kupikir lelaki itu akan menyekapku didalam kamar mandi nyatanya tidak. laki-laki itu lalu memegang gunting sembari memamerkan devil smile yang begitu menyeramkan. tubuhku semakin merinding dibuatnya lalu dengan santainya dia menggunting semua kain yang melekat ditubuhku dengan mudah.
tak sehelai benangpun kini yang melekat di tubuhku, penderitaanku juga tak sampai disitu karena kini dirinya memyiramiku dengan air layaknya menyirami tai di closet.
jari-jari panjangnya kini memainkan sabun dan digosokkannya pada tubuhku. aku ingin sekali menggumpat dan menggutuk lelaki dihadapanku namun sayang mulutku masih terbekap sempurna sedangkan tali yang membelit itu hanya menggendur tanpa membantu sama sekali.
disabuninya aku dengan teliti lalu setelah cukup sekali lagi aku disiraminya. tubuhku sudah terasa nyaman namun ketakutan itu masih ada dan semakin tumbuh sepersekian detiknya. ditariknya rambutku dengan kejam hingga badanku terseret-seret lalu berhenti tidak jauh dari kasur yang berukuran begitu besar.
ac dalam ruangan cukup dingin tapi lelaki itu masih tak berbelas kasih padaku yang sudah bergetar kedinginan. bukannya membantu menyelimutiku dirinya malah meraih sebuah suntikan berukuran kecil. walaupun ukurannya tak seberapa namun mataku melotot dengan sempurna melihat benda itu. entah kekuatan dari mana yang jelas aku kembali meronta-ronta.
kekuatanku tak seberapa dengan lelaki itu hingga kini aku berhasil ditenangkannya dengan cara dia menggurungku tepat dibawah tubuhnya. tidak, tidak lelaki itu bukannya menindihku dengan berbaring diataski tapi ia hanya duduk diatas tubuhku sembari mengangkanggiku.
dibukanya lakban itu dengan cara kasar dan pada saat itu juga kugunakan untuk meludahi wajah menyeramkan diatasku. lidahku mendaraf tepat disana dan tak tanggung-tanggung dirinya membalas dengan cara menamparku bertubi-tubi.
puas penamparku yang sudah hampir tak berdaya lelaki misterius itu lalu memegang kedua pipiku dengan satu tangannya dengan kasar dan dipasanya mulutku menggaga. bibirnya menggeluarkan senyum yang begitu menakutkan tapi tidak lama itu dirinya mengumpulkan ludahnya lalu mengarahkan ludahnya agar jaruh di bibirku. dia hanya meludah dibibirku bukan menukar ludah.
aku akan menggumpatinya tapi lelaki itu kembali membekap mulutku dengan tangan besarnya hingga dengan paksa ludahnya itu kutelan. puas meluatku kalah dirinya lagi-lagi membuka mulutku dengan cara yang sama namun kini bukan ludah yang masuk melainkan cairan yang tadinya berada dalam suntik.
tetes demi tetea berpindah kedalam mulutku, tidak lama setelah itu tubuhku serasa terbakar. kami masih di posisi yang sama, aku semakin tak tahan dengan kobaran api yang tiba-tiba datang tapi anehnya tubuhnya yang menyentuh tubuhku merasakan dingin. hanya bagian tak tersentuh kulitnya saja yang serasa ingin membunuhku.
aku meronta-ronta tidak jelas, aku bahkan menggeluh juga memohon padanya. entah apa yang mencairkan otaknya hingga ikatan itu akhirnya lepas. aku seketika berlari menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air shower tapi itu tidak cukup ku isi bathroom dengan air dan dengan asal ku tebahkan tubuhku begitu saja disana. apa yang kulakukan ternyata diperhatikan olehnya hingga masih dengan santainya iya membuka jubah mandinya hingga mempertontonkan asetnya yang begitu besar.
itu pertama kalinya kulihat dan wajahku memerah karenanya namun anehnya aku bukannya teriak kaget malah begitu intens memplototi asetnya seakan meminta barang itu memuaskanku di bawah sana.
dengan angkuh dia melangkah kearahku dan bergabung bersamaku di dalam air. setiap inci gerakannya tidak lupuk dari pandanganku begitu pun ketika dirinya menyentuh bagian inti dibawah sana. bukannya marah aku malah mendesah nikmat untuknya bahkan aku seolah minta lenih dengan menggenggam tangannya agar memainkan bibir intiku lebih ganas lagi.
hanya desahan dariku yang terdengar hingga setelah perasaan aneh itu datang aku menjerit dengan begitu kerasnya.
kupikir lelaki itu akan menyekapku didalam kamar mandi nyatanya tidak. laki-laki itu lalu memegang gunting sembari memamerkan devil smile yang begitu menyeramkan. tubuhku semakin merinding dibuatnya lalu dengan santainya dia menggunting semua kain yang melekat ditubuhku dengan mudah.
tak sehelai benangpun kini yang melekat di tubuhku, penderitaanku juga tak sampai disitu karena kini dirinya memyiramiku dengan air layaknya menyirami tai di closet.

jari-jari panjangnya kini memainkan sabun dan digosokkannya pada tubuhku. aku ingin sekali menggumpat dan menggutuk lelaki dihadapanku namun sayang mulutku masih terbekap sempurna sedangkan tali yang membelit itu hanya menggendur tanpa membantu sama sekali.
disabuninya aku dengan teliti lalu setelah cukup sekali lagi aku disiraminya. tubuhku sudah terasa nyaman namun ketakutan itu masih ada dan semakin tumbuh sepersekian detiknya. ditariknya rambutku dengan kejam hingga badanku terseret-seret lalu berhenti tidak jauh dari kasur yang berukuran begitu besar.
ac dalam ruangan cukup dingin tapi lelaki itu masih tak berbelas kasih padaku yang sudah bergetar kedinginan. bukannya membantu menyelimutiku dirinya malah meraih sebuah suntikan berukuran kecil. walaupun ukurannya tak seberapa namun mataku melotot dengan sempurna melihat benda itu. entah kekuatan dari mana yang jelas aku kembali meronta-ronta.
kekuatanku tak seberapa dengan lelaki itu hingga kini aku berhasil ditenangkannya dengan cara dia menggurungku tepat dibawah tubuhnya. tidak, tidak lelaki itu bukannya menindihku dengan berbaring diataski tapi ia hanya duduk diatas tubuhku sembari mengangkanggiku.
dibukanya lakban itu dengan cara kasar dan pada saat itu juga kugunakan untuk meludahi wajah menyeramkan diatasku. lidahku mendaraf tepat disana dan tak tanggung-tanggung dirinya membalas dengan cara menamparku bertubi-tubi.
puas penamparku yang sudah hampir tak berdaya lelaki misterius itu lalu memegang kedua pipiku dengan satu tangannya dengan kasar dan dipasanya mulutku menggaga. bibirnya menggeluarkan senyum yang begitu menakutkan tapi tidak lama itu dirinya mengumpulkan ludahnya lalu mengarahkan ludahnya agar jaruh di bibirku. dia hanya meludah dibibirku bukan menukar ludah.
aku akan menggumpatinya tapi lelaki itu kembali membekap mulutku dengan tangan besarnya hingga dengan paksa ludahnya itu kutelan. puas meluatku kalah dirinya lagi-lagi membuka mulutku dengan cara yang sama namun kini bukan ludah yang masuk melainkan cairan yang tadinya berada dalam suntik.
tetes demi tetea berpindah kedalam mulutku, tidak lama setelah itu tubuhku serasa terbakar. kami masih di posisi yang sama, aku semakin tak tahan dengan kobaran api yang tiba-tiba datang tapi anehnya tubuhnya yang menyentuh tubuhku merasakan dingin. hanya bagian tak tersentuh kulitnya saja yang serasa ingin membunuhku.
aku meronta-ronta tidak jelas, aku bahkan menggeluh juga memohon padanya. entah apa yang mencairkan otaknya hingga ikatan itu akhirnya lepas. aku seketika berlari menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air shower tapi itu tidak cukup ku isi bathroom dengan air dan dengan asal ku tebahkan tubuhku begitu saja disana. apa yang kulakukan ternyata diperhatikan olehnya hingga masih dengan santainya iya membuka jubah mandinya hingga mempertontonkan asetnya yang begitu besar.
itu pertama kalinya kulihat dan wajahku memerah karenanya namun anehnya aku bukannya teriak kaget malah begitu intens memplototi asetnya seakan meminta barang itu memuaskanku di bawah sana.
dengan angkuh dia melangkah kearahku dan bergabung bersamaku di dalam air. setiap inci gerakannya tidak lupuk dari pandanganku begitu pun ketika dirinya menyentuh bagian inti dibawah sana. bukannya marah aku malah mendesah nikmat untuknya bahkan aku seolah minta lenih dengan menggenggam tangannya agar memainkan bibir intiku lebih ganas lagi.
hanya desahan dariku yang terdengar hingga setelah perasaan aneh itu datang aku menjerit dengan begitu kerasnya.