"Apa kau tidak malu melihat putri dari pria yang kau kencani ini?" tanya Violetta dengan tatapan sinisnya.
Violetta yang terlihat berani mengkritik sang ayah yang berperilaku sangat buruk, sebenarnya merasa sakit hati. Bukan karena perselingkuhan ayahnya, tetapi karena sang ayah tidak bisa menghargai putrinya sendiri. Vio berpikir setidaknya hari ini orang tuanya bisa harmonis. Namun, itu hanya angan-angan kelabu yang tidak akan jadi nyata.
Gadis muda itu tampak sangat kesal dengan perbuatan Violleta yang pergi setelah dengan mudahnya menyiramkan air pada dirinya. "Tuan Krating, lihatlah! Putrimu benar-benar jahat. Gaun yang baru kau belikan kotor dan make upku juga berantakan," protes gadis itu.
Tuan Krating tidak menghiraukan kekasih mudanya itu. Dia lebih memilih untuk menyusul putrinya yang kecewa dan berniat menjelaskan agar Violetta tidak kecewa lagi padanya. Namun, Nyonya Klang menghalangi pria itu.
"Tidak perlu mencari muka di depan Violetta. Di matanya kau tidak lebih dari ayah yang tidak peduli dengan putrinya sendiri. Dia bisa melihat bagaimana sifatmu yang tidak pernah berubah. Makin kesini kau suka wanita muda. Apa kau tidak malu?" Nyonya Klang sudah terlanjur emosi dengan suaminya. Ia sudah tidak peduli orang lain menjadi saksi pertengkarannya dengan sang suami.
"Kenapa kau tidak memberitahu kalau Vio sudah pulang. Jika kau memberitahu, aku akan bersikap jadi ayah yang baik untuknya." Tuan Krating membalas amarah Nyonya Klang dengan kemarahannya.
"Kau menyalahkan aku? Coba cek ponselmu? Hitung berapa kali aku menghubungimu dan berapa pesan dariku yang kau lewatkan?"
Seketika Tuan Krating terdiam saat memeriksa ponselnya. Ia tidak menyadari ada panggilan masuk berkali-kali dari sang istri dan ada banyak pesan yang terlewat.
"Jika kau tidak menghubungiku. Kau bisa telepon pada Pinky, kan? Dia selalu tahu kemana aku pergi." Tuan Krating tidak mau mengakui kesalahannya. Ia malah menyalahkan Nyonya Klang yang tidak memberitahu sekertarisnya.
Pria itu memang tidak pernah merasa salah karena berkencan dengan wanita lain. Bagi Tuan Krating, berkencan dengan wanita lain adalah hiburan agar dia tetap waras dalam menjalankan bisnis perhiasan yang penuh intrik dan kecurangan.
"Sudahlah, aku lelah bicara denganmu. Kau itu sudah tua, tolong lihat dirimu sendiri." Nyonya Klang meninggalkan ruang makan.
Ia lebih memilih menghabiskan waktu di taman dan memandangi bunga-bunga hias miliknya dibanding harus terus bertengkar dengan suaminya yang tidak pernah bisa menghargainya sebagai seorang istri.
Menyusul langkah pergi Nyonya Klang, Tuan Krating meminta kekasih mudanya itu untuk pulang. Suasana makan siang yang diharapkan baik nyatanya malah berantakan. Makanan yang sudah dihidangkan pun tetap berada di tempatnya. Sedangkan sang pemilik rumah telah meninggalkan ruangan itu.
"Jangan terkejut, Dan. Hal seperti ini selalu terjadi. Aku yang sudah bekerja bertahun-tahun di sini selalu menjadi saksi." Noi membereskan makanan yang telah ia siapkan karena bisa dipastikan tidak akan ada yang memakannya.
"Bibi Noi, tunggu. Nona Violetta belum makan, kan? Dia pasti lapar. Tolong siapkan satu piring makanan untuknya. Biar aku yang antar ke kamarnya." Dan menuangkan air dalam gelas untuk melengkapi makanan yang sedang Noi siapkan untuk nona muda mereka.
"Kau yakin, Dan? Nona muda selalu marah jika berhadapan dengan pria. Kau harus hati-hati."
"Dia itu manusia, kenapa aku harus behati-hati. Memangnya dia vampir?" Pria bernama Dan Raidan itu tertawa karena ucapannya sendiri
Di kamarnya, Violetta termenung sambil memandangi foto-fotonya bersama adik dari ibunya yang biasa gadis itu panggil dengan sebutan 'Bibi Nong'. Selama tinggal dengan bibinya di New York, gadis itu tidak pernah bersedih. Bibinya selalu ada untuknya setiap gadis itu ada masalah. Sekarang, saat ia pulang ke rumahnya, kesedihan sudah menyambutnya dan hal itu membuat Violetta menyesal pulang.
Suara pintu diketuk membuat Violetta meletakan ponsel yang sedari tadi ia pegang. "Siapa?" tanya gadis itu sambil melangkah ke arah pintu, tatapi tidak langsung membuka pintu itu.
"Aku, Dan, Nona Vio. Aku bawakan makanan untukmu."
"Dan? Aku tidak mengenalmu."
"Aku pria yang menghalangimu pergi dari ruang makan tadi."
Violetta tidak langsung membukakan pintu untuk Dan. Ia hanya diam dan berdiri. Ia sama sekali tidak mengerti dengan keadaan orang-orang di dalam rumahnya. Saat seorang anak merajuk dan tidak mau makan, salah satu dari orang tua pasti datang menghampiri dan membujuknya untuk makan. Namun, semua itu tidak terjadi pada Violetta. Orang lainlah yang datang dan membujuknya untuk makan. Violetta merasa sangat miris dengan nasib buruknya sebagai putri dari Krating Paisankorn. Kehidupan kaya seseorang tidak menjamin kebahagiaan, itulah pikiran Violetta selama ini.
"Nona Vio ... bagaimana dengan makanannya? Ini sudah dingin." Dan mengingatkan Violetta kalau dirinya masih berdiri dengan piring dan gelas yang masih utuh isinya.
"Bawa pergi. Aku tidak mau makan atau ... kau saja yang makan."
"Jika Nona tidak makan, maka aku akan terus bediri di sini." Sikap kerasa kepala Dan membuat Violetta kesal dan akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Kenapa kau memaksa! Aku bilang aku tidak mau makan, ya tidak mau makan!" Dengan keras Violetta menolak makanan yang Dan bawa.
Saat ditolak dengan keras, Dan tidak marah, ia lebih memilih diam dan terus memandangi Violetta dengan tatapan matanya yang tajam.
Seketika Violetta merasa jantungnya berdegup kencang karena pria simpanan ibunya itu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya sendiri, hanya saja tatapan Dan itu membuatnya sulit berpaling.
"Vio," panggil Nyonya Klang yang mendapati Dan dan Violetta saling memandang.
Violetta yang masih merasa kesal dengan orang tuanya, tidak mau berurusan dengan sang ibu. Dia memilih mengambil makanan yang sedari tadi dipegang Dan, lalu masuk ke kamarnya tanpa menyapa sang ibu.
Sikap gadis itu pada Nyonya Klang terlihat sangat kasar. Namun, wanita itu tidak menyalahkan putrinya. Ia tahu dirinya dan sang suaminyalah yang salah hingga akhirnya Violetta memiliki sifat buruk seperti itu.
Violetta mendengar pembicaraan ibunya dan Dan dari balik pintu. Ia penasaran apa yang dibicarakan sang ibu dengan pria muda itu. Violetta ingin tahu sejauh mana hubungan terlarang ibunya dan Dan. Namun, saat mencoba mendengar tidak ada satupun suara yang ia dengar.
"Kemana mereka? Apa mereka pergi?" Vio membuka pintu kamarnya untuk memastikan. Benar saja, kedua orang yang tadi berada di depan kamarnya telah pergi.
Dengan mata kepalanya sendiri, Violetta melihat ibunya menggandeng tangan Dan. Awalnya ia pikir pria itu belum tentu simpanan ibunya. Namun, pemandangan mesra diantara keduanya kembali terlihat di depan mata Violetta. Mau hati tidak ingin percaya. Namun, bukti ada di depan mata.