Seorang gadis remaja duduk sendiri di ruang makan. Ia menunggu kedua orang tuanya untuk menemani makan siangnya. Namun, ia merasa apa yang dilakukan sia-sia. Tidak ada satupun yang datang dan akhirnya dia memakan makanannya tanpa ada yang menemani.
"Kau! Aku sudah katakan jangan muncul di depan banyak orang setiap kali kau pergi dengan para simpananmu itu! Lalu, kenapa kau malah seolah memamerkannya?" bentak seorang wanita di lain ruangan.
Perlahan gadis bernama Violetta Paisankorn itu menangis. Ia merasa hidupnya tidak berarti untuk kedua orang tuanya yang selalu bertengkar. Di saat keluarga lain berlomba-lomba membahagiakan anak-anak mereka, Violetta selalu merasa dirinya tidak pernah dipedulikan walau hanya sesaat.
"Kau mau coklat?" tanya seorang remaja pria yang tampan. Remaja pria itu menghapus air mata Violetta lalu meminta gadis itu tersenyum saat menerima coklat darinya.
Bak anak kecil yang suka diberi hadiah, Vio tersenyum menuruti remaja pria itu. Saat coklat sudah berada di tangan, sang pemeberi coklat itu pergi tanpa basa-basi.
***
Suara klakson mobil membuat berisik saat mobil itu masuk ke halaman rumah besar berdesain Neo klasik dengan warna putih yang mendominasi bagian luar rumah.
Gadis yang mengenakan mini dress berwarna hitam lengkap dengan high heel putih yang memperindah kedua kakinya turun dari mobil itu. Ia melepas kacamata hitam yang dipakai.
Gadis itu menatap bagian depan rumah, lalu berjalan ke arah samping rumah seperti seorang arsitek yang sedang memeriksa bangunan. "Masih sama seperti dua belas tahun lalu," ucapnya seraya mengenakan kembali kacamata hitamnya.
"Violetta." Pandangan gadis itu teralih ke arah belakang. Ia mendapati seorang wanita paruh baya yang wajahnya sangat familier untuknya. Senyum muncul seraya dengan pelukan hangat dari wanita paruh baya itu untuk Violetta.
"Ibu, bagaimana kabar, Ibu?" tanya gadis itu pada wanita baruh baya yang sedang memeluknya.
Ditengah rasa rindu yang dicurahkan, Violetta melihat seorang pria muda yang tinggi dan tampan sedang melangkah menuju ke arahnya, sontak gadis melepas pelukan sang ibu.
"Nyonya Klang, ini tas Anda." Pria muda itu memberikan tas dengan lembut dan senyum yang seolah menggoda ibu Violetta.
Melihat perlakuan pria muda itu pada sang ibu, Violetta memilih pergi meninggalkan keduanya dibanding harus melihat kemesraan yang tersirat dari ibunya dan pria muda itu.
Kejadian tadi membuktikan desas-desus soal ibu Violetta yang memiliki simpanan seorang pria muda. Awalnya, Violetta menolak untuk percaya dengan desas-desus itu. Namun, beberapa temannya di New York selalu membicarakan hal itu hingga lama kelamaan membuat Violetta risih dan memutuskan untuk kembali ke Bangkok. Ia akan memastikan sendiri desas-desus itu.
Violetta berusaha untuk tetap tidak terpengaruh, hidupnya sudah kacau sejak orang tuanya selalu bertengkar. Sang ayah yang suka main perempuam membuat Violetta membenci sosok pria. Baginya pria manapun sama saja, penipu dan tidak setia. Sekarang, kenyataan sang ibu memiliki simpanan juga membuat Violetta semakin membenci pria.
"Mereka sama. Aku tidak butuh pria manapun! Karena seorang pria hidupku menderita." Vio memandang dirinya sendiri di cermin. Kebencian terhadap pria membuat gadis itu tidak pernah merasakan indahnya cinta.
Vio mengalihkan perhatiannya pada sebuah bungkus coklat kosong yang dipajang di dinding kamarnya. Dibingkai bak foto kenangan. Bungkus coklat itu adalah benda spesial dari orang yang spesial. Namun, ia merasa orang yang memberi coklat juga pasti tidak sebaik awal pertemuan mereka dahulu.
"Kau pria, kau juga pasti sama dengan pria lain yang memiliki ego tinggi dan kesetiaan yang rendah." Fokus Violetta buyar saat ibunya mengetuk pintu kamar gadis itu. Nyonya Klang meminta Violetta keluar dari kamar untuk ikut makan siang bersama.
"Nanti, Bu. Aku mau bersihkan tubuh dulu. Nanti aku menyusul." Vio membuka koper yang ia bawa. Mengambil peralatan mandinya dan bersiap untuk membersihkan diri.
Musik klasik dimainkan, iringan musik yang diputar di ponsel menemani kegiatan mandi gadis cantik berumur 25 tahun itu.
Tiga puluh menit berlalu, Violetta baru keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan. Ia yakin makanan di meja makan pasti sudah dingin karena sudah lama sejak ibunya memanggil dirinya untuk makan siang.
"Sudah dingin, ya, Bu? Karena sudah dingin, aku tidak jadi makan." Vio hendak melangkah pergi. Namun, pria muda yang bersama ibunya tadi menghalangi langkahnya.
"Nona Vio, makanan baru saja dihidangkan. Ini masih hangat, jadi kau bisa makan."
"Siapa kau ikut campur! Aku bilang tidak mau makan, ya tidak akan makan!" Vio membentak dengan keras pria muda yang bahkan ia tidak tahu namanya itu.
"Vio, Ibu tahu kau hanya mencari alasan untuk tidak makan di ruangan ini, karena itu ibu baru meminta Noi memasak tadi. Ibu tahu bagaimana sifatmu."
Vio menatap benci pada pria simpanan ibunya itu. Gadis itu tidak punya pilihan lain selain duduk dan makan di ruangan yang selalu menjadi tempatnya menangis karena kesepian.
Vio duduk dengan tenang sambil menunggu asisten rumah tangganya menyiapkan makanan di piringnya. Baru satu suapan, gadis berhenti makan karena mendengar suara pria dan wanita yang sedang bercanda. Suara itu semakin jelas dan semakin dekat.
Bak badai yang tiba-tiba menerpa daratan yang tenang, Vio melihat kelakuan buruk sang ayah yang datang bersama wanita muda yang bahkan terlihat lebih muda dari putrinya sendiri. Vio tidak mengatakan apapun, mulutnya seolah terkunci dengan pemandangan yang sama persis dengan pemandangan yang bertahun-tahun lalu pernah ia lihat.
Tuan Krating--ayah Violetta sontak melepas pelukannnya pada wanita yang masuk bersama dengannya tadi saat melihat Vio duduk di meja makan. Pria itu merasa gugup dan sekaligus takut kalau putrinya itu akan marah besar dengannya kali ini sama seperti dua belas tahun yang lalu saat gadis itu memutuskan untuk tinggal bersama adik dari ibunya di New York.
"Bibi Noi, bisa bisa buatkan minuman kesukaanku?" tanya Violetta sambil terus menatap wanita muda yang berdiri di samping ayahnya.
"Jus jeruk, kan? Nona tidak perlu cemas. Aku sudah siapkan itu." Noi bergegas kembali ke dapur untuk menghidangkan jus jeruk khusus untuk nona mudanya.
Bukannya meminum jus jeruk yang disiapkan khusus untuknya, Violetta malah beranjak dari kursi. Gadis itu melangkah dengan membawa satu gelas jus jeruk untuk seseorang yang baru kali pertama dia temui.
"Ini untukmu sebagai salam kenal dariku," ucap Violetta sambil tersenyum saat memberikan jus jeruk itu.
Awalnya gadis muda yang datang dengan Tuan Krating merasa ragu pada Violetta. Namun, senyum yang terlihat tulus dari gadis itu membuatnya mau menerima pemberiannya.
Saat gadis muda itu hendak menerima pemberiannya, Violetta malah menyiramkan jus jeruk itu ke wajah gadis muda yang datang bersama ayahnya. Semua orang terkejut melihat periatiwa itu. Terlihat sekali kebencian dan amarah yang tinggi dalam diri gadis yang merupakan desainer perhiasan itu.