Winda akhirnya melangkahkan masuk kedalam rumah itu bersama seorang wanita paruh baya. Winda di biarkan duduk di ruang tamu lalu di berika gelas the yang terasa sangat manis dan nikmat untuk winda.
Rasanya masih seperti mimpi kamu bisa datang ke tempat ini winda
Iya, aku juga merasa datang ke tempat ini adalah mimpi buruk
Apa maksudmu, jika kau tidak suka tempat ini, tidak ada juga yang memintamu datang. Ucap wanita itu kesal mendengar ucapan winda.
Mendengar ucapan wanita itu, winda bukannya merasa bersalah malah tertawa ceria lalu bergerak memeluk orang itu.
Winda memeluk wanita itu dengan manja layaknya seorang anak kecil yang sedang merayu ibunya.Winda memeluk wanita itu cukup lama hingga membuat wanita itu tersenyum melihat sikap winda yang manja padanya. Setelah melepas pelukan, winda berkata
Kau masih saja seperti dulu.Aku tidak bermaksud menghina tempat ini tapi tempat ini ternyata sangat jauh.Kata winda sambil mengeluarkan pendapatnya.
Hubungan winda dengan wanita yang ada di hadapannya ini memang seperti itu. Mereka memang terlihat tidak akur tapi kenyataanya, mereka saling menyayangi satu sama lain.
Selama ini, wanita bernama Ayu, memperlakukan Winda sebagai wanita dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil jadi ketika winda sudah dewasa, Winda menganggap wanita itu adalah temannya bukan seseorang yang berbeda usia dengannya.
Kau tahu, aku sampai memuntahkan isi perutku tadi dan bukannya merasa senanga karena akansampai di tempat ini, aku terpaksa harus duduk dengan tidak nyaman karena menyangka pria tadi sedang berbohong padaku.keluh winda sambil terus memperhatikan dinding rumah yang terlihat mulai rapuh.
Kau takut dia berbuat jahat.
Tentu saja, sekarangini, tidak ada yang tahu hati dan pikiran manusia.Jelas winda sambil kembali menikmati minumannya.
Kau benar tapi disini berbeda dengan kotamu yang jahat.
Ya, kau benar.Ucap Winda pada akhirnya.
Jadi apa yang membawamu ke tempat ini.
Aku bosan dengan kehidupan di kota yang terlalu banyak kebohongannya. Sekarang aku ingin hidup tenang dan ku rasa tempat ini cocok untuk mendapatkan ketenangan.
Ini tempatku nona.Ejek wanita itu.
Tapi kau ibuku.Dimana pun rumah ibuku, berarti tempat itu juga adalah rumahku.
Lihatlah wanita tidak tahu malu ini.Aku tidak menyangka kau masih saja suka berbuat sesukamu.
Itu semua karena aku sama sepertimu nona. Balas winda sambil tersenyum ceria sedangkan wanita yang ada di hadapan winda hanya bisa menggelengkan kepala melihat winda dengan santainya membuka sepatu miliknya lalu berjalan dengan santai memasuki sebuah kamar.
Aku akan tidur bersamamu kan. Tanya winda
Ya, seharusnya begitu karena di rumah ini hanya ada satu kamar.Jawab wanita itu lalu ikut duduk di tempat tidur bersama winda yang sedang menatap sebuah bingkai foto.
Kau ternyata masih menyimpan fotoku. Pasti kau selalu merindukanku kan. Tebak winda dengan tatapan curiga pada wanita itu.
Kau terlalu besar kepala nona.Fotomu itu hanya sebagai pajangan agar nyamuk dan tikus takut.
Saialan. Umpat Winda dengan wajah kesal
Ingat aku jauh lebih tua darimu nona.
Baiklah.Jawab winda acuh lalu membaringkan tubuhnya di samping wanita itu.
Bagaimana dengan orangtuamu.Katamu mereka tidak tahu jika kau ke tempat ini.
Ya, mereka tidak akan mencariku, tenang saja.
Kenapa.Apa kau bertengkar dengan mereka lagi
Tidak
Lalu
Mereka sudah berpikir jika aku mati jadi aku bisa tenang di tempat ini.
Kau berkata apa
Ya, aku berkata yang sebenarnya.Jawab winda acuh sambil memperhatikan langit-langit kamar.
Maksudmu apa. Aku belum mengerti maksudmu. Tanya wanita itu lalu memaksa winda duduk
Mau tidak mau, winda akhirnya duduk berhadapan dengan wanita itu. Winda menceritakan semuanya pada dewi baik tentang orangtuanya yang hanya berbohong pada semua orang, ibunya bermain hal yang gila bersama dua pria di rumah mereka, ayahnya yang berselingkuh juga memiliki keluarga baru dan berakhir saat winda menceritakan jika dia sengaja menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan agar bisa terjun ke jurang.
ayu yang mendengar cerita Winda di buat tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya. Dewi bahkan beberapa kali menggelengkan kepala karena semua yang dikatakan winda adalah hal yang sangat mengerikan.
Selama ini, ayu yang merawat dan membesarkan Winda jadi dirinya jelas tahu jika winda hanyalah seorang anak kecil yang sangat ingin di sayangi namun sekeras apa pun winda meminta pada orangtuanya Winda tidak kunjung mendapatkannya.
Setelah winda pergi dari rumah orangtua Winda ternyata situasi keluarga itu menjadi semakin buruk namun yang tidak bisa Ayu percaya adalah sikap kakaknya Winda yang malah mendukung ibunya melakukan semua hal gila itu.
Kau yakin bisa hidup di tempat seperti ini.Tanya ayu lalu ikut berbaring bersama winda dan mengikuti winda yang sedang sibuk memperhatikan langit-langit kamaar.
Ya, aku bisa. Lagian kau tahu isi tas yang ku bawa itu apa
Apa memangnya. Tanya aku penasaran sambil memperhatikan tas ransel yang winda bawa
Uang, aku tidak bawa hal lain selain pakaian dalam dan uang.
Kau gila
Ya sepertinya kau benar. Balas winda acuh tapi pada akhirnya tertawa saat mengingat jika leo juga mengatakan hal yang sama padanya.
Ayu yang penasaran dengan perkataan Winda akhirnya bangun lalu bergerak mendekati tas winda. di bukanya tas winda dengan tergesa-gesa.
Setelah sedikit membongkar tas dengan cara paksa, kini terlihatlah uang merah dengan jumlah yang sangat banyak bahkan tidak hanya ada itu.
Dua koper yang Winda bawa ternyata juga berisi uang yang jumlahnya tidak Ayu ketahui. Setelah menutup kembali tas juga koper tersebut, ayu berkata
Apa yang akan kau lakukan dengan semua uang ini.
Aku tidak tahu
Apa maksudmu
Kau lihat tempat ini sangat jauh dan jangankan membayar sesuatu dengan uang itu, barang yang ingin ku beli pun mungkin tidak ada di sini.Kata winda lagi.
Kau benar, tempat ini tidak semaju kota tempat tinggalmu.
Lalu apa yang harus ku lakukan dengan semua uang ini
Kau datang ke tempat ini tanpa bertanya padaku jadi pikirkan sendiri.Kata Ayu ketus lalu meninggalkan WInda di kamar itu.
Winda yang tidak puas mendengar ucapan Ayu akhirnya bangun lalu mengejar ayu yang ternyata melangkah menuju dapur.
Di dapur sederhana itu, Ayu lalu menyediakan sepiring nasi dan sayur untuk di berikan pada Winda.
Makanlah dulu, setelah itu tidur.Perintah Ayu lalu ikut menyediakan makanan untuk dirinya sendiri.
Kau memang yang paling baik.puji Winda lalu menikmati makanan yang sangat sederhana itu.
Ayu dan Winda akhirnya makan dengan tenang lalu setelah makan, Winda merasa benar-benar lelah hingga tertidur di kamar sedangkan Ayu malah pergi dari rumah itu, untuk membeli beberapa bahan yang akan dia masak.
Sepanjang perjalanan Ayu memikirkan sikap Winda yang sebenarnya tidak bisa di terima namun melihat juga mendengar bagaimana Winda sangat putus asa akan hidupnya, dengan berat hati Ayu membiarkan Winda tinggal bersamanya.
Winda akhirnya melangkahkan masuk kedalam rumah itu bersama seorang wanita paruh baya. Winda di biarkan duduk di ruang tamu lalu di berika gelas the yang terasa sangat manis dan nikmat untuk winda.
Rasanya masih seperti mimpi kamu bisa datang ke tempat ini winda
Iya, aku juga merasa datang ke tempat ini adalah mimpi buruk
Apa maksudmu, jika kau tidak suka tempat ini, tidak ada juga yang memintamu datang. Ucap wanita itu kesal mendengar ucapan winda.
Mendengar ucapan wanita itu, winda bukannya merasa bersalah malah tertawa ceria lalu bergerak memeluk orang itu.
Winda memeluk wanita itu dengan manja layaknya seorang anak kecil yang sedang merayu ibunya.Winda memeluk wanita itu cukup lama hingga membuat wanita itu tersenyum melihat sikap winda yang manja padanya. Setelah melepas pelukan, winda berkata
Kau masih saja seperti dulu.Aku tidak bermaksud menghina tempat ini tapi tempat ini ternyata sangat jauh.Kata winda sambil mengeluarkan pendapatnya.
Hubungan winda dengan wanita yang ada di hadapannya ini memang seperti itu. Mereka memang terlihat tidak akur tapi kenyataanya, mereka saling menyayangi satu sama lain.
Selama ini, wanita bernama Ayu, memperlakukan Winda sebagai wanita dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil jadi ketika winda sudah dewasa, Winda menganggap wanita itu adalah temannya bukan seseorang yang berbeda usia dengannya.