“Selamat pagi mbak!”
Aku tersenyum melihat Atika yng sepertinya senang aku hari ini kembali ke kantor.
“Pagi!” jawabku dengan penuh ketulusan.
“Mbak udah baikan?”
“Kalau saya udah ke kantor berarti saya baik-baik ajah”
“Syukurlah mbak, aku khawatir banget denger mbak sakit apalagi mbak sendiri di rumah. Oh ya mbak tau ngak ketika kemarin pak Januari tau mbak sakit dia kaya kelimpungan gitu maksa-maksa aku untuk ngasih tau alamat mbak dia kayanya khawatir banget sama mbak”
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Atika itu.
“Oh gitu, yaudah mbak ke dalem dulu yah!” aku pergi dengan decakan dari Atika yang masih merasa penasaran dengan kejadian yang dia ceritakan.
“Ishh mbak April mah suka gitu kan aku jadi penasaran!” aku memasuki ruangan dengan tersenyum kecil melihat kekesalan Atika
Pekerjaanku tidak terlalu banyak hingga aku memutuskan untuk pergi makan siang diluar, dan sekarang aku sedang duduk di restoran depan perusahaan.
“Ehemm!” aku terlonjak kaget mendengar deheman yang sedikit keras itu.
“Pak Karen, mengagetkan saja!” ucapku sedikit kesal dengan laki-laki yang lebih tua dua tahun diatasku itu.
“Kamu sendiri?”
“Kelihatannya?” aku memutar bola mataku dengan malas.
“Aku kira berdua sama siapa gitu”
“Kalau mau makan bareng bilang ajah pak!”
“Hehe kamu tau ajah kalau aku makan siang ini sendiri!”
“Kemana cewek-cewek yang biasa bapak ajak makan itu?”
“Ahh aku sudah insyaf sekarang aku hanya menikmati kesendirian sampai aku menemukan tambatan hati untuk selamanya!”
“Ckk, Emang playboy kaya bapak bisa insyaf juga?” aku sedikit berdecak dan meledeknya.
“Kamu meragukan saya?” jawabnya menantang.
“Udah ya pak pesanan saya udah datang saya mau makan dulu!”
“Cihh” aku hanya diam dan tidak menghiraukan laki-laki itu.
Setelah makan siang aku kembali ke kantor dan mengerjakan kembali pekerjaan yang sempat tadi aku tunda itu.
Tidak terasa waktu sudah hampir malam alhasil aku membereskan tugasku kemudian pulang, sampai parkiran aku melihat salah satu ban mobilku kempes.
“Ahh sial” aku menggerutu karena ini sudah mau malam lagian kalau menunggu orang untuk memompa banku pasti akan lumayan lama.
“Butuh tumpangan?” aku cukup terkaget melihat sosok yang kini berdiri tegak disamping kananku.
“Tidak terimakasih!” akupun berjalan pergi meninggalkan sosok laki-laki yang aku benci itu.
“Ini sudah malam biar aku antar!” dengan kesal aku melepas tangannya yang menarik tanganku.
“Ngak!” akupun dengan keras menolak
Dengan cepat laki-laki itu menarik tanganku dan memasukan ku kedalam mobil, aku berusaha untuk keluar tapi pintunya sudah dikunci alhasil aku hanya berdecak kesal didalam mobil.
“Sekali ini ajah kamu dengerin aku, ini udah malam bahaya kalau kamu pulang sendiri!” aku memutar bola mataku dengan malas.
“Yaudah Cepet jalan!” laki-laki itu tersenyum tipis dan menjalankan mobilnya, didalam perjalanan aku hanya terdiam dan enggan untuk mengeluarkan suara.
“Maaf.. mungkin kata maaf ku Ngak akan bisa memperbaiki kekecewaan kamu” aku hanya terdiam enggan membalas ucapan laki-laki itu.
“Wanita itu Vanya.. teman sekelas ku sebenarnya dia gencar mendekatiku namun aku tidak menyukainya, hingga pada saat itu kita sama-sama disibukan dengan sidang skripsi dan dia selalu ada untuk aku.., setelah itu kami dekat dan kami menjalin hubungan, dia tau kalau aku sudah punya kamu.. maaf jujur sampai saat ini aku masih cinta sama kamu, setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah bahkan selama lima tahun ini aku terus menerus memikirkan mu!” penjelasan seorang Januari membuatku menggeram marah.
“kamu taukan dulu kita sudah membicarakan tentang kesibukan itu, bahkan kita pun berjanji untuk saling mengerti dengan situasi apapun itu, aku fikir dengan kita sama-sama sibuk kamu ataupun aku tidak akan pernah sampai berfikiran untuk selingkuh atau bahkan melakukan itu, hingga berkali-kali temanku melihat kamu jalan sama perempuan itu aku tetap diam dan berusaha percaya kalau itu hanya teman atau saudara kamu!, Bahkan ketika aku pergi pun kamu Ngak ada usaha pun untuk cari aku, apa itu yang kamu katakan kamu masih mencintainya aku?!!!!” aku menjerit meluapkan beban yang terasa menyakitkan selama ini.
Mobil berhenti dan Januari memelukku aku berusaha melepaskan pelukannya namun kekuatanku kalah hingga aku hanya bisa menangis meronta-ronta, hatiku terasa sakit sekaligus lega karena rasa sakit yang aku pendam ini bisa aku luapkan.
Setelah puas menangis akupun melepaskan pelukan itu, dan berusaha keluar dari mobil mengingat kini aku sudah sampai di depan rumahku.
“Lepas..!!” akupun keluar dan berlari masuk kerumah dalam keadaan hatiku yang kacau, tubuhku lemas dan aku hanya bisa menangis dengan semua yang sudah terjadi selama ini.
Setelah malam itu aku memberikan jarak yang besar kepada Januari, bahkan aku pergi pagi-pagi lalu pulang cepat bahkan ketika rapat atau makan siang pun aku menghindarinya, jujur hatiku belum siap untuk memaafkan atau berdamai dengan masalalu.
“Mbak udah mau pulang?” aku melirik kearah Atika yang seperti aneh melihatku.
“Iya,lagian kerjaan juga udah selesai,!” ucapku sambil merapihkan beberapa berkas.
“Maaf yah mbak jujur aku ngerasa aneh sama mbak, selama seminggu ini Mbak berangkat pagi-pagi dan pulangpun selalu duluan? Mbak ngak papakan? Atau mbak ada masalah gitu? Cerita ajah mbak!”
“Mbak ngak kenapa-kenapa mungkin itu perasaan kamu ajah, lagian kerjaan udah selesai mbak juga pengen langsung istirahat!” jelasku tanpa memperpanjang masalah lalu pergi meninggalkan Atika yang merasa aneh dengan sikapku ini.
Aku menjalankan mobil dengan sedikit pelan sambil menikmati pemandangan kota, hingga aku teringat bu Amelia ingin bertemu denganku hari ini, sebenarnya itu membuatku sangat malas dan takutnya dia akan membicarakan hal-hal yang aku takuti.
Sampai disebuah restoran mewah aku sudah melihat bu Amelia sedang melihat menu makanan.
“Selamat sore Bu!” aku tersenyum dan menyalami beliau.
“Ini masih siang, belum menjelang sore!” aku hanya tersenyum kecil karena bagiku pukul 14.30 itu sudah masuk sore.
“Kamu mau pesen apa?”
“Saya sudah makan siang tadi Bu”
“Iya saya tau, kamu pesen buat ngemil ajah”
“Emm.. Samain saja dengan ibu!”
“Baiklah!”
Setelah pesanan sampai aku hanya menikmati dengan penuh kecanggungan, meskipun bukan untuk pertama kali kami makan bersama tetap saja canggung karena aku sangat menghormati beliau.
“Kalau boleh tau apa yah, yang ingin ibu sampaikan!” ucapku melerai rasa canggung ini.
“Emm.. maaf yah Pril, soal kamu dan Janu ibu sudah tau semuanya!” aku meremas sendok yang sedang aku pegang itu, hatiku berdesir sakit bila harus mengingat laki-laki itu.
“Maaf sebelumnya ibu bukan ingin membuka rasa sakit kamu, ibu sudah tau ceritanya langsung dari Januari dia bilang semuanya dia juga menyesali apa yang dia rasakan. Ibu juga mau minta maaf sebagai seorang ibu jujur ini sangat menyakitkan, ibu merasa gagal mendidik anak ibu yang dengan teganya menyakiti kamu.” Aku hanya menunduk Menahan tangis .
“Ini bukan salah ibu, mungkin sudah jalannya begini Bu, jujur Januari adalah cinta dan pacar pertama saya, hubungan kami bisa dikatakan lama dan masalah ini juga sudah lama” aku berusaha untuk tetap seolah-olah aku baik-baik saja.
“Janu bilang dia juga masih mencintaimu, ibu Ngak akan membela anak itu menyudutkan mu ibu cuman berharap kalian bisa memperbaiki hubungan kalian setidaknya kalian bisa menjadi seorang teman” .
“Iya Bu saya juga sudah melupakan kejadian itu” .
Apa aku bisa melupakan kejadian itu? Entahlah disini hanya tuhan yang tahu isi hatiku ini, dan bila pada akhirnya aku harus berdamai dan melupakan semua ini maka aku akan berusaha untuk berdamai dan melupakannya.
Mungkin apa yang dikatakan oleh Bu Amelia benar, aku harus bisa berdamai dengan semua ini. Setidaknya dengan begitu aku akan tenang dan bayangan menyakitkan itu lambat lain akan menghilang.
“Aunty itu bolaku!” aku tersenyum melihat anak laki-laki yang sedang mencari bolanya itu
Kini aku sedang berada di taman, kegiatan yang ku lakukan setiap weekend di tambah lagi aku sangat menyukai anak kecil .
“Nih!” aku menyodorkan bola itu dan tersenyum .
“Makasih aunty!” Bocah itu berlari dan kembali memainkan bola itu.
“April..!” Pandanganku teralih ketika mendengar seseorang memanggilku.
“Pak Janu!” aku berusaha untuk tidak kaget dan menetralkan nafasku.
“Kamu sendiri?” aku hanya mengangguk, Januaripun duduk di sampingku .
“Kenapa” ucapku karena Januari terus menatap ku.
“Enggak kamu tidak menghindari aku lagi?”
“Apa selama ini saya terlihat menghindari bapak?” ‘meskipun itu memang benar' ucapku dalam hati.
“Ahh.. tidak, oh iya soal ibu saya yang bertemu dengan kamu saya minta maaf saya tidak maksud mengadu atau apa!”
“Iya pak saya tahu!” jujur ini sangat membuat ku canggung dan ingin segera pergi dari keadaan ini.
“Pril... Soal aku waktu itu ngak nyari kamu, emm.. waktu itu perusahaan papah yang di Amerika mengalami masalah ditambah papah mengalami serangan jantung hingga masuk rumah sakit, Alhasil aku pergi ke Amerika, sebenarnya aku ingin cari kamu, aku ingin minta maaf dan ngejelasin tapi waktu itu aku klau mendengar papah masuk rumah sakit dan setelah kejadian itu aku juga udah memutuskan hubunganku dengan Vanya”
Huft, aku menghela nafas panjang jujur aku tidak bisa menanggapi semua ini karena waktu itu aku juga terlalu merasa sakit.
“Aku sudah memaafkan kamu, jadi stop ganggu aku dan memohon-mohon, aku sudah lupain semua itu!” jelasku.
“Makasih Pril dan sekali lagi maaf!” dia tertunduk lesu, dan akupun melihat betapa menyesalnya laki-laki itu.