Seorang anak prempuan baru saja dilahirkan namun karena kondisi ibu kandungnya yang masih tidak sadarkan diri setelah melakukan operasi, Wanita yang di perkerjakan sebagai asisten rumah tangga mengabil alih tugas wanita tersebut.
Anak kecil itu adalah winda. saat itu kondisi ibunya yang kurang baik membuat winda harus di rawat secara terpisah dengan ibunya. Seharusnya saat ini winda belum lahir di dunia namun karena kecelakaan yang hebat, mau tidak mau ibu Winda harus di operasi demi menyelamatkan nyawa Winda jugaIbunya.
Cukup lama ibu winda harus di rawat di rumah sakit dan bersamaan dengan waktu itu, Winda tumbuh dengan cinta juga kasih sayang yang di berikan ayu. ayah Winda hanya memusatkan perhatiannya pada wanita yang di cintai hingga melupaka Winda yang jelas membutuhkan kasih sayangnya.
Tidak terasa kini Winda sudah berumur 1 tahun namun orangtuanya tidak kunjung memberikan Winda kasih sayang seperti yang seharusnya. Winda hanya mengenal Ayu sebagai orang yang mencintainya selama ini hingga ketika usianya beranjak 5 tahun, winda kecil di paksa memanggil kedua orang asing itu sebagai ayah dan ibunya.
Pertama kali winda bertemu dengan kedua orangtuanya, winda menolak mereaka karena tidak nyaman dan merasa asing dengan kedua orang itu, namun karena selalu di paksa, akhirnya winda mengakui mereka sebagai orangtuanya.
Ayu berpikir jika itu adalah awal kebahagiaan winda namun kenyataan tidak seperti yang di harapkan ayu. selama bersamanya sejak lahir hingga berusia 5 tahun, Winda tumbuh sebagai anak yang periang, aktif dan cerdas namun saat orangtua Winda mengambil tugas Ayu untuk mendidik Winda, Winda kecil menjadi anak yang sering sekali menagis.
Winda kecil selalu di berikan buku-buku pelajaran yang tidak dia mengerti, di paksa mengikuti kegiatan yang terlalu cepat untuk anak kecil sepertinya, selalu di marahi saat tidak bisa mengikuti perintah orangtuanya dengan baik dan berakhir dengan Winda kecil yang di kurung lalu jatuh sakit setelahnya.
Ayu menyaksikan itu, dirinya ada di sana ketika winda kecil selalu menangis ketika di anggap tidak secerdas dan sebaik kakak laki-lakinya. Bukan hanya sekali Winda mendapat perlakuan kurang baik dari orang tuanya bahkan ayu masih ingat jelas, saat ibu Winda menusukkan sebuah jarum ke v****a Winda demi memberikan efek jera.
Saat itu, winda hanya seorang anak kecil yang belum bisa mengurus dirinya sendiri, masih sering membuang air kecil di tempat tidurnya saat malam. menurut ayu itu adalah hal biasa di lakukan seorang anak kecil namun ibunya winda tidak terima hingga melakukan hal tersebut pada winda.
Winda mungkin sudah melupakan hal itu tapi ayu yang melihat dan merawat winda hingga luka itu sembuh masih mengingat jelas bagaimana Winda selalu mengeluh kesakitan dan menagis setelahnya.
Ayu yang merawat Winda sejak lahir dengan penuh kasih sayang dan melihat Winda di perlakukan seperti itu jelas ikut menangis namun karena dirinya hanya seorang pembantu, Ayu tidak bisa berbuat banyak kecuali menguatkan hati Winda saat itu.
Pelan namun pasti, Winda akhirnya menjadi anak yang cerdasi di mata teman-temannya di sekolah namun ternyata itu tidak cukup di mata orangtuanya karena Winda hanya menjadi orang kedua yang cerdas di kelasnya.
Winda selalu berusaha memberikan yang terbaik namun ternyata usahanya tidak pernah cukup untuk mengalahkan temannnya itu dan orangtuanya bukannya mendukung malah meremehkan winda juga berkataka jika mereka malu memiliki anak seperti winda.
Winda yang sudah mengerti arti umpatan dan sikap kasar mereka akhirnya menyadari jika dirinya tidak di harapkan oleh orangtuanya, tidak seperti kakaknya yang selalu menjadi kebanggan mereka.
Winda sedih karena hal itu namun tidak bisa berbuat banyak selain terus berusaha. Sejak lahir hingga Winda menjadi duduk di SMA, winda masih bisa bertahan karena selalu ada ayu yang menemani namun semua berubah ketika Ayu di pecat oleh orangtua winda.
Orangtua Winda menganggap Ayu adalah penyebab Winda menjadi anak yang manja dan sulit untuk di atur hingga dengan sangat terpaksa Ayu pulang ke kampung halamannya.
Ayu yang pergi dari rumah orangtuanya saat itu membuat kondisi Winda semakin buruk namun seperti biasanya orangtua winda selalu saja mendesak apa yang mereka inginkan pada winda.
Winda yang sudah terbiasa dengan sikap buruk orangtuanya terus saja bertahan dan membiarkan semua itu terjadi padanya namun suatu hari Winda di buat terkejut karena, sepasang manusia itu seolah selalu kompak untuk menyakitinya tiba-tiba bertengkar hebat di hapannya.
Winda pikir pertengkaran itu hanya sekali namun ternyata berlangsung lama hingga Winda duduk di bangku campus dan hampir menjadi salah seorang sarjana muda. Ayu yang sudah di kampung sebenarnya sudah sangat lama tidak tahu kabar tentang winda, namun melihat winda kabur dari rumah dan mencarinya, Ayu bisa menebak jika semuanya tidak penah baik-baik saja setelah kepergiannya.
Jarum jam terus berputar hingga menunjukkan pukul tiga sore. Sekali lagi Ayu membangunkan Winda lalu membawa winda ke sungai seperti yang di rencanakan. Di sana winda hanya duduk memperhatikan orang-orang bencanda tawa dan mencuci pakaian mereka.
Kenapa kau hanya duduk terdiam di sana. turunlah dan manji. Kata ayu.
Aku tidak tahu caranya mandi saat ramai seperti ini.
Mendengar perkataan Winda, seketika Ayu tertawa bersama beberapa orang lainnya. Setelah mengelengkan kepala beberapa kali, ayu akhirnya bergerak untuk mendekati Winda.
Di tuntunya Winda untuk mendekati sungai lalu membiarkan seluruh tubuhnya terkena air padahal sekarang ini, winda masih menggunakan seluruh pakaiannya. Tanpa canggung Ayu menggosokkan sabun pada tubuh Winda layaknya anak kecil yang sedang di mandikan oleh ibunya.
Beberapa orang yang melihat itu sekali lagi tertawa melihat wiinda yang terus berteriak menyuruh ayu berhenti namun ayu tidak peduli bahkan dengan santainya menyelipakan tangannya untuk masuk ke dalam pakaian Winda dan menggosok perut winda dengan sabun.
Kau jahat. teriak Winda dengan air mata sedih.
Ini akibatnya karena kau tidak bangun dengan cepat dan jadi hal yang manarik untuk orang lain lihat. Ucap Ayu dengan acuh lalu ikut mengoleskan sabun pada tubuhnya.
Winda sekarang hanya melihat Ayu menyabuni tubuhnya seperti apa yang Ayu lakukan padanya tadi. Saat masih memperhatikan Ayu dengan binggun, seketika ayu memaksa Winda untuk meninggalkan sungai lalu duduk bersama beberapa wanita yang sedang asyik mencuci.
Kenapa. Tanya winda saat mereka berdua sudah duduk bersama beberapa wanita di pinggir sungai.
Lihat itu. Tunjuk Ayu pada sebuah benda yang mengapung di air
Benda itu adalah kotoran manusia dan bewarna kuning emas. Mehihat itu, seketika perut Winda menjadi tidak baik dan tanpa bisa winda cegah, Winda memuntahkan isi perutnya.
Melihat tingkah winda seperti itu, sekali lagi winda jadi bahan tertawaan banyak orang. Bagi Ayu dan orang di sana, pemandangan seperti ini adalah hal yang biasa karena di tempat ini, toilet untuk membuang kotoran manusia masih sedikit.
Mengetahu itu, winda lalu berlari meninggalkan sunggai untuk ke rumah milik Ayu. tanpa memperdulikan tubuhnya yang bawa winda berlari ke kamar dan menganti pakaiannya.
Sekarang ini, winda tidak tahu tubuhnya dalam keadaan bersih atau kotor namun dia sadar satu hal yaitu, dia tidak boleh bangun terlambat dan dengan sangat terpaksa membiasakan diri jika suatu hari mengalami apa yang baru saja terjadi padanya.
Setelah berganti pakaian, Winda memutuskan membersihkan rumah karena perbuatannya tadi, rumah ini menjadi kotor dan basah. Tidak lama setelah Winda selesai membersihkan rumah, Ayu pulang dengan kondisi basah juga membawa sebuah wadah yang berisi pakaiannya.
Jadi bagaimana rasanya mandi di sungai
Menjijikkan. Jawab Winda ketus lalu menyerahkan sebuah handuk pada Ayu.
Seperti inilah kehidupan di sini. Kau harus terbiasa.
Ya kau benar tapi aku sepertinya tahu fungsi semua uang yang ku bawa itu sekarang
Apa. Tanya ayu dengan penasaran.
Aku akan membuat Toilet umum jadi saat aku mengambil air atau sekedar bermain di sungai, aku tidak perlu melihat hal seperti itu lagi.
Kau yakin. Tanya ayu untuk memastikan ucapan Winda
Sangat yakin. Jawab Winda dengan penuh keseriusan di wajahnya.
Winda yang mengambil alih tugas ayu untuk menjemur pakaian sedangkan Ayu memilih mendatangi kamar dan menggunakan pakaian yang bersih.
Malam telah tiba saat ayu dan Winda sedang duduk di teras rumah sambil memperhatikan beberpa orang segera kembali rumah mereka. Winda Masih duduk dean termenung, tiba-tiba ayu datang dan berkata
Semenjak kau di sini, hal yang paling sering kau lakukan adalah termenung
Aku seketika mengingat orangtuaku.
Ku pikir kau membenci mereka
Jujurnya iya, tapi mereka tetap mereka adalah orang yang telah membuatku berada di dunia
Iya, tapi masuklah dulu. Ucap ayu.
Tanpa kata Winda mengikuti ucapan Ayu dan memasuki rumah. kali ini Winda duduk di ruang tamu sambil memperhatikan sebuah lilih kecil yang apinya bergerak seolah sedang menari.
Bagi mereka, aku adalah sebauh ke gagalan namun mengingat tentang ibuku, aku khawatir dia melakukan hal yang bodoh
Misalnya
Tidak tahu
Kau ini benar-benar lucu winda. tapi aku tidak merasa itu hal yang salah karena aku yang menjaga dan merawatmu dulu
Mendengar ucapan itu, winda tidak bersuara. Winda hanya memilih tersenyum tipis lalu mendekatkan tangannya ke lilin dan merasakan rasa hangat di jarinya.