Hubunganku dengan mas Janu beberapa hari kurang baik, karena permasalahan tempo hari itu, mungkin juga mood ku yang sedikit memburuk akhir-akhir ini.
Kini aku hanya bisa menatap makanan yang sedari tadi hanya aku aduk-aduk enggan untuk dimakan, aku kembali mengambil nafas mengingat semalam Mas Janu pulang larut lagi, dan malam inipun dia belum pulang padahal ini sudah hampir jam 10.
Aku menyimpan piring di dekat wastafel, dan berjalan menuju sofa aku hanya ingin melihat jam berapa malam ini Mas Janu pulang. Bahkan aku mungkin akan menunggunya tanpa memperdulikan rasa lelah.
Jam pun berdenging menunjukan angka 12 terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, aku hanya dia dan menunggu sampai laki-laki itu masuk ker rumah.
Ceklek
Pintu terbuka dan terdengar langkah kaki yang kini semakin mendekatiku, aku hanya mengambil nafas pelan agar tidak terpancing akan emosi.
“Dari mana kamu Mas!” ucapku yang kini bergerak berdiri melihat mas Janu dengan pakaian yang agak kusut.
“Aku ada janji sama temen!” jawabnya tanpa menghiraukan aku.
“Temen siapa?, Sampai kamu pulang malam dan bau alkohol seperti itu Mas!” aku sedikit berteriak dan menatap kesal laki-laki dihadapanku itu.
“Kamu kenapa sih!, Aku capek baru pulang, aku Ngak mau debat!” dia juga sama meneriaki bahkan membentakku dengan kencangnya dan masuk kedalam kamar.
Aku hanya menatap punggung laki-laki itu dengan nanar, bahkan airmata sudah mulai menetes, aku tertawa lirih dengan sikap Mas Janu yang semakin sulit sekali ditebak.
“Padahal kita baru nikah tiga bulan, tai kau sudah seperti ini mas!” Aku hanya bisa tertunduk pilu dengan isakan tangisku.
Pagi ini aku sudah rapih dengan pakaian kantor ku saat ini, mataku menerawang melihat mas Janu keluar dari kamar dengan pakaian rapih pula, aku menyediakan makanan untuk kami berdua.
Aku dan dan Mas Juna menikmati sarapan pagi dengan diam, bahkan aku masih kesal dengan apa yang dia lakukan semalam, membentakku.
“Maaf” mulutku yang sedang mengunyah itu kini berhenti melihat mas Janu.
“Maaf, yang semalam aku kelewatan, seharusnya aku Ngak bentak kamu” ucapnya lagi dengan raut muka yang penuh penyesalan.
“Aku maafin, tapi aku mau tau apa yang kamu lakukan diluaran sama akhir-akhir ini!” Balasku
“Aku ketemu temen-temen lama aku pas kuliah, kita cuman habisin waktu ajah Ko!” jawabnya.
“Dimana, di Club?!”
“Semalam iya, kalau kemarin hanya di Cafe punya temenku!”
“Ada Vanya dong?”
“Emm iya ada, tapi aku Ngak ngapa-ngapain ko yang, cuman minum trus ngobrol sama yang lain!”
“Hebat yah, kamu pergi main sama temen kau sementara, aku disini udah hampir Tiga malam nungguin kamu yang sedang asik bermain sama temen-temen kamu!”
“Maaf, Yang. Aku janji ini terakhir kalinya, aku hanya terbawa suasana karena udah lama ngak kumpul bareng mereka!”
“Terserah, kalau sampai aku tahu kamu ulangi kesalahan kamu yang dulu, kamu akan tahu akibatnya!” hardikku.
“Iya, yang aku udah janji kan sama kamu ngak akan melakukan kesalahan yang sama!”
“Siapa tahu, kita Ngak ada yang tahu apa yang terjadi kedepannya!”
Pagi itu dihabiskan dengan perdebatan alot yang membuatku semakin hanya semakin kesal dengan apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu.
Aku hanya bisa menarik nafasku dengan dalam, dan berharap semua kegelisahan dan kekacauan ini bisa cepat selesai.
***
Rumah tangga itu memang tak selamanya manis dan juga pahit, bahkan jika terus merasa bahagia mungkin ada yang salah pad rumah tangga itu. Meskipun kemarin banyak sekali perdebatan antara aku dan Mas Juna, tapi hari ini kami memutuskan untuk berbaikan seperti biasa.
Bahkan pagi ini kami berangkat ke kantor bersama dan makan siang juga bersama, dalam pernikahan komunikasi adalah kunci berjalannya rumah tangga, meskipun begitu kepercayaan juga sangat penting dalam sebuah hubungan.
Meskipun aku pernah dikecewakan oleh mas janu, namun aku berusaha lagu untuk percaya kepada mas Janu, karena kepercayaan adalah hal yang sangat penting bagi hubungan.
“Yang, kamu akhir-akhir ini aku lihat kamu kaya gendutan deh!” pernyataan mas Janu sontak membuatku kesal.
“Apa yang kamu bilang barusan?!” tanyaku dengan nada marah dan kesal.
“Ngak yang, maaf!” ucapnya
“Bodo ah kamu mah gitu!” balasku yang kini terisak .
“Loh, kok sekarang nangis, maaf yah mas salah!” aku semakin terisak, dan tangisanku semakin kenceng.
“Aku ngak gendut ko!” ucapku sambil terisak
“Iya-iya Ngak ko, maaf mas salah udah yah jangan nangis!” mas Jun memelukku dan aku hanya terhanyut dalam dekapan hangatnya itu.
Terkadang hal kecil seperti ini yang aku suka dari mas Juna, dia memelukku dan menenangkanku, mungkin karena aku sudah tidak punya siapa-siapa selain mas Janu di dunia ini,biasanya aku selalu memeluk bapak atau mamah ketika aku sedih ataupun bahagia.
“Mas kayanya aku mau berhenti kerja deh!” ucapku masih dalam pelukan mas Janu.
“Kenapa tiba-tiba!” tanyanya.
“Mas Ngak suka, aku berhenti!” ucapku
“Ngak sayang, mas suka malahan, cuman kenapa Ngak dati dulu gitu!”
“Ngak tau, sekarang aku mau ngurus rumah ajah sama ngurus kamu, lagian pulang kerja juga aku jarang sekali ngurusin kamu karena aku kecapean!”
“kalau gitu besok mas umumin, pas meeting supaya kita bisa nyari kandidat baru buat gantiin kamu!”
“Makasih yah mas!” aku kini semakin mengeratkan pelukanku
“Sama-sama sayang!”
_______
“Rencananya harus dimulai secepatnya! Aku Ngak mau lagi nunggu!” cerca wanita itu.
“Baik, Bu sepertinya kita sedikit punya celah karena, saya dapat kabar bahwa istri Pak Janu sudah Risen!” jelas laki-laki itu.
“Bagus, aku Ngak ingin melihat mereka kembali lagi sementara disini banyak pihak yang merasa sakit dan luka akan hubungan mereka! Kamu boleh pergi!”
“Baik Bu!” laki-laki jangkung itu pergi dari ruangan bernuansa abu-abu itu,
Wanita itu dengan mata sinis dan jahatnya tertawa lebar, dendamnya akan terbalas sebentar lagi rasa sakit yang dirasakan dia dan adiknya akan terbalas, dia benar-benar akan menghancurkan keluarga Januari, bahkan dia akan merasakan penyesalannha.
“Janu, Janu, sebentar lagi kita akan lihat hidup kamu berantakan sama seperti Lima tahu lalu, bahkan sekarang lebih menyakitkan lagi!, Haaa haaa haaa!”
Wanita itu tidak main-main, rasa sakitnya akan ia balaskan bahkan mungkin bakal banyak pihak yang akan terluka akan aksi balas dendam ya itu, meskipun begitu dia tidak perduli. Dam fikirannya hanya ada satu yaitu membalaskan setiap rasa sakit yang dia dan adiknya rasakan.
“Vanya, sekarang kita akan lihat bagaimana menderitanya laki-laki yang telah mencampakkan kamu itu, dan membuat kamu terpuruk hingga mengakhiri hidupmu, Kaka janji Kaka akan balaskan rasa sakit dan lukamu itu!”
Wanita itu mengusap sebuah bingkai foto, sisa ada dua orang gadis berseragam SMA yang tersenyum bahagia, dia hanya bisa menitikan airmata kala ingat kembali bagaimana adiknya itu tewas mengenaskan.
Adiknya ditemukan tewas dikamar mandi dengan luka sayatan di pergelangan tangan serta mulutnya yang mengeluarkan busa, dia masih ingat bagaimana memgenaskannya saat itu, bahkan jika kembali mengingat rasa sakit itu kian mendera dihatinya kala sang adik dinyatakan telah meninggal.