pernah tidak kamu menggantungkan harapanmu pada orang yang salah?
aku pernah dan bodohnya efek dari kesalahan itu masih kurasakan hingga saat ini
dulu ketika aku pertama kali mengenal cinta, pilihanku jatuh pada lelaki pendiam yang berstatus kakak kelasku. kala itu aku menyukainya dan perasaanku saat itu bisa dikatakan benar-benar cinta karena sangat dini jika dikategorikan cinta suci apa lagi usiaku pada saat itu masih 12 tahun. kisah yang cheesy memang tapi itulah yang terjadi.
dia adalah kakak kelasku yang menjadi idola di sekolah, dia pintar dan berkarakteristik. dirinya tidak muluk-muluk, dia bukan tipikal lelaki dingin layaknya novel-novel romansa tapi dirinya memang lebih suka membuktikan sesuatu dibanding membicarakan sesuatu dan hal itulah yang membuatku tergila-gila padanya karena yakin jika dirinya adalah lelaki yang tepat untuk ku titipkan hariku di sana dan aku membuktikannya dengan menggutarakan perasaanku padanya secara terang-terangan tapi itu dulu.
entahlah mungkin kala itu dirinya kasihan melihatku selalu mengemis perhatiannya hingga dia membiarkanku menggikuti semua kegiatannya tapi itu dulu, dulu sebelum hari kelulusannya tiba dan dirinya harus berpindah meninggalkan kota yang menjadi saksi bisu kisah kami. dirinya pergi bersama orang tuanya karena orangtuanya dimutasi diluar daerah jawa.
kala itu tentu aku meraung-raung untuk minta tidak ditinggalkan bahkan dengan bodohnya aku mendesaknya menyetubuhiku agar kami dinikahkan saja dibanding harus dipisahkan dan untungnya dia menolak dengan cara yang kasar.
entah apa semua itu terjadi karena cintaku atau otakku telah dibutakan dengan kebodohan hingga bisa melakukan hal itu.
jika menggingat itu ternyata aku memang telah kehilangan kewarasanku dan esok harinya dengan tidak tahu dirinya aku masih memunculkan wajah dihadapnnya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
aku tidak tahu sebenarnya yang salah aku atau dirinya karena sebelum meninggalkanku dia memberi sebuah cincin emas seberat 1 gram katanya itu adalah bukti keseriusannya dan dia akan kembali suatu hari nanti untuk menikahiku. dirinya sangat hebat meyakinkanku dengan kata manisnya sehingga aku kembali menggantungkan harapan juga cintaku di cincin pemberiannya, aku yakin jika dirinya merasakan hal yang sama padaku, sungguh aku menyesali hari itu hingga hari ini. menggapa aku menyiayiakan waktuku hanya menunggu dirinya tanpa kepastian apa pun dan bogloknya aku percaya dengan semua janji busuknya itu.
tahun silih berganti begitupun usiaku, aku terus menunggu dirinya kembali untuk menepati janji hingga usiaku mencapai 20 tahun. di penantian panjangku aku telah menolak semua laki-laki karena sangat percaya akan janjinya itu. tapi ternyata penantian panjangku tak membuahkan hasil manis bahkan setelah setia menunggu yang datang adalah kabar gembira dari keluarganya tapi menjadi kabar duka buatku dan keluargaku.
di penantian panjangku selama 9 tahun lebih yang datang malah sepucuk undangan yang tertera nama orang selama ini ku nantikan, jiwaku hancur kala itu. aku sungguh merasa dibohonggi akan harapan-harapan manisnya, aku bahkan harus dibawa ke psikiater saking tidak tahannya menerima kebohongan dan kehancuranku.
karena kisah itu aku merelakan menjadi sosok penyendiri, aku kehilangan rasa kepercayaanku pada lelaki manapun walau begitu aku terus mencoba menggiklaskan kebahagiaanya dengan berat hati. mulutku terus berkata aku baik-baik saja, aku bahkan mengatakan jika aku tidak menggingat siapa dia lagi selalu seperti itu jika orang-orang memperhatikanku yang tak kunjung membuka hati untuk orang lain walau usiaku terus bertambah dan pada pengujung usia 28 tahun nasib sial kembali menyapaku.
di kantor yang sudah lama ku jadikan tempat untuk mengais rezekyku kedarangan direktur baru yang berasal dari kantor pusat. sudah menjadi hal lumrah sebenarnya karena pihak kantor pusat mengginginkan kami meningkatkan kinerja kami yang bekerja di kantor cabang. nalarku bisa menerima itu tapi haruskah masa lalu yang sudah ku coba kukubur dalam-dalam muncul begitu saja dihapanku?.
aku sudah siap untuk melampiaskan amarahku padanya namun dengan sangat pandainya iya berpura-pura seakan tidak menggenaliku sama sekali, ya mungkin dirinya tidak ingin wibawanya hancur hanya karena wanita bodoh yang berasal dari masa lalunya, jadi yang kulakukan saat ini hanya bisa mengikuti alur permainannya. ketika dirinya bertingkah acuh aku pun demikian walau hatiku sudah mendumel bahkan ingin membunuh laki-laki yang telah menyengsarakan semua harapanku tapi untunglah kewarasan masih bersamaku hingga semua itu tidak terjadi.
dirinya diperusahaan tempat hanya selama 6 bulan dan ketika kegiatannya selesai dirinya akan ditugaskan kembali ke kantor pusat, yang kubuhkan hanya kesabaran ekstra untuk menunggunya menyelesaikan segala urusannya lalu kami akan kembali seperti sedia kala.
berada satu gedung dengan orang yang sangat dibenci saja sudah memuakkan apa lagi harus saru devisi dan dirinya yang menjadi atasanku mau tidak mau semua pekerjaanku harus ku laporkan dan meminta persetujuaanya, selalu selerti itu setiap harinya. sekuat apa pun aku mencoba menghindarinya kama ada saja keadaan dimana aku yang harus membantunya dalam pekerjaanya. tahukan rasanya? aku ingin benar-benar ingin gila dan jika itu terjadi tidak ada seorang pun yang perlu mempertanyakan menyebab aku membunuhnya dengan cara sadis saat ini juga.
selama dirinya berada di kantor tidak sekali dua kali dirinya melirikku dengan kerutan di dahi tapi kenapa aku harus peduli toh kisah kami hanya angin lalu dan jika dirinya hebat dalam berperan menggapa aku tidak?. dirinya yang dulu cukup banyak berubah. dari sikapnya yang cuek dan berwajah datar kini sudah bisa berekspresi dengan wugesnya.
hal itu kuanggap jika istrinya berhasil menggubahnya menjadi sosok lain dan kebahagian tercetak jelas di wajah lelaki yang hingga kapanpun selalu ku rutiku. katakanlah jika aku cemburu iya kuakui iya tapi aku yang dulu telah berbeda. jika dulu aku akan mengemis-ngemis untuk mendapatkan senyumannya kini senyumannya itu adalah siksaan bagiku.
dirinya bisa tertawa bahagia sedangkan aku dalam diam sudah menjerit-jerit memanggil kegilaan segera merasukiku. tak ada lagi senyum ramah atau ucapan menggoda padanya yang ada hanya tampang datar dan ucapan singkat untuk merespon semua permintaannya. ya selalu seperti itu, aku tak pernah memperlihatkan sikap ramahku padanya.
jarum jam terus berputar begitu pun hari lalu berganti bulan, tak terasa aku dan dia sudah bekerja sama selama 3 bulan. semuanya berjalan seperti seharusnya. aku terus mempertahankan ego dan kewarasaanku namun kini rasanya berbeda karena tidak tahu dirinya dia mempropokator orang-orang untuk mengerjaiku. iya hari ini hari ulang tahunku tepat pada 12 november dirinya membuatku hampir saja membuat surat resaign.
kejutan darinya katanya untuk memancing senyumku yang meredup selama kedatangannya. entahlah dari mana dia mendapatkan pemikiran bodoh seperti itu. bukannya menerbitkan senyum bahagiaku malah hal itu membuatku hampir meledakkan tanggisku yang suda sedari dulu ku pendam. aku ingat kala pertama kali aku merayakan ulan tahunku berdua dengannya, tidak ada kesan romantis memang namun kado pemberiannya yang berupa boneka beruang besar hingga kini tak bisa ku buang dan selama ini boneka itu masih setia terduduk cantik diatas tempat tidurku.
perbuatannya itu seakan selalu memancingku agar lepas kendali dan meledakkan amarahku padanya lalu membongkar kisah usang yang pernah terjadi diantara kami, tapi tidak, tidak terimah kasih aku masih ingin hidupku tenang hingga hari kepergiannya benar-benar tiba.
tepat di bulan ke 4 lebih 8 hari dia bekerja di perusahaan yang sama denganku, kami berdua sedang di salah satu mall untuk bertemu dengan salah satu klien kami namun ternyata kami juga bertemu dengan mantan calon mertuaku alis mamanya.
entah aku yang terlalu teliti memperhatikan wajah wanita yang telah melahirkan anak sejenis setan di sampingku atau aku terlalu berharap padanya jika dirinya akan bahagia melihatku sekarang toh sudah sangat lama kami baru bertemu kembali. wajah syok yang di tampilkan padaku ada ke canggungan diantara kami ketika sang ibu menyebut namaku.
ku pikir ibunya sangat ahli memegangi topengnya namun ternyata anaknya lebih jago lagi seolah melem topeng itu agar tak akan pernah lepas dari wajahnya, dengan bodoh dan tidak bersalahnya iya bertanya "bunda kenal asistenku?" dan dijawab dengan menggungkit masa kelam yang laknat tentang kami.
wah kupikir dirinya akan memohon maaf padaku namun hayalan ternyata tinggal hayalan karena dirinya hanya memasang wajah terkejut dan dengan intens memperhatikanku seakan ragu dengan kisah tragis yang telah diceritakan sang wanita dihadapannya. jika kalian bertanya apa yang kulakukan tentu saja aku hanya menahan diri untuk bertingkah emosional dan memilih menyikapi semua kalimat-kalimat itu bagaikan hanyalah dongeng belaka.