Nare berjalan terburu-buru memasuki perusahaan besar. Pagi ini ia akan melangsungkan wawancara, namun sialnya ia terlambat untuk bangun ditambah kemacetan yang di alaminya.
Brukk
Gedebuk
Nare terkejut melihat seorang pria berumur 27 tahun yang sudah jatuh di depan kakinya.
Para karyawan termasuk office boy tersebut berusaha mati-matian menahan tawa mereka. Berbeda dengan Nare yang masih tercengang melihat adegan tersebut.
Jatuhnya Arga seperti slow motion baginya. Nare langsung membantu Arga untuk berdiri kembali. Mengucapkan kata maaf berkali-kali tanpa tahu jika itu adalah bos nya.
"Ya ampun, maaf yaa pak. Saya gak sengaja" ucap Nare dengan membantu Arga berdiri.
Sedangkan Arga menatap Nare sinis. "Kalau jalan jangan cuma kaki yang dipakai, mata juga"
Setelah mengatakan itu kepada Nare, Arga berjalan melewati Nare yang masih terdiam di tempatnya. Karena tak ingin berlama-lama terdiam seperti patung di tengah-tengah jalan, Nare melangkahkan kakinya menuju toilet.
"Aduh, kok gue gugup gini sih?" Nare bermonolog di depan cermin.
"Santai Re, gak pa-pa. Lo pasti bisa"
Setelah menenangkan dan menyemangati diri sendiri di toilet, Nare menghela nafas panjang secara perlahan dan mulai ke luar dari toilet.
Kaki jenjangnya melangkah menuju ruangan direktur. Betapa terkejutnya Nare saat melihat pria yang tadi pagi ia tabrak hingga terjungkal.
Sedangkan Arga menyeringai sinis saat melihat wanita itu muncul di depannya. Dan mulai saat itu lah penderitaan Nare bertambah.
•••
Nare berjalan dengan santai dengan menggenggam gelas berisikan kopi di tangan sebelah kanannya. Sesekali menanggapi beberapa orang yang menyapa dirinya. Kini tepat satu bulan ia diterima kerja di tempat ini.
"NARESHA" gadis yang merasa namanya diucapkan dengan suara yang keras dan lantang itu pun menoleh kebelakang dan didapati bos nya yang menatap nya tajam dengan mata elangnya
"Iya pak? bapak manggil saya?" ucap Naresha dengan wajah tanpa dosanya
"Yang namanya Naresha selain kamu siapa?, jangan pura pura bodoh kamu" tukas pria dewasa bernama Argani Abian Zafran yang merupakan bos killer tempat Naresha bekerja
"Maaf pak, kenapa ya pak manggil saya?" tanya Naresha
"Laporan yang saya minta tadi mana?, kamu bawa kesini gak?" tanya Arga
"Bawa kok pak, sebentar ya pak"
"Hmm" jawab Arga cuek
Sepergi nya Naresha dari ruangan Arga, yang dilakukan Arga hanya berdiam dikursi kebesaran nya sambil mengetuk ngetuk meja dengan pulpen yang berada ditangan kanannya.
5 menit berlalu
Ceklek...
Mendengar suara pintu terbuka, tatapan Arga pun teralihkan oleh seseorang yang masuk ke ruangannya dengan tangan kanannya memegang sebuah berkas.
"Ini pak, laporan yang bapak minta tadi" ucap Naresha dengan sopan
"Kamuu kalo masuk bisa ketuk pintu dulu? ga sopan" ucap Arga ketus, dan mengambil berkas itu dengan kasar
"Maaf pak"
"Ngambil berkas doang aja lama banget,
aja kamu? ngapel?" tukas Arga ngapain
"Astagfirullah, perasaan cuman 5 menit" guman Naresha pelan, namun tetap dapat didengar oleh Arga
"Ngomong apa kamu?"
"Enggak pak, gak papa" ucap Naresha dengan gelagapan
"Keluar kamu, kembali keruangan kamu" perintah Arga
"Iyaaa pak, saya permisi"
"Hmm"
•••
Naresha berjalan dengan menghentak hentakkan kaki nya kesal, selepas dia keluar dari ruangan bos nya tadi, mulutnya tidak berhenti menyumpah serapahi bos killer nya itu
"Awas aja tuh si Arga ngeselin emang, jangan sampe gue dapet jodoh modelan dia, amit amit deh" gumam Naresha sambil mengetuk ngetukkan kepalan tangan ke meja tiga kali
"Kenapa lo Nar?" tanya Yani, teman sekantor Naresha
"Biasalah, bos killer gatau diri nyari masalah lagi sama gue" jawab Naresha dengan wajah ditekuk kesal
Yani yang mendengar jawaban Naresha pun terkekeh pelan
"Sabar Nar namanya juga cari cuan, harus kuat mental, apalagi bos nya modelan pak Arga" ucap Yani sambil menepuk pelan bahu Naresha
"Yaa gak gitu juga kali yan, masa gue ngambil berkas lima menit aja diomelin" ucap Naresha sambil menghela nafas kasar
"Gue kira setelah naik jabatan jadi sekretaris nya dia, gue bakal hidup tenang di kantor, ternyata tambah sial aja gue, udah ah mau balik aja gue ke ruangan, bye yan" lanjut nya
Yani yang melihat Naresha berjalan menjauh , hanya bisa menggelengkan kepala nya saja
•••
Kring... kring... kringg
Bunyi telepon di meja mengalihkan perhatian Naresha dari ponselnya
"Siapa sih ganggu aja" gumam Naresha
"Halo"
"Jadwal saya hari ini apa saja?" tanya seseorang diseberang sana
"Sebentar pak"
"Nanti jam dua siang ada meeting pak bersama PT. Sukma Wijaya grup pak"
"Batalkan meetingnya dan kosongkan jadwal saya hari ini"
"Baik pak"
"Nanti kamu ikut saya ke rumah sakit"
"Siapa yang sakit pak?"
"Jangan banyak tanya kamu, tinggal ikut aja repot"
"Iyaa pak"
Setelah telepon tertutup, Naresha kembali bergumam
"Nyebelin banget tuh orang untung bos gue, kalo engga udah gue santet tuh orang" monolog Naresha.
•••
Sore ini, Arga menunggu kehadiran sang sekretaris di Parkiran. Mulutnya tak berhenti berdecak kesal karena lama menunggu, Arga adalah orang yang bosan dan tidak suka menunggu.
tak.. tak.. tak..
Suara sepatu heels mengalihkan Arga dari ponselnya
"Maaf pak lama, tadi ada kendala sebentar" ucap seseorang, yang tak lain tak bukan adalah sang sekretaris
"Hmm, ayo" ajak Arga
"Ayo kemana pak?" bingung Naresha
"Ke Rumah Sakit"
"Bapak sakit?"
"Gausah bawel kamu, tinggal ikut aja repot"
Setelah Arga memasuki mobil dan diikuti Naresha yang duduk di bangku belakang
"Ngapain kamu disitu?!" tukas Arga
"Duduk lah ngapain lagi" ketus Naresha
"Duduk didepan, saya bukan supir" perintah Arga
"Ck, iyaa" ucap Naresha kesal
Setelah Naresha pindah duduk ke depan, Arga segera melajukan mobil nya ke Rumah Sakit. Selama perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka yang membuat Naresha tertidur karena bosan.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan, mereka telah sampai di parkiran Rumah Sakit.
Arga menoleh kesamping, dan didapatinya seorang gadis yang tertidur dengan pulas. Arga menjulurkan tangannya, hendak membangunkan Naresha
"Bangun" ucap Arga
"Naresha bangun, sudah sampai" ucap Arga lagi
Naresha yang merasa terganggu dalam lelapnya pun membuka mata dan merenggangkan otot otot nya sebentar
"Eh sudah sampai pak?" tanya Naresha
"Menurut kamu?" sinis Arga
Arga langsung turun dari mobil, dan diikuti Naresha di belakangnya.
•••
"Ini ruangan siapa pak?" tanya Naresha begitu mereka sampai didepan ruangan
"Ibu saya" jawab Arga
Naresha mengangguk - anggukkan kepala nya, pertanda mengerti
"Ayo masuk" ajak Arga
"Loh, saya juga ikut masuk pak?" tanya Naresha bingung
"Terus saya ngajak kamu kesini ngapain kalo kamu ga masuk" sinis Arga sembari melanjutkan langkah masuk kedalam ruangan diikuti oleh Naresha
•••
"Assalamualaikum ma" ucap Arga kepada wanita yang sedang bersandar di brankar Rumah Sakit
"Wa alaikumsalam, sini Arga" sambut wanita itu sembari tersenyum melambaikan tangannya
"Eh, kamu bawa siapa itu" lanjutnya setelah melihat ada Naresha disana
"Selamat sore bu, saya Naresha sekretaris pak Arga" sapa Naresha sembari mengulurkan tangannya
"Selamat sore juga, saya Wina ibunya Arga" ucap Wina menyambut uluran tangan Naresha dengan tersenyum
"Sini - sini kita duduk dulu biar enak ngobrol nya, ayo sini Naresha duduk dulu" lanjutnya
"Iya bu terima kasih" ucap Naresha yang masih canggung dengan situasi ini
"Mama gimana keadaannya?" tanya Arga kepada sang mama
"Alhamdulilah kata dokter mama ada kemajuan, kamu juga gimana?, udah ada calonnya buat nikah?" ucap Wina
"Mama apaansih, itu terus yang dibahas kalo Arga kesini" ucap Arga kesal
"Umur mama semakin bertambah Arga, kamu juga udah mateng buat nikah, kenapa kamu tunda - tunda terus" lirih Wina
"Terlebih mama udah sakit - sakit an umur mama ga lama lagi Arga, mama cuma mau liat kamu nikah, kamu mau nunggu mama mati dulu baru mau nikah hah?!" lanjutnya
"Ma, Arga cari yang pas dulu tolong mama ngertiin Arga" ucap Arga berusaha memendam emosi nya
"Sampai kapan Arga, kalau kamu terus menerus cari yang sempurna kamu ga bakal dapat" ucap Wina
"Arga trauma ma" lirih Arga
"Arga, ga semua perempuan seperti dia, kalau kamu terus menerus samakan perempuan lain dengan dia, gaada abisnya Arga" ucap Wina
"Coba buat buka hati Arga" lanjutnya
"Mama bisa ngomong kaya gitu, karena mama ga ngerti perasaan aku ma!" ucap Arga yang mulai meninggikan suara nya
"Gimana mama mau ngerti perasaan kamu Ar, kamu ga pernah cerita ke mama, kamu ga pernah bilang apa masalah kamu, kamu selalu bilang baik - baik aja, padahal kamu ga selalu baik - baik aja" ucap Wina
"Mama sakit liat kamu begini Ar, mama ngerasa gagal untuk jadi mama kamu" ucap Wina yang entah sejak kapan air mata nya luruh begitu saja membasahi pipi wanita paruh baya itu
Naresha yang melihat perdebatan ibu dan anak itu hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, tidak berani berbuat apapun, dan merasa menyesal karena ikut kesini, dan melihat perdebatan antara ibu dan anak tersebut.
Arga yang mulai menyadari situasi saat ini, melirik Naresha yang menundukkan kepalanya, seolah paham dengan keadaan
"Arga capek, Arga keluar dulu" ucap Arga dan mulai meninggalkan ruangan sang mama, yang menyisakan Naresha disana
"Aduh maaf ya Nar, kamu jadi dengar perdebatan saya sama Arga" ucap Wina merasa tidak enak dengan Naresha
"Gapapa bu, saya ngerti kok" ucap Naresha canggung
"Duh kok jadi canggung gini sih" gumam Naresha
Wina yang mendengar gumaman Naresha hanya bisa terkekeh
"Kamu sudah makan Nar?" tanya Wina
"Em, sudah bu" jawab Naresha ragu, karena kenyataannya dirinya belum makan sejak siang tadi
"Ga usah boong kamu, nih makan" ucap Arga yang entah kapan sudah berada di dekat pintu
"Eh ga usah pak, nanti saya bisa beli sekalian pulang dari sini" ucap Naresha
"M.a.k.a.n Naresha" ucap Arga penuh penekanan
"I-iya pak" ucap Naresha dan mulai menerima bungkusan dari tangan Arga
"Saya makan yaa pak, bu" ucap Naresha canggung
"Iyaa Naresha, santai aja gausah canggung begitu ah" ucap Wina terkekeh geli melihat wajah gugup Naresha
"Gimana kalau Naresha aja yang jadi menantu mama Ar" lanjutnya
Uhukk... uhuk...
Naresha yang mendengar itu langsung tersedak, Arga yang menyadari Naresha tersedak pun langsung sigap mengambil minum, dan memberikannya kepada Naresha.
"Makasih pak" ucap Naresha
Wina yang melihat reaksi keduanya terkejut hanya bisa terkekeh geli
"Mama bercanda" ucapnta yang maish terkekeh geli
"Ooh iya Naresha, jangan panggil sama ibu atuh, ga enak dengernya" ucap Wina lagi
"Em, terus saya harus panggil apa bu?" tanya Naresha pelan
"Mama aja, biar sama kaya Arga, biar ga kaku juga nanti kalau udah jadi menantu" ucap Wina sambil terkekeh geli
"Ma" tegur Arga, yang merasa mama nya keterlaluan menggoda sekretaris nya
"Sutt, udah diem aja kamu, kamu ga asik" ucap Wina
"Mulai sekarang panggil Mama aja yaa Nar" lanjutnya
"Iya m-ma" ucap Naresha kaku
"Nah gitu, tapi next time jangan kaku gitu yaa Nar, santai aja, mama ga gigit ko" ucap Wina
•••
Sore berganti menjadi malam, tak terasa Naresha dan Mama Wina sudah mengobrol banyak sampai tidak ingat waktu
Arga yang melihat mereka ngobrol seakrab itu hanya diam sambil menyimak percakapan mereka
mau gabung juga ga dibolehin, girls time katanya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Eh iya udah jam 9 aja nih, kamu pulang di antar Arga ya Nar, ga baik perempuan malam - malam sendirian" ucap Mama Wina
"Ga usah ma, aku bisa naik taksi kok" tolak Naresha secara halus
"Loh kenapa, mama ga tenang kalau kamu ga diantar sama Arga" ucap Mama Wina
"Lagian Arga juga ga keberatan kok, iya kan Ar?" lanjutnya lagi
Arga yang merasa kasihan kepada Naresha pun beranjak dari duduknya
"Ayo saya antar pulang" ucap Arga
"Gapapa pak? ngga ngerepotin?" ucap Naresha tidak enak
"Nggak, udah ayo lama saya tinggal" ucap Arga
"Ma, Arga pamit antar Naresha" pamit Arga
"Nare juga pamit yaa ma, mama cepat sembuh, nanti kita ngobrol lagi" pamit Naresha sambil mencium tangan Mama Wina
"Iyaa kalian hati - hati, Arga jangan ngebut bawa mobilnya" ucap Mama Wina yang hanya di balas gumaman oleh Arga.
•••
Setelah menempuh perjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi Naresha berhenti di depan pagar berawarna hitam, dirumah nya
"Terimakasih banyak ya pak, sudah antar saya pulang" ucap Naresha sebelum membuka pintu
"Iyaa sama - sama" ucap Arga membalas ucapan Naresha
"Yaudah saya keluar dulu yaa pak, terimakasih sekali lagi" ucap Naresha yang mulai keluar dari mobil Arga
Setelah Naresha keluar, Arga mulai melajukan mobilnya membunyikan klakson pertanda dia pamit.
Setelah mobil Arga menghilang dari pandangan nya, Naresha mulai berjalan memasuki rumah.
"Assalamualaikum" ucap Naresha
tanpa ada yang menjawab ucapan salamnya
"Selalu kaya gini, sepi" gumam Naresha yang mulai merebahkan dirinya diatas kasur miliknya
Rumah yang dulu nya ramai dipenuhi canda tawa keluarga, seolah sirna dalam hitungan detik.
•••
Keesokan harinya tepat pada hari Minggu yang dimana para pekerja libur dan bersantai dirumah. Sama halnya dengan Naresha yang sedang bersantai dirumah nya, ditemani dengan drama korea on going dan banyaknya cemilan di atas sofa ruang tengah.
"Gila emang Joo dan tae kok ga mati - mati Astagfirullah" ucapnya kesal dengan salah satu pemeran di drama korea yang sedang populer di kalangan perkoreaan tersebut.
kring... kringg... kringgg...
Suara dering handphone membuat Nare mengalihkan perhatian nya dari layar laptop yang sedari tadi ia tonton.
"Astagfirullah Ya Allah siapa sih ini" gumam nya kesal sambil mengangkat panggilan yang tanpa dilihat siapa pemanggilnya.
"Halo?!" ucapnya ngegas
"Heh anak kurang ajar! ini ibu!" ucap seseorang di seberang sana.
Mampus
"Astagfirullah, maaf ibu Nare gatau"
"Makanya kalo angkat telepon dilihat namanya, diculik baru tau rasa kamu"
"Gaada yang mau nyulik aku juga bu"
"Kenapa ibu nelpon? tumben"
"Bener - bener anak kurang ajar, besok atau lusa ibu pulang"
"HAH?!"
"Kok kaget gitu?, ga seneng kamu kalau ibu pulang hah?!"
"Eh eh engga gitu atuh ibu, seneng atuh masa ibu nya pulang anak nya ga seneng, anak macam apa itu"
"Ya itu kamu anak macam itu"
"Dih si ibu ngelawak"
"Berisik kamu, udah diem besok ibu pulang, ibu tutup Assalamualaikum"
"Wa alaikumsalam"
"Ck, ribet" guman Nare setelah telepon tertutup. Dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatan menontonnya yang belum usai.
•••
Siang berganti sore, kini Nare sedang duduk di ruang keluarga bersama Gita sahabat sejak SMA nya beserta anaknya.
"Lo kapan nikah re?" tanya Gita sambil menyuapi makan anaknya yang sudah menginjak usia 1 tahun setengah itu.
"Kenapa lo nanya begitu? tumben" kata Nare heran
"Ya kali aja gitu, lo mau coba nikah muda kaya gue" jawab Gita
"Ngga dulu deh ta, masih banyak yang belom gue gapai" balas Nare
"Yaudah terserah lo deh, tapi nikah muda lumayan enak tau re"
"Lumayan enak gimana maksud lo?" tanya Nare
"Ya ada enak nya ada nya enggak nya" jawab Gita
"Btw, gue titip anak gue dulu ya, pengen pipis nih" lanjutnya
"Yaudah sono biar Puput gue yang jagain" ucap Nare sembari mengambil alih Putri ( nama anak Gita ) ke gendongannya
"Minum s**u dulu ya put, mama kamu lama banget, boker kali dia ya" ucap Nare kepada Putri yang hanya dibalas dengan cengiran ala bayi
5 menit berlalu
"Alhamdulilah lega" ucap Gita yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di rumah Nare
"Mana sini re anak gue" ucapnya kepada Nare
"Tidur ta, mau gue taro di kasur nya takut kebangun nangis nanti yang ada" ucap Nare
"Yaudah gendong dulu aja sama lo, gak papa kan?" ucap Gita
"Ya gak papa atuh ta, dia kan ponakan gue" balas Nare
"Udah cocok re" celetuk Gita tiba - tiba
"Cocok apa maksud lo?" tanya Nare
"Jadi ibu lah, masa iya jadi pembantu" jawab Gita kesal
Nare hanya bisa terkekeh mendengar jawaban Gita, kadang ia iri melihat hangatnya keluarga kecil Gita, ingin seperti itu juga tapi tak tahu dengan siapa.
"Di kantor tempat lo kerja emang gaada yang deket sama lo gitu re?" tanya Gita setelah meletakkan anaknya dikasur bayi yang sengaja ia bawa dari rumah.
"Ada sih ta, tapi gue kurang suka suka aja, ga nyaman" ucap Nare sambil memakan kue bolu yang dibawa Gita
"Tuh kan!, lo mah kebiasaan re, kalo kaya gitu terus yang ada gaada yang mau sama lo!" tukas Gita
"Sembarangan lo!" ucap Nare sambil melempar bantal sofa kearah Gita. Sang empu malah terkekeh melihat tingkah sahabatnya.
"Ya abisnya lo selalu kaya gitu semenjak putus dari Aldo 3 tahun lalu" ucap Gita
Nare yang mendengar kembali mantan terindah nya, hanya diam tidak membalas ucapan Gita
"Tuh kan denger nama nya aja lo langsung ngelag" ucap Gita
"Apaansi lo, balik sono lo laki lo nyariin" usir Nare
"Santai, laki gue lagi maen sama temen-temen nya" ucap Gita yang malah menyandarkan tubuhnya ke sofa
"Jangan kompor deh lo" lanjutnya
Nare tersenyum geli melihat sahabatnya. "Heleh baperan banget emak-emak"
"Gue udah lama ga ketemu temen-temen" lanjutnya.
Gita yang melihat itu merasakan yang sama. Ia juga sudah sangat lama tidak bertemu dengan teman-teman nya. terlebih dirinya sudah berkeluarga sekarang.
"Makanya re, jangan sibuk kerja terus, tipes lo ntar" cibir Gita
"Bacot lo" jawab Nare ketus
"Dih dibilangin"
"Berisik banget nih emak - emak satu" ledek Nare kepada Gita
"Kurang ajar lo re" jawab Gita kesal
"Btw ta, udah lama ya kita ga ribut gini" ucap Nare tiba - tiba membuat Gita bingung namun sesaat kemudian ikut terbawa suasana
"Iya, dulu pas zamannya sekolah mah tiap hari ya re" ucap Gita
"Iya, ada aja yang diributin" ucap Nare
"Jadi kangen" ucap mereka berbarengan yang membuat mereka saling tatap dan kemudian tertawa bersama.
•••
Setelah Gita pulang dijemput suaminya, yang Nare lakukan hanya berdiam diri di depan televisi. Yaa Gita memutuskan pulang sehabis magrhib tadi.
"Bosen banget sialan" umpat Nare
Karena bosan terus melanda, Nare memutuskan untuk pergi ke taman kota, yang dimana malam minggu begini banyak anak muda yang sedang pacaran, miris bgt ya re.
"Sabar gapapa re gapapa, orang sabar duitnya lebar" ucap Nare dalam hati karena iri melihat banyaknya orang yang bermesraan.
"Sendirian mbak?" tanya anak muda yang sedang berpacaran tersebut, seperti meledek Nare
"Oh enggak ko, lagi tunggu suami saya" ucap Nare yang tentunya berbohong
"Saya duluan ya, suami saya nunggu disana" lanjutnya yang berbohong lagi. Kedua remaja itu hanya mengangguk kan kepalanya pertanda mengerti.
Setelah terbebas dari kedua remaja tadi, sekarang Nare terus berjalan sambil menggerutu kesal karena pertanyaan kedua remaja tadi.
Brukk
"Aduh" karena terlalu banyak menggerutu Nare menabrak bahu lebar seseorang
"Maaf maaf mas saya ga sengaja tadi" ucap Nare kepada seseorang tersebut.
Seseorang yang ditabrak Nare pun menolehkan kepalanya menghadap Nare.
"Kamu?!" tanya orang tersebut ngegas tanpa rem.
"Loh, pak Arga?!" ucap Nare kaget.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Arga lagi.
"Jajan" ucap Nare polos.
"Bapak sendiri ngapain kesini?ngapel?" tanya Nare.
"Ga usah sok tau kamu" ucap Arga.
"Dih ditanya baik - baik juga" gerutu Nare yang masih dapat didengar oleh Arga.
"Saya dengar ya sha" ucap Arga.
"Iyaa pak iyaa, maaf" ucap Nare.
"Kamu sendiri?" tanya Arga.
"Iyaa"
"Kasian" ledek Arga kepada Nare.
"Bapak juga kasian" balas Nare.
"Kasian kenapa?" tanya Arga.
"Sendirian juga, sama kaya saya" jawab Nare.
"Saya ga sendiri" balas Arga.
"Terus sama siapa?" tanya Nare.
"Sama sekretaris cantik saya" bisik Arga tepat pada telinga Nare
Nare yang mendengar itu hanya terdiam bersamaan dengan detak jantung yang tak beraturan.
Melihat Nare yang terdiam Arga hanya terkekeh geli.
"Ayo, saya antar pulang" ajak Arga.
"Eh, iya ayo" jawab Nare setelah sadar dari terdiamnya.
•••
"Kok ga nyampe - nyampe ya pak?" tanya Nare setelah menyadari bahwa sedari tadi mobil yang di tumpanginya lama sekali menuju tujuan.
"Anterin saya dulu" jawab Arga
"beli sate buat mama saya" lanjutnya.
"Ohh, didepan sana ada sate yang enak pak" jawab Nare.
Arga yang mendengar saran Nare, langsung melajukan mobilnya ke tempat yang ditunjukkan.
"Rame banget sha" ucap Arga setelah sampai di tempat sate kaki lima.
"Iya pak, kan satenya enak, kalo ga enak berarti sepi" ucap Nare
"Ngaco kamu, ga gitu konsepnya" jawab Arga
"Yaudah sana pak cepet pesan"
"Kamu merintah saya?" tanya Arga sinis.
"Lah kan bapak yang mau beli" ucap Nare yang membuat Arga mendengus kesal, tapi tak lama turun dari mobil dan diikuti dengan Nare.
"Ngapain kamu ngikutin saya?" sinis Arga setelah menyadari jika dirinya diikuti oleh sang sekretaris.
"Hehe, saya juga mau beli pak, laper" jawab Nare dengan cengiran nya
"Yaudah sana pesan saya yang bayar nanti" ucap Arga.
Setelah mendengar perkataan Arga, Nare langsung memesan 3 bungkus sate, 2 bungkus untuk Arga dan Mamanya 1 bungkus untuk dirinya.
15 menit berlalu
"Udah?" tanya Arga sembari menghampiri Nare.
"Udah pak, bayar gih" jawab Nare
Arga yang mendengar perkataan dari Nare hanya mendelik kesal namun tetap membayar sate tersebut.
"Istrinya lagi ngidam yaa mas? pantesan" ucap Mas tukang sate tersebut yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Arga.
"Ayo pulang" ajak Arga kepada Nare yang masih terdiam di tempatnya setelah selesai membayar sate tersebut.