“Sudah cukup. Aku kekenyangan!”
Devan bersandar di kursi, mengusap perutnya.
“Haaah... kalau begini terus, aku nggak bisa jalan saking kekenyangannya.”
Ia bersendawa. Nyaring.
Wajahnya langsung memerah malu.
Silvia di seberang meja nggak bisa nahan tawa.
Dua piring nasi goreng habis. Devan menyerah.
Sebelum berangkat kerja, ia pamit dan berterima kasih pada Silvia.
Di mobil, Devan baru sadar.
Ia melanggar pantangan Catherine, dilarang makan nasi pagi-pagi.
Catherine protektif banget soal tubuhnya.
Makanan berlemak, makan nasi malam, semua dilarang.
Tapi masakan Silvia... bikin ia ketagihan.
“Huuuh,” Devan menghela napas.
“Enak banget. Kalau begini terus aku bisa gemuk lagi.”
Ia menggeleng.
“Nanti kalau dia nawarin lagi, aku harus bisa nolak.”
---
Sampai kantor, sekretarisnya langsung menyambut.
“Pak Devan, Nona Catherine sudah menunggu di ruang Bapak dari tadi.”
Devan merogoh ponsel. Lima panggilan tak terjawab.
Ponselnya masih silent sejak semalam.
Ia bergegas masuk.
Catherine berdiri di dekat meja kerjanya, gelisah.
Begitu melihat Devan, ia langsung mendorong dadanya kasar.
“Kenapa?” tanya Devan bingung.
“Kenapa?!”
Suara Cathrine naik satu oktaf.
“Aku yang harusnya tanya itu! Kenapa kamu bohongi aku, Dev?!”
Devan mengernyit.
“Bohongi kamu? Bohong apa?”
“Jangan pura-pura, Devan!”
Catherine mengacungkan ponselnya.
“Aku tahu kamu diam-diam sudah menikah dengan wanita lain. Benar kan?!”
Wajah Devan seketika pucat.
Bagaimana dia bisa tahu? Siapa yang kirim foto itu? Silvia?
“Sa-sayang, apa maksudmu?”
Catherine melempar ponsel itu ke meja.
“Lihat sendiri! Itu foto pernikahanmu, kan?!”
Devan menelan ludah.
Foto itu jelas, dirinya sedang ijab qabul dengan Silvia.
Sial. Siapa yang bocorin ini semua?
“Sekarang jawab! Itu benar atau nggak?!”
Suara Catherine bergetar.
Devan menatapnya dalam-dalam, lalu menarik napas panjang.
“Duduklah dulu. Minum. Kita bicarakan baik-baik.”
Ia menyodorkan cappuccino yang tadi dipesan Catherine.
Setelah Catherine sedikit tenang, ia menggenggam tangan calon istrinya.
“Tapi kamu harus janji tetap tenang.”
Catherine mengangguk kaku.
Devan menunduk.
“Aku memang sudah menikah.”
“Jadi... foto itu benar?!”
Mata Catherine memerah.
“Iya, Cath.”
Catherine langsung berdiri, tapi Devan menahan tangannya.
“Kamu bohongi aku! Aku benci kamu, Dev!”
Devan memeluknya erat.
“Dengarkan aku dulu. Ini bukan seperti yang kamu pikir.
Wanita itu korban tabrakan aku dua minggu lalu.
Dia nggak punya siapa-siapa. Kakinya terluka parah karena aku.
Aku cuma mau bertanggung jawab, Cath. Aku nggak berniat mengkhianatimu.”
Ia melepaskan pelukan itu pelan.
“Aku minta maaf karena nggak cerita dulu. Aku takut kamu nggak setuju.
Tolong maafkan aku.”
Catherine melepas pelukannya kasar.
“Kau jahat, Devan! Kenapa nggak tanya aku dulu?
Sekarang dia tinggal di mana? Orang tuamu tahu soal ini?”
Devan menggeleng.
“Mereka belum tahu. Awalnya dia yang maksa aku nikah.
Aku nggak punya pilihan lain. Aku hanya kasihan sama dia, Cath.”
Catherine mendengus. Ia memalingkan muka, tangan mengepal.
Dasar wanita nggak tahu malu!
Berani-beraninya maksa calon suamiku!
Aku harus tahu siapa dia. Dan aku akan hancurkan dia.
Dadanya seolah mendidih panas.
---
Bersambung...