“dasar lemah” terdengar sayup-sayup suara sedang seseorang mengumpat hingga menarik anne dari alam bawah sadarnya.
Dengap pelan namun pasti, mata hitam malam itu terbuka namun sama seperti hari-hari sebelumnya hanya ada kegelapan yang terlihat oleh wanita itu. Anne masih berbaring telentang di tempatnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya tapi sebuah cairan membasahi tubuhnya hingga anne bergerak panik.
“jangan pernah bermimpi jadi luna di pack ini karena itu tidak akan pernah terjadi” jerit seorang wanita yang suaranya mulai familiar di telinga anne.
Tanpa bisa berbuat apa pun, anne hanya menatap kosong. Matanya terbuka namun tidak ada yang terlihat dan dirinya pun belum terbiasa dengan ke gelapan itu hingga hanya terduduk diam.
Anne menggigit lidahnya sendiri mencoba menahan diri agar tidak menagis. Dia sudah sangat sering diperlakuan buruk dan kalimat tersebut juga bukan pertama kali dia dengar tanpa dia mengerti maksudnya.
Anne tidak tahu arti sebuah luna nyatanya wanita itu terdengar sangat marah setiap mengucapkan kalimat itu. Seperti biasanya wanita itu menjambak rambut anne lalu menyeretnya menuju ruangan yang terasa lebih dingin dari tempat sebelumnya.
Ternyata anne di seret menuju kamar mandi lalu sama seperti biasanya, dirinya di guyur beberapa kali setelah itu, sang wanita jahat mengosok tubuh anne dengan bahan yang kasar hingga meninggalkan perih dan tidak lama setelahnya tercium bau besi yang berkarat.
Itu bukan besi nyatanya itu bau darah anne yang tercium karena efek gososkan di kulitnya yang tipis. Selain mencium aroma itu, anne juga bisa merasakannya persis di mulutnya namun lagi-lagi anne tidak hanya memasrahkan dirinya tanpa bertindak sama sekali.
“harusnya kau mati saja” ucap wanita itu lagi dan tetap terus mengosok tubuh anne dengan kasar.
“dengar jalang, jika kau mengadu yang tidak-tidak ke beta, akan ku pastikan kau mati” ujar wanita itu lagi dengan ancaman yang di ucapkan tepat di telinga anne.
“aku tidak pernah mengatakan apapun pada beta, nona” sanggah Anne dengan nada lirih. Mendengar ucapan anne, kemarahan wanita itu bukannya mereka malah seolah bangkit hingga dengan gerakan cepat dirinya berdiri lalu menarik rambut Anne.
Wanita itu kali ini membentur-benturkan kepala anne bak mandi hingga cairan merak itu kembali mengalir dan anne kembali mengaduh kesakitan nyatanya itu tidak mengundang rasa iba sang wanita.
“pembohong” jeritnya dengan sisa-sisa kemarahannya kali ini.
“Am … ampun …” melas anne dengan terbata-bata karena kini wanita itu mencekik anne.
Melihat anne yang semakin terlihat lemah, wanita itu akhirnya melepaskan cengkraman lehernya pada anne. Dia terlihat sangat puas menatap anne yang kembali terbaring di lantai seolah tak berdaya.
“seseorang” jeritnya dengan suara nyaring hingga beberapa wanita berseragam pelayan masuk ke kamar mandi untuk menemui wanita itu.
“ya nona” jawab para pelayan serempak.
“seret wanita ini” titahnya tegas setelah itu dirinya berlalu pergi dengan wajah puas.
Langkah demi langkah membawa wanita itu pergi dari gudang dengan kondisi yang tidak layak huni. Satu persatu lorong telah dia laluinya. Awalnya, Wanita itu berniat pergi dan bersenang-senang nyatanya sepertiga langkahnya dirinya melihat segerombolan pelayan mengekori langkah seorang pria yang sepertinya baru saja tiba entah dari mana.
Menyadari jika orang yang dia puja baru saja tiba, sang wanita sedikit berlari agar bisa menghadang langkah si pria yang di cintainya.
“saya menyambut kedatangan anda alfa” ucap wanita itu dengan lembut dan postur tubuh yang terlihat anggun.
“Ada apa?” ucap pria itu dengan nada dingin dan wajah datarnya.
“saya mendengar anda akan tiba hari ini jadi suatu ke hormatan jika saya bertemu anda hari ini”
“pergilah” sahut pria yang di sapa alfa acuh lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar khusus miliknya yang di jaga ketat oelh banyak sosok.
“jika anda berkenan, saya dengan senang hati melayani anda alfa” tawar wanita itu dengan wajah lembut.
“pergi” usir pria itu lagi bahkan kali ini dengan sekali gerakan mampu membuat wanita itu terpental jauh.
Pria yang di sapa alfa kembali melangkah tapi belum jauh pria itu pergi, wanita itu tidak kehabisan akal hingga dengan suara lantang dirinya menjerit dan berkata
“alfa, saya sedang mengandung anak anda” ujar wanita itu kini mulai memainkan perannya.
Dirinya terduduk lemas di lantai sambil menitihkan air mata tapi tidak lupa menggelus perutnya dengan lembut. Apa yang wanita itu lakukan tidak lepas dari tatapan sang pria namun ternyata tidak cukup menggoyahkan rasa iba untuk wanita itu.
Mendengar dan melihat aksi sang wanita, pria itu terdiam cukup lama menatap sang wanita namun bukannya mendekati sang wanita, pria itu malah berdecih dengan wajah penuh rasa benci dan benar-benar pergi.
Kaki jenjangnya telah membawanya pergi jauh dari hadapan sang wanita hingga tibalah dia di kamar miliknya yang di penuhi dengan benda-benda mewah. Di lepaskannya jas juga dasi yang tela melekat di tubuhnya lalu membiarkan kedua benda itu jatuh ke lantai begitu saja.
Untuk sesaat pria itu merebahkan tubuhnya di tempat pembaringan namun bukannya memejamkan mata, pria itu malah menatap langit-lagit kamarnya dan baru berhenti ketika pelayan memberi tahu jika air mandinya telah siap.
Pria itu bangkit dari posisi berbaringnya lalu dengan acuhnya melepaskan pakaian juga celana miliknya hingga tidak ada sehelai kain pun yang melekat di tubuhnya saat itni.
Dengan acuhnya pria itu berjalan menuju kamar mandi dan ternyata di kamar mandi sudah ada beberapa pelayan yang menunggu untuk membantunya membersihkan badan.
Pria itu hanya merebahkan badanya lau para pelayan menyabuni hingga mencuci rambut pria itu dengan lembut. Bagian intin pria itu tidak lepas dari sentuhan sang pria namun belum selesai ritual mandinya, pria itu menarik tangan sang pelayan yang menyentuh bagian intimnya.
Tanpa kata-tanpa ekpersi, pria itu melempar sang pelayan hingga terbentur dengan dinding lalu tidak lama setelahnya sang pelayan memuntahkan darah cukup banyak.
Tidak pelayan yang berani membuka suara atau bergerak sama sekali dari tempat mereka. Mereka dalam ketakutan yang tidak jelas.
“bawa wanita bodoh itu kemari” titah pria yang di sapa Alfa pada pria yang sudah seperti bayangannya sendiri.
“baik alfa” jawab Pria itu lalu sedikit menunduk untuk memberi hormat setelah itu benar-benar pergi.
Si pria yang di sapa Beta akhirnya benar-benar pergi menuju kamar yang lebih layak di katakan gudang dimana wanita yang di takdirkan menjadi Luna atau mate dari pemimpin mereka. Setibanya di tempat itu, pria itu terkejut bukan main karena mendapati sang wanita sudah layaknya bangkai bernyawa
“apa-apaan ini” bentak beta dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
Beberapa sosok yang menjaga di tempat itu tidak ada yang berani membuka mulut. Mereka lebih memilih bersujut untuk menyembunyikan kepala mereka juga menutup mulut mereka dengan rapat.
“sepertinya memang sudah waktunya kalian mati” ujar Beta dengan sarkas.
Di gotongnya wanita buta bernama Anne itu dan dengan kekuatan mahluk abadi, beta berhasil membawa wanita itu dengan cepat untuk memasuki kamar priabadi sang pemimpin.
“aku menyuruhmu membawa wanita bukan bangkai” cecar sang Alfa dengan wajah datar.
“maafkan atas keteledoran saya, saya sendiri yang akan menanggani kasus ini” ujar Beta dengan nada lembut sambil menundukkan kepalanya dalam.
Pria yang di sapa Alfa dan di anggap pemimpin oleh bawahannya itu tidak membuka suara malah memilih mengibaskan tangannya pelan hingga seluruh pelayan pergi dan hanya menyisahkan sepasang sosok di kamar itu.