Pesta pernikahan telah usai, para tamu pun sudah mulai sepi didalam kamar hotel ini aku hanya bisa duduk lemas karena rasa pegal dan lelah setelah acara pernikah yang lumayan menguras tenaga ini, dengan pan aku masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual sebelum aku tertidur nantinya.
Aku keluar dari kamar mandi dengan begitu segarnya, bahkan rasanya tubuhku sedikit ringan karena gaun itu sudah terlepas dari tubuhku.
“Kamu udah mandi Yang?” aku berbalik melihat Januari yang baru saja masuk ke kamar hotel kami.
“Iya, lagian aku juga lelah mau tidur!” ucapku dengan merangkak ke tempat tidur dan meraih selimut.
“Ko Ngak nunggu aku?” tanyanya dengan wajah kesal.
“Lah, kamu kan masih lama tadi bilang lagian aku juga udah cape, mending kamu Cepet mandi aku mau tidur!” aku merebahkan tubuhku dan ingin sekali tertawa melihat ekspresi kesal seorang Januari.
“Yang, masa tidur sih, kan kita ini malam pertama!” rengek nya
“Semua orang juga tau ini malam pertama, lagian kira juga udah ngelakuin sebelum malam pertama kan! Mending kamu Cepet mandi aku mau tidur, besok pagi kita akan terbang ke Bali!”
Dengan menahan tertawa aku melihat Januari pergi ke dalam kamar mandi dengan keadaan wajah yang kesal. Jujur sebenarnya akupun belum mengantuk tapi sangat senang sekali ketika mengerjai seorang Januari.
Tidak lama Januaripun keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk, akupun pura-pura tertidur meskipun sedikit susah karena aku ingin tertawa melihat wajah kesalnya itu.
“Yang.. kamu udah tidur?” Tanya dengan mengganggu tidurku itu.
“Emm.. apa sih aku mau tidur!” aku bergumam tanpa mau membuka mataku.
Dengan rasa kaget Januari menerjang ku dia masuk kedalam selimut kamu memelukku dan mencium ku, aku hanya bisa menhan tawa dan menhikuti permainannya.
Ciuman itu semakin panas dan menjadi lumayan, bahkan decapan lidah kami berdua terdengar dipenjuru kamar hotel ini.
“Ahh shhh!” pergulatan malam ini begitu panas dari yang sebelumnya, dan akh hanya bisa pasrah ketika Januari menghentakkan miliknya dengan kasar.
Bahkan setelah pelepasan kami yang pertama, dia sama sekali tidak menginginkanku untuk tidur tetapi lanjut ke permainan selanjutnya sampai aku terkulai lemas dengan permainan kenikmatan yang dilakukan oleh oleh Januari untukku.
___
Pernikahan yang entah mungkin indah atau tidak, sebenarnya aku juga masih belum bisa memastikan bagaimana perasaanku kepada Januari setelah pengkhianatan itu.
Terkadang aku merasa bahwa pernikahan ini salah, karena dari awal aku sudah berniat melupakan seorang Januari dan memulai hidupku yang baru, namun takdir tidak ada yang tahu bahkan aku tidak pernah terfikirkan akan menjadi istri seorang Januari Fajar setelah rasa sakit yang aku dapat.
“Eughh!... “ aku menggeliat kecil ketika merasa silau karena matahari yang sudah beranjak naik itu, mataku kini terpaku dengan tangan kekar yang memeluk pinggangku.
Seakan berputar kembali ketika laki-laki itu mengucapkan janji suci, dan sekarang aku sudah resmi jadi istri seorang Januari.
Aku perlahan bangun dari kasur dan mengambil handuk, aku berjalan menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi yang cukup lama, Selesai mandi aku masih melihat Januari masih tertidur.
“Jan, bangun!!” aku sedikit berteriak karena laki-laki itu masih nyenyak dialam mimpinya
“Eumm.... Apa sih yang ini masih pagi!” ucapnya kembali tertidur.
“Pagi dari mana, ini udah siang!, Bangun ihhh!” aku menarik laki-laki itu agar bangun.
“Morning Kiss dulu!” laki-laki itu duduk dan menggeliat
“Apa sih, mandi sana hari ini kita akan terbang ke Korea Cepet ihhhh!” ucapku kesal.
Januari bangun dari duduknya dan kini dia memakai sebuah handuk di pinggang nya, sementara aku sedang mengeringkan rambutku yang basah. Aku sedikit tersentak ketika Januari mendorongku ke dinding dan dia memberikan ciuman yang membuatku terkejut.
Cup!
Kupikir ciuman itu hanya sebentar, namun Januari melumat dan semakin menekuk badanku, aku hanya pasrah menikmati setiap ciumannya.
___
Kini aku dan Januari sudah sampai di Korea Selatan, sebagai bentuk Honeymoon yang diberikan oleh mamah Amelia kepadaku.
Aku sangat menikmati setiap kegiatan di Korea ini banyak tempat-tempat yang aku kunjungi, bahkan mungkin memang dari dulu aku ingin berkunjung ke negeri K-Pop ini dan sekarang aku baru bisa merasakannya.
Satu Minggu disini, kami menghabiskan begitu banyak waktu berdua, layaknya pengantin baru yang begitu menikmati suasana bulan madu.
"Semua sudah terencana kamu jangan khawatir!" Ucapku kepada seseorang dibalik layar telpon
"Aku akan membantu, tapi jika suatu saat kamu menyesal aku tidak ingin ikut campur"
"Aku hanya ingin membalaskan setiap rasa sakit yang aku dapatkan selama ini itu saja!"
"*Baik kalau itu mau kamu, aku akan ikuti permainannya!"
Klik*!!
Aku memutuskan sambungan telfon itu dengan perasaan campur aduk.
"Sayang!!" teriak Janu memanggilku
"Kenapa?" aku berjalan kearahnya
"Sini, kita lihat Sunset!" Januari menepuk kursi disebelahnya untuk aku duduki, dengan patuh akupun duduk dan memeluk tubuh seorang Januari.
'Aku tidak tau masih mencintaimu atau tidak, karena rasa sakit yang aku dapat ini sulit untuk dilupakan begitu saja' Ucapku dalam hati kala pelukan itu semakin erat.
Sepulang kami dari bulan madu, semua jalan seperti biasa aku dan Januari dengan pekerjaan kami masing-masing, meskipun Janu melarangku untuk bekerja tapi aku tetap kekeh karena sangat membosankan bila aku hanya berdiam diri dirumah.
“Ehemmm!” Aku mengalihkan pandanganku melihat siapa yang berdehem.
“Kenapa Pak Karen?!” Tanyaku minat pak Karen seperti ada hal yang aneh pada dirinya.
“Apa ini yang membuatmu selalu menghindar dari saya dan menolak saya?”
“Maksud Pak Karen apa yah?!”
“Kamu nikah sama Januari, Sepupu saya sendiri sementara aku suka sama kamu!” .
“Pak saya sudah pernah bilang akan hal ini, saya itu ngak mencintai bapak dan asal bapak tau Januari itu adalah mantan saya, wajarlah saya menikahinya karena saya masih mencintainya, jadi saya mohon lebih baik bapak pergi dari sini!” jelasku dengan kesal.
“Apa kamu tidak bisa menerima hatiku, aku cinta sama kamu udah lama Pril!” ucapnya dengan wajah memelas.
“Maaf pak dari awal kan saya sudah katakan saya Ngak suka sama bapak!, Silahkan pergi dari ruangan saya!”
“Baik, aku pergi, tapi satu hal yang harus kamu, aku Ngak akan begitu saja lepaskan kamu!” sarkasnya.
Laki-laki itupun pergi dengan penuh amarah dan membanting pintu ruangan ku, aku mengurut keningku yang terasa pening dan pusing, dengan tingkah dari wakil direktur itu. Dan kenapa aku harus berurusan dengan keluarga Atmaja, sampai dua laki-laki itu mencintaiku dengan begitu besarnya.
Aku pulang lebih awal dan merebahkan tubuhku yang terasa letih, hari ini cukup banyak pekerjaan yang aku tinggalkan karena Persiapan pernikahan dan bulan madu.
Setelah cukup istirahat aku pergi ke dapur melihat bibi sedang memasak, aku mendekatinya melihat apa yang sedang dia buat.
“Non, kalau masih pusing lebih baik istirahat saja!” ucap bi suri.
“Iya bi, saya cuman mau minum!” jawabku
Setelah menikah aku tinggal dirumah yang dihadiahkan untuk pernikahan kami, rumah mewah yang hanya ditinggali oleh aku dan janu serta beberapa asisten rumah tangga.
Aku kembali merebahkan tubuhku yang lelah dan berusaha masuk ke alam mimpi, .namun baru saja ingin tidur aku tersentak mendengar pintu yang terbuka.
“Yang, kata bibi kamu Ngak enak badan, kau Ngak papa?” aku melihat kearah suara yang saat ini mendekatiku dan duduk disampingku.
“Aku cuman pusing ajah!” ucapku
“Kamu pasti kecapean, kan aku udah bilang jangan kerja, aku Ngak mau kamu kenapa Napa!”
“Janu, aku Ngak papa ko cuman pusing ajah, udah yah aku mau tidur lagi!” aku kembali menutup mataku karena rasa pusing itu semakin menyeruak.
“Oh iya, tadi sekertaris kamu bilang bang Karen masuk keruangan kamu, trus dia marah-marah setelah dari ruangan kamu!” niatku yang ingin beristirahat kini semakin sulit, karena pertanyaan yang dilontarkan oleh janu.
“Dia cuman nanya soal pernikahan kita!” balasku.
“bahas pernikahan kita bagaimana, kalau tiba-tiba dia marah!”
“Jan, aku ini capek!, Pusing!, Dia itu datang karena merasa tersakiti, sebab aku sempat menolak perasaannya, sementara aku menikah dengan sepupunya!” ucapku dengan habis kesabaran.
“Dia suka sama kamu?, Bagaimana bisa, sementara aku sering melihat di gonta ganti pacar setiap minggunya!.” Aku tidak memperdulikan ucapan Janu dan lebih memilih untuk tidur.
Jujur aku sangat benci dengan sikap keinginan tahuan seorang Januari, bahkan ketik dulu kami pacaranpun dia begitu posessive.
_____
Seorang wanita yang sedang berjalan membawa koper disebuah bandara ternama, kacamata hitamnya sangat membuat dia terlihat semakin cantik.
“Nona, silahkan masuk!” ujar supir itu.
Wanita itu masuk dengan angkuh dan elegannya, setelah duduk di dalam mobil dia membuka notifikasi dari handphone kemudian membalas pesan dari notifikasi tersebut.
“Janu, Janu aku pulang ke sini karena mendengar kamu menikah dengan mantan kamu, jujur aku masih belum bisa melupakan 5 tahun yang lalu, ketika dengan mudahnya kamu campakkan aku!” ucapnya dengan wajah sinis.
Mobil berjalan menelusuri jalanan kota, dan kudian Sampai disebuah rumah mewah, wanita itu turun dan berjalan menuju rumah tersebut.
“Vanya!, Anakku kamu sudah kembali sayang?” ucap wanita yang usianya sudah tua itu dan langsung memeluknya.
“Iya, ibu aku tidak ingin berlama-lama di Paris, sementara orang yang ku benci tertawa bahagia!” jawab wanita itu.
“Yaudah masuk yuk, ibu akan siapkan makanan kesukaan kamu!”