4 Februari 2020
Malam ketika Eden Morrison ditangkap hidup hidup di kediamannya, merupakan malam dimana sejarah baru kembali ditulis dengan sangat rinci. Dimana semua kalangan masyarakat, baik orang dari ekonomi menengah kebawah hingga atas, orang berpendidikan maupun tidak hingga bocah bocah nakal yang enggan belajar ketika disekolah, mengikuti sejarah yang satu ini dengan sangat baik. Mereka semua memanggil bocah dua puluh tiga tahun itu dengan sebutan si pembunuh beretika, karena tiap dirinya akan melakukan sebuah pembunuhan, ia dengan sopannya memberitahu kepada orang orang terdekat dengan yang bersangkutan bahwa si pemilik tubuh akan tewas di tempat dan waktu yang ia sebutkan.
Ketika penangkapan tersebut terjadi, kedua orang tua Eden dengan tangan yang menutupi mulut tercengang bahkan hampir tak sadarkan diri jika oleh petugas sekitar tak dijauhkan dari anak semata wayangnya yang kini tengah dikerubungi wartawan dengan cahaya terang khas dari blitz kamera dan tangan yang terborgol didepan, menundukkan kepalanya bingung sembari tetap diam karena dirinya tidak diperbolehkan untuk bicara oleh pihak kepolisian.
Matanya menatap kedua orang tuanya, dengan senyum tipis dan mata yang teduh, ia dengan menggerakkan bibir tanpa suara dengan maksud memberi tahu orang tuanya bahwa dia akan baik baik saja dan segera kembali kerumah dengan selamat.
Apakah hal tersebut terjadi? Tentu saja tidak. Polisi dan kejaksaan dengan berkas yang bertumpuk memberikannya hukuman untuk menghabiskan seumur hidupnya dibalik jeruji sel yang dingin. Selama persidangan, pemuda dengan tinggi diatas rata rata itu tetap menegaskan bahwa dirinya tak melakukan apapun, dan memberikan sejumlah evidence –yang sejujurnya tak dapat dibuktikan karena pengacaranya bahkan tidak membelanya- bahwa dirinya ada dirumahnya saat kejadian kejadian yang disebutkan itu terjadi.
Publik marah. Geram. Bagaimana bisa seorang bocah yang baru saja lulus dari bangku kuliah berani beraninya membunuh orang orang penting yang ada di negara mereka, tanpa alasan yang jelas. Bahkan masih sempat sempatnya untuk mengelak ketika yang katanya bukti sudah dibeberkan di pengadilan, dan disebar luaskan oleh para pewarta. Semuanya berkerubun ketika Eden digeret keluar dari pengadilan untuk memasuki mobil polisi dan dibawa ke rutan, memilih untuk diam ketika bukan hanya pewarta, melainkan semua masyarakat yang menunggu di depan pengadilan bertanya banyak hal kepadanya. Pun tetap diam ketika dirinya dilempari berbagai macam benda berbau busuk dan umpatan umpatan kasar yang bocah pendiam sepertinya jarang dengar.
Disisi lain dari rasa geram dan marah tersebut, semuanya bertanya tanya. Apakah benar bocah pemalu yang jarang keluar dari kamarnya itu berani membunuh seorang pemuka agama terkenal? Berani membunuh petinggi negara terkemuka?? Bagaimana caranya? Kenapa ia mengumbar hal yang akan dilakukannya?
Well.. sebagaian benar, dan sebagian lagi salah.
Benar karena orang yang ia sebutkan memang akan mati terbunuh dengan sadis, tapi salah jika mereka semua berpikir, bahwa Eden yang benar benar membunuh mereka.
Di dunia yang kita tempati ini, ada berbagai macam tipe manusia yang hidup saling bergantungan satu sama lain. Sebagian dari mereka percaya dengan sosok bernama Tuhan, dan sebagaian lagi dari mereka hanya tahu namun enggan percaya. Pun jika dibagi lagi, sebagian dari mereka terpisah pisah dengan berbagai macam kepercayaan yang ada di bumi ini. Entitas yang ada di bumi inipun tak hanya manusia, ada banyak entitas lainnya, yang mungkin sampai saat ini tidak terdeteksi oleh manusia kebanyakan.
Sebut saja Eden gila, tapi memang ini benar adanya.
Ada sesosok entah apa itu, yang selalu membisikkan masa depan masa depan yang tidak terkait dengannya, dari belakang telinganya.
Ini semua berawal dari bocah itu menduduki bangku sekolah dasar. Ia mendengar banyak hal aneh, yang kemudian ia sadari bahwa hal itu terjadi, baik didepan matanya ataupun ia mengetahui kabarnya dari media lain. Hal pertama yang ia lakukan tentu saja memberi tahu kemampuan ajaib ini kepada orang tuanya. Dengan bangga, ia kemudian bercita cita seperti superhero yang akan menyelamatkan dunia. Namun alih alih mendapat senyum bangga dari kedua orang tuanya, ia malah mendapatkan kerutan yang tidak nyaman, dan berakhir dirinya ada di sebuah lorong di rumah sakit besar bagian poli kejiwaan.
Skizofrenia, katanya. Penyakit yang membuat pengidapnya mengalami delusi, halusinasi hingga kekacauan dalam berpikir. Yang terkadang, ketika terjadi di beberapa orang, pengidap tersebut akan melakukan hal berbahaya yang dititahkan ‘suara’ yang ia dengar.
Hal ini pun sempat dibahas ketika Eden berada di pengadilan. Hal yang membuatnya di cap sebagai pembunuh yang ternyata seorang yang mengalami gangguan jiwa.
Tapi tidak. Eden tahu dirinya melebihi orang lain. Ia tidak gila. Ia masih waras. Ia bisa membedakan hal yang benar dan tidak. Suara suara itu nyata. Apa yang diberitahukan oleh suara itu nyata. Ia tidak melakukan hal apapun. Ia hanya menyampaikan kepada orang atas apa yang suara itu katanya, agar orang yang akan menjadi korban bisa diselamatkan. Dirinya tidak melakukan apapun selain berdiam diri di kamarnya dan membaca gunungan buku yang ia beli hampir setiap minggunya.
Jika memang benar dengan apa yang dikatakan Eden, maka sebut saja bocah ini naif. Kebanyakan orang, mungkin akan diam saja, dari pada dirinya ikut terkait dengan masalah yang bahkan ia sendiri tak tahu dari mana awalnya. Masalah yang menjeratnya seumur hidup hanya karena menyampaikan hal yang katanya adalah sebuah informasi penting. Masalah yang kini membawanya berjalan melewati lorong suram untuk masuk ke ruangan sel-nya. Ruangan dimana ada empat narapidana lain disana yang sudah mendengar mengenai kedatangannya. Ruangan yang kemungkinan akan menjadi tempat tinggalnya seumur hidup jika dia tidak dipindahkan ke rutan yang lain.
Ia menunduk, memasuki ruangannya tanpa ingin mengeluarkan suara. Sedikit banyak takut dengan pandangan menyeramkan narapidana lain yang badannya lebih besar darinya. Tidak sepertinya yang hanya modal tinggi, namun tidak memiliki otot sama sekali. Bahkan kulitnya pun putih pucat seperti mayat karena kekurangan sinar matahari.
“Kau... memiliki teman bernama Tristan, bukan?”
Ketika petugas yang tadi mengantarnya akan kembali ke kantor yang ada di rutan itu untuk kembali mengawas dari dalam, Eden mengentikkan langkahnya dengan sebuah kalimat panjang yang akhirnya ia keluarkan setelah berjam jam menutup mulutnya rapat rapat.
Jika diingat ingat, petugas tersebut memang kenal dengan Tristan yang dimaksud. Keduanya ada di akademi yang sama sebelum akhirnya Tristan memilih untuk memasuki federasi swasta, dan meninggalkannya menjadi petugas negeri. “Ini pembuktian terakhirku bahwa aku memang tidak melakukan pembunuhan” lanjutnya lagi ketika merasa petugas yang dimaksud tak ingin menjawab pertanyaannya.
“Beberapa hari lagi, rekan terdekat Tristan Tristan itu akan tewas dengan mengenaskan oleh orang tak beridentitas dan berjiwa iblis”