Keesokan paginya, Catherine sudah berdiri di lobi gedung perusahaan Devan.
Ia melangkah cepat, wajahnya tegang.
“Pak Devan sudah datang?” tanyanya pada resepsionis.
“Emm... belum, Nona. Sepertinya masih di jalan.”
Catherine mengangguk singkat.
“Aku tunggu di ruangannya.”
Tanpa menunggu, ia masuk lift ke lantai 8.
Sekretaris Devan langsung menyambut begitu ia keluar.
“Mau dibuatkan apa, Nona Catherine?”
“Cappuccino panas. Seperti biasa.”
Jawabnya singkat, lalu masuk ke ruang Devan tanpa permisi.
Pintu tertutup.
Catherine langsung membuka ponsel. Tangannya gemetar.
Oh, sekarang kau mulai sibuk ya, Devan?
Apa foto-foto itu benar? Kau benar-benar nikah di belakangku?
Awas saja kalau kau bohong. Aku nggak akan maafin kamu!
---
Sementara itu, di villa...
Devan baru selesai telepon dengan klien. Ia berganti pakaian kerja, lalu menuju ruang makan.
Saat melewati kamar Silvia, ia berhenti. Pintu terbuka. Tapi kamarnya kosong.
“Kemana dia?” gumamnya pelan.
Devan nggak peduli. Ia sudah bilang dari awal, kalau ia belum siap tidur satu kamar dengan Silvia.
Baginya, pernikahan ini cuma tanggung jawab. Hatinya tetap untuk Catherine.
Ia melanjutkan langkah ke ruang makan.
Dan terkejut melihat Silvia sudah duduk di sana, menyantap nasi goreng dengan lahap.
“Selamat pagi,” sapa Silvia sambil tersenyum.
“Pagi,” jawab Devan datar. Ia duduk di seberangnya.
“Mau sarapan?”
Devan melirik piring Silvia. Aroma telur mata sapi dan bawang goreng langsung membuat perutnya protes.
Biasanya ia hanya sarapan roti dan jus. Demi menjaga bentuk tubuh untuk Catherine.
Tapi nasi goreng itu... menggoda.
“Apa itu nggak bikin perut jadi buncit?” tanyanya.
Silvia hampir tersedak.
“Ya ampun. Nggak-lah kalau nggak keseringan. Sarapan nasi itu justru bikin bertenaga.
Kalau nggak mau gemuk, yaa ... Jangan makan malam lewat jam enam sore. Gitu aja kok repot.”
Devan cuma menghela napas.
“Mana Bi Sari?”
“Di halaman. Nyiram tanaman.”
Silvia menunjuk ke arah kompor kecil di sudut ruang makan.
“Aku yang masak buat kamu sekarang. Aku taruh kompornya rendah biar aku bisa masak sambil duduk. Kakiku belum sembuh.”
Devan mengernyit.
“Aku nggak nyuruh kamu.”
“Tapi aku mau.” Silvia tersenyum.
“Aku sudah terbiasa masak sendiri sejak Ibu meninggal.
Lagian, aku lebih suka masakan buatan sendiri daripada beli di luar.” entengnya.
Devan diam. Ia menatap Silvia yang kembali menyuap nasi gorengnya dengan santai.
“Boleh, aku minta sedikit?”
Kata itu keluar sebelum ia sadar.
Silvia mengangguk senang.
Ia mengambil piring bersih, menyiduk nasi goreng, telur mata sapi, dan sosis.
“Mau bawang gorengnya?”
“Boleh. Sedikit aja.”
Silvia menuangkan teh hangat ke gelas Devan.
“Gimana? Enak?”
Devan mengangguk sambil mengunyah.
“Enak. Enak banget.”
Silvia tersenyum puas.
Satu poin untukku.
Ia teringat satu hal yang pernah ia baca:
Jalan ke hati laki-laki yaitu lewat perutnya.
Kalau Devan mulai suka masakannya, itu artinya... ia mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Dan kalau sudah terbiasa, perlahan nama Catherine dihatinya akan tergeser.
Silvia menatap Devan yang masih lahap makan.
Misi pun dimulai.
---
Bersambung...