Sea bakal belajar jadi istri yang baik.
- Asea Nacita Juana -
*****
Aku yang masih terlelap terpaksa harus membuka mata dan meninggalkan mimpi indahku. Bagaimana tidak, jika pintu sedari tadi diketuk dengan sangat keras. Aku bangun dengan terpaksa, mengucek mata yang terasa sangat lengket sambil sesekali menguap.
"Sea! Deno! bangun sarapan." Suara itu terdengar lagi dibarengi ketukan yang semakin keras. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi, benar saja mama membangunkanku.
"Iya, Ma, bentar, Sea mau cuci muka dulu," kataku. Suara mama pun sudah tak terdengar lagi, hanya suara langkah kaki menjauh itu masih menggema.
Aku bangkit dari duduk dan menghampiri Deno yang tertidur di atas sofa. Hmm, sebenarnya semalam aku harus berdebat tentang di mana kita akan tidur. Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya Deno memutuskan untuk tidur di sofa dan aku di kasur.
Kubangunkan Deno yang masih terlelap dengan selimut menutup dari ujung kepala sampai kaki. Aku mendekatinya dan menyentuh bahunya pelan seraya sedikit menggoyangkannya.
"Kak," panggilku.
Dia merentangkan tangan untuk meregangkan otot. Itu membuat selimut yang menutupi wajahnya tertarik turun, matanya masih sangat rapat tertutup. wajahnya terlihat begitu damai, dan ... tampan. Tersirat rasa lelah jika dilihat dari wajahnya. Rasanya aku tak tega jika harus membangunkannya sekarang. Biarlah, nanti akan kubawakan makannya kemari.
Aku segera menuju kamar mandi yang berada di dekat sofa untuk mencuci muka. Aku memperhatikan wajahku yang masih penuh dengan riasan kemarin. Mungkin bagi kebanyakan pengantin, malam itu adalah malam yang begitu indah. Namun, bagiku mungkin sebaliknya. Bukannya bahagia aku malah dibuat kesal karena ia tak mau membantuku membuka resleting gaun yang berada di punggung. Karena nyatanya tanganku sangat pendek untuk meraih resleting itu.
Setelah selesai aku segera menuju ruang makan yang berada satu tempat dengan dapur. Masih mengenakan baju tidur berwarna pink dengan gambar beruang serta sandal rumahan dengan bulu-bulu halus, aku duduk di samping papa.
"Pagi, Ma, Pa," sapaku. Papa hanya tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya membaca koran.
"Deno mana, Nak?" tanya mama.
"Masih bobok, Ma."
"Semalam kalian abis itu kan?" sahut papa seraya meletakkan korannya yang telah dilipat itu di atas meja.
"Itu apa, Pa?"
"Buat anu." Aku mengernyitkan dahi ku, sungguh aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. "Adek."
"Sea mau punya adek baru?" tanyaku polos, karena nyatanya aku memang tak mengerti.
Papa memutar bola matanya sebal, lalu meminum kopi yang tersaji di atas meja. Sedangkan mama tersenyum sambil menggeleng. Aku tak memperdulikannya, mereka aneh, tak jelas.
Aku mulai memasukkan sesendok makanan itu. Tak ada lagi yang berbicara, hanya detingan sendok dan piring yang mengisi. Aku menghabiskan makanan itu hingga tak bersisa satu biji nasi pun. Setelah itu meneguk habis air yang berada di dalam gelas.
Aku mengambil piring bersih dan mengambilkan secentong nasi putih dan lauk ke dalamnya. Mama melihat tanpa berkedip, seolah bertanya sedang apa. Aku tak mengindahkannya, hingga deheman papa membuat kegiatan itu berhenti sejenak.
"Kamu harus latihan jadi istri yang baik ya, Nak." Aku mengangguk seraya tersenyum. Memang sudah seharusnya belajar bukan? Aku tak ingin mengecewakannya.
"Sea ke kamar dulu ya, Ma, Pa," kataku, mereka hanya mengangguk.
Aku berjalan perlahan karena takut makanan dan minuman yang berada di tanganku ini akan tumpah. Aku menaiki satu persatu anak tangga yang membawa menuju kamar.
Sesampainya di depan kamar, aku mencoba membuka pintu itu dengan perlahan. Setelahnya aku menaruh makanan itu di atas meja.
Mataku melirik ke arah sofa, Deno sudah tidak ada di sana. Mungkin saja sudah terbangun dan sedang berada di kamar mandi. Pikirku, mungkin bisa membersihkan kamar dulu sambil menunggu ia selesai di kamar mandi. Aku merapikan seprai, bantal, guling, dan selimut yang berserakan karena ulah sendiri, menatanya dengan rapi.
Merasa sudah enak dipandang, aku duduk di tepi kasur seraya mengayunkan kaki maju dan mundur. Tak lama Deno keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang menutupi bagian pusar sampai lutut, sedangkan bagian atas tak mengenakan apapun. Ia tengah mengusap rambutnya yang basah karena habis keramas.
Melihat hal itu, wajahku seolah terbakar. Bagaimana tidak, aku harus menyaksikan seorang pria yang hanya mengenakan handuk dan bertelanjang d**a. Yang benar saja!
Aku menutup kedua mata dengan bantal. Setelah agak lama, memastikan apakah Deno sudah memakai baju lengkap atau belum. Aku melihat sekeliling, tapi ia tak terlihat sama sekali. Apakah ia sudah pergi? Lalu untuk apa aku membawakannya makanan?
"Suapin." Aku menoleh kaget ke belakang. Ternyata lelaki itu ada tepat di belakangku, mendudukkan pantatnya di sana sambil memainkan ponsel.
Tadi ia minta aku melakukan apa?
Menyuapinya? Benarkah?
Aku masih diam memikirkan apakah yang terdengar itu nyata atau tidak.
"Cepet."
Aku yakin itu benar, sangat yakin.
Dan ... aku sangat senang!
Kuambil piring makanan itu dan menyuapinya dengan perlahan. Matanya bahkan seperti tak ingin melihat, karena sejak awal tak lepas dari benda pipih yang ada di genggamannya.
Saat ingin memberinya minum dengan tanganku, ia menyahutnya dengan agak kasar. Jujur saja bingung, tadi ia menyuruh untuk menyuapinya dan sekarang ia merebut gelas minuman itu dengan kasar. Jika diingat lagi, ada beberapa sikapnya yang memang terlihat manis, dan sisanya seolah tak peduli serta kasar.
Tak ingin memikirkan hal itu, mungkin saja ia memang begitu. Aku meletakkan piring yang telah kosong di atas meja lalu bergegas untuk mandi.
Menanggalkan semua pakaiank dan mulai berendam di dalam bathub. Tak perlu menunggu lama, ritual mandi telah selesai. Tanganku meraba ke gantungan handuk yang terletak di sebelah kanan. Namun, yang dicari tak ada. Kau pasti tahu apa yang aku cari bukan? Ya, handuk, handukku tak ada.
Aku baru ingat bahwa handukku itu tadi dipakai untuk mengelap rambut Deno. Dan tentu saja sekarang masih ada padanya.
"Kak, tolong bawain handuk Sea, dong!. Yang tadi kakak pakai buat lap rambut," kataku dengan sedikit berteriak. "KAK, HANDUK SEA MANA?!" Teriakku setelah lima menit menunggu handuk itu tak kunjung datang.
Terdengar suara pintu yang terbuka. Aku melirik ke arah pintu itu, ada tangan yang terulur seraya memegang handuk. Aku mengernyit, kenapa ia tak masuk saja? Bagaimana bisa mengambil handuk itu sedangkan jarak kami lumayan jauh?
"Masuk ih, tangan Sea gak nyampe," kataku. Namun, ia tak kunjung masuk, apa perlu aku berteriak lagi? "MASUK AJA, KAK!"