Kini Nare sedang memasak untuk makan malam. Sedangkan Arga hanya duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Sejak para orang tua pulang tadi mereka disibukkan dengan menata barang-barang dan membersihkan rumah.
"PAK AYO MAKAN DULU" teriak Nare ketika masakannya sudah siap.
Arga langsung berdiri berjalan menuju dapur. "Masak ini doang?"
Nare menatap sinis ke arah Arga. "Gimana mau masak banyak, bahan-bahan aja gak ada"
"Iyaa besok belanja" ucap Arga.
"Mau pakai apa?" tanya Nare yang sudah bersiap mengambilkan makan untuk Arga.
"Ayam sama sayurnya, sama tempe juga deh Sha" ucap Arga
Nare langsung mengambilkan dan menyerahkan nya kepada Arga. Setelahnya baru dirinya mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka makan dalam keheningan. Memang Arga kurang suka jika makan sambil berbicara. Sedangkan Nare, ia kehabisan topik.
"Saya aja yang nyuci piringnya Sha, kamu kan udah masak sama beresin" ucap Arga ketika mereka sudah selesai makan.
"Uuuu suami idaman banget deh" ucap Nare sambil mencubit kedua pipi Arga.
Arga mendengus kesal. "Ck, ntar melar" ketusnya.
Nare memicingkan matanya. "Dih mana ada, lebay banget" cibirnya.
"Ntar jadi kayak kamu" ledek Arga.
"Males ah pipi shaming, udah sono katanya mau nyupir" rajuk Nare.
Arga mengerutkan keningnya bingung. "Nyupir?"
"Nyuci piring" ucap Nare dengan cengirannya.
"Dasar, udah sana tunggu saya di kamar" perintah Arga
Nare langsung berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
•••
Saat Arga memasuki kamar, yang dilihatnya adalah Nare yang sedang berdiri di depan kaca rias nya sambil mencoba untuk membuat eyeliner.
"Ngapain kamu?" tanya Arga
Nare berdecak kesal. "Ck, diem dulu pak, nanti eyeliner saya miring nih."
"Kamu ngapain dandan malem-malem?" heran .
Nare menyengir hingga menampilkan deretan gigi rapih miliknya. "Buat foto.”
Arga menggelengkan kepalanya pelan. "Ada-ada aja kamu,"
"Sini saya mau ngomong serius" lanjutnya.
"Ngomong apa?" tanya Nare yang masih sibuk dengan eyeliner nya.
"Kalo ada orang ngomong lihat orangnya" tekan Arga.
Merasa Arga sedang dalam mode seriusnya, Nare langsung berjalan menghampiri Arga dan melupakan niatnya untuk berfoto ria.
"Maaf, bapak mau ngomong apa?" ucap Nare.
"Sini duduk" ucap Arga seraya menepuk pelan lapak kosong di sampingnya.
"Ada apa sih? kok kayak serius banget?" heran Nare.
Arga menghela nafas pelan. "Kamu kalau saya suruh berhenti kerja, mau?"
Nare mengerutkan keningnya. "Kenapa saya harus berhenti?" ucapnya dengan dingin.
"Ya karena kamu sudah punya suami, Sha" jelas Arga.
"Emang kalau punya suami harus berhenti kerja? enggak kan?" ucap Nare.
"Banyak pak teman-teman saya yang kerja di kantor bapak juga. Dan mereka rata-rata udah punya suami"
"Tapi apa? mereka tetap kerja" ucap Nare panjang lebar.
"Itu karena suami mereka gak bisa nyukupin mereka Sha" ucap Arga yang masih mencoba sabar menahan emosinya.
Nare tertawa kecut. "Ohh jadi maksud bapak wanita karir kayak kita, itu karena ga di cukupin sama suaminya?"
"Bukan ga di cukupin, tapi emang mereka udah terbiasa mandiri" lanjutnya.
"Saya tetep mau kerja besok, dan saya mohon kita di kantor pura-pura gak kenal aja" ketus Nare.
"Terserah" ucap Arga yang mulai melangkah kaki keluar kamar.
Brakk
Arga membanting pintu dengan kencang. Membuat Nare terkejut karena kemarahan suaminya. Ia tahu jika seharusnya seorang istri menuruti ucapan suami. Namun ia sudah kerja selama bertahun-tahun dan itu tidak mudah untuk dilepasnya. Baginya pekerjaan adalah temannya. Jika ia merasa kesepian, ia akan bekerja agar merasa punya teman.
Menghela nafas gusar, akhirnya Nare merebahkan dirinya ke kasur dan mulai memejamkan matanya menuju ke alam mimpi. Sampai lupa menghapus sisa makeup dan eyeliner nya karena pertengkaran tadi.
Di lain tempat, Arga berada di kafe miliknya. Menyesap kopi perlahan merilekskan pikirannya.
Tepukan di bahunya, membuat Arga menoleh.
"Eh boss, tumben kesini" ucap Tio karyawan sekaligus teman Arga.
"Biasa, bosen di rumah" ucap Arga singkat.
"Kan udah nikah , masa iya bosen sih Bos?" tanya Tio.
"Ya emang kalo udah nikah gak boleh bosen?" sinis Arga.
Tio mengangguk-anggukan kepalanya. "Istri lo kok ga diajak?"
"Tidur orangnya" ucap Arga berbohong.
"Kecapekan ya?" ucap Tio dengan tersenyum penuh arti.
Arga tertawa kecil. "Apasih lo, makanya nikah" ejeknya.
"Yee, ntar gue sebar undangan kaget lo" ketus Tio
Mereka lanjut mengobrol dari hal-hal yang penting sampai yang tidak penting pun ikut dibahas. Hingga tak terasa malam semakin larut.
•••
Pagi telah tiba. Saat membuka mata, yang Nare lihat bukanlah wajah suaminya. Melainkan punggung suaminya. Ia bangun dan membersihkan diri dan menuju ke lantai bawah untuk membuat sarapan.
Membutuhkan waktu 20 menit untuk membuat sarapan dengan menu nasi goreng untuk pagi ini. Dilihatnya Arga yang sudah rapih dengan jas kerja nya seperti biasa.
"Makan dulu pak" ucap Nare.
Arga mengambil air putih, dan langsung berlalu begitu saja.
Nare yang melihat itu merasakan sesak di dadanya. Ia bangun dan membuat sarapan secepat mungkin agar tidak kesiangan, tapi suaminya malah pergi begitu saja tanpa sarapan. Berakhirlah Nare sarapan sendiri dengan keheningan.
Dilihatnya sudah pukul setengah tujuh, dirinya langsung membersihkam meja makan. Tak lupa membuang sepiring nasi goreng yang tadi telah disiapkannya untuk Arga. Setelah dirasa siap, ia pergi ke kantor menggunakan taksi karena mobilnya belum di antar oleh orang rumah. Rencananya ia akan mengambilnya sendiri sepulang dari kantor nanti.
•••
"Asek, pengantin baru udah masuk kerja aja nih" ledek Yani saat Nare baru tiba di kantor.
"Apaan sih lo" ketus Nare.
"Eh ada bu boss nih" ucap karyawan yang lainnya.
"Apaan sih kalian ini" ucap Nare menyembunyikan rasa kesalnya.
"Gak pa-pa kali Re, santai. Mereka emang begitu. Dulu pas aku baru nikah juga mereka begitu" ucap rekan kerjanya yang lebih tua darinya.
Nare mengangguk canggung. "Iyaa mbak emang pada rese mulutnya"
"Gimana Re?" tanya Yani tersenyum penuh arti.
"Gimana apanya?" bingung Nare.
Yani berdecak pelan. "Ck, gausah pura-pura polos deh, yang udah gak polos"
"Aneh lo" ketus Nare.
"Malam pertama lo gimana?" ucap Yani berbisik.
"Astagfirullah Yan, tobat yan itu privasi" pekik Nare.
"Sst, berisik lo. Di omelin ntar sama laki lo" ucap Yani berbisik
Nare langsung meminta maaf kepada karyawan lainnya yang tadi menatapnya.
"Nare, tadi kamu di panggil si bos tuh" Ucap karyawan yang lewat meja Nare.
"Ohh iya makasih yaa" ucap Nare.
Nare berdiri dari tempatnya. "Gue ke si bos dulu ya" pamitnya pada Yani.
Yani tersenyum geli. "Hati-hati loh Re, ntar malah bablas di ruangan si bos"
Nare membelalakkan matanya. "Lambemu"
Nare langsung berjalan cepat menuju ruangan Arga. Meninggal Yani yang masih tertawa di tempatnya.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi pak" ucap Nare dari luar.
"MASUK" teriak Arga dari dalam.
Setelah diberi izin untuk masuk, Nare langsung melangkahkan kakinya menuju tempat suaminya berada.
"Ada apa ya pak manggil saya?" tanya Nare bersikap profesional.
"Ini dokumen yang kamu kirim ke saya minggu lalu, ada kesalahan"
Ucap Arga dengan melemparkan kertas berisi dokumen itu kepada Nare.
"Kesalahan di mananya ya pak?" ucap Nare sesabar mungkin.
Arga mengerutkan keningnya. "Kok kamu tanya saya? periksa sendiri. Introspeksi kesalahan kamu dimana" sinisnya.
"Tapi saya ga akan ngerti kalau bapak ga ngomong kesalahan saya dimana" ucap Nare.
"Gaak becus" ketus Arga
"Kalau mau kerja yang becus, kalau gak niat mending gak usah" lanjutnya sarkas.
"Maaf pak" ucap Nare dengan menunduk.
Dirinya sadar bahwa Arga sedang menyindirnya dengan pembahasan soal semalam.
"Keluar kamu" perintah Arga
"Iyaa pak, permisi" pamit Nare yang langsung melangkah keluar.
•••
Seharian ini Nare kurang fokus bekerja. Setelah kejadian pagi tadi, dirinya bekerja sambil melamun.
Bahkan Yani yang sedang bercerita pun tidak ia dengarkan dengan seksama.
"Re, lo ada masalah ya?" tanya Yani.
"Hah? enggak ah, kenapa emang?" ucap Nare.
"Lo ngelamun terus dari tadi" ucap Yani
"Gak papa kok, gue emang kurang enak badan aja" alibi Nare.
"Ohh yaudah, gue kira lo kenapa" ucap Yani
"Kenapa gak minta izin pulang aja sama pak bos?" lanjutnya
Nare menggeleng. "Gak bisa gitu dong Yan, meskipun gue sekarang istrinya dia gue harus adil sama para karyawan disini"
"Lagian gue juga gak papa kok, gausah lebay deh" lanjutnya.
Yani mengangguk pasrah. "Yaudah deh terserah lo"
Mereka kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Tak terasa sudah jam pulang kerja. Nare berdiri bergegas untuk pulang. Sengaja ia percepat kerjaannya tadi.
Agar tidak berpaspasan dengan Arga. Dirinya masih dendam dan sakit hati kepada laki-laki yang menjadi suaminya itu.
"Buru-buru banget Re?" tanya Yani.
Nare gelagapan seketika. "Gue belom masak buat nanti" alibinya.
"Emmm iya deh yang udah jadi istri" goda Yani.
"Berisik lo, gue duluan yaa" pamit Nare.
"Hati-hati" teriak Yani.
Nare pulang dengan menggunakan taksi dan menuju rumah orang tuanya untuk mampir dan mengambil mobil miliknya.