Hari ini adalah hari kedua setelah pernikahan Nare dan Arga. Wina sudah kembali ke rumah nya, sedangkan Arga memutuskan untuk tinggal di rumah Nare terlebih dahulu karena takut Nare menjadi tidak nyaman jika langsung di ajak pindah ke rumahnya.
Saat ini Nare berada di dapur untuk membantu ibunya memasak untuk makan malam.
"Suami kamu dimana Re?" tanya Salsa.
"Di kamar tadi pamit mau mandi" ucap Nare yang sebenarnya tidak tahu Arga dimana.
"Panggilin atuh Re, kan mau makan malam" ucap Salsa.
"Iyaa"
Nare langsung bergegas ke kamar memastikan apakah Arga ada di kamar atau tidak.
Ceklek
"Pak Arga" ucap Nare saat memasuki kamar.
Dilihatnya tidak ada siapa-siapa di kamar, di kamar mandi pun tidak ada. Ia langsung bergegas turun lagi. bisa gawat jika Salsa menemukan Arga duluan. Saat menuruni tangga, ia melihat Arga sudah duduk manis di depan Aidan. Sedangkan Salsa menatap tajam putrinya.
"ADUUU IBU SAKITT BU AMPUN" pekik Nare saat mendapar jeweran di telinganya.
"Lepasin bu, ada suaminya" lerai Aidan.
Salsa melepaskan jewerannya. "Kamu ini gimana hah?! orang Arga lagi di depan sama Papa, kamu bilang di kamar. Istri macem apa kamu suami dimana aja gak tau"
"Iya maaf"
Ucap Nare sembari duduk di samping Arga. Sejujurnya ucapan Salsa sedikit menohok baginya, tapi jika ia terbawa perasaan yang ada malah repot. Mereka makan malam dengan keheningan. Nare yang masih kepikiran dengan ucapan Salsa, memakan makanannya dengan malas. Arga yang melihat itu cukup peka dengan apa yang di pikirkan sang istri.
"Bu, Pa Arga mau izin buat pindah ke rumah baru" ucap Arga memecahkan keheningan.
Nare sedikit terkejut dengan penuturan Arga, namun berusaha biasa saja. Jika ibunya tahu bahwa ia tidak mengetahui rencana Arga yang ada malah di omelin seperti tadi dan berujung sakit hati sendiri.
Salsa terkejut bukan main saat mendengar penuturan Arga. "Kok buru-buru banget Ar, ga betah disini ya?"
"Enggak Bu bukan gitu, biar lebih leluasa aja sama Nare" ucap Arga cepat.
Salsa mengerlingkam matanya. "Ooh paham kok paham."
"Kapan mau pindah Ar?" tanya Aidan
Arga melirik Nare sebentar. "Insya Allah besok Pa."
"Yaudah, Nare kamu yang nurut sama suami yaa" ucap Aidan lembut.
Nare yang masih tidak mood hanya mengangguk kecil.
Tak lama Nare bangun dari duduknya. "Aku udahan, aku duluan ke atas ya" pamitnya.
"Heh, Re ini suami kamu ditinggal gitu aja?!" omel Salsa.
Tanpa mendengar ucapan Salsa, Nare terus berjalan menuju kamarnya.
•••
Arga memasuki kamar, dan melihat Nare sedang memasukkan baju-baju dan barang-barang ke koper.
"Baju saya udah, Sha?" tanya Arga
Nare hanya mengangguk kecil tanpa melihat ke arah Arga.
Arga menghela nafas pelan. "Kamu mau bawa semua barang yang ada disini?"
Nare tetap diam tanpa membalas ucapan Arga. Ia masih kepikiran dengan ucapan Salsa tadi. Apa benar Nare seburuk itu untuk menjadi istri? Pertanyaan itu terus-menerus memenuhi isi kepalanya.
"Disana udah ada barang-barangnya Sha, gausah bawa apa-apa kecuali baju" ucap Arga yang masih mencoba bersabar.
Merasa tak dihiraukan, Arga meraih tangan Nare sedikir kasar. "Kalau orang lagi ngomong, tatap orangnya. Bisa?” ujar Arga dengan dengan menekankan setiap ucapannya.
Nare hanya diam sambil melepaskan tangannya dengan pelan, dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar ini. Di kamar mandi Nare berdiam diri duduk di atas toilet duduk menatap kosong ke depan. Tanpa sadar air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Dengan cepat Nare mengusap air matanya kasar.
"Enggak gue gak boleh cengeng" gumamnya
Sedangkan Arga menatap pintu kamar mandi dengan khawatir. Saat hendak berjalan ke kamar mandi, Nare sudah lebih dulu keluar dan langsung merebahkan diri ke Kasur. Tanpa melakukan skincare routine nya setiap malam, Nare langsung tidur membelakangi Arga.
•••
Pagi-pagi sekali Arga bangun lebih dulu dari Nare. Dilihatnya wajah istrinya yang menghadap ke arahnya.
"Cantik" gumamnya tanpa sadar
Cup
Arga mengecup kening Nare dan langsung bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
"Sha, bangun dulu" ucap Arga sambil menepuk pelan pipi Nare.
Nare menggeliat dalam tidurnya dan mulai membuka matanya, pemandangan yang pertama dilihatnya adalah wajah Arga yang fresh dengan rambut acak-acakan yang membuat ketampanan nya bertambah berkali-kali lipat.
"Mandi dulu" ucap Arga menyadarkan Nare dari lamunannya.
Nare yang tersadar pun langsung gelagapan dan mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Arga yang melihat Nare hanya menggelengkan kepalanya.
•••
Sesudah mandi Nare langsung turun ke bawah untuk membantu Ibunya membuat sarapan.
"Suami kamu belum bangun Re?" tanya Salsa
"Udah" jawab Nare singkat.
"Terus dimana sekarang?"
"Masih di kamar" jawab Nare yang sebenarnya masih kesal dengan Salsa.
"Yang bener? Nanti salah lagi kayak kemaren" cibir Salsa.
Nare memutar bola matanya malas mendengar cibiran ibunya.
"Sha, liat sepatu saya gak?" tanya Arga yang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Tadi ia sempat terkejut saat tidak ada Nare di kamar. Memang tadi saat Nare keluar dari kamar tidak pamit kepada Arga, dan Arga yang terlalu fokus dengan laptopnya sampai tidak menyadari.
"Sepatu yang mana?" ucap Nare sambil mencicipi nasi gorengnya.
"Yang putih yang sneaker"
Nare langsung terdiam sebentar. "Perasaan bapak gak pernah bawa itu deh."
"Bawa, saya bawa kemaren masa gaada sih" ujar Arga yang masih tetap pada pendiriannya.
Nare yang kesal langsung mematikan kompor nya secara kasar.
"Aku ke kamar dulu ya bu, itu udah mateng nasi goreng nya" pamit Nare.
"Iyaa" ucap Salsa sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Sampa di kamar Nare segera membongkar lemari sepatu yang ada di kamar nya guna mencari sepatu putih milik Arga. Sedangkan Arga mondar-mandir tidak jelas.
Nare berdecak kesal. "Pak bantuin dong, ini kan yang perlu bapak sendiri!" ujar Nare yang mulai jengah melihat Arga yang hanya berjalan mondar-mandir.
"Saya lagi inget-inget Sha, kali aja saya lupa taro dimana" ujar Arga beralasan.
"Coba telfon mama deh, ini gaada dimana-mana sepatunya" ucap Nare.
Arga menuruti saran dari istrinya itu dan mulai menelfon Mama Wina. Sedangkan Nare masih sibuk mencari.
"Sha" panggil Arga pelan setelah memutus pembicaraannya dengan Wina.
"Gimana? kata Mama apa?"
Arga menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Sepatunya ada di rumah" cicitnya.
Nare mengernyit tak mengerti. "Di rumah sini? apa gimana?"
"Di rumah Mama" ucap Arga pelan.
Nare sudah menatap Arga sangat tajam. Bayangkan saja kamar yang sudah ia rapihkan, sampai koper yang semalem ia siapkan harus di bongkar lagi. Semua ini karna Arga.
"Sha, maaf" lirih Arga.
Tanpa sepatah kata pun Nare langsung keluar kamar melewati Arga begitu saja.
"Udah ketemu Re?" tanya Salsa.
Aidan yang merasa tertarik dengan topik saat ini ikut bertanya. "Apanya yang ketemu?"
"Itu tadi katanya sepatu Arga hilang" ujar Salsa.
"Bukan hilang tapi emang gak dibawa" ketus Nare.
"Eh sini Ar sarapan" ucap Salsa yang melihat Arga menuruni tangga.
Arga duduk di samping Nare, melirik Nare dan mulai memakan makanannya yang sudah di siapkan. Meskipun kesal Nare tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Ia tetap mengambilkan makanan untuk Arga.
•••
Selesai makan dan membantu ibunya membersihkan meja makan, Nare pamit kepada ibunya untuk Kembali ke kamar. Setelah Salsa mengizinkan, Nare langsung kembali ke kamar diikuti dengan Arga di belakangnya.
Nare berdecak kesal. "Ngapain sih ngikutin terus?!"
"Maaf Sha" sesal Arga.
Nare memutar bola matanya malas. "Makanya jangan gegabah jadi orang."
"Maaf, kita beresin bareng-bareng ya" bujuk Arga.
"Yaudah sana beresin, ngapain ngajak-ngajak" ketus Nare.
"Ya sama kamu dong, masa saya sendiri" elak Arga tak terima.
"Lah yang bikin jadi berantakan kayak gini siapa?" ucap Nare tak mau kalah.
"Ayo beresin bareng-bareng yaa, hm?" Bujuk Arga.
"Halah giliran lagi susah aja kayak gitu Lo ke gue" cibir Nare.
Arga menyentil pelan kening Nare. "Gak boleh ngelawan sama suami."
Akhirnya mereka membereskan kamar berdua dengan Nare yang kebanyakan memerintah Arga karena masih termakan dendam.