Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit, taksi yang ditumpangi Nare berhenti di depan rumah dengan pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi. Dengan segera Nare membayar ongkos taksi tersebut dan turun menuju rumah kediaman orang tuanya.
"ASSALAMUALAIKUM" teriak Nare saat memasuki rumah ibunya.
"Wa alaikumsalam, loh kamu kok kesini Re?" kejut Salsa.
Nare menyalimi tangan Salsa. "Mau ambil mobil bu" ucapnya.
"Gak sama suami kamu?" tanya Salsa.
Nare gelagapan bingung mau menjawab apa, "tadi lagi ada urusan dia" alibinya,
"Oh iya, Papah mana bu?" lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Belum pulang" jawab Salsa.
"Kamu mau langsung pulang apa gimana?" tanya Salsa.
Nare menyandarkan dirinya di sofa. "Nanti aja ah"
Salsa memukul pelan lengan Nare. "Kamu ini! kamu udah punya suami loh Re, bukan anak gadis lagi"
Kata siapa gue bukan gadis lagi? masih perawan gini, batin Nare.
"Nanti dulu ah bu, ntar abis maghrib aku pulang" ucap Nare.
Salsa menggelengkan kepalanya pelan. "Terserah kamu deh" ucapnya yang mulai jengah menghadapi Nare,
"Kamu udah makan?" lanjutnya
"Belum, tadi sarapan doang" ucap Nare sambil memainkan ponsel miliknya.
"Terus tadi makan siang, kamu gak makan?" tanya Salsa.
"Makan roti doang" ucap Nare santai.
Sangat berbeda dengan Salsa yang sebentar lagi akan murka.
"Kebiasaan kamu tuh! kamu ada maag loh Re. Gak inget dulu hampir operasi gara-gara kamu telat makan terus ha?!" omel Salsa.
Nare mengusap telinganya yang panas mendengar omelan ibunya.
"Astagfirullah bu, aku gak makan sekali gak bakal mati juga" ucap Nare.
Salsa langsung menampar pelan mulut Nare, “sembarangan kalua ngomong! umur gak ada yang tau Re,"
"Harusnya kamu tuh mencegah. Nanti kalo udah sakit aja baru tuh kelimpungan. Kayak dulu, ceunah mah gamau makan pedes lagi. Eh besoknya udah makan seblak lima kali sehari" lanjutnya panjang lebar.
"Makan sana, ibu udah masak." suruh Salsa.
"Asik, senangnya dalam hati” Nare berjalan menuju dapur seraya berjoget-joget ringan.
"Cocok kamu joget-joget gitu kayak biduan" celetuk Salsa.
Nare menatap ibunya tajam, “dih. Enak aja!” ujar Nare tak terima.
"Udah makan. Abis itu bawain suami kamu sana" ucap Salsa.
Nare hanya diam sambil menikmati makanan nya.
"Assalamualaikum, loh ada anak Papa yang paling cantik nih" ujar Aidan saat memasuki rumah melihat Nare duduk di depan televisi.
"Wa alaikumsalam, baru pulang Pah?" tanya Nare setelah menyalimi Aidan.
"Iyaa, ibu kamu mana?"
"Di kamar tadi pamit mau mandi" jelas Nare.
Aidan mengacak pelan surai rambut putrinya. "Yaudah ayah ke kamar dulu ya" pamitnya
"He’em"
Nare lanjut menonton televisi yang menampilkan sinetron dimana suami selingkuh saat istrinya sedang merajuk. Seketika ia teringat akan dirinya yang masih marah dan melarikan diri dari Arga. Karena takut Arga selingkuh, Nare buru-buru mengambil tasnya dan makanan yang sudah ia siapkan untuk Arga. Setelah berpamitan kepada orang tuanya, Nare segera menancap gas menuju rumahnya.
•••
Saat sampai di rumah Nare tidak melihat tanda-tanda kemunculan suaminya.
"Kemana tuh orang" gumam Nare.
Ia langsung melangkah ke kamar untuk membersihkan diri.
Sudah setengah jam lebih ia menunggu suaminya pulang, tapi bahkan suara bel rumah belum berbunyi saat itu juga.
Nare berdecak kesal. "Ck, kemana sih?"
"Lagian ribet nyuruh-nyuruh berhenti kerja segala, jadi kayak gini kan." Gerutu Nare.
Nare memutuskan untuk memainkan handphone miliknya. Hingga sesaat ia menyadari sesuatu.
"Kayaknya pembalut gue habis deh, bulan ini udah mau tanggalnya. Beli dulu deh" gumam Nare.
Ia langsung bersiap mengambil kunci mobil dan menuju supermarket terdekat.
Sesampainya di Supermarket, Nare segera mengambil troli dan membeli belanjaan secukupnya saja.
"Lah kok banyak banget?" gumam Nare saat sadar melihat belanjaannya.
Memang tadi Nare hanya berniat membeli pembalut dan beberapa cemilan saja, tapi ia teringat bahwa kulkas dirumah belum lengkap semua isinya.
Saat hendak bayar menuju kasir, ada seseorang memanggilnya. "Nare?"
Nare menatap orang itu bingung. "Lo Nare kan? Naresha?" ucap orang tersebut.
Nare mengerutkan keningnya. "Lo Ro-roni bukan?"
Pria itu mengangguk. "Iya gue Roni, lo kemana aja?"
"Heh!, lo yang kemana aja?! kok jadi gue" sahut Nare tak terima.
"Gue ada, Re" ucap Roni tersenyum lembut.
"Semenjak lulus SMA lo ngilang gitu aja anjir" ucap Nare.
Roni terkekeh pelan. "Gue lanjut di Kalimantan. Oh iya si Gita apa kabar?"
"Alhamdulilah dia baik, udah punya anak sekarang" ucap Nare.
"Ohh gitu, lo belum punya anak?" ucap Roni
Baru hendak menjawab pertanyaan Roni. Seseorang memanggilnya dengan nada yang begitu tajam.
"NARESHA" tekan Arga.
"Ngapain kamu disini?" tanya Arga dengan dingin.
"Loh, kok ba-, kamu kok disini?"
"Gak usah balik tanya, ayo pulang" ucap Arga dengan mencekal pergelangan tangan Nare.
Nare dengan cepat menghempaskan tangannya agar cekalan itu terlepas.
"Belom bayar" ketusnya.
Akhirnya Arga mengalah dan membiarkan Nare membayar belanjaannya. Roni yang masih berada disana menatap keduanya bingung. Sebenarnya siapa pria di samping Nare itu? Batinnya bertanya-tanya.
Selesai membayar, Nare menghampiri Roni sebentar untuk berpamitan dan berpelukkan untuk tanda pertemuan setelah sekian tahun.
"Gue duluan ya nanti kalo ada acara reuni, lo harus ikut ya" ucap Nare.
"Iyaa, hati-hati Re" ucap Roni
Arga yang jengah melihat mereka, berdecak kesal. "Ayo buruan"
Nare menatap suaminya sinis. "Sabar kali."
Arga jalan terlebih dahulu dengan tangan membawa belanjaan istrinya, dan diikuti Nare dibelakang nya.
"Saya bawa mobil" ucap Nare.
"Ikut sama saya, mobil kamu nanti di ambil sama orang" ucap Arga.
Nare mengangguk mengiyakan saja, daripada berantem lagi perkara mobil kan galucu.
•••
Setelah sampai di rumah, Nare langsung membereskan belanjaannya. Ia tata di kulkas dan di rak-rak dapur.
"Makan dulu pak" ucap Nare saat melihat Arga.
"Saya udah makan" ucap Arga dingin dan mulai melanjutkan langkahnya.
Arga menghentikan langkahnya sebentar. "Kalau mau selingkuh jangan yang deket-deket sini, yang jauh sekalian,"
"nggak enak kan kalau ketangkap basah kayak tadi?" sinisnya.
"Saya gak selingkuh!" sahut Nare tak terima.
Arga mengedikkan bahunya. Lalu berjalan melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Nare menatap sendu makanan yang sudah dibuat oleh ibunya. "Gak kemakan deh"
Akhirnya Nare memutuskan untuk membungkus semua makanan di meja menggunakan rantang, dan ia kasihkan ke satpam depan.
Setelah kembali dari pos satpam depan, Nare berjalan memasuki rumah. Terlihat Arga sedang menonton televisi di ruang tengah. Nare memutuskan untuk tidak peduli dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
Selesai sholat Isya dan menggunakan rangkaian skincare miliknya, Nare merebahkan dirinya di kasur dan memejamkan matanya dan terlelap ke alam mimpi. Dirinya lelah. Fisik, hati, dan otaknya lelah.
Tak lama Arga memasuki kamar dan melihat istrinya sudah terlelap lebih dulu. Dihampirinya Nare, dan dikecup keningnya. Suara notifikasi handphone Nare mengalihkan pandangannya. Karena penasaran, akhirnya Arga memutuskan untuk melihat handphone istrinya itu.
Unknown
Save yaa Re, ini gue Roni
Isi pesan tersebut membuat Arga mencengkram ponsel milik Nare. Tanpa banyak kata, Arga langsung membuka pesan tersebut dan menghapusnya. Tak ambil pusing, Arga memutuskan untuk tidur membelakangi Nare.
•••
Pagi ini Nare terbangun tanpa siapapun di sampingnya. Diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Masa iya udah berangkat?" gumam Nare.
Tak ambil pusing, Nare langsung bangun untuk mandi dan bersiap untuk ke kantor.
"Loh Re, kok gak sama pak bos?" Tanya Yani saat melihat Nare yang turun dari mobil sendiri.
"Gue mandiri ya, sorry-sorry aja nih" sinis Nare.
Yani memicingkan matanya. "Lagi berantem?"
"Ck, apaansih lo dari kemarin nanya gituan mulu. ENGGAK" ucap Nare dengan menekankan kata 'enggak'
Yani terkekeh pelan. "Santai sih buk,"
"Yaudah ayo masuk" lanjutnya.
Mereka masuk ke dalam kantor berdampingan. Sesekali bercanda dan membicarakan hal-hal yang tidak penting.
"Jadwal saya apa hari ini?" tanya Arga yang duduk di bangku kebesaran nya. Dengan Nare yang berdiri dihadapannya.
"Nanti jam 10 akan ada meeting sama perusahaan abdi jaya pak." ucap Nare yang membuka lembaran demi lembaran agenda sang Bos,
"Setelah makan siang, kita ketemu klien yang kemarin bapak janjikan untuk bekerja sama." lanjutnya.
Arga mengangguk kan kelapanya. "Udah kan? kamu boleh keluar sekarang."
Ucapan Arga membuat Nare tak bergeming sebentar. Apakah suaminya itu masih marah? Tanpa banyak kata lagi akhirnya Nare memutuskan untuk keluar dari ruangan bos nya serta suami nya itu.
"Kalau gitu saya permisi pak" pamit Nare.
Arga hanya mengangguk dan bergumam pelan.
"Re, ntar mau ketemu Gita gak?" tanya Yani berbisik.
Nare berpikir sejenak. "Boleh deh, ayok,"
"Kita kerumahnya aja gimana?" lanjutnya.
"Ada lakinya gak? kalo ada males gue, sungkan anjir" ucap Yani.
"Coba nanti telpon dia pas istirahat" Ucap Nare memberi saran.
Yani mengacungkan jempolnya pertanda setuju dengan saran Nare.