Sore hari, Ayu mengantarkan Winda untuk kerumah kepala desa. Ketika mereka sampai, mereka di sambut oleh wanita yang mereka temui di pasar.
Ayu, ada apa. Tanya wanita itu dengan ramah sambil mempersilahkan ayu dan winda untuk masuk kedalam rumahnya.
Ketika mereka di persilahkan masuk, mereka akhirnya duduk di kursi yang berada di runag tamu. Di ruang tamu, sudah ada ayu, winda dan wanita itu. Wanita itu berkata
Ada apa
Sebenarnya kami datang mencari kepala desa. Ucap ayu.
Suami saya sedang tidak di rumah, mungkin sebentar lagi pulang. Jelas wanita itu.
Kami akan menunggu kalo begitu.
Ada apa sebenarnya.
Sebenarnya winda datang untuk berbicara dengan suamimu. Winda ingin membangun toilet umum di dekat sungai itu jadi orang-orang bisa menggunakannya bersama
Benarkah. Tanya wanita itu.
Iya. Jawab Winda setelah sejak tadi diam
Kamu yakin punya uang yang banyak untuk membangun toilet itu.
Saya rasa begitu. Jawab winda singkat dengan senyum tipis di bibirnya.
setelah mengetahui tujuan kedatangan winda dan ayu, wanita itu pergi ke dapurnya lalu kembali membawa dua gelas yang berisi air the untuk ayu dan Winda.
mereka sempat bercerita tentang kehidupan yang ada di desa ini namun wanita itu masih saja mempatkan diri untuk menceritakan anak laki-lakinya yang bekerja sebagai dokter. Jujurnya winda muak mendengar ucapan wanita itu namun untuk mempelihatkan ke sopanannya, Winda hanya mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti namun pada kenyataanya tidak peduli sama sekali dengan ucapan wanita itu.
Wanita itu masih sibuk menceritakan tentang anak laki-lakinya ketika suara motor terdengar. Tidak lama setelahnya, terlihat dua pria memasuki rumah itu.
Aku tidak tahu kau datang ayu. kata pria yang menggunakan pakaian bewarna coklatya.
Ada yang ingin ku bicarakan dengan anda jadi saya datang. Jawab ayu dengan sopan.
Tentang apa itu. Kata pria itu lagi lalu duduk di hadapan Winda dan ayu.
Kenalkan ini Winda. Winda ini sebenarnya anak dari boss saya di jakarta.
Lalu ada apa tanya pria itu lagi.
Mendengar pertanyaan pria itu, winda yang sedari tadi hanya diam kini mulai membuka suara. Winda menjelaskan jika dirinya ingin membuat toilet umum, namun saat mengucapkan keinginannya, pria itu mengerutkan kening.
Kenapa anda ingin melakukan itu.
Ya karena saya ingin dan saya rasa tidak ada salahnya jika saya melakukan hal itu.
Mungkin kau benar tapi kau lihat tempat ini, tempat ini jauh dari kota. ucap pria itu.
Lalu
Sebenarnya jika kami ingin, kami bisa membangunnya di setiap rumah tapi seperti yang kau tahu, tempat ini sangat jauh dari kota jadi biaya pengirimannya juga lebih mahal.
Mendengar itu, winda mengangguk-anggukan kepala. winda masih ingat bagaimana perjalananya hingga sampai di tempat ini.
Dari kota dia membutuhkan waktu yang lama di tambah jalanan yang hanya bisa di lalui oleh motor. Menyadari hal itu winda hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar namun tidak mau menyerah dengan keinginannya.
Masalah utama dari pembangunan itu hanya uang dan biaya pengiriman di tempat ini selain itu, kepala desa bersedia menyiapkan izin dan membicarakannya pada masyarakat di sana. setelah berbicara panjang lebar, winda dan ayu memutuskan pulang ke rumah mereka
Setibanya di rumah, Winda hanya merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Melihat itu Ayu sekali lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kau masih memikirkan cara agar bisa membangun toilet umum. Tanya ayu
Iya.
Kenapa kau sangat ingin membangunya winda
Karena aku tidak ingin menggunakan air yang tercemar kotoran manusia. Jawab Winda ketus.
Mendengar jawaban Winda, kali ini Ayu hanya menghembuskan nafas secara kasar lalu menyuruh winda untuk bangun lalu membantunya di dapur untuk menyiapkan malan malam mereka.
Mereka berdua akhirnya sibuk dengna urusan dapur dan setelah selesai, mereka berdua memutskan untuk berbaring di ranjang sambil bercerita. Kali ini Winda berkata
Aku akan menelpon salah satu temanku besok
Temanmu
Iya.
Apa dia akan percaya jika kau masih hidu
Tentu.
Bagaimana bisa
Jelas bisa karena dia yang membantuku menyusun cerita sebelum berita kematianku tersebar dimana-mana
Dan dia tahu kau di tempat ini
Iya
Jadi apa yang harus dia lakukan untukmu
Membeli bahan dan memastikan semua bahan itu sampai di tempat ini
Kau yakin dia mau
Ya.
Bagaimana dengan uang untuk membeli semua bahan itu.
Aku punya caraku sendiri
Bagaimana
Aku hanya perlu mengirimkan uang lewat bank dan dia akan menggunakan uang itu untuk membeli bahan itu.
Bagaimana kalo dia menipumu dan membawa kabur semua uang itu.
Dia tidak akan berani.
Kenapa kau sangat percaya padanya.
Karena dia temanku.
Kau terlalu lugu winda.
Kenapa
Kau tahu ayahmu selalu berkata sangat mencintai ibumu. Dia bahkan melupakan kau hanya untuk merawat ibunya yang sedang sakit saat itu namun pada kenyataanya dia berselingkuh dan bahagia dengan keluarga barunya. Ucap ayu yang sukses membuat Winda menutup rapat bibirnya
Kau tahu arti dari semua itu
Tidak. Jawab minda dengan air mata yang sudah membasahi wajah winda
Tidak ada yang pasti dan tidak ada yang bisa di percaya selain tuhan.
Kau benar.
Lalu apa yang harus ku lakukan.
Tidak tahu. Jawab Ayu acuh
Diamlah ayu, kau hanya membuatku semakin binggung tanpa membantu.
Kau adalah anak orang kaya dank au cerdas. Aku hanya perlu berkomentar dank au yang bekerja. Balas Ayu mengejek Winda dengan senyum miring yang membuat winda melompat dari tempat tidur lalu menatap Ayu dengan seluruh kemarahannya namun ayu malah dengan acuhnya memejamkan mata untuk tidur.
Aku membencimu ayu. jerit Winda.
Aku mencintaimu. Balas Ayu acuh dengan senyum tipis.
Aku berkata aku membencimu bukan menyayangimu
Aku tahu.
Aku tidak percaya kenapa ada manusia seperti kau.
Ya, aku adalah manusia yang baik dan aku tahu itu. Kata Ayu lagi untuk memancing kemarah Winda.
Ayu diamlah. Kata Winda ketus.
Tidak mau. Kata Ayu lagi lalu terbahak keras hingga winda mendengus keras bahkan matanya sudah menurunkan air mata.
Mengetahui itu, ayu semakin tertawa keras sedangkan Winda sudah menangis dan marah pada Ayu. melihat itu, Ayu segera bergerak untuk turun dari tempat tidur lalu memeluk Winda dengan erat.
Awalnya winda menolak namun setelah terus di paksa, kini Winda menangis dalam pelukan ayu. Ayu tidak menyangka jika setelah berpisah lama, sikap Winda tidak berubah sama sekali.
Sekarang ini, winda sudah berusia 23 tahun namun sikapnya masih seperti anak kecil yang saat itu sedang di rawat oleh ayu.