“Michael” panggil Anne dengan wajah yang di buat seceria mungkin.
“Mmm” ujar Michael sembari melepaskan seluruh pakaiannya tepat di hadapan Anne.
Hal ini bukan pertama kalinya Anne melihat seluruh tubuh Michael, tapi berapa kali pun Anne melihatnya, tetap saja Anne merasa malu-malu bahkan wajahnya memerah layaknya kepiting rebus apa lagi saat melihat bagian vital Michael yang ukurannya sangat besar dan akan semakin besar jika Anne mendekat.
“Ada apa? Tanya Michael yang telah menggunakan pakaian tidurnya.
“Mmm kau bilang, aku boleh kembali ke duniaku asal aku berbuat baik dan menggerjakan tugasku” Ujar Anne dengan semangat.
“Dan kau merasa sudah menggerjakan semuanya?” Ujar Michael melempamparkan pertanyaan pada Anne.
“Ya” jawab Anne penuh keyakinan.
“Tapi sayangnya kau melewatkan satu hal nyonya”
“Ha! apa itu?” Ucap Anne binggung.
“Melayaniku di ranjang” kata Michael lalu dengan mudahnya membaringkan Anne di tengah tempat tidur mereka.
“Michael jangan macam-macam. Ini tidak pernah ada di perjanjian kita tiga bulan lalu”
“Ini memang bukan perjanjian tapi kewajibanmu Ratu” Jawab Michael dengan senyum mirin di bibirnya yang terlihat seksi.
Anne dan Michael sempat saling menatap dengan durasi yang cukup lama tapi ketika Michael semakin merendahkan tubunya agar sepenuhnya menindih tubuh Anne, Anne segera menghalau dan berkata
“Kau harus janji untuk tidak mengingkari janjimu kali ini” Kata Anne sembari menatap mata Michael intens.
“Ya” Ujar Michael tegas dan bersiap menyatukan bibirnya dengan Anne tapi Anne lebih dulu menutup bibir Michael dengan tangannya.
“Apa kata-katamu bisa ku pegang”
“Sayangnya tidak”
“Kalo begitu aku juga tidak ingin” kata Anne lalu mencoba mendorong tubuh Michael untuk menjauh.
“Anne, tidak ada ucapan yang bisa di pegang. Janji hanya bisa di ingkari atau di tepati” terang Michael.
“jadi kau akan menepatinya kan?” Desak Anne pada Michael.
“Mmm tergantung”
“tergantung apa?”
“Kau bisa memuaskanku atau tidak”
“Kalo tidak?”
“Aku akan tetap memaksamu”
“kalo aku berontak?” Ancam Anne.
“Kau tidak akan bisa!” Kata Michael malah seolah menantang Anne.
“Michael” Ucap Anne untuk menghalanggi Michael lagi.
“Apa lagi Anne, jangan bermain-main dengan kesabaranku!” ujar Michael mengancam sekaligus memperingati Anne.
“Apa kau bisa sedikit pelan. Aku … Aku kesakitan saat itu” Ucap Anne dengan wajah khawatir dan juga rasa malu yang tidak bisa dia sembunyikan.
“Anne berhentilah menghalangiku dan ku lakukan yang kau mau” Gerutu Michael dan dengan cepat membekap bibir Anne dengan bibirnya.
Semuanya terjadi secara alami. jika sebelumnya Anne hanya pasrah menerima sentuhan Michael, untuk saat ini Anne benar-benar menikmati bahkan kalo Michael melepaskan tautan bibir mereka, Anne yang akan bergerak agar bibir mereka kembali bertemu.
Mereka mendesah seolah saling bersahutan. Hampir semua yang berada di kerajaan mendengar desahan sang ratu dan raja tapi mereka acuh saja, tapi ketika ketiga anak datang dan ingin mengusik kegiatan itu, baik prajurit dan pelayan harus bersusah payah menghentikan keturunan dari Anne dan Michael.
“Ibunda Ratu” jerit anak perempuan yang tidak suka menggetahui penyatuan antara ibu dan ayahnya.
“Ibunda Ratu” jeritnya lagi tapi tak juga mendapat jawaban dari orang yang di panggilnya.
Anne yang sudah kelelahan mengimbangi Michael jelas mendengarnya sama sekali sedangkan Michael yang baru saja menyemprotkan cairan ke Rahim Anne merasa sangat terusik. Di lepaskan penyatuan mereka lalu Michael bergerak mengambil juba tidur.
Anne yang merasa Sangat syukur lepas dari kungkungan Michael memilih memejamkan mata lalu tertitur. Anne sudah tidak peduli dengan Michael bergerak untuk mendekati pintu. Dengan wajah yang di buat datar, Michael mendekati pintu lalu terlihatlah beberapa prajurit yang tetap memblokitr jalan untuk masuk, pelayan yang terus membujuk Anak-anaknya serta Anak-anaknya yang memandang Michael dengan ekspresi yang berbeda-beda.
“Ibunda ratu” Jerit anak perempuan itu lalu menerobos masuk lhingga kini sudah memeluk wanita yang dia panggil Ibunda Ratu.
“Ada apa ini?” tanya Michael menahan geram
“Uncle Di bilang, kami akan punya adik baru lagi” Jelasa anak pertamanya.
“Apa benar?” tanya anak keduanya.
“Tentu saja benar” jawab anak perempuannya dengan wajah galak.
“ayolah, Itu alamiah. Sekarang keluar dan kembali ke kamar kalian” Titah Michael tapi tidak seorang pun dari anak-anaknya yang beranjak pergi.
Kedua anak laki-lakinya malah dengan santainya mendekati Anne dan bergabung dengan saudara perempuannya untuk berbaring di ranjang bekas percintaan orang tuanya. Anne yang merasakan sentuhan berbeda, seketika membuka mata dan saat tahu itu adalah anak-anaknya, terlebih dahulu Anne tersenyum lembut lalu memeluk Anak perempuannya.
Anne kembali terlelap sedangkan Michael hanya duduk tenang memperhatikan Anne dan putrinya sedang berpelukan, sebuah tanya akhirnya terbersit di pikiran Michael. Dengan intonasi tenang namun wajah yang tetap datar, Michael berkata
“Kenapa kalian tidak ingin punya saudara?”
“berbagi dengan mereka berdua saja sangat susah dan sangat menyebalkan bagiku. Sampai saat ini, aku juga belum punya nama, sedangkan sebentar lagi, seharusnya aku memasuki sekolah untuk menerima pendidikan” Jelas anak perempuan Michael dengan wajah gagak.
“Alasan yang sama” jawab anak pertamanya.
“Jawaban yang sama” Beo anak keduanya.
“Jadi jika, calon janin sudah tercipta bagaimana?”
“Tidak boleh” Jerit mereka bertiga secara bersamaan hingga membangunkan Anne.
“Tidurlah Anne, tidurlah” kata Michael lembut seolah mantra yang membuat anne kembali terlelap dengan damai.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Michael memusatkan pandangannya pada tiga anak kecil yang ada di hadapannya. Walaupun Michael tidak suka dengan keberadaan ketiga anak kecil itu, Michael tetap membuat mereka berbaring nyaman dan tidak lupa menyelimuti mereka.
“Ayahanda” Panggil anak perempuannya”
“Mmm” Gumam Michael sebagai jawaban.
“Ayahanda akan kemana?” Tanyanya lagi.
“Bekerja” Jawab Michael datar
“Kenapa tidak berbaring dan tidur bersama kami?” tanyanya dengan mata berbinar penuh harapan.
“Kalo aku tidur sekarang, Ibundamu akan marah karena tidak segera mengabulkan permohonannya” Terang Michael.
“Apa yang Ibunda inginkan?”
“Tidurlah. Kelak kau akan tahu” Jawab Michael lalu membenarkan posisi selimut anaknya dan benar-benar pergi dari kamar itu.
Melihat Anne dan anak-anaknya sudah saling menerima, entah kenapa ada perasaan bahagia di d**a Michael. Seketika Michael menggenang masa mudanya yang tidak terlalu dekat dengan Ibunya. Sebenarnya sebelum di nikahkan dengan Ayah Michael, Ibunya mencintai pria lain dan hampir saja menolak menjadi Mate dari Ayah Michael jika saja Ayah Michael tidak lebih dulu membunuh pria itu.
Ayah Michael membunuh Pria itu tepat di hadapan ibunya Mate dan itu yang membuat Wanita itu enggan selalu bersama dengan pasangannya. Saking tidak akurnya mereka, Kedua orangtua Michael punya kamar mereka masing-masing dan hanya berada di kamar yang sama jika bulan merah sedang berkuasa.
Michael kecil menyaksikan semuanya, Michael kecil adalah saksi keegoisan Ibunya dan keserakan ayahnya. Kini mengadapi situasi yang berbeda, Michael menyukainya tapi sedikit iri karena anak-anaknya terlihat bahagia sedangkan dulu sangat jarang bisa bertemu apa lagi di peluk juga di manja.