"ampun nyonya ampun" mohonnya dengan sangat, namun wanita itu belum puas membenturkan rotan panjang itu ke tubuh ringkih seorang anak.
"aaaaagrrrr" teriakan keras yang menandakan bukulan itu begitu sakit dan melukai tubuhnya
"ampun" pintanya entah untuk kesekian kalinya namun tetap saja tak dihiraukan
"hiks" tak ada kata kini yang dapat terucapkan, tubuh ringkih itu seakan kehilangan indra penggecapnya hingga hanya isak tanggis yang terdengar
"hiks"
"hiks" wajah bocah laki-laki itu telah di penuhi air mata namun tidak membuat sang wanita puas, setelah tenaganya terkuras banyak barulah kegiatannya untuk memukuli anak angkat terhenti dengan sendirinya.
ditatapinya sanga anak yang kini terlihat na'as tapi bukannya meminta maaf atau sedikit merasa bersalah sang wanita malah tertawa keras saking kerasnya dirinya bahkan memeganggi perutnya dan tidak lupa meludahi sang anak.
melihat itu sang anak hanya bisa merasa ketakutan dibalik tawa riang sang ibu angkat, tubuh ringkih miliknya kini tergulung layak seorang janin dalam rahim. ia kini memerhatikan wanita itu dari bawah, dengan terbaring di atas lantai sedangkan wanita itu menjulang tinggi diatasnya. ia merekam semua aktivitas sang ibu yang kini menggeluarkan sumpah serapahnya dan kutukan pada anggara.
ya namanya anggara prasetya namun setelah diangkat menjadi anak dari penggusaha bernama leo wijaya yang menggaku sebagai adik kandung dari ayahnya yang telah meninggal kini namanya berubah menjadi Anggara setyawan wijaya.
anggara tumbuh menjadi anak yang sering mendapatkan pengganiayaan namun tubuh dan pemilik otak kecil itu sungguh tidak mengetahui letak kesalahannya namun yang dia tahu lelaki yang menggaku sebagai ayah angkatnya sangat menyayangginya dan wanita kejam itu akan berpura-pura demikian dihadapan sang lelaki hebat, tetapi jika sang ayah angkat pergi dalam kurung waktu cukup lama maka penyiksaan seperti ini akan terjadi bahkan lebih kejam setiap kalinya.
rumah milik orangtua angkatnya sangat besar, mewah bahkan layaknya istana yang sering ditontonya bersama sang ayah angkat tapi semua kemewahan juga keindahan itu hanya dirasakan jika bersama ayahnya sedangkan jika ayahnya pergi maka gubuk deritalah yang terpampang dihadapannya.
penderitaan itu tidak hanya didapatkannya dari sang ibu melainkan dari baby sitter yang harusnya merawatnya dengan baik namun ikut menjadi pelaku kekerasan hingga membuat lukanya yang belum sembuh bertambah kian hari.
kini mati pun rasanya lebih baik tapi tuhan tak kunjung menggizinkan malaikatnya untuk menjemput sang anak kecil hingga penyiksaan demi penyiksaan harus terus dirasakannya. penyiksaan itu berawal dari penggangkatannya menjadi anak hingga kini usianya meranjak 17 tahun.
sang anak kini tumbuh dengan wajah tampan, tubuh atletis, kepandaian diatas rata-rata, glamor, dan pamor yang terbilang sangat baik namun semua itu hanya topeng untuk menutupi penderitan yang terjadi di hidupnya, jika anak remaja melewati masa-masa pubertasnya dengan membanggakan semua apa yang ada pada dirinya anggara malah hanya memilih hidup miskin asalkan diselimuti kebahagian bersama ayah kandung dan ibunya yang hingga kini tak tahu keberadaannya.
penyiksaan dan kasih sayang masih didapatkannya. penderitaan dari ibu, kasih sayang dari ayah, sedangkan baby sisternya sudah tidak bekerja lagi dan sebelum perpisahan itu anggara remaja telah membuat wajah wanita itu cacat dengan air panas. iya, anggara kini juga menjadi lelaki sadis tapi hanya pada wanita.
rasa sakit, rasa benci, dendam juga amarahnya kini menjadi satu hingga menenggelamkan anggara polos menjadi lelaki kejam. Tak seorang pun berani melukai tubuhnya begitupun dengan ibu angkat karena tepat dihadapannya anggara telah melemparkan air mendidih itu kewajah sang baby sitter hingga membuat kegaduhan dirumah mereka, walau begitu cemohan dan kata kasar tak kunjung berhenti.
bersama sang ayah, anggara didik untuk menjadi penerus dari perusahaan keluarga. dari penggaturan saham, menggelola perkebunan, pertambangan dan pabrik. dengan kepandaian diatas rata-rata hal itu cukup mudah untuk anggara terbukti pada saat usianya 16 tahun ia telah membuktikan kemampuannya hingga sang ayah tercegang dan takjub dengan kinerjanya.
atas usaha dan kerja kerasnya anggara telah melengserkan saingan perusahaan mereka untuk mendapatkan tender yang nilainya triliunan tanpa merugikan perusahaan apa lagi memberikan masalah pada perusahaan dan itu sukses membuat leo sebagai ayah anggkat bangga dan tidak lagi ragu mempercayakan perusahaan pada anggara.
ya anggara telah bekerja di perusahaan sejak memasuki bangku SMA dan kini setelah kelulusannya Anggara diangkat menjadi CEO. kini Anggara menjadi CEO termuda seasian, walau cukup banyak yang meragukannya tapi anggara mampu merebet kepercayaan mereka dengan mudah hingga perusahaan yang dipimpin anggara kian maju begitu pun dengan kelayaan milik keluarga wijaya lainnya.
semua tidak lupuk dari penggawasan anggara. bahkan kartu kredit, ATM dan debit milik ibu angkatnya menjadi tanggung jawab anggara hingga tak segan-segan anggara memblokir hampir seluruh kartu-kartu itu dan hanya menyisihkan satu kartu itu pun hanya memberikan 1 juta perbulannya itupun di berikan pada akhir bulan sehingga hobby wanita itu untuk menghambur-hampurkan uang kini menghilang.
itulah aksi balas dendam anggara pada wanita itu, patih tidak bisa membalas dengan kekerasan pula karena walaupun ingin, tapi ratih masih bertatus istri leo. untungnya sang ayah diam dan membiarkan walau mereka sering diamuki sang wanita gila itu tapi baik anggara maupun leo tidak peduli. toh leo tidak memiliki rasa pada wanita itu, dirinya hanya tidak bisa menceraikan wanita itu karena kontrak antara ia dan wanita itu.
Leo dan wanita bernama Ratih menikah karena kontrak. orang tua ratih dan leo menjodohkan mereka karena kepentingan perusahaan hingga leo dan ratih sepakat menikah asalkan dengan kontrak, dan salah satu perjanjian dalam kontrak itu mereka tidak akan bercerai walaupun salah satu diantara mereka berselingkuh ataupun menikah lagi.
leo sebenarnya mencintai wanita lain namum ratih begitu licik hingga dengan mudah menyingkirkan wanita itu. tapi itu dulu, ratih yang sekarang tak bisa berkutik karena perusahaan milik keluarganya telah bangkrut hingga di desposisi oleh perusahaan wijaya maka dengan kata lain perusahaan itu telah menjadi cabang dari perusahaan wijaya, dan kini yang memimpin adalah anggara maka semakin mati kutulah ratih.
ratih kini kehilangan hidupnya yang glamor, gila belanja bahkan ratih dengan congaknya menjual satu persatu koleksinya dengan alasan koleksinya sudah memenuhi lemari hingga tidak bisa membeli barang-barang lagi, padahal jangankan untuk direstoran mahal untuk nongkrong di pinggir jalan saja uangnya tak pernah cukup.
anggara tahu itu, seseorang selalu melaporkan penderitaan ratih padanya. dengan senyum misterius anggara menggoreskan tanda tanggannya di atas dokumen kerja sama dengan perusahaan lain dengan rasa bahagia. ya anggara kini menunggu wanita gila itu memohon ampun padanya.
anggara ingin wanita itu merasa seperti apa yang dirasakannya selama ini. ia ingin wanita itu merasa lebih baik mati dibanding hidup dengan segala penderitaan, hanya menunggu waktu hingga hari itu tiba. rasnya anggara semakin tidak sabar melihat wajah itu memelas dan memohon padanya.
"ampun nyonya ampun" mohonnya dengan sangat, namun wanita itu belum puas membenturkan rotan panjang itu ke tubuh ringkih seorang anak.
"aaaaagrrrr" teriakan keras yang menandakan bukulan itu begitu sakit dan melukai tubuhnya
"ampun" pintanya entah untuk kesekian kalinya namun tetap saja tak dihiraukan
"hiks" tak ada kata kini yang dapat terucapkan, tubuh ringkih itu seakan kehilangan indra penggecapnya hingga hanya isak tanggis yang terdengar
"hiks"
"hiks" wajah bocah laki-laki itu telah di penuhi air mata namun tidak membuat sang wanita puas, setelah tenaganya terkuras banyak barulah kegiatannya untuk memukuli anak angkat terhenti dengan sendirinya.
ditatapinya sanga anak yang kini terlihat na'as tapi bukannya meminta maaf atau sedikit merasa bersalah sang wanita malah tertawa keras saking kerasnya dirinya bahkan memeganggi perutnya dan tidak lupa meludahi sang anak.
melihat itu sang anak hanya bisa merasa ketakutan dibalik tawa riang sang ibu angkat, tubuh ringkih miliknya kini tergulung layak seorang janin dalam rahim. ia kini memerhatikan wanita itu dari bawah, dengan terbaring di atas lantai sedangkan wanita itu menjulang tinggi diatasnya. ia merekam semua aktivitas sang ibu yang kini menggeluarkan sumpah serapahnya dan kutukan pada anggara.
ya namanya anggara prasetya namun setelah diangkat menjadi anak dari penggusaha bernama leo wijaya yang menggaku sebagai adik kandung dari ayahnya yang telah meninggal kini namanya berubah menjadi Anggara setyawan wijaya.
anggara tumbuh menjadi anak yang sering mendapatkan pengganiayaan namun tubuh dan pemilik otak kecil itu sungguh tidak mengetahui letak kesalahannya namun yang dia tahu lelaki yang menggaku sebagai ayah angkatnya sangat menyayangginya dan wanita kejam itu akan berpura-pura demikian dihadapan sang lelaki hebat, tetapi jika sang ayah angkat pergi dalam kurung waktu cukup lama maka penyiksaan seperti ini akan terjadi bahkan lebih kejam setiap kalinya.
rumah milik orangtua angkatnya sangat besar, mewah bahkan layaknya istana yang sering ditontonya bersama sang ayah angkat tapi semua kemewahan juga keindahan itu hanya dirasakan jika bersama ayahnya sedangkan jika ayahnya pergi maka gubuk deritalah yang terpampang dihadapannya.
penderitaan itu tidak hanya didapatkannya dari sang ibu melainkan dari baby sitter yang harusnya merawatnya dengan baik namun ikut menjadi pelaku kekerasan hingga membuat lukanya yang belum sembuh bertambah kian hari.
kini mati pun rasanya lebih baik tapi tuhan tak kunjung menggizinkan malaikatnya untuk menjemput sang anak kecil hingga penyiksaan demi penyiksaan harus terus dirasakannya. penyiksaan itu berawal dari penggangkatannya menjadi anak hingga kini usianya meranjak 17 tahun.
sang anak kini tumbuh dengan wajah tampan, tubuh atletis, kepandaian diatas rata-rata, glamor, dan pamor yang terbilang sangat baik namun semua itu hanya topeng untuk menutupi penderitan yang terjadi di hidupnya, jika anak remaja melewati masa-masa pubertasnya dengan membanggakan semua apa yang ada pada dirinya anggara malah hanya memilih hidup miskin asalkan diselimuti kebahagian bersama ayah kandung dan ibunya yang hingga kini tak tahu keberadaannya.
penyiksaan dan kasih sayang masih didapatkannya. penderitaan dari ibu, kasih sayang dari ayah, sedangkan baby sisternya sudah tidak bekerja lagi dan sebelum perpisahan itu anggara remaja telah membuat wajah wanita itu cacat dengan air panas. iya, anggara kini juga menjadi lelaki sadis tapi hanya pada wanita.
rasa sakit, rasa benci, dendam juga amarahnya kini menjadi satu hingga menenggelamkan anggara polos menjadi lelaki kejam. Tak seorang pun berani melukai tubuhnya begitupun dengan ibu angkat karena tepat dihadapannya anggara telah melemparkan air mendidih itu kewajah sang baby sitter hingga membuat kegaduhan dirumah mereka, walau begitu cemohan dan kata kasar tak kunjung berhenti.
bersama sang ayah, anggara didik untuk menjadi penerus dari perusahaan keluarga. dari penggaturan saham, menggelola perkebunan, pertambangan dan pabrik. dengan kepandaian diatas rata-rata hal itu cukup mudah untuk anggara terbukti pada saat usianya 16 tahun ia telah membuktikan kemampuannya hingga sang ayah tercegang dan takjub dengan kinerjanya.
atas usaha dan kerja kerasnya anggara telah melengserkan saingan perusahaan mereka untuk mendapatkan tender yang nilainya triliunan tanpa merugikan perusahaan apa lagi memberikan masalah pada perusahaan dan itu sukses membuat leo sebagai ayah anggkat bangga dan tidak lagi ragu mempercayakan perusahaan pada anggara.
ya anggara telah bekerja di perusahaan sejak memasuki bangku SMA dan kini setelah kelulusannya Anggara diangkat menjadi CEO. kini Anggara menjadi CEO termuda seasian, walau cukup banyak yang meragukannya tapi anggara mampu merebet kepercayaan mereka dengan mudah hingga perusahaan yang dipimpin anggara kian maju begitu pun dengan kelayaan milik keluarga wijaya lainnya.
semua tidak lupuk dari penggawasan anggara. bahkan kartu kredit, ATM dan debit milik ibu angkatnya menjadi tanggung jawab anggara hingga tak segan-segan anggara memblokir hampir seluruh kartu-kartu itu dan hanya menyisihkan satu kartu itu pun hanya memberikan 1 juta perbulannya itupun di berikan pada akhir bulan sehingga hobby wanita itu untuk menghambur-hampurkan uang kini menghilang.
itulah aksi balas dendam anggara pada wanita itu, patih tidak bisa membalas dengan kekerasan pula karena walaupun ingin, tapi ratih masih bertatus istri leo. untungnya sang ayah diam dan membiarkan walau mereka sering diamuki sang wanita gila itu tapi baik anggara maupun leo tidak peduli. toh leo tidak memiliki rasa pada wanita itu, dirinya hanya tidak bisa menceraikan wanita itu karena kontrak antara ia dan wanita itu.
Leo dan wanita bernama Ratih menikah karena kontrak. orang tua ratih dan leo menjodohkan mereka karena kepentingan perusahaan hingga leo dan ratih sepakat menikah asalkan dengan kontrak, dan salah satu perjanjian dalam kontrak itu mereka tidak akan bercerai walaupun salah satu diantara mereka berselingkuh ataupun menikah lagi.
leo sebenarnya mencintai wanita lain namum ratih begitu licik hingga dengan mudah menyingkirkan wanita itu. tapi itu dulu, ratih yang sekarang tak bisa berkutik karena perusahaan milik keluarganya telah bangkrut hingga di desposisi oleh perusahaan wijaya maka dengan kata lain perusahaan itu telah menjadi cabang dari perusahaan wijaya, dan kini yang memimpin adalah anggara maka semakin mati kutulah ratih.
ratih kini kehilangan hidupnya yang glamor, gila belanja bahkan ratih dengan congaknya menjual satu persatu koleksinya dengan alasan koleksinya sudah memenuhi lemari hingga tidak bisa membeli barang-barang lagi, padahal jangankan untuk direstoran mahal untuk nongkrong di pinggir jalan saja uangnya tak pernah cukup.
anggara tahu itu, seseorang selalu melaporkan penderitaan ratih padanya. dengan senyum misterius anggara menggoreskan tanda tanggannya di atas dokumen kerja sama dengan perusahaan lain dengan rasa bahagia. ya anggara kini menunggu wanita gila itu memohon ampun padanya.
anggara ingin wanita itu merasa seperti apa yang dirasakannya selama ini. ia ingin wanita itu merasa lebih baik mati dibanding hidup dengan segala penderitaan, hanya menunggu waktu hingga hari itu tiba. rasnya anggara semakin tidak sabar melihat wajah itu memelas dan memohon padanya.