waktu terus berlalu seorang anak kecil tumbuh seiring pergerakan putaran bumi. di depan mata indah sang anak semua kepiluan telah terekam dengan kapasitas lebih hingga mencakup semua rasa saat segala kesialan menerpa hidupnya dengan sadis dan tanpa belas kasih.
ketika seharusnya seorang anak masih bermanja riah, tertawa, bahagia, hanya perlu meneteskan air mata untuk mendapatkan segala keingginannya namun nyatanya yang terjadi pada anak itu tidak demikian, entah sudah berapa dalam air mata yang menetes hingga mampu menenggelamkan orang lain tapi nyatanya tak seorang pun yang basah atau terkena pecikan tetesan air bening yang keluar dari dua muara oval kecil milik sang anak, tetesan air mata itu bisa saja menetes setiap saat terjun tanpa kenal waku sang anak sungguh sangat belia untuk dijadikan bahan untuk melimpah semua derita tapi tuhan sepertinya tidak peduli akan usia umatnya hingga siapapun jika waktunya tiba maka terjadilah.
beberapa waktu silam tubuh gembul dan menggemaskan itu berubah menjadi kecil, ringkih kotor, dan semakin terlihat menjijikan karena ada bekas luka yang belum kering akibat kecelakaan tak seorang pun yang peduli akan keberadaannya, jika sang anak memelas kasih pada seseorang dirinya hanya akan mendapatkn cercaan juga siksaan dari banyak pihak jadi kini dirinya hanya berdiri jauh dari banyak orang menjahui masalah dan siksaan dari mereka, mencoba bertahan hidup dari sampah juga sisa-sisa makanan yang ditemukan ya hanya itu yang kini membantunya hidup kadang sang anak harus bertengkar dengan kucing hanya untuk gumpalan makanan tidak layak tetapi harus dipaksanya terjun bebas menuju lambung kecil yang sudah sangat sering menggeluh diselertiga malam tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya kata pasrah dan menanggislah akhir dari setiap deritanya, yang dinantikan sang anak hanya rasa itu segera hilang dengan sendirinya dan besok pagi ibunya datang untuk menggakhiri segala penderitaanya. selalu seperti itu namun itu dulu hingga suatu hari dimana hidupnya kembali berubah entah hari itu kesialan atau keberuntungan sang anak karena saat itu dirinya tertangkap satpol PP lalu dibawah kedinas sosial disana dirinya dirawat beberapa hari dan petualangannya berakhir dengan menetap di salah satu panti asuhan.
di panti asuhan pun nasibnya tidak berubah kerasnya kehidupan menjadikan sang anak memasang tanda bahaya pada tubuhnya kehidupan sebelumnya membuatnya mewaspadai semua orang setiap gerak gerik orang lain hanya di perhatikannya tidak ada yang bisa mendekati juga mengajaknya berbicara, anak panti asuhan hingga penggurus panti juga sudah lelah untuk merayu dan hasilnya selalu sama, sama -sama tidak membuahkan hasil sang anak terus saja dengan ketenangannya dan tidak menghiraukan orang disekitarnya, dan hanya akan bergerak atau merespon jika mendengar kata makanan.
sudah tiga bulan anak kecil itu menetap di panti asuhan Bakti Kasih namun tidak ada yang berubah pikis sang anak sudah terganggu motorik wajahnya juga sepertinya sudah tidak ada lagi, yang terlihat hanya wajah datar dan menggemaskan namun memanjarkan aura kesedihan ditubuhnya, selalu seperti itu sang anak selalu melalui hari-harinya sendiri walau berada dikeramaian.
hingga suatu hari itu tiba, sepasang suami-istri datang untuk menggaropsi seorang anak, awalnya mereka mencari anak bayi agar mereka bisa mendidiknya sedari awal namun sungguh disayangkan panti asuhan bakti kasih sudah tidak memiliki seorang bayi untuk mereka, hingga ketika akan segera pulang sepasang suami istri juga penggurus panti tersebut berpapasan dengan sang anak, seperti biasanya sang anak hanya berlalu begitu saja dan tidak mengkhiraukan sekitarnya namun tiba-tiba tangan sang anak dicekal dan dipaksa berhenti lalu dihadapkan dengan wajah lelaki dewasa itu.
ya lelaki dewasa itu adalah sosok yang sama dengan orang yang mencari anak untuk diadopsilah dan yang telah menghentikan sang anak. diperhatikannya setiap sudut wajah sang anak dengan seksama terlihat sangat wajar untuk mereka yang sudah biasa melihat sosok sang anak namun tidak untuk lelaki dewasa itu, gambaran pada wajah sang anak menggingatkannya pada seseorang yang sangat dikenalnya.
"siapa dia ?" tanya lelaki dewasa itu
"dia adalah anak yang dibawa oleh dinas sosial lalu dititipkan pada kami pak leo" ucap penggurus panti bernama mila
"nak dimana orang tuamu?" namun sayang sang anak masih dengan aksi diamnya dan hanya memperhatikan wajah orang yang kini menahan tubuhnya.
"maaf pak anak itu sudah seperti itu sejak datang kemari tidak ada identitas pasti menggenai dirinya, anak ini juga tidak pernah berbicara selama disini"
mendengar kata itu leo hanya terdiam untuk beberapa saat tetapi masih memperhatikan wajah sang anak mulai dari mata, rambut, hidung, bibir, hingga bentuk wajah dengan sangat intens, cukup lama kesunyinya menyelimuti mereka namun tiba-tiba leo melontarkan kata yang membuat istrinya kehilangan ketenangannya.
"bisa saya bawa anak ini bu?" tanya leo pada mila
"leo kita mencari anak bayi" ucap ratih menggintrupsi pembicaraan antara leo dan mila sanggat tergambar jelas jika ratih tidak menyukai keputusan leo untuk menggadopsi anak yang kini ada dihadapan mereka.
mendengar perkataan istrinya leo akhirnya berbalik untuk menatap ratih lalu dengan sedikit paksaan leo menyeret istrinya untuk sedikit menepi dari mila dan sang anak. apa yang akan dibicarakan leo selertinya sangat rahasia namun ratih yang tidak menggerti perubahan sikap leo memberontak hingga tetjadi aksi tarik menarik diantara mereka
"kau ini kenapa hah, kita sudah sepakat hanya akan menggadopsi anak yang tidak tahu kalo kita bukan orang tua kandungnya kita hanya akl berpura-pura didepan keluargamu jika anak bayi itu adalah anak yang aku kandung dan sudah lama kusembunyikan tapi kau, leo kau kenapa hah?".
"ratih perhatikan anak itu baik-baik, kau tidak lihat anak itu sangat mirip dengan kakakku."
"apa peduliku, kakakmu sudah mati yang aku butuhkan saat ini hanya anak yang menyumbat mulut-mulut sampah keluargamu." ucap ratih berang dan mulai kehilangan kesabarannya air matanya pun sudah metes melengkapi drama diantara dia dan suaminya.
"Dengar ratih oke jika kau tidak mengginginkan anak itu, tapi aku harus memastikan anak itu anak kak defa atau bukan."
"untuk apa kita memastikannya hah, toh ayahmu yang kikir itu sudah membuang anaknya." mendengar ucapan istrinya leo kehilangan kesabarannya sungguh dia sepertinya salah memilih pasangan hidupnya, tangga leo sudah berayun naik untuk memukuli sang istri tetapi hal itu di intrupsi oleh penggurus panti.
dengan sekali hentakan akhirnya leo menghentikan keinginannya lalu berbalik dan kembali mendekati sang anak yang sudah mencuri perhatianya, semuanya berlalu begitu cepat karena dengan cara paksa didekapnya sang anak laki-laki itu, lalu dibawanya pergi begitu saja tidak peduli dengan panggilan ratih juga mila, sang anak juga hanya pasrah tubuhnya dibawah pergi oleh orang yang tidak dikenalinya toh sang anak tidak menggerti akan semua yang terjadi.
ratih dan mila terseok-seok menggikuti langkah kaki jenjang leo, sudah banyak perkataan yang ratih dan mila lontarkan untuk menghalau leo namun tidak dihiraukan oleh loe akhirnya yang bisa ratih dan mila lakukan hanya menggikuti langkah leo dari belakang dan menggikuti alur dari keinginan leo.
sesampainya di parkiran leo membuka pintu mobil dan mendudukkan sang anak laki-laki itu di kursi depan, tanpa ucapan apa pun leo akhirnya ikut masuk dan duduk dikursi kemudi tidak dihiraukannya lagi sang istri akan ikut masuk mobil atau tidak, leo tetap melanjutkan kegiatannya dan setelah memasang seat belt lalu menyalakan mesin leo akhirnya sudah siap untuk pergi, melihat aksi leo ratih mau tidak mau hanya bisa ikut masuk mobil dan duduk di kursi penumpang dibelakang dan tanpa pamit juga sepatah kata pun mobil yang ditumpanggi leo dan ratih juga sang anak melesat meninggalkan panti asuhan begitu saja mila yang hanya sendiri dan tidak bisa berbuat apa akhirnya hanya bisa membiarkan hal didepannya terjadi dirinya hanya berharap sebuah keajaiban akan segera tiba untuk anak kecil yang bernasib malang itu.
waktu terus berlalu seorang anak kecil tumbuh seiring pergerakan putaran bumi. di depan mata indah sang anak semua kepiluan telah terekam dengan kapasitas lebih hingga mencakup semua rasa saat segala kesialan menerpa hidupnya dengan sadis dan tanpa belas kasih.
ketika seharusnya seorang anak masih bermanja riah, tertawa, bahagia, hanya perlu meneteskan air mata untuk mendapatkan segala keingginannya namun nyatanya yang terjadi pada anak itu tidak demikian, entah sudah berapa dalam air mata yang menetes hingga mampu menenggelamkan orang lain tapi nyatanya tak seorang pun yang basah atau terkena pecikan tetesan air bening yang keluar dari dua muara oval kecil milik sang anak, tetesan air mata itu bisa saja menetes setiap saat terjun tanpa kenal waku sang anak sungguh sangat belia untuk dijadikan bahan untuk melimpah semua derita tapi tuhan sepertinya tidak peduli akan usia umatnya hingga siapapun jika waktunya tiba maka terjadilah.
beberapa waktu silam tubuh gembul dan menggemaskan itu berubah menjadi kecil, ringkih kotor, dan semakin terlihat menjijikan karena ada bekas luka yang belum kering akibat kecelakaan tak seorang pun yang peduli akan keberadaannya, jika sang anak memelas kasih pada seseorang dirinya hanya akan mendapatkn cercaan juga siksaan dari banyak pihak jadi kini dirinya hanya berdiri jauh dari banyak orang menjahui masalah dan siksaan dari mereka, mencoba bertahan hidup dari sampah juga sisa-sisa makanan yang ditemukan ya hanya itu yang kini membantunya hidup kadang sang anak harus bertengkar dengan kucing hanya untuk gumpalan makanan tidak layak tetapi harus dipaksanya terjun bebas menuju lambung kecil yang sudah sangat sering menggeluh diselertiga malam tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya kata pasrah dan menanggislah akhir dari setiap deritanya, yang dinantikan sang anak hanya rasa itu segera hilang dengan sendirinya dan besok pagi ibunya datang untuk menggakhiri segala penderitaanya. selalu seperti itu namun itu dulu hingga suatu hari dimana hidupnya kembali berubah entah hari itu kesialan atau keberuntungan sang anak karena saat itu dirinya tertangkap satpol PP lalu dibawah kedinas sosial disana dirinya dirawat beberapa hari dan petualangannya berakhir dengan menetap di salah satu panti asuhan.
di panti asuhan pun nasibnya tidak berubah kerasnya kehidupan menjadikan sang anak memasang tanda bahaya pada tubuhnya kehidupan sebelumnya membuatnya mewaspadai semua orang setiap gerak gerik orang lain hanya di perhatikannya tidak ada yang bisa mendekati juga mengajaknya berbicara, anak panti asuhan hingga penggurus panti juga sudah lelah untuk merayu dan hasilnya selalu sama, sama -sama tidak membuahkan hasil sang anak terus saja dengan ketenangannya dan tidak menghiraukan orang disekitarnya, dan hanya akan bergerak atau merespon jika mendengar kata makanan.
sudah tiga bulan anak kecil itu menetap di panti asuhan Bakti Kasih namun tidak ada yang berubah pikis sang anak sudah terganggu motorik wajahnya juga sepertinya sudah tidak ada lagi, yang terlihat hanya wajah datar dan menggemaskan namun memanjarkan aura kesedihan ditubuhnya, selalu seperti itu sang anak selalu melalui hari-harinya sendiri walau berada dikeramaian.
hingga suatu hari itu tiba, sepasang suami-istri datang untuk menggaropsi seorang anak, awalnya mereka mencari anak bayi agar mereka bisa mendidiknya sedari awal namun sungguh disayangkan panti asuhan bakti kasih sudah tidak memiliki seorang bayi untuk mereka, hingga ketika akan segera pulang sepasang suami istri juga penggurus panti tersebut berpapasan dengan sang anak, seperti biasanya sang anak hanya berlalu begitu saja dan tidak mengkhiraukan sekitarnya namun tiba-tiba tangan sang anak dicekal dan dipaksa berhenti lalu dihadapkan dengan wajah lelaki dewasa itu.
ya lelaki dewasa itu adalah sosok yang sama dengan orang yang mencari anak untuk diadopsilah dan yang telah menghentikan sang anak. diperhatikannya setiap sudut wajah sang anak dengan seksama terlihat sangat wajar untuk mereka yang sudah biasa melihat sosok sang anak namun tidak untuk lelaki dewasa itu, gambaran pada wajah sang anak menggingatkannya pada seseorang yang sangat dikenalnya.
"siapa dia ?" tanya lelaki dewasa itu
"dia adalah anak yang dibawa oleh dinas sosial lalu dititipkan pada kami pak leo" ucap penggurus panti bernama mila
"nak dimana orang tuamu?" namun sayang sang anak masih dengan aksi diamnya dan hanya memperhatikan wajah orang yang kini menahan tubuhnya.
"maaf pak anak itu sudah seperti itu sejak datang kemari tidak ada identitas pasti menggenai dirinya, anak ini juga tidak pernah berbicara selama disini"
mendengar kata itu leo hanya terdiam untuk beberapa saat tetapi masih memperhatikan wajah sang anak mulai dari mata, rambut, hidung, bibir, hingga bentuk wajah dengan sangat intens, cukup lama kesunyinya menyelimuti mereka namun tiba-tiba leo melontarkan kata yang membuat istrinya kehilangan ketenangannya.
"bisa saya bawa anak ini bu?" tanya leo pada mila
"leo kita mencari anak bayi" ucap ratih menggintrupsi pembicaraan antara leo dan mila sanggat tergambar jelas jika ratih tidak menyukai keputusan leo untuk menggadopsi anak yang kini ada dihadapan mereka.
mendengar perkataan istrinya leo akhirnya berbalik untuk menatap ratih lalu dengan sedikit paksaan leo menyeret istrinya untuk sedikit menepi dari mila dan sang anak. apa yang akan dibicarakan leo selertinya sangat rahasia namun ratih yang tidak menggerti perubahan sikap leo memberontak hingga tetjadi aksi tarik menarik diantara mereka
"kau ini kenapa hah, kita sudah sepakat hanya akan menggadopsi anak yang tidak tahu kalo kita bukan orang tua kandungnya kita hanya akl berpura-pura didepan keluargamu jika anak bayi itu adalah anak yang aku kandung dan sudah lama kusembunyikan tapi kau, leo kau kenapa hah?".
"ratih perhatikan anak itu baik-baik, kau tidak lihat anak itu sangat mirip dengan kakakku."
"apa peduliku, kakakmu sudah mati yang aku butuhkan saat ini hanya anak yang menyumbat mulut-mulut sampah keluargamu." ucap ratih berang dan mulai kehilangan kesabarannya air matanya pun sudah metes melengkapi drama diantara dia dan suaminya.
"Dengar ratih oke jika kau tidak mengginginkan anak itu, tapi aku harus memastikan anak itu anak kak defa atau bukan."
"untuk apa kita memastikannya hah, toh ayahmu yang kikir itu sudah membuang anaknya." mendengar ucapan istrinya leo kehilangan kesabarannya sungguh dia sepertinya salah memilih pasangan hidupnya, tangga leo sudah berayun naik untuk memukuli sang istri tetapi hal itu di intrupsi oleh penggurus panti.
dengan sekali hentakan akhirnya leo menghentikan keinginannya lalu berbalik dan kembali mendekati sang anak yang sudah mencuri perhatianya, semuanya berlalu begitu cepat karena dengan cara paksa didekapnya sang anak laki-laki itu, lalu dibawanya pergi begitu saja tidak peduli dengan panggilan ratih juga mila, sang anak juga hanya pasrah tubuhnya dibawah pergi oleh orang yang tidak dikenalinya toh sang anak tidak menggerti akan semua yang terjadi.
ratih dan mila terseok-seok menggikuti langkah kaki jenjang leo, sudah banyak perkataan yang ratih dan mila lontarkan untuk menghalau leo namun tidak dihiraukan oleh loe akhirnya yang bisa ratih dan mila lakukan hanya menggikuti langkah leo dari belakang dan menggikuti alur dari keinginan leo.
sesampainya di parkiran leo membuka pintu mobil dan mendudukkan sang anak laki-laki itu di kursi depan, tanpa ucapan apa pun leo akhirnya ikut masuk dan duduk dikursi kemudi tidak dihiraukannya lagi sang istri akan ikut masuk mobil atau tidak, leo tetap melanjutkan kegiatannya dan setelah memasang seat belt lalu menyalakan mesin leo akhirnya sudah siap untuk pergi, melihat aksi leo ratih mau tidak mau hanya bisa ikut masuk mobil dan duduk di kursi penumpang dibelakang dan tanpa pamit juga sepatah kata pun mobil yang ditumpanggi leo dan ratih juga sang anak melesat meninggalkan panti asuhan begitu saja mila yang hanya sendiri dan tidak bisa berbuat apa akhirnya hanya bisa membiarkan hal didepannya terjadi dirinya hanya berharap sebuah keajaiban akan segera tiba untuk anak kecil yang bernasib malang itu.