Malam sabtu, 20 Juni 2020.
Pukul 12:37
Indo, sulsel kota pinrang.
Wanita memang mudah memaafkan tapi belum tentu melupakan.
Ini bukan naskah cerita melainkan realita yang menyakitkan tapi itu dulu. Aku tidak memaksa kalian membaca atau tahu tentang kisahku, di lapak ini, aku hanya akan melepaskan beberapa kenangan yang sulit ku lupakan walaupun pelakunya sudah ku maafkan.
Ngak tahu kenapa, aku ingat kejadian ini lagi. Semakin aku coba lupain terus tidur tapi tidak bisa. malam ini, kenangan itu seperti terpenjara dalam otak, Tidak punya solusi jadi ku tuangkan dalam tulisan dan semoga setelahnya aku mengiklaskan.
Semua berawal saat aku di terimah melalui jalur undangan di salah satu universitas negeri di makassar. Karena perekonomian keluargaku belum begitu bisa begitu di andalkan, aku di titipkan di rumah keluarga yang kebetulan saat itu adalah janda beranak satu dan di tempatnya juga tinggal beberapa anak gadis untuk menemaninya. Selain anak 2 gadis orang yang tinggal di rumah itu, sepupuku juga punya seorang anak, karena keberadaan anakmya itu, mantan suaminya setiap hari tetap datang untuk mengantar jemput sang anak dan baru pulang ke rumahnya saat benar-benar akan tidur malam.
Saat itu, aku sudah menggenal seseorang yang berasal dari kota kelahiranku. Kala itu, dia baru saja berstatus sebagai mantan mahasiswa jadi sembari mencari kerja di kota besar, kenalanan yang berstatus sebagai pacar ini menemani perjuanganku.
Dari awal menggenal lingkungan kampus, melakukan registrasi ulang, melakukan tes kesehatan, pendaftaran beasiswa, pacarku ini selalu menemani.
Bahkan setiap paginya dia akan lebih dulu sampai di depan rumah sepupuku itu padahal aku belum sepenuhnya siap tapi pacarku ini setia menunggu, mengantarku ke kampus, pulang ke rumah keluarganya lalu kalo aku mengabari akan pulang, dia akan senantiasa menjemput tampa pamri.
Layaknya mahasiswa baru, ada yang namanya pengkaderan, pagi-pagi sekali aku akan berangkat dan pulang saat langit senja sudah terganti dengan langit gelap dan ashan sholat magrib sudah lewat beberapa waktu lalu.
Jujurnya saat itu, aku yang terlalu cuek dengan lingkungan dan belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baruku. Di rumah milik orang tuaku, yang kutahu memang hanya makan, tidur, bercanda dengan keluarga, mencari uang dengan cara menagih dari rumah ke rumah lalu bersantai hingga hari esok datang lagi, nyatanya kebiasaan itu masih ku gunakan di tempat sepupuku jadi mungkin timbullah rasa tidak suka apa lagi pacarku cukup sering datang.
Aku saat itu belum sepenuhnya sadar. Ternyata ada gosip tentangku di sana, aku yang terlalu cuek masih saja tidak tahu posisiku. Pertama kali aku mendapat teguran ketika aku menggunakan mesin cuci padahal di rumah itu, ke dua anak gadis orang tidak ada yang berani sedangkan aku saja yang pendatang baru malah sangat lancang menggunakan mesin cuci tanpa izin.
Kuakui aku salah tentang itu, tapi sepupuku tidak menegur secara langsung malah membuat forum dalam lingkungan itu dan menceritakan kebusukanku pada tetangga. Namaku setiap harinya buruk tanpa ku sadari hingga sampai suatu hari, adik dari si punya rumah akan menikah.
Saat itu, aku bercerita pada bapakku jika aku menerima beasiswa dari kampus, maksudku saat itu adalah, agar bapak tidak terlalu berpikir akan keuanganku, tapi ternyata hal itu sampai di telinga sepupuku.
Benar aku menerima uang dengan jumblah banyak, tapi di pikiran mereka, aku ini pelit sehingga tidak pernah membeli sesuatu agar di makan bersama mereka sedangkan saat itu aku termasuk anak yang sangat malu meminta-minta walaupun pada orangtuaku.
Uang beasiswa itu ku hemat sedemikian mungkin demi bisa makan minum di kampus dengan secukupnya sampai dana beasiswa tahap selanjutnya cair tapi mereka masih tidak menggerti.
Tidak berhasil menegurku, mereka datangkanlah bala bantuan dari kota pinrang. Mereka adalah, Adik dari bapakku, yang menikah dengan keponakannya, alias masih sepupuku seumuran dengan pemilik rumah jadi otak mereka klop, selain itu datanglah juga seseorang yang usianya sedikit tua dariku.
Aku menerima orang baru itu dengan baik, kami sering bercanda, dan makan bersama tapi yang tidak ku tahu, dia juga jadi duri dalam daging. Semakin menjadilah gosip tentangku tapi kau masih santai dan tidak merasa bersalah. Sampai suatu hari, orang melakukan lamaran ke jeneponto, saat lamaran aku ikut tapi saat akad aku sudah tidak ikut karena bertepatan dengan ulangan tengah semester.
Karena ketidak hadiranku, semakin berkembanglah gosip. Ada Jeda antara resepsi di tempat cewek dan cowok. resepsi di tempat cowok yang diadakan di kota pinrang, lagi-lagi aku tidak datang karena ulangan semester telah tiba.
Tempat berlangsungnya resepsi di rumah salah satu saudara bapakku. Aku sibuk menggerjakan soal ulangan dengan tenang di makassar sedangkan di pinrang ternyata Gosip tentangku sudah sampai di telinga mama, mama menelpon istri dari saudara bapak (yang masih berstatus sepupuku itu). Mama menelpon dengan derai air mata dan ternyata di ketahuan oleh bapak.
Karena marah bapak mendatangi orang itu dan mengancam akan memukul. Terjadi keributan di sana tanpa ku ketahui. Setelah itu, kembalilah pemilik rumah dan beberapa keluarga lainnya ke makassar.
Aku lupa tahun berapa saat itu tapi, ketika mereka sampai, salah satu saudara bapak marah pada mereka yang menyudutkanku lalu pergi entah kemana dan ternyata itu memancing kemarahan mereka yang memang sudah di pendam sejak di kota pinrang.
"Gara-gara aku ini dewi. Dewi sini ko" Jerit si pemilik rumah padaku.
Saat itu aku hanya menggerutkan kening dan bertanya pada istri dari omku (almarhum). "Aku kenapa?" Tanyaku tapi ku yakin beliau hanya berpura-pura tidak tahu.
Saat aku duduk di hadapan mereka, segala hinaan, cacian, lontaran buruk mereka ucapkan tanpa batas padaku yang tidak menggerti asal muasal permasalahan. Aku hanya mendengarkan dengan tenang tidak berekpresi bahkan saat saudara bapakku mengataiku anjing, lebih hina dari p*****r, aku masih diam tanpa menitihkan air mata.
"Mukamu ji saja bagus tapi kelakuanmu kayak p*****r selalu bawa laki-laki" Kata saudara laki-laki bapak.
"Makati laddani ga je lassimu melo i kenda na mu olli' lenni i iro orane we mu olli lo mai?" Umpatnya lagi sekaligus tanyanya yang tidak juga ku jawab.
"Deggaga siseng sirina mancaji makkunrai. Mahasiswa ni tapi lassina mi terru na parutusu"
Entah berapa mata yang melihatku dan entah berapa telinga mendengar semua cacian itu. Tanpa memberiku kesempatan untuk bertanya, aku di jadikan terdakwa.
Aku di tunjuk layaknya pencuri, di depanku saudara yang berstatus saudara bapakku terus meludah selah melihat aku sebagai kotoran paling hina di muka bumi.
Mereka berbicara sesuka hati seolah lupa diri mereka siapa dan seberapa pantas mereka melakukannya. Berawal dari malam itu, sampai saat aku meninggalkan rumah dengan berbekal tas yang biasa ku gunakan kekampus, aku pulang ke pinrang bersama tante yang membelaku.
Saat itu aku tahu kalo lebih baik menderita di kontrakan sendiri di banding menumpang hidup pada orang berada. Aku masih ingat jelas siapa, bagaimana wajah mencelah mereka, kata-kata mereka, juga bagaimana aku mendoakan kebahagian mereka di dunia.
Malam sabtu, 20 Juni 2020.
Pukul 12:37
Indo, sulsel kota pinrang.
Wanita memang mudah memaafkan tapi belum tentu melupakan.
Ini bukan naskah cerita melainkan realita yang menyakitkan tapi itu dulu. Aku tidak memaksa kalian membaca atau tahu tentang kisahku, di lapak ini, aku hanya akan melepaskan beberapa kenangan yang sulit ku lupakan walaupun pelakunya sudah ku maafkan.
Ngak tahu kenapa, aku ingat kejadian ini lagi. Semakin aku coba lupain terus tidur tapi tidak bisa. malam ini, kenangan itu seperti terpenjara dalam otak, Tidak punya solusi jadi ku tuangkan dalam tulisan dan semoga setelahnya aku mengiklaskan.
Semua berawal saat aku di terimah melalui jalur undangan di salah satu universitas negeri di makassar. Karena perekonomian keluargaku belum begitu bisa begitu di andalkan, aku di titipkan di rumah keluarga yang kebetulan saat itu adalah janda beranak satu dan di tempatnya juga tinggal beberapa anak gadis untuk menemaninya. Selain anak 2 gadis orang yang tinggal di rumah itu, sepupuku juga punya seorang anak, karena keberadaan anakmya itu, mantan suaminya setiap hari tetap datang untuk mengantar jemput sang anak dan baru pulang ke rumahnya saat benar-benar akan tidur malam.