“Ini, Non. Sayuran dan daging yang Non Silvia pesan tadi.”
Bibi Sari menghampiri Silvia yang sedang mengupas bawang di dapur, membawa keranjang belanjaan.
Silvia tersenyum lembut.
“Waah, makasih banyak ya, Bi. Simpan aja di meja. Tolong siapin wadahnya juga buat aku potong-potong sayurannya nanti.”
Bibi Sari mengangguk senang.
Jarang-jarang ada majikan muda yang ramah dan ringan tangan seperti Silvia.
Kaki Silvia belum sembuh total, tapi ia tetap mau bantu pekerjaan rumah.
Seharusnya memasak itu tugasnya Bibi Sari. Tapi Silvia nggak mau.
Selain karena ia sudah jadi istri sah Devan, Silvia juga punya misi, ingin merebut hati Devan dari mantan sahabatnya, Catherine Angela.
Cara paling ampuh menaklukkan hati suami itu lewat perutnya.
Silvia yakin, kalau ia terus menyuguhkan makanan enak dan bersikap manis, lambat laun Devan akan berpaling padanya.
Apalagi Bibi Sari baru bilang kalau orang tua Devan belum sepenuhnya setuju sama hubungan Devan dan Catherine.
Itu kesempatan emasnya.
Dengan begitu semoga Catherine mau berubah dan minta maaf di depan makam Ayahku... gumam Silvia dalam hati.
---
Matahari mulai tenggelam. Langit berubah jingga, perlahan ditelan gelap.
Devan baru selesai kerja.
Sejujurnya ia ingin cepat pulang ke villa dan istirahat. Tapi pagi tadi Catherine memaksa untuk bertemu wanita yang sudah Devan nikahi.
Awalnya Devan menolak. Ia takut Catherine cemburu dan marah-marah ke Silvia.
Ia tahu sifat Catherine. Apalagi kalau sampai tahu Silvia tinggal di villa yang seharusnya jadi hadiah pernikahan untuk Catherine.
Tapi Devan selalu kalah debat.
Akhirnya ia menuruti kemauan Catherine.
Satu jam kemudian, mereka sampai di depan villa.
Catherine langsung ternganga.
Rumah megah, halaman asri, bunga-bunga tertata rapi.
Sungguh seperti istana di negeri dongeng.
“Ini villa kamu, Beb?”
Suara Catherine bergetar takjub. Ia menutup mulut dengan tangannya.
Devan mengangguk cemas.
“Iya, sayang.”
“Besar banget! Sejak kapan kamu punya villa semewah ini? Kenapa nggak pernah cerita?!”
Catherine berjalan mengitari halaman, masih nggak percaya.
Devan gelagapan.
“Iya, sayang... maafkan aku. Sebenarnya aku mau kasih villa ini buat kamu sebagai hadiah pernikahan kita nanti. Tapi... aku sembunyikan pernikahanku dengan Silvia. Makanya aku bawa dia tinggal di sini sementara waktu. Aku nggak nyangka kamu tahu secepat ini. Maaf, jadi nggak spesial lagi buat kamu.”
Catherine mendengus. Tangannya melipat di d**a. Wajahnya memerah.
Sialan! Wanita itu beruntung banget! Sudah merebut calon suamiku, sekarang mau kuasai hartanya juga!
Tidak boleh! Aku harus buat Devan segera menceraikannya!
Devan melirik Catherine yang masih diam dengan pikirannya.
“Kamu nggak apa-apa, sayang? Kalau belum siap ketemu Silvia, kita pulang aja dulu. Aku tahu kamu masih sakit hati karena keputusan sepihakku.”
Catherine tersentak.
“Apa? Siapa namanya barusan?”
“Silvia. Silvia Lestari.”
Wajah Catherine langsung pucat.
“Sil... Silvia...”
“Kenapa? Kamu kenal dia?”
Catherine menggeleng cepat.
“Ah, t-tidak. Namanya mirip temanku yang sudah meninggal aja.”
Ia tertawa hambar, menggaruk pelipis gelisah.
Devan mengangguk.
“Kalau begitu, kamu mau tetap ketemu Silvia atau kita pulang aja?”
Catherine belum sempat menjawab.
Pintu villa terbuka. Bibi Sari keluar, berjalan tertatih.
“Sore, Tuan Devan. Anda sudah pulang?”
Bibi Sari mengambil tas kerja Devan.
“Em, Silvia di mana, Bi?”
“Non Silvia ada di ruang makan, Tuan.”
“Oke, tolong sampaikan ada seseorang yang mau ketemu dia.”
“Baik, Tuan.”
Bibi Sari masuk duluan.
“Ayo masuk, Cath.”
Devan menarik tangan Catherine yang terasa dingin.
Ia merasa ada yang aneh. Tadi Catherine marah, sekarang malah terlihat gugup.
Di dalam, Bibi Sari berlari kecil ke ruang makan.
Silvia baru selesai menata makan malam untuknya dan Devan.
“Ada apa, Bi?” tanya Silvia heran melihat Bibi Sari tergopoh-gopoh.
“Non, gawat! Tuan Devan bawa Nona Catherine kemari!” bisik Bibi Sari panik.
Silvia terdiam sejenak, lalu ia tersenyum smirk.
Akhirnya dia datang sendiri.
Foto-foto yang Silvia kirim semalam berhasil.
Catherine pasti datang buat melabrakku.
Tapi Silvia nggak takut.
Kalau Catherine mau marah, Silvia akan bongkar semua kejahatannya di depan Devan.
“Ekhm-ekhm.”
Devan berdeham pelan.
Silvia mendongak. Matanya bertatap temu dengan mata Catherine, mantan teman lamanya itu.
Sekilas tatapan mereka tajam.
Lalu Silvia mengalihkan pandangan ke Devan dan tersenyum manis.
“Halo, suamiku. Maaf aku nggak sambut kepulanganmu.
Aku baru selesai menata makan malam untuk kita.”
Silvia memutar kursi rodanya dan menghampiri suaminya .
Tanpa disuruh, ia menggenggam tangan Devan dan menciumnya pelan.
“Apa kamu lapar? Kebetulan aku sudah siapin makanan kesukaanmu.”
Perkataan itu membuat wajah Catherine memerah padam.
Dadanya bergejolak panas.
---
Bersambung...