Sudah sekitar satu jam kaduanya membereskan kamar, tidak. Lebih tepatnya Arga yang membereskan. Sedangkan Nare hanya duduk di sofa yang berada di kamar ini dengan memperhatikan Arga yang sedang membereskan semuanya. Sesekali juga ia ikut membantu, karena Arga tak tahu tata letak dari kamar ini.
"Sha ini taro dimana?" tanya Arga.
"Sha" merasa tidak ada sahutan dari sang istri Arga menolehkan kepalanya. Terlihat Nare tertidur di sofa karena kelelahan. Merasa tak tega melihat istrinya, Arga langsung membawa Nare ke gendongannya dan diletakkan nya tubuh Nare ke atas kasur.
Dikecupnya kening Nare pelan. "Maafin saya" ucapnya dengan pelan.
Akhirnya Arga membereskan sisanya sendirian. Tak peduli salah atau tidak yang penting rapi. Setelah dirasa sudah tertata dengan rapi, Arga merebahkan dirinya tepat di samping Nare. Dipeluknya tubuh Nare, dan menenggelamkan wajahnya tepat pada ceruk leher istrinya.
*****
Nare menggeliat dalam tidurnya saat merasakan deru nafas seseorang di ceruk lehernya.
"Pak" ucap Nare sambil menjauhkan kepala Arga.
"Bangun dulu berat nih pundak saya."
Arga mulai menjauhkan kepalanya tanpa membuka mata.
Saat melihat jam tak terasa sudah jam 1 siang. Nare bergegas untuk melaksanakan Sholat Dzuhur.
Selesai Sholat, Nare belum melihat pergerakan Arga akan bangung. Dengan masih memakai mukena, ia beranjak membangunkan Arga.
"Pak bangun dulu."
Arga hanya bergumam dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun sholat dulu."
Merasa geram Nare akhirnya mengambil sajadah dan mulai memukul Arga dengan sajadah tersebut.
"Ssh sakit Sha" keluh Arga.
"Bangun gak?!" ucap Nare sambil berkacak pinggang, persis seperti emak-emak yang mengomeli anaknya.
Arga akhirnya memaksakan duduk dan mulai membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya ia saat membuka mata, terlihat Nare dengan wajah marahnya dan masih menggunakan mukena.
"Emang sekarang jam berapa Sha, kok kamu sholat?" tanya Arga.
"Setengah dua" ketus Nare.
Arga hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dih malah ngangguk-ngangguk, dangdutan lo?" ketus Nare.
Arga menatap bingung Nare. "Terus ngapain?"
"Ya Sholat lah, sana sholat."
"Ntar dulu ah" ucap Arga yang membuat Nare naik pitam.
Saat hendak melayangkan pukulan dengan sajadahnya tadi, Arga sudah lebih dulu berdiri dan berlari ke kamar mandi.
"Laki kurang ajar" gumam Nare kesal.
•••
"Sha kebawah yuk" ajak Arga setelah selesai sholat dan masih menggunakan sarung.
"Itu sarung nya gamau ganti dulu?" Tanya Nare yang masih asik memainkan i-pad nya.
"Gausah gini aja, ayok buruan"
Nare memicingkan matanya curiga. "Ngebet banget mau kebawah, mau liat siapa?"
"Ya emang kebawah harus liat siapa-siapa dulu" jawab Arga.
"Tetangga sebelah janda" celetuk Nare.
Arga membulatkan matanya kaget. "Astagfirullah Sha, su'udzon banget kamu sama suami"
"Ya lagian tiba-tiba banget, yaudah ayo"
Bukannya melanjutkan langkahnya, Arga malah mendudukkan dirinya ke kasur. "Gak jadi udah pergi"
"Siapa yang pergi?" tanya Nare mengerutkan keningnya.
"OOH JANDA NYA UDAH PERGI MAKSUDNYA?!" lanjutnya.
Arta mengernyit tak mengerti. "Kamu kenapa Sha?"
"Pak Arga bener-bener ya! baru juga dua hari nikah udah mau poligami aja!" ucap Nare dramatis.
"Astagfirullah kamu kenapa sih, Sha" heran Arga.
"Bapak mau poligami kan?! ngaku?!" sentak Nare.
"Engga, saya gak mau poligami. Beneran deh" ucap Arga meyakinkan dengan menampilkan jari telunjuk dan tengahnya menjadi huruf V.
"Yang bener?" tanya Nare.
"Bener" jawab Arga meyakinkan Nare.
"Terus tadi yang pergi siapa? bukan janda yang tetangga sebelah?"
"Bukan."
"Terus siapa?" tanya Nare mendesak Arga.
"Tukang cilok, tadi saya mau beli cilok makanya ajak kamu kebawah cepet-cepet. Eh udah keburu pergi."
"Yaudah ayok kebawah" ajak Nare.
"Engga ah, ciloknya udah pergi."
"Ada di taman komplek biasanya mangkal disitu" ucap Nare.
"Yaudah ayo."
"Pake sarung?" tanya Nare ragu.
"Iyaa udah gini aja kalo ganti lagi kelamaan"
"Mau kemana Re?" tanya Salsa saat melihat anak dan menantunya turun dari tangga bersamaan.
"Beli cilok bu" jawab Nare.
"Sekalian beliin tepung Re, di mang ucok"
"Disitu kan banyak ibu-ibu gossip, bu" ucap Nare.
"Ya terus kenapa? kamu mau ikut gosip?" tanya Salsa.
"Enggak lah, aku males aja kalo ditanya-tanya."
"Hust gak boleh gitu, gitu-gitu juga tetangga Re" ucap Salsa mengingatkan.
"Iya-iya yaudah aku berangkat"
"Hati-hati Re, Ar"
•••
"Bang ciloknya sepuluh ribu jadiin empat ya" ucap Nare kepada pedagang cilok tersebut.
"Bayar pak" ucap Nare kepada Arga setelah cilok nya jadi.
"Jangan lupa pesenan ibu Sha" Arga mengingatkan
"Iyaa gak lupa"
Setelahnya mereka berjalan menuju warung yang berada di depan komplek perumahan Nare.
"Mang ucok, beli tepung terigu dong" ujar Nare.
"Berapa neng?" tanya Mang ucok.
"Sekilo aja mang"
"Ini teh suaminya neng?" tanya Mang Ucok.
"Iyaa mang"
"Kasep pisan euy" puji Mang ucok..
"Iyaa dong kalo gak kasep mah saya gamau atuh" ucap Nare.
"Eh, Nare baru keluar kemana aja?" tanya ibu-ibu.
"Iyaa bu, ada dirumah" jawab Nare dengan senyum terpaksa.
"Duh iya pengantin baru mah betah di rumah ya" ucap ibu-ibu itu lagi.
"Tapi kok keliatan nya kamu gak akur ya Re sama suami kamu?" tanya ibu-ibu yang satu nya lagi.
"Kata siapa sih bu? Akur kok. Buktinya suami saya mau nemenin saya, padahal Cuma ke sini doang” sinis Nare.
"Keliatan loh Re dari muka suamimu."
Nare melirik ke arah Arga sekilas. "Dia emang mukanya begitu kok, bu."
"Neng Rere ini tepungnya neng" ucap mang ucok sambil memberikan tepung yang sudah dibungkus.
"Ohh iya jadi berapa mang?"
"Sepuluh ribu neng"
Nare langsung memberikan uangnya. "Nih mang, makasih yaa mang."
"Sama-sama neng."
Arga yang melihat Nare sudah selesai membayar langsung menggenggam tangan Nare.
"Sayang, udahan kan? ayo pulang aku mau makan cilok" ucap Arga sambil melirik sinis ke ibu-ibu tukang gosip tersebut.
"Iyaa ayo pulang, duluan ya ibu-ibu" pamit Nare.
•••
"Assalamualaikum" ucap Arga dan Nare ketika sampai di rumah.
"Wa alaikumsalam" Aidan dan Salsa yang sedang duduk di depan televisi menjawab salam mereka.
"Mana terigunya Re?" ujar Salsa menagih.
"Nih bu, mau bikin apa emang bu?" tanya Nare.
"Bolu, buat besok ibu-ibu arisan"
Nare mengangguk-anggukan kepalanya. "Ohh iya nih tadi Nare beli cilok."
"Tau nggak sih bu?, tadi ibu-ibu komplek ngeselin banget" ucap Nare sambil membuka ciloknya.
"Kenapa emang Re?" tanya Papa
"Masa aku dikira gak akur sama suami aku Pah" Ucap Nare mengadu pada ayahnya.
"Biarin aja, udah makan" ucap Salsa.
"Tetep aja aku kesel, seenaknya banget kalo ngomong" cibir Nare
"Udah, makan" kali ini Arga yang angkat bicara mau tak mau Nare memberhentikan ucapannya.
"Ibu-ibu yang siapa sih emang Re?" tanya Salsa mulai kepo.
"Itu loh bu, bu Puput sama bu Santi"
"Ohh dia mah emang begitu Re, kalo di arisan aja ada aja yang diomongin sama dia" ucap Salsa.
"Ibu jangan bergaul sama dia deh, ntar ketularan lagi" ucap Nare.
"Enggak, ibu mah bergaulnya sama mama Wina, tante Intan, pokoknya yang sosialita deh" ucap Salsa.
"Nah bagus tuh aku dukung ibu temenan sama yang sosialita, jangan sama yang tukang gosip. Ntar cepet tua" ucap Nare mengompori.
Arga dan Aidan hanya mendengarkan acara pergibahan ini. Sesekali menggelengkan kepalanya melihat para istrinya.
•••
"Pak, ini tehnya" ucap Nare sambil meletakkan teh di atas meja.
Arga memicingkan matanya. "Tumben, ada maunya pasti"
Nare membelalakkan matanya. "Astagfirullah, dosa banget su'udzon sama istri sendiri."
"Biasanya kan kamu gitu" ucap Arga mengedikkan bahunya acuh.
"Berisik, udah minum" ketus Nare.
"Barang-barang kamu apa lagi yang mau di bawa Re, biar besok gak ada yang ketinggalan" ucap Arga.
"Udahan semua kok, emang kita pindah ke rumah siapa pak? rumah Mama?" tanya Nare.
"Bukan, emang kamu mau tinggal sama mertua?" ucap Arga.
"Ya saya mah mau-mau aja"
"Ke rumah kita, Sha pindahnya" ucap Arga
Nare hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Udah tidur sana" suruh Arga.
"Bapak gak tidur?" tanya Nare.
Arga memicingkan matanya curiga. "Mau banget tidur sama saya?"
Nare mencibirkan bibirnya. "Tau ah males."
Akhirnya Arga membaringkan tubuhnya dengan lengan yang dibiarkan telentang agar Nare bisa tidur di lengannya.
"Sini, tidur sama saya" ucap Arga.
"Dih lagu lu pede cakep kali lu" cibir Nare.
"Gamau? banyak loh Sha yang mau tidur sama saya, kamu saya kasih gratis ini" ucap Arga meledek Nare.
"Dih bodo amat" ucap Nare yang mulai membaringkan tubuhnya di samping Arga dan memunggungi suaminya.
Arga menarik bahu Nare agar menghadap ke arahnya. "Gak baik loh Sha munggungi suami.”
"Habisnya ngeselin"
"Iyaa gak ngeselin, udah sini" ucap Arga dan mulai menarik Nare ke dekapannya.
"Nyaman kan Sha?" lanjutnya
Dalam dekapan Arga Nare mengangguk malu-malu menanggapi omongan suaminya. Yang membuat Arga tersenyum geli.
•••
Pagi-pagi sekali Arga dan Nare disibukkan dengan persiapan kepindahan mereka. Bukan hanya Nare dan Arga yang sibuk, Salsa dan Aidan pun sama sibuknya membantu keduanya.
"Ini bener udah gak ada yang ketinggalan lagi Sha?" tanya Arga dengan tangan yang siap membawa koper milik Nare.
Nare yang sedang memakai skincare nya menoleh sebentar. "Iyaa udahan kok" ucapnya.
Mendengar jawaban Nare, Arga langsung membawa koper itu kebawah. Setelah selesai memakai rangkaian skincare nya, Nare langsung ikut turun ke bawah menyusl Arga dengan membawa satu koper kecil.
"Loh kok kamu yang bawa?" tanya Arga yang pas-pasan dengan Nare di tangga.
"Udah gak pa-pa saya aja yang bawa, bapak pasti capek" ucap Nare.
"Loh, kalian kenapa malah pacaran di tangga? ayo sini makan dulu sebelum berangkat" ucap Salsa.
"Dih iri aja orang tua" cibir Nare.
"Gak boleh gitu" tegur Arga.
Nare mencebikkan bibirnya. "Orang bercanda doang" ucapnya dan langsung meninggalkan Arga menuju dapur.
"Baperan banget bini gue" gumam Arga pelan.
•••
"Jadi kalian berangkat kapan?" tanya Aidan di sela-sela makan mereka.
"Sekarang lah masa taun depan" ketus Nare.
"Sha" tegur Arga,
"Sekarang Pa" lanjutnya.
"Yaudah nanti biar Papa bantu" ucap Aidan,
"Kamu jangan nakal yaa, Re" lanjutnya.
"Emang aku anak kecil" cibir Nare.
Salsa yang melihat pertengkaran antra ayah dan anak itu hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya itu cara mereka mendekatkan diri. Nare juga sebenarnya sayang sekali dengan ayahnya, namun hanya ketutup gengsi.
"Mau langsung berangkat Sha?" tanya Arga ketika mereka sudah selesai makan.
Nare menganggukkan kepalanya. "Iyaa Ayo langsung aja."
"Ibu sama Papa ikut anter kalian ya?" Ucap Salsa.
"Kalo gak ngerepotin Ibu sama Papa sih gak pa-pa" ucap Nare.
Aidan mengulurkan tangannya mengusap kepala Nare. "Gak ada yang repot nak."
"Yaudah ayo ntar keburu siang" ucap Nare.
Mereka memasuki mobil masing-masing. Arga dengan Nare, dan Salsa dengan Aidan. Perihal mobil Nare nanti akan diantar ke rumah Arga menggunakan supir.
•••
"Ini kita ke rumah Mama pak?" tanya Nare memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Enggak, nanti Mama nunggu di rumah kita" ucap Arga.
Nare menganggukkan kepalanya seraya beroh ria.
"Mau permen?" tanya Nare menawarkan permen yang ia selalu bawa kepada Arga.
"Mau"
Nare langsung menyerahkan satu buah permen. "Nih."
Arga melirik permen itu sekilas. "Bukain."
Nare langsung membukanya dan menyerahkan kepada Arga kembali.
"Suapin" suruh Arga.
Nare awalnya ragu, namun tetap menyuapkan permen itu ke mulut Arga.
Mampus jantung gue batin Nare.
"Biar apa sih ngasih permen? tumben" heran Arga.
"Biar gak ngantuk" ucap Nare singkat.
"Ooh"
Nare menyandarkan kepalanya. "Masih jauh pak?"
"Dikit lagi"
"Nanti kita berdua doang dong di rumah baru?" tanya Nare.
"Kata siapa?"
Nare mengernyitkan keningnya. "Lah, emang sama siapa lagi?" tanya Nare bingung.
"Sama anak-anak kita nanti" bisik Arga tepat di telinga Nare yang mampu membuat Nare terdiam kaku.
"Ayo, udah sampai" lanjutnya.
Nare langsung gelagapan. "Hah? oh udah sampe" gumam Nare pelan.
Nare langsung turun terlebih dahulu meninggalkan Arga yang tersenyum geli melihat tingkah laku istrinya.
"MAMAA" pekik Nare dan langsung menghampiri Mama mertuanya.
"Kangen" rengeknya.
"Mama juga kangen banget sama mantu Mama ini" ucap Wina yang berada di pelukan Nare.
"Ekhem" dehem Arga cukup keras.
"Kenapa kamu Ar?" tanya Mama heran.
Arga mendengus kesal. "Anak Mama aku apa Naresha sih" ketusnya.
Wina langsung memeluk anak satu-satunya itu dengan sayang. "Cemburu ya anak Mama?” ucapnya menggoda Arga.
"Masa cemburu sama istrinya sendiri" cibirnya.
Arga melepaskan pelukannya. "Udah ayo masuk dulu."
"Papa bantu ya Ar?" tawar Aidan.
"Iyaa Pa, maaf ngerepotin" ucap Arga tidak enak.
"Gak pa-pa"
Arga dan Aidan membawa koper dan barang-barang lainnya ke dalam rumah. Sedangkan para perempuan sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah.
•••
"Besar banget rumahnya" gumam Nare,
"Capek nyapu-nya ini mah" lanjutnya.
"Kenapa Re?" tanya Wina.
Nare menggelengkan kepalanya. "Ah, engga Ma gak pa-pa"
"Re bantuin suami kamu sana" ucap Salsa.
"Udah sama Papa" ucap Nare dengan santainya.
Salsa menghel nafas pelan. "Ya tetep aja bantuin, masa Papa masuk ke kamar kalian?"
"Yaudah iya" pasrah Nare.
Nare mulai mendekati suaminya. "Ayo pak saya bantuin bawa ke kamar"
"Kamu ini aja nih, itu berat" ucap Arga menyerahkan kardus yang berukuran kecil kepada Nare.
"Ini kamar kita pak?" tanya Nare saat mereka telah sampai di kamar.
Arga mengangguk pelan. "Capek nggak?"
"Lumayan" ucap Nare membaringkan tubuhnya di kasur berukuran king size tersebut.
"Jangan tidur" ucap Arga mengingatkan.
Nare langsung bangun lagi dari rebahan nya. "Ayo turun. Papa, Ibu, sama Mama masih di bawah, gak enak kalo ditinggal" ujar Nare.
"Iyaa ayo"
Mereka turun ke bawah dan melihat para orang tua sedang berbincang ringan di sofa ruang keluarga.
"Sini Re duduk" ucap Wina menepuk tempat di sebelahnya yang kosong.
"Anak Mama sekarang mah" cibir Salsa.
"Biarin Wlee" Ledek Nare yang langsung memeluk Mama mertuanya.
Salsa mencebikkan bibirnya. "Awas kamu ya."
"Pada laper gak?" tanya Arga yang duduk di sebelah Nare.
Jadi gini, Nare duduk di sebelah Mama Wina, Arga duduk di sebelah Nare. Posisi Nare berada di tengah-tengah mereka.
"Laper" hanya Nare yang menjawab.
Semuanya terkikik geli. "Kamu mah emang laper terus Re" ucap Salsa.
"Sana pesan makan" perintah Arga.
"Bapak yang bayar ya?" tanya Nare.
"Iyaa, udah sana pake handphone kamu aja" ucap Arga.
Nare langsung memesan pizza untuk mereka semua. Karena pizza akan lebih enak jika di makan ramai-ramai.
"Rumahnya bagus Ar, kamu beli atau bikin ini?" tanya Aidan.
"Bikin Pah, udah dari setahun yang lalu, baru jadi bulan kemarin" jawab Arga.
Aidan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lebih besar dari rumah kita ini mah ya, bu?"
"Dua kali lipat Pah besarnya" ucap Salsa.
"Kenapa ga tinggal sama Mama aja pak?" tanya Nare.
Saat hendak menjawab, Wina lebih dulu menanggapi. "Aduh jangan dong, nanti Mama ganggu lagi. Apalagi kan kalian pengantin baru, masih hangat-hangatnya, iya nggak Sal?"
Salsa mengangguk. "Betul banget Win, dulu juga aku pas pengantin baru sering keciduk sama Mama mertua."
"Nah daripada keciduk kan, mendingan tinggal sendiri. Bebass" ucap Wina meledek pasangan baru tersebut.
"Iyaa bener, kecuali kalo belum punya rumah sendiri ya Win, gak pa-pa deh tuh ikut orang tua. Dari pada sewa rumah sayang uangnya." ucap Salsa.
"Iyaa Alhamdulillah yaa Ar, Re kalian udah ada rumah sendiri biar ga sewa-sewa rumah" ucap Wina.
"Iyaa Alhamdulillah Ma" ucap Arga dan Nare.
"Lagian kan kalo tinggal berdua jadi lebih fokus" ucap Salsa.
"Fokus ngapain Bu?" tanya Nare polos.
"Buat anak lah Re" ledek Salsa.
Nare terdiam dengan wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus. Mereka semua menertawakan sikap polos dan wajah Nare yang menurutnya sangat lucu.
Ting nong...
Suara bel pintu depan membuat mereka semua menghentikan tawanya.
"Kayaknya udah sampai tuh makanannya" ucap Aidan.
Nare langsung bersemangat. "Ayo pak kita ambil"
Arga mengernyit bingung. "Lah kok sama saya?"
"Kan yang bayar bapak" ucap Nare.
Arga merogoh saku celananya dan langsung menyerahkan dompetnya kepada Nare. "Nih kamu aja yang kedepan."
Nare memicingkan matanya. "Bilang aja mager"
Arga mengacak rambut Nare pelan. "Udah sana cepet, nanti abangnya nungguin" suruhnya.
Nare langsung bergegas mengambil makanannya.
"AYO MAKAN"
Ucap Nare begitu semangat sambil meletakkan lima box pizza di meja makan.
"Kok banyak banget?" tanya Aidan.”
Nare menyengir. "Buat stok Pah"
"Dasar" Aidan tertawa kecil melihat kelakuan putrinya.
"Udah ayo makan"
Mereka makan dengan sesekali mengobrol ringan. Dan tak lupa para orang tua yang tak henti-hentinya meledek pasutri tersebut.