Silvia berbaring di ranjang, menatap nanar ke langit-langit kamar.
Sudah lima tahun berlalu.
Tapi luka itu belum sembuh.
Harga dirinya tercabik-cabik. Kepercayaan orang yang ia cintai hilang. Semua karena satu orang, Catherine.
Teman yang dulu sudah ia anggap saudara kandung.
---
~Flashback On~
Silvia 20 tahun.
Ia duduk di halaman belakang, membaca buku kuliah. Tiba-tiba Andy datang. Wajahnya dingin. Di tangannya ada ponsel.
“Buka itu!” perintahnya tanpa basa-basi.
Silvia bingung, tapi tetap membuka pesan yang dikirim Andy.
Video.
Sekejap wajahnya memerah. Dadanya sesak.
Di layar, seorang wanita yang mirip dirinya sedang bergumul dengan pria asing di kamar hotel.
“Apa-apaan ini?” Suaranya bergetar. “Itu bukan aku, Dy! Aku bersumpah!”
Andy menatapnya dengan kecewa dan jijik.
“Kupikir kau wanita polos. Ternyata kau menjijikkan. Aku menyesal mengenalmu.”
Air mata Silvia langsung tumpah.
“Itu bukan aku! Di video itu bukan aku! Siapa yang kirim video ini ke kamu? Siapa?! Kenapa dia bikin semua ini?!”
Belum selesai Silvia bicara, Catherine muncul dari belakang Andy.
“Sudahlah Sil. Kalau kau jujur dan minta maaf, aku yakin Andy nggak akan mempermasalahkannya lagi, iya kan Dy?”
Silvia menatap Catherine nggak percaya.
“Apa maksudmu, Cath? Apa kamu yang bikin video itu?!”
Silvia maju, tapi Andy mendorongnya kasar hingga hampir terjatuh.
“Jangan balik menuduh Catherine! Berkat dialah aku tahu siapa kau sebenarnya. Untung dia nemu video ini. Kalau tidak, aku pasti nyesel menikahi j*lang sepertimu!”
Plak!
Silvia menampar Andy.
“Sekali lagi aku bilang, itu bukan aku! Percaya atau tidak, terserah kamu!”
“Ada apa ini?”
Suara Ayah Silvia memecah keributan. Ia baru pulang kerja dan langsung melihat putrinya bertengkar dengan calon menantunya.
“Om,” kata Andy, mencium punggung tangan calon mertuanya.
“Kedatangan Andy kemari cuma mau bilang satu hal. Pernikahan Andy dan Silvia... harus dibatalkan. Maaf Om, Andy nggak bisa menikahi wanita yang sudah mengkhianati Andy.”
Lalu Andy pergi begitu saja.
Ayah Silvia menoleh ke Silvia, bingung.
“Silvia, jelaskan! Apa maksud Andy barusan?”
Silvia diam. Lidahnya kelu.
Catherine tersenyum kecil, lalu mengambil ponsel Silvia yang jatuh di tanah.
“Permisi Om. Mungkin ini bisa menjelaskan kenapa Andy membatalkan pernikahan mereka.”
“Tidak! Jangan lihat, Yah!” Silvia panik, tapi terlambat.
Ayahnya sudah melihat video itu.
Wajahnya memerah, napasnya berat.
“Kau... kau sudah mencoreng nama baik Ayah! Anak tidak tahu malu!”
“Itu bukan aku, Yah! Sumpah, itu bukan aku!”
Ayah Silvia memegangi dadanya. Wajahnya pucat.
Lalu tubuhnya ambruk.
“Ayaaaaaahhh!!”
Serangan jantung.
Satu jam kemudian, Ayah Silvia dinyatakan meninggal.
Sejak hari itu, Silvia mengurung diri.
Andy dan Catherine? Mereka nggak datang ke pemakaman.
Bahkan nomornya pun diblokir.
Dua minggu kemudian, Silvia memberanikan diri menemui Andy.
Ia ingin minta penjelasan. Ia ingin meluapkan semua amarahnya.
Tapi yang ia lihat adalah Andy memeluk Catherine dengan mesra.
Saat itu juga Silvia tahu.
Semua ini... adalah rencana mereka berdua.
~Flashback Off~
---
“Kamu serius, Sil?” Nana terbelalak.
Silvia mengangguk. Matanya nggak lepas dari layar TV.
Di sana, Catherine Angela tersenyum bahagia. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Devan, si pengusaha muda yang kaya raya.
“Iya. Aku serius, Na. Aku mau wanita itu merasakan apa yang aku rasakan.”
Suara Silvia dingin. “Dia yang bikin aku batal nikah. Dia yang bikin Ayahku meninggal. Dia yang udah hancurin hidup aku.”
“Ayahku meninggal karena serangan jantung setelah lihat video rekayasa itu. Padahal tinggal 5 hari lagi aku dan Andy nikah. Tapi semuanya hancur. Andy pergi. Ayahku benci aku sampai mati. Dan Catherine? Dia malah hidup bahagia!”
Air mata Silvia jatuh. Tapi matanya tetap tajam.
“Aku bersumpah, aku nggak akan biarkan dia bahagia begitu saja.”
Nana menelan ludah.
“Aku nggak nyangka masa lalumu sekelam ini, Sil. Kalau aku jadi kamu, aku juga nggak akan tinggal diam.
Wanita itu memang ular berbisa. Dia pakai topeng baik biar semua orang nggak tahu kebusukannya.”
Nana menggenggam tangan Silvia.
“Aku dukung kamu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan.”
Silvia menatap Nana, terharu.
Ini pertama kalinya setelah 5 tahun, ada orang yang benar-benar percaya dan berdiri di sisinya.
“Terima kasih, Na... aku sayang kamu.”
Silvia memeluk Nana erat.
Setelah sekian lama hidup sendirian, akhirnya ia punya satu orang yang bisa ia percaya.
Dan sekarang... saatnya membalas.
---
Bersambung...