13 Juni 2021
Tersesat ditengah hutan belantara sendirian tanpa sedikitpun cahaya di malam hari sepertinya terdengar lebih baik untuknya dibandingkan situasi saat ini. Riak atmosfer berat terasa sangat tak beraturan. Bau khas matahari bercampur bau busuk menyeruak ke indra penciumannya. Dneging, air wajah, hingga sorotan mata dan desis yang bercampur campur sejujurnya membuat pria ini cukup muak untuk terus berada disana. Belum lagi lampu kilat dari beberapa orang terlampau ingin tahu cukup membuatnya terganggu.
Pandangannya mengudara, menelisik dengan hati hati ke setiap bagian, mencoba memastikan tak ada setitik debu pun terlewat dari pandangannya.
Telunjuk panjangnya dengan lincah bermain main di beberapa tempat, menandai beberapa titik yang langusng saja diperiksa ulang dan tak lupa di dokumentasikan untuk laporan kedepannya. Jari berbalut sarung tangan putih itu tak sengaja menyentuh satu titik, sebuah luka terbuka dimana organ dalam seperti usus dan semacamnya bisa terlihat dengan mata telanjang tan[a perlu repot repor mengeluarkan pisau bedah yang tentu saja profesi seperti dirinya tak mungkin memiliki hal tersebut.
Pria itu mengerenyitkan dahinya bingung, ketika menemukan sebuah lintingan kertas tua yang sudah benar benar menguning dan memiliki tulisan khas dari ratusan tahun yang lalu, namun tampak utuh dan baik baik saja meskipun berada didalam lambung tanpa kerusakan sedikitpun. Entah apa yang dilakukan pelaku –atau korban- pada benda itu hingga membuatnya tak hancur meski dihantam asam lambut yang korosit.
“Jangan jangan.....” nada seseorang terdengar terkesiap. “ini adalah mayat hantu seperti yang ada di film ‘the autopsy of jane doe’ “ ujarnya dengan panik. “Kau tahu kan... nggg itu loh film yang baru saja aku tonton minggu kemarin. Dimana mayat dari ratusan tahun lalu dengan kasus aneh ak-“
“Kau mencoba bercanda denganku, ya?” nada suara pria yang diajaknya bicara semakin mendingin. Sebut ia tak profesional karena dalam beberapa kesempatan, moodnya menentukan bagaimana ia bersikap terhadap rekan kerjanya, namun ia pun lelah jika harus berjibaku dengan rekan kerja diluar organisasi yang berujar hal tidak berguna seperti itu. “fokus saja pada pekerjaanmu dibandingkan berimajinasi rendahan seperti itu” ketusnya lagi kemudian kembali menyibukan diri dengan seonggok mayat perempuan dihadapannya.
Banyak orang lain berpikir bahwa pria ini adalah pria arogan karena sudah memiliki jabatan yang tinggi di umurnya yang masih terbilang muda. Tidak salah, namun juga tidak bisa dibenarkan. Ia hanya mencoba membuat lingkarannya mengecil dan enggan berbasa basi bodoh kepada orang asing yang sekiranya hanya akan bekerja bersamanya beberapa kali dalam kurun waktu beberapa jam saja. Jika terhadap anggota sesama federasinya, ia cukup hangat dibandingkan apa yang dikatakan oleh orang lain.
Lagi dan lagi, jemari panjang itu berhenti di satu titik. Kini tepat berada di tengah tengah d**a bagian bawah. Ulu hati. Seakan ditarik oleh hal magis yang entah itu apa, namun kini pria itu mendapati dirinya berada di sebuah kapal pengangkut barang besar yang sudah tua, dengan dua sosok yang paling ia kenal. Matanya berkilat marah, tangannya mengepal dengan kencang sebelum sebuah bogem mentah dilayangkan kepada pria yang lebih tua dihadapannya. Tangannya menangkis dengan cepat saat b******n sialan itu mencoba menyuntikkan cairan entah apa itu, yang diasumsikan akan membunuhnya- atau minimal merusak organ organ vitalnya.
Sosok pria yang hanya beberapa tahun lebih tua disampingnya itu menendang rusuk pria sialan yang sayangnya tak terlihat wajahnya tadi dengan sangat keras, mencoba menolong kedua rekannya yang baru saja dihantam dengan benda tumpul oleh pria tak beridentitas itu tepat di bagian d**a kanan atas, membuat keduanya terbatuk, namun tak peduli. Ia mendapati rekannya yang paling muda dengan kesetanan mencekik pria incaran mereka bertiga itu, mencoba membunuhnya saat itu juga apabila tak ingat bahwa mereka lebih baik membawanya dalam keadaan hidup hidup.
Namun si yang paling muda itu tiba tiba merasa ingin muntah. Telinga berdenging keras hingga ia mengerang kesakitan. Ada yang salah dengan dirinya.
Apakah pria sialan itu tanpa ia sadari berhasil menyuntikkan sesuatu padanya? Yang ia tahu, ketika ia sempat tak sadarkan diri selama beberapa detik, si b******n sialan yang masih bisa menutupi wajahnya itu berhasil untuk mencekiknya, dan membawanya keatas, sedikit melayang yang tentu saja membuat pria muda itu bisa saja mati kehabisan oksigen.
Untungnya, itu hanya terjadi selama beberapa detik. Ketika matanya kembali terbuka, dengan sorot mata yang jauh lebih bengis dibanding tadi, pria muda itu menghentakkan kedua tangan yang masih berusaha mencekiknya, mendorongnya jatuh kemudian membantingnya dengan keras. Pria itu berjalan perlahan, mengambil sebuah lempengan besi yang tergeletak tak jauh dari sana, kemudian menggeretnya kearah pria tadi yang masih mengerang kesakitan.
Dua pria yang lebih tua lainnya membantunya mengambil alih. Mereka menghantamkan sebuah pukulan keras yang kembali membuat target mereka jatuh kesakitan dalam kurun waktu yang cukup untuk mereka memborgolnya dan membawanya pergi. Mereka rasa itu cukup, membuatnya tunduk namun tak membuatnya sekarat hingga hampir mati.
Tapi tidak dengan pria muda yang menjadi sosok pembicaraan kita kali ini.
Ia mencoba mengayunkan lempengan tadi dengan cepat, mencoba untuk membunuh si sialan itu, namun sebuah tangan menepisnya- yang tentu saja ia yakini akan membuatkan ruam berwarna pekat, karena orang waras mana yang menangkis lempengan besi dengan tangan kosong.
“Luke, cukup” itu suara Tristan. Rekan seniornya yang dalam misi ini membuat beliau, dirinya dan kakaknya berada di satu team yang sama. Tristan kembali bersuara ketika matanya melihat arah pandang yang paling muda menuju senapan yang terlempar tak jauh dari sana.
“Luke Valdes, kubilang cukup!!!” kali ini suara kakaknya, berharap bahwa adik semata wayangnya itu cukup merasa terintimidasi dengan suaranya.
Namun tidak, tidak sama sekali. Pria itu benar benar tak suka apabila ada yang berjalan tidak sesuai rencananya. Namun, ketika tiga buah bunyi keras khas dari pelatuk berbunyi, sorot matanya yang tajam tiba tiba berubah menjadi melembut, lebih mendekati tatapan yang nanar. Arah pandangnya melihat dengan jelas tempat bersarangnya timah panas yang kini sudah berlumuran darah. Dimana-
“Hey, bukankah itu petugas yang sempat viral saat itu??”
Suara menyebalkan khas ibu ibu menariknya kembali ke dunia nyata, membuat fokusnya kembali setelah entah berapa menit ia termenung seperti orang bodoh memandangi timah yang bersarang di mayat aneh gadis yang ada di hadapannya ini.
“Yang mana maksudmu?”
“itu... yang itu... dia beberapa waktu yang lalu sempat di dakwa atas kematian rekan kerjanya yang lain. Aku dengar gosip bahwa yang ternyata terbunuh adalah-“
“Bisa menyingkir dari sini?” seseorang dengan wajah datar dan mata yang tajam datang dengan menyeramkan mengusik gerombolan manusia berisik tadi. “Ini area TKP, nyonya. Dimohon untuk tidak mengganggu dan membuat keributan tidak berguna” ujarnya dnegan nada suara dingin kemudian beranjak menghampiri ‘kepala’ mereka.
“Tak perlu didengar, Luke”
Yang dipetuhai malah terkekeh kecil kemudian sibuk kembali dengan apa yang sedari tadi ia lakukan. “Tak apa, Jake” ujarnya dengan lirih. Kembali terkekeh sebentar sebelum ia bergumam pelan dan beranjak pergi dari sana.
“Memang aku yang membunuh kakakku sendiri”