Kejadian kemarin siang masih terus terbayang dalam ingatan. Vio masih mengingat betapa mesranya sang ibu dengan Dan. Ingin sekali ia tetap di kamarnya. Ia tidak mau bertemu kedua orang tuanya dan juga pria muda simpanan ibunya itu. Namun, Tualek--teman Vio ingin gadis itu datang ke rumahnya dan membuatkan desain perhiasan untuk hadiah ibu Tualek yang akan segera berulang tahun.
"Vio, ayo sarapan. Ibu menunggu di meja makan, ya?" ucap Nyonya Klang mengajak Violetta yang masih betah di kamarnya.
Violetta tidak merespon apapun, dia hanya terdiam sambil memandangi dirinya di cermin. Gadis itu selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki, cantik, kaya dan punya nama populer. Namun, kehidupannya tidak semulus apa yang dilihat orang lain. Jika ia bisa memilih, maka dia akan lebih memilih terlahir dari keluarga yang miskin, punya penampilan yang biasa saja asalkan orang tuanya harmonis.
"Vio, ayolah, nak. Kau harus sarapan." Bujukan Nyonya Klang kali ini berhasil. Violetta membuka pintu kamarnya dengan senyum sumringah dari gadis itu.
"Bu, aku akan menyusul nanti." Tiba-tiba Violetta masuk kembali ke kamarnya dengan raut wajah datar padahal sebelumnya gadis itu tersenyum sumringah pada ibunya
Kondisi Violetta membuat hati Nyonya Klang sakit. Ia ingin sekali menghapus penderitaan Violetta karena kedua orang tuanya tidak pernah harmonis, tetapi ia tidak bisa melakukan itu sendiri. Untuk mencari penyelesaian permasalahannya dengan sang suami saja, Nyonya Klang tidak pernah bisa hingga akhirnya masalah berakhir dengan ego tinggi masing-masing.
"Nyonya Klang, makanan sudah siap," ucap Noi yang menghampiri majikannya itu.
***
Dan Raidan bersiap untuk bekerja hari ini. Jarak rumahnya dengan rumah besar keluarga Paisankorn dekat, hanya butuh lima menit untuk sampai di rumah besar tempatnya bekerja.
Sebelum berangkat, pria tampan itu menyempatkan diri untuk memasak makanan untuk adik dan ibunya yang sibuk dengan kebun anggur kecil milik mereka yang terletak di belakang rumah.
"Bu, Min, aku berangkat dulu. Sarapan sudah kusiapkan." Pria itu telah siap berangkat.
"Dan, tunggu, nak. Ini ada buah anggur yang baru dipanen. Kau bilang nona muda pulang. Ibu ingin memberikan anggur ini sebagai ucapan selamat datang." Ibu Dan menyiapkan anggur khusus yang baru saja dipetik untuk nona muda keluarga Paisankorn.
"Baiklah, Bu. Akan aku berikan pada Nona Muda Vio." Dan pergi dengan motornya setelah berpamitan pada ibu dan adiknya. Dia terlihat sangat semangat setiap kali berangkat untuk bekerja.
Sebagai seorang ibu, ibu Dan merasa sangat beruntung memiliki putra seperti Dan. Semenjak sang ayah meninggal sepuluh tahun lalu, Dan yang bertanggung jawab dengan keluarga kecil itu. Sejak remaja dia menghasilkan uang sendiri dengan menjadi guru private orang-orang kaya. Pekerjaannya sebagai pengawal di rumah besar keluarga Paisankorn baru dijalani empat tahun belakang ini.
"Bu, aku rasa kita harus carikan jodoh untuk Kak Dan. Dia terus sendirian padahal teman-temannya sudah memiliki pasangan, bahkan ada beberapa dari mereka yang telah menikah." Min mengusulkan hal baik agar kakanya bisa berbagi rasa dengan seseorang. Namun, ibunya tidak menyetujui hal itu, ia ingin Dan mencari sendiri siapa gadid yang bisa meluluhkan hati putranya itu.
***
Violetta keluar dari kamar untuk ikut bergabung sarapan bersama ibu dan ayahnya. Sebenarnya, Vio enggan bertemu dengan ayahnya karena masalah semalam. Namun, ibunya akan bersedih jika dia tidak datang sarapan bersamanya.
"Silakan, Nona Vio." Noi mempersilakan nona mudanya untuk duduk di meja makan.
Dengan penuh perhatian, Noi menyiapkan makanan di piring Vio. "Bibi Noi, terima kasih sudah memerhatikanku." Vio meminta pelukan dari asisten rumah tangganya yang selalu perhatian setiap kali gadis itu di rumah, bahkan bisa dikatakan, Noi adalah orang yang paling perhatian di rumah itu pada Violetta dibanding kedua orang tuanya sendiri.
Di tengah suasana sarapan, Tuan Krating membuat suasana hati putrinya jadi buruk karena mengatakan perbuatan Violetta semalam tidak patut untuk dilakukan, apalagi Jeny adalah salah satu aktris pendatang baru yang namanya sedang populer saat ini.
Violetta menatap sang ayah dengan tatapan sinisnya. Ia tidak berucap apa-apa. Namun, dalam hatinya ia ingin sekali mengumpat banyak hal pada ayahnya. Vio masih berusaha sabar, apalagi hari masih pagi.
"Maaf, Nona Vio. Ini ada buket dari Tuan Muda Pope." Noi memberikan satu buket bunga mawar merah yang baru saja ia terima dari seseorang bernama Pope.
Violetta menghela napas, ia sudah menyembunyikan kepulangannya dari pria bernama Pope. Namun, usahanya sia-sia, pria penguntitnya itu tahu kalau gadis itu telah pulang ke Bangkok.
"Noi, di mana Pope? Apa dia sendiri yang mengirim bunga itu?" tanya Tuan Krating antusias.
Berbeda dengan Violetta yang risih dengan Pope, Tuan Krating terlihat antusias dengan pria itu. Dari awal, memang Tuan Krating ingin menjodohkan Vio dengan Pope. Setiap foto-foto Violetta dikirim pada Pope oleh Tuan Krating, bahkan Pope juga mendaoatkan nomor telepon Vio dari ayahnya itu.
"Aku di sini, Paman Krating," ucap Pope yang masuk dengan santai diikuti Dan.
Vio merasa risih dengan kehadiran Pope yang kini duduk di dekat ayahnya. Pria itu selalu saja membuat suasana hatinya buruk.
"Saat melihatmu secara langsung seperti ini ... kau terlihat lebih cantik, Vio," puji Pope dengan senyuman. Pujian pria itu ditanggapi sinis oleh Violetta, bahkan ia pergi meninggalkan ruang makan demi bisa menghindari Pope.
Violetta duduk termenung di taman belakang rumahnya. Ia rindu dengan Bibi Nong-nya, apalagi permasalahan terus muncul sejak ia pulang. Rasanya, Violetta ingin ada seseorang yang duduk di sampingnya untuk mengurangi beban masalah yang sedang dia rasakan saat ini.
"Ini hadiah untukmu, Nona Vio," ucap Dan yang tiba-tiba muncul dengan membawa goodie bag berwarna coklat.
"Aku tidak perlu hadiah," ucap Vio ketus.
"Jangan menolak niat tulus seseorang, Nona. Ini dari Ibuku, hasil panen kami sendiri." Dan meletakan goodie bag yang ia bawa tepat di samping Violetta.
Dan pergi tanpa kata, ia tidak berharap ucapan terimakasih dari Violetta, ia hanya menyampaikan apa yang ibunya titipkan untuk nona muda itu.
"Apa isinya? Kenapa ibunya perhatian sekali padaku?" Violetta jadi oenasaran dengan sosok ibu Dan. Dari perhatian kecio wanita itu, kini Vio merasa senang.
Rasa penasaran akhirnya membuat Violetta membuka goodie bag yang diberikan oleh Dan. Satu kotak kecil anggur segar membuatnya ingin langsung memakannya.
"Uhh, manis dan segar sekali. Ini benar-benar segar." Vio tidak bisa berhenti memakan anggur-anggur itu. Tanpa dia sadari, Dan memerhatikan tingkahnya saat memakan anggur-anggur itu. Violetta saat ini berbeda sekali dengan sebelumnya. Gadis itu tampak lucu saat ini.