperangkat alat sholat dan satu buah rumah serta mobil dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya Asea Nacita Juana binti Bimo Juana, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu yang duduk tepat di samping Om Bimo.
"SAH!" jawab mereka serempak.
"Alhamdulillah."
Semua orang bersyukur karena pernikahan ini berjalan lancar. Setelah itu, kami semua berdoa, dipimpin oleh bapak penghulu, lalu pemasangan cincin. Aku mencium kening Sea, dan Sea mencium tanganku.
Ritual wajib di keluarga Julian yang terakhir adalah menyalami kedua orang tua kami masing-masing. Begitupun bergantian. Memeluk mereka dan mengucapkan terima kasih.
Para undangan telah membubarkan diri. Menyisakan aku dan Sea, kedua orang tua kami serta teman-teman kami. Kulihat ada raut sedih di wajah ibu mertuaku. Mungkin karena ia harus melepaskan kepergian anak perempuannya.
"Nanti kalian nginep di sini dulu, ya? Besok baru pindah. Mama mau lepas kangen dulu sama Sea, ya, Nak?" kata Tante Kelly padaku. Hanya kujawab dengan anggukan.
"Iya, Tan."
"Jangan panggil Tante lagi, panggil Mama. Kan udah jadi mantunya," sahut bunda. Aku mengangguk lagi.
Para orang tua meninggalkan kami berenam di ruang tengah. Tak ada yang membuka pembicaraan, hening. Kulihat keringat menetes di dahi Sea, sepertinya ia kelelahan. Aku mengalihkan pandangan, menatap bingkai foto yang berada di meja. Biarkan saja aku tak peduli, aku masih belajar menerima dan mencintai. Belum sepenuhnya mencintai.
"Jangan lupa buat dedek gemes, ya," kata Nana. Aku hanya memutar bola mata malas. Bahkan aku sekarang masih kelas dua belas, kenapa membahas hal seperti itu.
"Iya, nanti buat kembar 11," sahut Fahri.
"Pala lo sebelas, lo kira Sea kucing," bantah Anton.
"Iya boleh tuh, ntar kita buat tim sepak bola," celetuk Riza.
Apakah aku bisa membuat sebelas anak dalam satu kandungan? Coba bayangkan jika Sea benar hamil sebelas bayi, seberapa besar perutnya?
"Apasih lo pada, berisik!" kataku sebal.
Aku bangkit dari duduk, membungkukkan badan lalu menggendong Sea ala bridal style. Setelah itu aku melangkah pergi ke kamar Sea. Terdengar teriakan tak terima dari keempat mulut manusia di belakang yang protes karena aku meninggalkan mereka. Tak peduli. Aku lelah.
Sea yang ada di gendonganku hanya mampu terdiam. Mungkin ia kaget, atau menikmati?
Setelah sampai di depan kamarnya, aku menyuruhnya untuk memutar kenop pintu. Kubawa masuk dan menutup pintu itu lagi. Kutidurkan Sea di atas kasur bergambar kartun itu.
Posisinya berada di bawahku, sedangkan aku berada di atasnya dengan kedua tangan sebagai penyangga. Menghirup kuat aroma mawar yang menguar dari rambutnya itu.
"Sekarang gue belum cinta sama lo, gue bahkan gak peduli sama lo, tapi, gue bakal belajar buat mencintai dan nerima lo sebagai istri sah gue." Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan selama hidupku, kedua, yang pertama saat ijab kabul.
Kulihat Sea meneguk ludahnya sendiri. Wajahnya seperti menampilkan sebuah kegugupan yang nyata. Apa ia pikir aku akan menyentuhnya dan melakukan hal itu? Tidak!
"Ka-kak," ucapnya terbata-bata. Matanya tak menatap ke arahku, tapi ke arah pintu.
Mengikuti arah pandanganya, aku langsung berdiri dan menormalkan detak jantung karena kaget, di sana ada teman-teman serta orang tua dan mertuaku, tengah menatap kami dengan tatapan nakal. Aku menggaruk tengkuk kikuk, mendeka lalu mendorong mereka agar keluar, setelah itu menutup pintu lalu menguncinya.