Saat ini Nare dan Yani sudah berada di rumah Gita. Setelah tadi mengabari Gita dan memastikan jika suami Gita sedang tidak ada di rumah, mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah Gita.
"Laki lo kerja?" tanya Yani
Gita menggeleng. "Lagi main futsal sama temen-temen nya"
"Tadi sempat ngajak Arga loh dia Re" lanjutnya.
Nare hanya mengangguk kecil. Dan langsung sibuk bermain dengan anak Gita. Ia masih enggan untuk membahas Arga.
"Mau pulang kapan lo berdua?" tanya Gita
Nare menatap sinis sahabatnya. "Ngusir?"
"Astagfirullah, su'udzon lo" sangkal Gita,
"lagian emang lo ga dicariin apa sama suami lo?" lanjutnya.
Yani membenarkan ucapan Gita. "Tau lo, nanti dicariin kita nih yang diomelin."
"Enggak lah, laki gue gak kayak gitu kali" ucap Nare membela suaminya.
Gita mengerlingkan matanya. "Duh iya deh dibelain suaminya. Istri idaman banget ya bunda."
Nare mencebikkan bibirnya kesal, "berisik lo" ketusnya.
Gita dan Yani bertos ria karena sudah berhasil membuat Nare kesal.
"Awas ya lo Yan!" ancam Nare.
Yani dan Gita tertawa melihat wajah Nare yang kesal.
"Maaf deh, bercanda Re, gak usah baper ah" ucap Yani.
Gita mengangguk. "Iyaa Re betul,"
"Kalau udah berumah tangga itu biasa banyak pikiran Re, jadi harus sering-sering bercanda kayak gini. Hitung-hitung refreshing" lanjutnya.
Yani menyenggol pelan lengan Nare. "Tuh belajar sama yang udah pengalaman" ucapnya dengan terkikik geli.
Nare berdecak kesal. "Apaan sih lo!"
Yani tertawa keras begitupun dengan Gita. Puput juga ikut tertawa melihat tante-tante nya dan mamanya tertawa.
Nare menyadari jika Puput ikut menertawakan dirinya. "Heh bocil, kayak ngerti aja" sinisnya.
Puput beranjak berjalan tertatih menuju pangkuan Nare, "uuh sayang, manja banget sama aunty ya?"
"Minta gendong tuh ty, biasalah udah jarang ketemu" ucap Gita.
Nare langsung membawa Puput ke dalam gendongannya sambil dikecupi seluruh wajah Puput. Membuat sang empunya tertawa geli.
"Lucu banget anak lo Ta, buat gue deh sini" ucap Nare
Gita melayangkan jitakan nya ke kepala Nare. "Sembarangan lo! bikin sendiri!"
Yani tertawa keras mendengar ucapan Gita. "Bikin Re, ntar review ke gue"
Kini gantian, Nare yang melayangkan jitakan nya ke kepala Yani. "Otak lo Yan!"
Puput tertawa geli menampilkan gigi-giginya yang belum terisi semua, "Idih ketawa? emang ngerti kamu hem?" goda Nare.
"Cocok banget lo jadi ibu, cepet-cepet deh punya sendiri" celetuk Yani.
Nare hanya membenarkan saja. "Aamiin deh aamiin."
"Fotoin gue dong dari belakang pas lagi gendong Puput" lanjutnya sambil menyerahkan ponsel miliknya.
Gita membelalakkan matanya. "Buat apaan? Awas aja Lo kalua sampe promosiin anak gue buat dijual!" ujarnya mewanti-wanti.
Nare menyengir. "Buat gue posting di instastory dong"
Yani menggelengkan kepalanya. "Emang deh, seleb mah beda" sahutnya.
Nare menatap Yani sinis. "Berisik, udah buruan potoin."
"Dih udah nyuruh, galak lagi" gerutu Yani,
"Buruan pose" lanjutnya.
Meskipun kesal, Yani tetap mengambil handphone Nare dan memotret mereka. Nare terus berpose dan Yani terus memotret, berlanjut dengan mereka foto berempat entah itu selfie, atau menggunakan tripod. Hingga tak sadar sudah ratusan foto yang mereka ambil.
"Duh udah sore banget nih, pulang yuk Yan" ajak Nare.
"Ayo, Gitaa makasiih yaa, Puput kapan-kapan kita main lagi oke?" ucap Yani.
"Gue juga pamit Ta, makasih yaa. Puput maen dong nanti ke rumah Aunty ya?" ucap Nare.
Mereka berpelukan secara bergantian. Dan langsung memasuki mobil masing-masing. Saling menghidupkan klakson pertanda akan pamit, dan melajukan mobil menjauhi perkarangan rumah Gita.
•••
"Assalamualaikum" salam Nare saat memasuki rumah.
Terlihat Arga menghampiri dirinya, "Dari mana kamu?" tanyanya dengan suara beratnya.
Nare merasakan ada hawa-hawa akan perang disini. Karena suara Arga yang dingin, ia bisa lihat jika suaminya saat ini sedang marah kepada dirinya.
Baru hendak menjawab, Arga lebih dulu berbicara. "Dari jalan sama si Roni?" sarkasnya.
Nare mendongak menatap suaminya. "Bapak kok ngomong gitu?"
Arga mengedikkan bahunya. "Bener kan?"
"Saya pergi ke rumah Gita sama Yani. Kita main disana. Kalau bapak gak percaya, bapak bisa tanya Yani atau Gita." Ucap Nare dan langsung pergi menuju kamar, meninggalkan Arga yang meneriaki namanya.
"SAYA BELUM SELESAI BICARA NARESHA" murka Arga.
Arga menghela nafas kasar. "ARRGGH."
Sedangkan di dalam kamar, di kamar mandi lebih tepatnya, Nare menangis sambil menahan isakannya.
"Baru seminggu nikah aja udah gini" gumam Nare,
"Gimana bertahun-tahun, tekanan batin gue yang ada" lanjutnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk sekalian mandi. Daripada memikirkan hal yang membuat dirinya pusing, lebih baik ia mandi dan berendam untuk menjernihkan pikiran nya.
"Anjir, lupa bawa baju lagi’ gerutu Nare saat hendak keluar dari bilik kamar mandi.
Nare mengusap wajah kasar. "Kok bisa lupa si gblk banget gue."
Akhirnya Nare memutuskan untuk keluar kamar mandi menggunakan bathrobe nya.
Daripada gak pake apa-apa sama sekali. Pikirnya
Saat keluar dari kamar mandi, ia melihat Arga sedang duduk di pinggiran ranjang.
Mampus kan. batin Nare
Nare mengambil bajunya asal dengan gerakan kilat. Dan langsung berjalan menuju kamar mandi lagi. Setelah selesai berganti pakaian, Nare segera keluar dari kamar mandi. Matanya bertabrakan dengan mata indah milik Arga. Keduanya sama-sama terdiam dengan saling menatap, namun Nare lebih dulu memutuskan tatapannya dan beralih melihat ke arah lain.
"Duduk sini" ucap Arga dingin sambil melirik tempat di sebelahnya yang kosong.
"Kalo mau marah-marah kayak tadi mending di pending dulu" ucap Nare dan langsung berlalu pergi meninggalkan Arga.
Nare berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam. Setelah masakannya jadi, ia berniat untuk memanggil Arga di kamar. Belum sampai ke kamar, sudah terlihat Arga jalan menuruni tangga dengan kunci mobil di tangannya. Nare mengurungkan niatnya, dan berakhir makan sendirian.
•••
Arga memasuki kafe miliknya. Dengan parasnya yang tampan, dan postur tubuh yang dapat dibilang bagus, membuat para kaum hawa menatapnya terkagum-kagum. Bahkan ada yang secara terang-terangan meminta nomor teleponnya. Tapi Arga tak menggubris itu semua. Ia tetap fokus berjalan tanpa menghiraukan tatapan lapar para gadis tersebut.
"Woi bos, kesini lagi lo?" ucap Tio saat melihat bosnya.
Arga mengangguk. "Kopi kayak biasa ya, Yo" pintanya.
Tio mengacungkan jempolnya. "Siap bos."
Setelah pesanannya datang, Arga langsung meminum kopinya.
Tak berselang lama, badannya terasa panas, “bgst” umpatnya.
Arga buru-buru keluar dari kafe menuju mobilnya. Dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan mulut yang masih mengumpat kesal.
Setelah sampai di rumah, Arga langsung mengetuk pintu dengan keras.
"SHA BUKA" teriaknya.
"BENTAR" teriak Nare dari dalam.
Saat di depan pintu Nare menatap suaminya bingung. "Pak Arga kenap- hmmpt"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Arga sudah melumat bibir Nare dengan rakus dan langsung mendorongnya ke dalam rumah. Tidak lupa untuk menutup dan mengunci pintu.
"Saya minta hak saya ya?" bisik Arga.
Nare hendak menolak, tapi omongan sang ibu mengingatkan dirinya.
"Kalau suami minta dilayani, kamu gak boleh nolak loh Re, dosa" ucapan Salsa terngiang-ngiang di pikirannya.
Nare akhirnya mengangguk mengiyakan. Tanpa pikir panjang, Arga langsung membawa Nare ke gendongannya dan membawa Nare berjalan menuju kamar. Arga sepenuhnya sadar saat melakukan hubungan tersebut bersama Nare. Meskipun sempat terpengaruh oleh obat terangsang, namun ternyata efeknya tidak berlangsung lama.
"Tahan Sha" bisik Arga.
Dilumatnya bibir Nare dengan lembut. Dan memulai permainan nya.
"Maaf" bisik Arga saat mendengar erangan Nare.
•••
Pagi ini Arga terbangun lebih dulu. Saat membuka mata, yang dilihatnya adalah wajah cantik milik istrinya. Kejadian semalam membuatnya tersenyum senang karena dirinya menjadi yang pertama memiliki Nare seutuhnya. Dan pasti dengan izin Allah akan menjadi yang terakhir. Semalam mereka menyelesaikan permainan nya hingga pukul 4 pagi. Saat itulah Nare mengeluh lelah dan Arga langsung menghentikan permainannya dan tertidur di samping Nare dengan memeluknya.
Arga masih belum ingin beranjak dari ranjang. Ditatapnya lama wajah istrinya. Dikecupnya kening Nare pelan agar tidak menggangu sang empu yang terlelap. Sekitar 15 menit Arga memandangi Nare yang tertidur. Hingga lenguhan Nare terdengar.
"Eunggh"
Saat Nare terbangun matanya langsung bertatapan dengan mata Arga. Terlihat semburat merah di pipinya saat mengingat kejadian semalam.
Nare berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Bapak, gak ke kantor?" tanyanya.
Arga mengecup sekilas bibir Nare. "Jangan panggil bapak lagi."
Nare terpaku akan perbuatan suaminya. "Ehm, terus panggil apa?"
Arga tersenyum penuh arti. "Panggil sayang" bisiknya.
Nare memukul pelan lengan Arga. "Awas ah mau mandi."
"Emang bisa jalannya?" tanya Arga dengan tersenyum geli.
Nare berdecak kesal. "Yaudah gendong" Nare merentangkan tangannya yang langsung disambut dengan senang hati oleh Arga.
Akhirnya mereka mandi bersama sekalian... emm itulah ya.
Setelah mandi mereka order sarapan karena Nare masih belum bisa berjalan normal.
"Nih, makan dulu" ucap Arga sambil menyerahkan makanan ke hadapan Nare yang saat ini sibuk dengan handphone nya.
"Iyaa" ucap Nare yang langsung meletakkan handphone nya.
Arga memicingkan matanya curiga. "Chattan sama siapa?"
"Yani" ucap Nare singkat.
Arga hanya menganggukkan kepalanya. Toh Roni tidak akan pernah bisa menghubungi istrinya lagi. Karena malam itu Arga bukan hanya menghapus pesan dari Roni, melainkan juga memblokir dan menghapus nomornya juga. Arga tersenyum penuh kemenangan saat kembali mengingat kejadian itu.
Nare yang melihat itu menatap heran. "Kenapa senyum-senyum?"
"Hah? oh enggak. Ayo makan lagi" ucap Arga bersikap seolah tidak memikirkan hal apapun.
Nare hanya mengangguk percaya.
"Mas"
Arga mendongak menatap Nare heran. "Mas?"
Nare mencebikkan bibirnya, "katanya jangan panggil bapak" kesal Nare.
Arga tersenyum geli. "Cie, mas-mas manggilnya" goda Arga.
"Tau ah males" ucap Nare merajuk.
"Bercanda sayang" ucap Arga.
Nare tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Sha, kamu beneran gak mau berhenti kerja?" tanya Arga dengan hati-hati.
Nare menggeleng. "Enggak, Mas" tolaknya secara halus tidak terbawa emosi seperti waktu itu.
"Nanti kalau gak kerja kan enak, Sha bisa santai di rumah" bujuk Arga.
Nare tetap menggeleng. "Aku pasti bakalan bosen" sahutnya tak mau kalah.
Arga menghela nafas pelan. "Gini deh, gimana kalau kamu ngurus kafe aja. Tapi dari rumah" Arga masih mencoba membujuk Nare.
Nare mengerutkan keningnya. "Kafe? kafe siapa?"
"Kafe punya aku, nanti aku ubah jadi punya kamu" bujuk Arga.
Nare diam dan mulai berfikir. "Nanti deh aku pertimbangin dulu."
Arga mengangguk kecil. "Aku cuma gamau kalau karyawan lain berfikir yang enggak-enggak ke kamu, Sha"
"Aku juga gak mau kamu dibilang dibedakan karena kamu istri aku sama karyawan yang lain" lanjutnya.
Nare hanya terdiam memikirkan apa yang dikatakan Arga. Memang benar beberapa hari ini banyak para karyawan dan staff yang menatapnya tidak mengenakan. Dan itu membuat Nare sedikit tidak nyaman oleh tatapan mata mereka. Banyak juga yang terang-terangan menyindir dirinya.