Cekiiittt!
BRUAKK!
Suara ban mengerem dan benturan keras memecah hiruk pikuk jalan sore itu.
Devan Alvandra menahan napas. Di depannya, seorang perempuan terpelanting ke aspal. Tubuhnya berguling sekali, lalu diam. Darah mulai merembes dari lututnya, mengalir cepat ke ujung tumit.
Sial.
Sial.
Sial.
Tanpa pikir panjang, Devan melompat keluar dari mobilnya. Jas Armani seharga puluhan juta itu langsung kotor saat ia berlutut di samping tubuh yang terkulai lemas.
"Hey! Bangun! Jangan tidur!" suaranya tercekat.
Perempuan itu tidak menjawab. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek. Di sela bibirnya ada darah.
***
"Tolong! Suster! Ada yang tertabrak!"
Seorang suster dan dua perawat berlari dengan brangkar. Tangan mereka cekatan mengangkat tubuh perempuan itu.
"Ada apa ini, Pak?"
"Tolong saya, Suster. Saya yang nabrak. Tolong tangani dia dengan baik! Saya mohon!" Devan hampir berteriak. Panik.
"Baik, Pak. Silakan urus administrasi dulu. Hubungi keluarganya juga. Kami bawa pasien ke UGD sekarang."
Devan mengangguk cepat. Tangannya gemetar saat merogoh tas selempang perempuan itu. Dompet. Ponsel. Hanya itu.
Di KTP, tertulis:
*Silvia Lestari*
*25 tahun*
Dua puluh lima. Sama dengan Catherine, calon istrinya.
Tapi mata ini... kosong. Tidak ada kemewahan, tidak ada hidup yang terjamin. Hanya lelah.
Ponselnya tidak terkunci. Devan membuka log panggilan terakhir.
"Hallo, selamat siang. Apakah ini keluarga dari Nona Silvia Lestari?"
[...]"
"Bolehkan siang ini Anda datang ke RS? Nona Silvia mengalami kecelakaan."
Ia berbohong kecil. Bukan keluarganya. Hanya teman kerja Silvia. Tapi seseorang harus tahu kabarnya.
---
"Bagaimana keadaannya, Dokter?"
Dokter keluar dari UGD dengan masker masih menggantung di leher. Ekspresinya datar.
"Pasien sudah sadar. Anda boleh menjenguk. Tapi..." Dokter berhenti sejenak. "Ada retakan lebar di tulang kakinya. Untuk beberapa bulan ke depan, dia tidak bisa berjalan dengan normal. Nona Silvia terpaksa harus duduk dikursi roda."
Dunia Devan berputar.
Ia yang ceroboh. Ia yang melaju terlalu cepat karena telat bertemu Catherine.
Dan sekarang, seorang perempuan jadi cacat karenanya.
Tuhan... maafkan aku.
Tangan Devan mengepal. Ia ingin masuk. Ia ingin minta maaf langsung.
Tapi ponselnya berdering.
*Catherine.*
"Hallo sayang?" suaranya dipaksakan tenang.
["Kamu di mana, Dev? Katanya janji makan siang. Aku udah nunggu satu jam lebih di kafe!"]
"Catherine, maaf. Aku... saat ini mengalami musibah. Aku nabrak orang. Sekarang aku ada di rumah sakit."
["APA?! Kamu nabrak orang, Dev?!"]
Suara Catherine naik satu oktaf. Ikut panik.
"Iya. Perempuan itu tiba-tiba menyebrang jalan. Aku nggak sempat ngerem. Maaf, aku nggak bisa makan siang. Nanti aku kabarin lagi kalau urusan ini sudah selesai."
["Janji ya. Aku tunggu. Dan malam ini, kamu harus ke apartemenku."]
["Byee... I love you, beb."]
"I love you too."
Devan menutup telepon. Dadanya sesak.
Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah menumpuk.
Ia membuka pintu kamar UGD pelan.
Silvia sudah sadar. Duduk bersandar, satu kaki dibalut perban tebal. Matanya merah, tapi tidak menangis.
"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Devan hati-hati.
Silvia menoleh. Tatapannya tajam seperti pisau.
"Apa kau nggak lihat? Tentu saja ini sakit."
Devan menarik kursi, duduk di sampingnya. Kepala tertunduk.
"Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja. Saya akan tanggung semua biaya Rumah Sakit. Mau berapa pun, katakan saja. Saya transfer sekarang."
Ia mengeluarkan ponsel. Siap mengetik nominal.
Silvia menatapnya lama. Lalu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Apa kau yakin mau kasih apa pun yang kuminta?"
"Ya. Demi tanggung jawab saya."
"Benar?"
"Benar."
"Aku tidak mau uangmu."
Dahi Devan berkerut. "Lalu?"
Silvia mencondongkan tubuh. Suaranya pelan, tapi menusuk.
"Tapi, aku ingin kau menikahiku."
Waktu seolah berhenti.
"Apa?" Devan hampir tertawa. "Nona, ini bukan lelucon. Saya sudah punya calon istri. Satu bulan lagi kami akan menikah."
"Aku serius," potong Silvia. "Nikahi aku. Itu satu-satunya cara aku bisa memaafkanmu. Dan jujur... aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi kalau kau tidak mau menikahiku, lebih baik aku mati saja. Hidup pun percuma. Aku sudah tidak bisa kerja lagi sekarang ..."
Air matanya jatuh.
Ia menangis. Keras. Seperti seseorang yang kehilangan satu-satunya harapan.
Devan panik. "Nona, tolong jangan menangis! Saya akan carikan perawat. Saya berjanji akan menanggung semua biaya hidupmu sampai kamu sembuh. Tolong..."
"TIDAK! Aku tidak mau perawat! Aku maunya KAMU!" Silvia mencabut infus di tangannya. Darah menetes. "Kalau kau tidak mau, biarkan aku mati di sini!"
Di luar pintu, seorang perempuan berlari masuk.
"Silviaaa!"
"Nana..."
Nana memeluk Silvia erat. Matanya merah saat melihat kaki sahabatnya yang diperban.
---
Malam itu, Silvia diantar pulang. Devan mengantarnya ke kontrakan Nana.
Sepanjang jalan, ia diam. Kepalanya seakan penuh.
Menikahi dia?
Gila. Itu gila.
Tapi ancamannya nyata.
"Aku akan menunggumu satu minggu. Kalau kau tidak kasih kepastian, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Karenamu aku tidak bisa jalan. Karenamu aku juga tidak bisa kerja lagi. Jadi kau harus tanggung jawab dengan hidupku!"
Devan sampai di apartemen Catherine. Wanita itu sudah menunggunya, cantik dengan gaun sutra merah, bibirnya dilapisi lipstik mahal.
"Sayang, sudah selesai?" Catherine menyambut dengan ciuman di pipi.
"Sudah."
"Mau mandi dulu? Biar segar."
"Tidak. Aku mau makan saja, lalu pulang. Besok pagi aku harus ke kantor."
Wajah Catherine mengecil kecewa. Tapi ia tetap tersenyum.
Ia tahu, Devan setia. Tujuh tahun ia tunggu. Tidak mungkin mengkhianatinya.
Setelah makan malam, Devan mencium kening Catherine.
"Selamat malam. Jangan tidur terlalu malam."
"Iya sayang. Kamu juga."
Mobil melaju keluar dari basement.
Tapi pikiran Devan tidak ikut pulang.
Bayangan Silvia menangis di ranjang rumah sakit muncul lagi.
Ancaman itu terngiang-ngiang.
"Kau harus bertanggung jawab dengan hidupku!"
Devan meninju setir.
Ia terjebak.
Di satu sisi, cinta tujuh tahun dengan Catherine.
Di sisi lain, perempuan asing yang ia lumpuhkan... dan sekarang menuntut seluruh hidupnya.
Apa yang harus ia pilih?
Bersambung...