Sebuah pesan singkat diterima Violetta saat sedang asyik memakan anggur pemberian Dan. Pesan itu mengharuskannya berhenti memakan buah anggur yang manis itu. Ia segera beranjak dari kursi taman belakang tanpa menghabiskan anggur yang ia sukai itu.
Violetta yang terlihat terburu-buru membuat Nyonya Klang penasaran kemana tujuan putrinya pergi. Namun, bukannya menghilangkan rasa penasaran ibunya, Vio malah meminta Noi untuk menyimpan buah anggur yang ia tinggalkan di taman belakang.
"Vio, ibu sedang bertanya padamu. Jawab, Nak." Nyonya Klang mulai merasa tidak dihargai putrinya.
Sejak kepulangan Vio, Nyonya Klang merasa putrinya sudah terlalu jauh darinya. Tidak menghargai ataupun berbuat hal sopan padanya. Ia menyadari semua itu salahnya. Namun, wanita itu masih sangat berharap putrinya kembali menjadi gadis yang baik dan menyayanginya seperti dahulu.
"Bu, aku ini sudah dewasa. Tidak perlu cemas atau apapun. Aku mau pergi kemanapun juga terserah padaku," kata Violetta yang terdengar tidak sopan.
Violetta berlalu pergi tanpa bicara apa-apa lagi. Sakit hati dirasakan Nyonya Klang. Namun, ia memaklumi putri semata wayangnya itu.
Kepergian sang Nona Muda tidak membuat acara sarapan di rumah Paisankorn kacau. Tuan Krating memakan makanannya tanpa peduli putrinya pergi, hal itu membuat Nyonya Klang marah. Wanita itu memyiramkan segelas air yang berada tepat di samping piringnya pada Tuan Krating.
"Klang! Apa yang kau lakukan?" Tuan Krating tampak marah dengan perlakuan sang istri. Pria paruh baya itu mengelap wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang bertanya. Bagaimana kau bisa tidak peduli pada putrimu yang pergi. Ah, ya, aku lupa bahwa kau tidak peduli pada putrimu, kau lebih peduli pada wanita-wanita muda simpananmu, kan?" Nyonya Klang berdiri dengan emosi yang sudah memuncak.
"Jangan samakan kedua hal yang berbeda, Klang. Vio seperti itu karena kau tidak bisa mendidiknya dengan benar dan malah membiarkan dia tinggal bersama dengan Vainong."
"Aku membiarkannya tinggal bersama Nong agar dia tidak melihat perilaku buruk ayahnya yang suka main dengan wanita-wanita muda."
Tuan Krating menggebrak meja hingga perdebatan antara dirinya dan sang istri berakhir.
Pope yang masih duduk santai di meja makan hanya melihat perdebatan itu dan sama sekali tidak peduli. Ia hanya duduk diam dan menyaksikan semua yang terjadi. Bagi pria itu, perdebatan antara orang tua Violetta seperti pertunjukan yang seru untuk diikuti.
"Dan, lakukan tugasmu," perintah Nyonya Klang saat ia merasa sudah tidak bisa terus berdebat dengan sang suami.
Dan bergegas pergi keluar untuk mengikuti sang Nona Muda. Pria tampan itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan sehingga tidak ada pertanyaan apapun yang ia ajukan pada Nyonya Klang.
Dan berjalan dengan cepat sebelum tertinggal oleh sang Nona Muda yang sudah keluar dari rumah lebih dahulu.
Saat sampai di depan rumah, Dan mendapati Violetta sedang mencari sesuatu. Pria itu tersenyum, ia sangat tahu apa yang sedang dicari oleh Nona Muda.
Dan berjalan kearah Violetta seraya mengambil kunci mobil yang ia simpan di kantung jasnya. Kunci itu tidak lain adalah kunci mobil Violetta, benda yang dicari-cari oleh putri keluarga Paisankorn itu.
"Nona mencari benda ini?" tanya Dan yang kini berada di belakang Violetta.
Melihat benda yang ia cari ada di tangan Dan sontak Violetta merebutnya tetapi sayang usahanya gagal karena Dan terus saja menghalangi Vio merebut kunci mobilnya.
"Hey, berikan kuncinya. Aku sedang terburu-buru," bentak Vio saat dirinya masih berusaha merebut kunci mobilnya dari Dan.
"Nona, Nona tidak perlu bersusah payah merebutnya, aku akan berikan secara sukarela. Namun, Nona harus mengijinkan aku ikut denganmu."
"Ikut? Kau itu siapa? Aku tidak punya urusan apapun denganmu, lalu kenapa kau harus ikut kemana aku pergi?"
"Aku dipekerjakan sebagai bodyguard oleh Nyonya Klang, yang harus aku lindungi adalah dirimu, Nona."
Violetta tertawa mendengar penjelasan Dan. I tidak habis pikir tentang alasan ibunya meminta Dan menjadi bodyguardnya sedangkan dirinya tidak butuh dilindungi oleh bodyguard manapun.
"Bagaimana, Nona?" tanya Dan lagi, pria itu berharap Nona Mudanya mengiyakan syarat yang ia ajukan.
Belum sempat menjawab pertanyaan Dan, Vio dibuat muak dengan kedatangan Pope yang lagi dan lagi ikut campur urusannya.
"Jangan hiraukan pria rendahan seperti dia, Vio. Jika dia tidak mau mengembalikan kuncinya, maka ikut saja denganku. Aku akan membawamu kemanapun kau mau." Pope sangat yakin Violetta akan menerima tawarannya, bahkan pria itu tersenyum menandakan kemenangan walau Vio belum menerima tawarannya.
"Kau saja yang setir mobilnya," kata Vio seraya pergi ke sisi kiri mobil dan membiarkan Dan yang mengemudikan mobil untuknya.
Melihat sikap Violetta, Pope merasa tersinggung. Pria itu marah karena Vio lebih memilih pergi dengan Dan dibanding dirinya, terlebih lagi Vio seperti tidak peduli dengan keberadaan Pope.
***
Di kamarnya, ibu Violetta duduk termenung. Ia membuka album foto masa kecil putrinya. Rindu yang dalam membuatnya meneteskan ait mata. Walau putrinya telah kembali, Nyonya Klang masih merasa ada yang kurang dalam hatinya.
Ia tahu semua ini karena kesalahannya yang selalu bertengkar dengan Tuan Krating. Namun, Nyonya Klang bertekad untuk mengubah Vio menjadi gadis yang ramah lagi.
Di saat seperti ini Dan adalah orang yang sangat dipercaya oleh Nyonya Klang. Bagi ibu Violetta itu, satu-satunya yang bisa menjaga putribya itu adalah Dan, karena itulah dia mempekerjakan Dan sebagi bodyguard Violetta. Ia bergarap Dan bisa mengubah pandangan Vio tentang pria, karena tidak semua pria sama dengan ayahnya.
***
Di mobil, keheningan terjadi. Dan dan Vio yang belum mengenal satu sama lain adalah penyebab keheningan itu, terlebih lagi bayang-bayang kemesraan Dan dan ibu Vio yang terus terbayang dalam pikiran Nona Muda keluarga Paisankorn itu.
"Nona mau diantar ke mana?" tanya Dan yang masih fokus mengemudi.
"Tidak perlu banyak tanya. Akan aku tunjukan jalannya nanti," jawab Vio dengan ketus.
Sesuai perintah Violetta, Dan tidak bertanya apapun lagi dan hanya meniruti perintah Nona Mudanya itu. Ia mengemudi sesuai intruksi yang Violetta berikan hingga akhirnya sampai di depan sebuh rumah yang memiliki taman di halaman depannya.
Vio langsung turun dari mobil dan tidak sengaja tersandung batu hingga kakinya terkilir. Gadis itu meringis kesakitan karena rasa nyeri menyerang kakinya yang terkilir.
Melihat hal itu, Dan bergegas turun untuk memastikan keadaan Nona Mudanya.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Dan yang melihat Vio memegangi pergelangan kakinya. "Sini biar aku lihat," lanjut Dan.
Dengan perhatian, sang bodyguard mencoba mengurut pergelangan kaki Vio agar tidak terlalu nyeri. Sekejap perhatian Dan membuat Vio merasa nyaman. Belum pernah ada pria yang memberikan perhatian kecil seperti ini padanya. Namun, ingatan Vio soal kejadian ibunya dan Dan membuyarkan rasa nyaman itu.
"Sudah, sudah, tidak perlu. Aku bisa sendiri." Vio menolak perhatian yang sedang dicurahkan Dan.
Ia tidak ingin dianggap lemah oleh siapapun, baginya pria manapun sama saja, karena pada akhirnya seorang pria hanya akan berakhir dengan menyakiti wanita.