Januari Fajar Atmaja, dengan penuh keikhlasan aku sudah berusaha untuk melupakan semua kejadian dan rasa sakit lima tahun lalu, meskipun namamu masih bertahta dihatiku dan akupun tidak munafik akan hal itu.
Beberapa bulan setelah berusah untuk berdamai hubungan kami kembali membaik meskipun buka sebagai sepasang kekasih melainkan teman dan atasan ketika di kantor, kamu juga cukup banyak menghabiskan waktu bersama dari mulai maka siang atau kadang juga dia yang mengantarkan aku pulang ketika mobilku sedang di bengkel.
Meskipun belum melupakan sepenuhnya tapi disini aku sedang berusaha dan begitupun dengan Januari yang berusaha memperbaiki keadaan ini.
Malam ini salah satu divisi mengundangku makan malam, karena keberhasilan mereka dalam pekerjaannya, akupun menyanggupi permintaan mereka dan sekarang aku sedang duduk dengan anak-anak divisi yang sedang asik menyantap makanan.
“Maaf saya terlambat!” aku menoleh ke asal suara dan melihat Januari dengan baju kemeja lengannya digulung itu.
“Ahh tidak pak, justru kamu sangat bersyukur bapak bisa bergabung dengan kami!” ucap salah satu anak divisi itu.
“Selamat menikmati makan malamnya pak!” ucap serentak anak-anak divisi kepada Januari
Mereka begitu terlihat bahagia dengan keberhasilan proyek yang mereka kerjakan, dan akupun begitu juga bahagia melihat kemeriahan dan suka cita yang mereka rasakan.
“Kamu disini juga?” aku menoleh kearah Janu yang duduk di sampingku.
“Iya tadi anak-anak maksa aku untuk Dateng!” jawabku.
“Oh aku juga dapet undangan dari mereka!”
Kami menikmati makan malam dengan meriah apalagi melihat beberapa anak divisi itu menyanyi dan melakukan karaoke,aku menatap Januari yang sudah mabuk itu aku hanya menggeleng, dari dulu dia memang tidak mahir dalam minum, sampai akhirnya cepat mabuk.
“Jan.. kamu udah mabuk, udah minumnya!!” aku meraih gelas berisi minuman yang akan dia minum.
“Hek hek” aku melihat dia sepertinya sudah sangat mabuk, sampi Akhirnya tubuh Januari limbung dan tertidur di pangkuanku, moment seperti ini mengingat kembali dimana saat kita masih menjalin kasih.
“Bu sepertinya pak Januari sudah mabuk!” ucap salah satu anak divisi yang rambutnya cukup gondrong itu.
“Iya, kamu tolong bantuin saya bawa dia ke mobil saya!”
Aku dan Salim laki-laki berambut gondrong itu memapah Januari menuju mobilku.
“Hahh kamu nanti pulang bawa mobil pak Januari saya yang antar dia, kalau kamu yang antar dia habis kamu di tangan Bu Amelia!” ucapku menakuti Salim.
“Iya Bu saya bawa mobilnya”
“Saya duluan yah!” aku memasuki mobil dan pergi dari bar itu, melihat Januari yang meracau karena mabuk membuatku sedikit kasihn dengannya. Dan akhirnya aku membawa dia ke rumahku, setibanya di rumah aku memapahnya menuju kamar tamu, badan atletis itu sangat berat sekali ketika aku berusaha untuk memapahnya.
“April... Sayang...” Dia tersu meracau namaku sedangkan aku hanya bisa diam ketika mendengar semua itu.
Aku membuka sepatu dan kaos kakinya kemudian menarik selimut, namun taganku terhenti karena cekakan dari Januari, dia menarikku hingg aku berada diatas d**a bidangnya.
“April.. sayang.. jangan tinggalkan aku..”racau nya lagi kemudian ku berusaha untuk melepaskan pelukannya namun gagal, laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya dan membuatku sulit untuk bangun,dengan kerasnya aku melepaskan tangannya sampai akhirnya akupun terlepas.
Aku terkejut ketika ingin pergi dia menarik ku lagi dan kini posisi kami saling berciuman, mataku seketika melebar aku ingin melepaskan ciuman itu namun rasanya sulit dan aku justru sangat menyukainya.
“Enghh” aku melenguh disela-sela ciuman kami.
“Kamu hanya milik aku April!” Ucap Januari yang kini semakin melumat bibirku dengan begitu nikmatnya.
Ciuman itu semakin panas dan tanpa aku sadari kini kamu sudah telanjang bulat, ketika aku ingin mengehentikan semua ini namun tubuhku berat bahkan rasanya aku sangat menikmati.Setelah itu semua berjalan tak terkendali.
Sinar matahari kini menyoroti kamarku, aku berusah mengerjap kan mataku yang terasa berat. Aku merasakan tangan besar kini tengah memeluk dengan begitu eratnya, hingga aku tersadar akan kejadian tadi malam. Aku segera bangun dan melihat tubuhku dan Januari tanpa busana.
“Arghhh” aku berteriak hingga membangunkan Januari.
“Pril kena..pa?” dia sepertinya tersadar dengan apa yang terjadi ketik melihat ku menutupi tubuhku dengan selimut.
“Hiks hiks” aku menangis dengan sedihnya meskipun aku menikmati malam tadi tapi itu diluar kendaliku.
“Prill ma..af!” aku menatap Januari dengan perasaan campur aduk, ini sepenuhnya bukan salah dia aku juga terlena akan kejadian semalam.
Aku hanya menagis dan tubuhku Bergetar hebat, perlahan Januari memelukku dan akupun semakin mengencangkan tangisanku.
“Prill maaf semalam aku mabuk” ucap Januari .
“Ini bukan salahmu juga, aku yang salah dengan membawamu ke rumahku, karena aku pikir semalam kamu mabuk berat dan aku takut Bu Amelia akan memarahiku” jelasku sambil menunduk.
“Aku akan tanggung jawab Pril!” aku terlonjak kaget mendengar ucapan Januari.
“Ngak,.. Ngak usah lagian semalam bu..kan masa suburku!”
“Tapi Pril tetap saj aku yng sudah mengambil keperawanan kamu!”
“Ngak usah aku ngk papa ko!” aku berusaha untuk menguatkan hatiku, entahlah ku belum berfikir untuk hal pernikahan.
“Ngak Pril, aku akan tanggung jawab!, Lagian kita udah Ngak muda lagi Pril dan aku masih sangat mencintaimu!”
“Ta..Pi aku masih ragu!”
“Aku sadar kesalahan ku dimasa lalu mungkin tidak akan bisa termaafkan tapi, aku menyesal Pril, aku akan berubah, aku janji!”
Aku tertunduk dengan kebingungan, jika dibilang aku masih mencintai Januari, maka jawabannya tentu aku masih mencintainya, namun masih ada sedikit rasa khawatir dan takut kalau-kalau dia melakukan kesalahan yang sama.
Dengan berat hati aku mengiyakan permintaan Januari itu, meski hatiku masih ragu tapi dia berusaha untuk mempercayainya kembali, aku hanya bisa berharap dengan adanya.
pernikahan ini Januari benar-benar menyesal
Dan kabar pernikahan itu sudah tiba ditelinga Keluarga Atmaja, respon mereka sangat baik apalagi Bu Amelia dia sangat senang aku bisa memaafkan Januari dan memulai hubungan kami kembali,bahkan dengan perasaan bahagianya Bu Amelia sampai menyiapkan pernikahan kami dengan begitu semangatnya, sementara aku hanya mengikuti apa yang beliau arahkan.
“Udah sekarang kamu panggil mamah yah, kamu kan sebentar lagi mau jadi anak mamah juga” tukas Bu Amelia kala aku memanggilnya dengan sebutan ibu, karena jujur aku masih sangat canggung apalagi Bu Amelia adalah orang yang aku hormati selama ini.
“Iya mah!” aku tersenyum simpul
“Oh iya untuk persiapan pernikahan kalian semuanya sudah selesai, mamah juga udah siapin tiket honeymoon kalian ke Bali!” ucapnya dengan penuh semangat.
“Tapi mah, aku tidak bisa lama-lama meninggalkan kantor!” .
“Kamu itu udah mau jadi menantu Keluarga Atmaja, kalau urusan kantor itu gampang yang terpenting kamu nikmati dulu pernikahan sekaligus honeymoon kalian yah!”.
Aku hanya bisa mengangguk patuh kala nyonya Atmaja itu memerintah, bahkan rasanya baru seminggu yang lalu aku dan Januari memberitahu tentang hubungan kami serta niat kami untuk menikah, sekarang persiapannya sudah selesai bahkan , aku hanya bisa berdiam diri dirumah sampai hari pernikahan tiba yaitu lima hari lagi.
Sungguh ini bukanlah mimpi, karena aku akhirnya bisa menikah dengan seorang Januari meskipun dengan jalan cerita yang berbeda dari apa yang aku impikan. Aku hanya bisa berharap pernikahan ini akan membawa aku kedalam kebahagiaan, dan semoga kali ini Januari benar-benar memenuhi janjinya itu.
Lima hari terasa cepat menurutku, kini aku sudah berdiri di atas Altar dengan balutan baju pengantin dan Januari tampak gagah dengan jas hitamnya.
Janji suci kami sedang berlangsung, aku sangat terharu akan ini semua andai orangtuaku bisa menyaksikan ini secara langsung mungkin akan sangat membahagiakan moment ini.
“Selamat kalian sudah resmi menjadi suami istri, pengantin pria boleh mencium sang istri!” begitu yang dituturkan oleh pendeta
Wajah kami saling mendekat hingga akhirnya Januari mencium bibirku dengan lembut dan sedikit lumatan, para tamu yang hadir bertepuk tangan dengan sangat ria.
Pesta pernikahan berjalan dengan meriah dan mewah, konsep pernikah yang dirancang langsung oleh nyonya Atmaja, sedangkan aku dan Januari hanya bisa menuruti semua itu.
Januari, aku harap pernikahan ini memberikan kebahagiaan
Tetapi janjimu kali ini
Karena jika kali ini kamu benar-benar menyakitiku lagi
Aku tidak tau apa bisa hidup di sampingmu lagi