Huek huekk huekkk!
Aku terbangun dari tidurku, badanku terasa lemas dan mual, bahkan hari ini dia hany bisa berbaring diatas kasur dan enggan memakan makanan yang sudah disediakan.
“Non, makan dulu yah, saya takut tuan marah!”
“Tapi, bi saya Mual”
“Yaudah sedikit, ajah setelah itu bibi Ngak akan paksa non lagi!” Bujuk bibi kepadaku.
Aku hanya mengangguk dan memakan sedikit demi sedikit, rasa muak itu kembali menyeruak hingga kau berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua makanan itu. Bibi hanya mengusap tengkukku dan memberikan aku air hangat.
Aku kembali ke atas kasur dengan badan lemas dan kepalaku yang pening.
“Non, ngerasa Ngak kalau telat datang bulan gitu!” tanya bibi kepadaku
“Emang kenapa bi?”
“Soalnya gejalanya kaga orang yang lagi hamil gitu!”
“Emmm.. kalau dihitung sih saya sebenarnya udah hampir dua bulan ini Ngak haid, karena haid saya emang Ngak teratur gitu bi!” jelasku.
“Coba periksa dulu yah non, saya beli dulu tespack nya” aku hanya mengangguk dan bibipun pergi keluar.
Cukup lama menunggu akhirnya bibi datang dengan kantong keresek putih serta satu pack testpack yang entah apa mereknya itu.
“Nih non, kalau cobanya jaga satu takutnya Ngak akurat!” bibi menyodorkan 2 testpack itu dan akupun pergi ke kemar mandi.
Aku mencelupkan tespack itu kedalam air pipis yang sudah aku wadahi itu, setah cukup lama aku melihat dua garis merah di kedua testpack.
“Bibi!!” aku menjerit senang melihat hasilnya.
“Gimana non!” tanya bibi penuh dengan rasa penasarannya.
“Saya hamil bii!!” bibi langsung memelukku dan memberiku ucapan selamat, aku sangat senang mendapatkan berita bahagia ini.
“Dijaga yah, non, sekarang non makan yah!” ucap bibi dan aku hanya mengangguk.
“bi jangan kasih tau mas Janu yah aku mau kasih surprise!”
“Siap non!”
Aku hanya tersenyum sambil mengusap perutku yang kini sudah ditempati bayi kecil, rasa bahagiaku hari ini sangatlah mengesankan, karena kehadiran seorang anak adalah hadiah terindah bagi para orang tua.
“Umurnya kira-kira sudah 9 Minggu Bu!” Ucap dokter yang kini sedang melakukan USG terhadapku.
Setelah kejadian tadi aku langsung menemui dokter karena rasa penasaran akan umur kandunganku, aku hanya tersenyum haru melihat titik kecil dalam layar USG itu, ini akan menjadi hadiah terindah untuk ulang tahun suaminya nanti.
“Di jaga yah Bu, saya kasih resep vitaminnya, jangan sampai kelelahan karena kandungan ibu masih trisemester pertama!” jelas dokter perempuan itu
“Baik, dok!”
disisi lain
“Mas Janu!” wanita itu kini memelukku seorang Januari di dan dia sedang terisak akan tangisannya.
“Sebenarnya ada masalah apalagi, sama tunangan kamu itu Van?, Tanya Janu.
“Dia memukuliku mas, aku sudah Ngak tahan, aku mau putus tapi aku juga ngak ingin mamah sakit lagi mas!” wanita itu Vanya, yang kini sedang terisak dipelukkan seorang Januari.
“Aku kan sudah pernah bilang, lebih baik kamu putuskan saja laki-laki itu, soal urusan mamah kamu, kamu bisa biacara dengan dia baik-baik!” Januari mengusap rambut wanita itu dan memberikannya ketenangan.
“aku takut mas, hiks hiks!”
“Jangan takut Van, ada aku, udah Jagan nangis terus yah!” tanpa laki-laki sadari di samping mejanya itu ada seseorang yang sedang memotret Kebersamaan mereka, dan mungkin ini akan menjadi awal bencana dalam rumah tangga seorang Januari.
'Kamu akan hancur sebentar lagi Janu' ucap Vanya dalam hatinya.
**
Aku hanya bisa menatap nanar dan sesak kala seseorang yang entah siapa mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan mas Janu dengan seorang wanita yang sedang berpelukan, sampai aku ingat akan sosok wanita didalam foto itu, dia adalah Vanya, mantan kekasih sekaligus selingkuh suaminya dulu.
Sosok wanita yang dulu membuat hancur hubungan dengan pacar yang kini sudah menjadi suaminya, dan sepertinya dia akan merasakan perasaan yang lebih menyakitkan lagi, karena dia selalu ingat bahkan sebenarnya perselingkuhan itu candu, meskipun kita sudah berusaha untuk bertobat tapi perasaan candu itu yang terus menggerogoti hatinya sehingga dia tidak cukup akan satu hubungan.
Setelah pulang dari dokter tadi, aku menyempatkan untuk berbelanja karena ingin mengadakan sebuah kejutan untuk Mas Janu bahkan saat ini aku sedang duduk di meja makan yang penuh dengan menu makanan kesukaan Mas Janu.
Meskipun rasanya sudah sangat sakit tapi aku masih berfikir positif, karena Bagaimanapun sekarang hubungannya bukan sebatas pacaran melainkan pernikahan yang tidak bisa putus begitu saja ketika mengetahui sang suami berselingkuh apalagi ini hanya foto bisa saja ini hanyalah tipuan dari orang-orang yang tidak menyukai hubunganku dengan Mas Janu.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, aku masih menunggu Mas Janu pulang bahkan masakan yang ad di meja makan sudah di gin tapi aku enggan meninggalkan tempat duduk ini, sampai aku mendengar deru mobil yang bisa aku pastikan bahwa itu adalah Mas Janu.
“Loh, yang kamu belum tidur!” aku masih duduk di meja makan kala Mas Janu memasuki rumah dan berjalan menuju ruang makan.
“Aku nunggu kamu untuk makan malam” jawabku.
“Emm maaf yah tadi mas ada kerjaan sekalian makan malam bareng beberapa staf dikantor, kamu belum makan?” aku hanya menghela nafas.
“Belum, tapi sepertinya aku juga tidak terlalu lapar, tadi sore aku sudah makan banyak brownies!” aku tersenyum menatap Mas Janu kemudian masuk ke kamar.
Raut wajahnya tidak ada rasa bersalah sama sekali bahkan dia tidak mempermasalahkan karena tidak makan malam, biasanya dia akan cerewet ketika aku telat makan, aku hanya tersenyum samar hingga membaringkan tubuhku dan mulai memejamkan mata.
Rasa kantukku sepertinya memang tidak ada untuk malam ini, ketika aku mendengar dengkuran halus Mas Janu, namun justru mataku enggan tertidur bahkan kini aku berdiri di balkon kamar dan mulai melihat indahnya malam.
Jujur ketika pernikahan ini terjadi aku berharap kebahagiaan yang aku dapatkan setelah banyak rasa sakit dan airmata yang aku keluarkan, namun nyatanya kini aku hanya bisa menahan sesak dan sakit jika bernar untuk kedua kalinya aku dikhianati entah apakah aku bisa memaafkannya lagi atau memelih pergi dan tidak pernah kembali.
Aku mengusap airmata ku secara perlahan, mengusap perut yang masih rata, karena meskipun nanti aku memilih pergi aku masih punya seseorang yang aku besarkan dan aku bahagia kan, setidaknya aku tidak merasakan yang namanya kesepian.
__
Pagi harinya aku sudah menyiapkan kopi dan sarapan untuk Mas Janu, bahkan semalaman aku tidak tidur dan hanya bisa melamun.
“Hari ini aku pulang telat, jadi kamu jangan begadang nunggu aku!” aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku tanpa mau berdebat atau menyangga ucapannya.
Setelah kepergian Mas Janu kini aku pergi ke kamar dan mengambil beberapa baju kotor untuk aku berikan kepada pembantu, karena meskipun banyak pembantu aku sama sekali tidak memperbolehkan mereka masuk sembarangan kedalam kamarku dan Mas Jan
Kini aku mengambil sebuah kemeja yang semalam dipakai oleh mas Janu, kemeja putih dan dengan wangi yang berbeda, aku hafal akan minyak wangi kesukaan Mas Janu, namun kini wanginya berbeda seperti wangi parfum wanita.
Bahkan setelah wangi parfum itu aku dikejutkan lagi oleh noda lipstik yang menempel di kerah kemeja Mas Janu, lagi-lagi aku hanya bernafas lirih, mataku sudah berkaca dan hanya bisa menahan isakan.
Bahkan pernikahan belum juga sampai setahun tetapi luka yang aku dapatkan sudah begitu banyak dan apakah aku bisa bertahan, ditambah dengan kondisiku yang sedang mengandung.