3 Hari kemudian.
Hari ini tepat pada hari pernikahan Arga dan Nare yang akan diselenggarakan di kediaman Nare. Di depan cermin, Nare terus-terusan memandangin dirinya yang sudah di rias dengan sangat cantik oleh MUA ternama.
Ceklek
Salsa memasuki kamar Nare dengan senyuman diwajahnya. "Cantik banget anak ibu" pujinya dengan mengusap kepala Nare.
Nare langsung berhambur ke pelukam sang ibu. "Maafin Nare ya bu, kalau selama ini Nare belum jadi anak yang baik."
Salsa mengusap-usap punggung anaknya. "Iyaa, kamu harus jadi istri yang baik, jangan ngelawan sama suami."
Nare mengangguk dalam dekapan Salsa, Air mata nya mulai turun membasahi pipi chubby nya.
Salsa yang menyadari putrinya menangis, langsung melepaskan pelukannya. "Eh kok nangis? jangan nangis atuh, makeupnya nanti luntur."
"Makeupnya waterproof" ucap Nare yang masih sesenggukan. Yang membuat Salsa tertawa kecil, sikap Nare yang seperti ini pasti akan sangat ia rindukan.
Tak lama Gita dan Yani datang ke kamar Nare. "Masya Allah manten cakep bener"
Gita menghampiri Nare dan langsung memeluk sahabatnya.
"Jadi istri yang baik" ucap Gita dengan mata berkaca-kaca.
Nare semakin tidak bisa menahan isakannya, seperti tidak rela meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Yani pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Gita.
"Jangan nangis ih, jelek ntar Lo" ucap Yani dengan nata berkaca-kaca.
“Ayo, kita liat siarannya Arga” ajak Salsa.
Nare mengangguk mengiyakan untuk melihat Arga mengucapkan janji suci dengan tangan yang menggenggam tangan Aidan dan mengucapkannya dengan lantang dan tegas dengan sekali tarikan nafas. Dilayar kaca tersebut terlihat Arga sedang menjabat tangan Aidan dan mengucapkan ijab qobul dengan lantang tanpa kesalahan sedikit pun.
"Saya terima nikahnya Naresha Agnia Chalondra binti Aidan Chalondra dengan seperangkat alat sholat dan emas 150 gram dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi? sah?"
"SAH"
Saat itulah air mata Nare, Salsa, Yani, Dan Gita luruh begitu saja. Nare yang tidak menyangka akan menjadi istri orang, Salsa yang harus melepaskan anak semata wayangnya, Gita dan Yani yang harus merelakan sahabatnya diambil orang.
Ceklek
Pintu terbuka dan menampakkan Wina yang tersenyum manis dengan mata berkaca-kaca menghampiri Nare yang kini sudah menjadi menantunya.
Tanpa banyak bicara Wina langsung memeluk Nare. "Ayo kebawah yuk. Udah ditungguin" Nare mengangguk mengiyakan kata mertuanya.
•••
Aidan menatap Arga dengan tatapan teduhnya. Diraihnya tubuh lelaki itu yang saat ini menjadi menantunya, dibawanya kedalam dekapannya. Dengan menepuk-nepuk punggung tegap Arga, Aidan mengatakan beberapa pesan untuk Arga.
"Jaga putri saya, saya pernah gagal dalam menjaganya. Jadi, kamu jangan sampai gagal." pesan Aidan.
"Jangan kamu sakiti fisik maupun hatinya. Jika kamu tidak mencintainya lagi beritahu saya jangan beritahu dia."
Arga mengangguk dan mendengarkan ucapan mertuanya. Dengan berjanji dalam hati untuk tidak menyakiti Nare.
"Pa" suara Nare membuat keduanya melepaskan pelukannya.
Arga mengalihkan pandangannya dan mulai menatap Nare tidak berkedip.Terpana oleh kecantikan gadis yang saat ini telah menjadi istrinya.
Aidan tersenyum dengan memeluk Nare. "Salim dulu sama suami kamu" perintahnya.
Nare mengulurkan tangannya begitupun dengan Arga. Nare yang mencium tangan Arga dengan air mata yang mengalir. Dan Arga mulai mengecup kening Nare cukup lama.
Kini acara sungkeman sedang berlangsung. Membuat para tamu dan sanak saudara tidak dapat menahan tangisannya.
Nare bersujud di depan Aidan. "Maafin Nare Pa, selama ini Nare banyak salah sama papa. Nare memohon ridho Papa untuk melepas Nare berumah tangga Pa."
Aidan tidak bisa menahan tangisnya. "Pasti. Doa papa mengalir terus buat Nare. Anak papa sudah besar, jadi istri yang baik ya nak"
Nare beralih bersujud di depan ibunya, serta mama mertuanya. Begitupula dengan Arga. Tak lupa para orang tua mereka yang memberi pesan dan wejangan.
•••
Setelah acara sungkeman selesai kini dilanjut acara repsesi. Banyak sekali tamu yang datang, terutama rekan bisnis Arga dan Aidan yang mendominasi.
"Lama banget" keluh Nare pelan.
Arga melirik sekilas istrinya yang kelelahan. "Duduk aja."
Baru hendak mendudukan dirinya di bangku pelaminan, teman-teman Arga datang.
"Pupus sudah" gerutu Nare.
Arga terkekeh pelan melihat raut wajah kesal yang ditunjukkan Nare.
"Wihh udah nyusul aja nih Pak bos" ucap Tio, teman sekaligus orang kepercayaannya yang ia percayakan untuk mengurus Cafe miliknya.
Arga berdecak malas menghadapi temannya yang satu ini. Tidak hanya Tio yang meledeknya tetapi semua temannya sejak SMA dulu.
Setelah teman Arga pergi Nare langsung mendudukkan dirinya di bangku. "Banyak banget ya temen pak Arga."
Arga melirik Nare sekilas. "Iya-lah emang temen kamu" cibirnya.
"Dih gaya banget jamal" sinis Nare.
"Kan emang bener" ledek Arga.
Nare mendelis sinis. "Temen saya datengnya nanti malam."
"Kuntilanak maksud kamu?" sarkas Arga.
Baru hendak protes tapi kedatangan Yani membuat Nare membungkam mulutnya kembali.
"Ayo ganti baju dulu, Re" ajak Yani.
"Mari pak" Yani tetap bersikap sopan kepada atasannya.
Nare menatap sinis Arga. "Awas aja lo" ucapnya tanpa suara.
•••
Setelah acara selesai kini Nare berada di kamarnya dengan keadaan terlentang di atas kasur. Setelah mandi tadi ia langsung mengganti bajunya dengan piyama miliknya. Sedangkan Arga masih berada di luar bersama Aidan dan kerabatnya yang lain. Nare merubah posisinya menjadi duduk dengan menghela nafas kasar.
"Ck, lama banget sih tu orang. Gue tidur duluan dosa gak ya?" ucapnya bermonolog.
Ceklek
"Baru di omongin" gumam Nare pelan saat melihat Arga masuk dengan pakaian yang berbeda.
Perasaan tadi belom masuk kamar, terus dia ganti baju dimana?. Batin Nare
"Bapak udah mandi?" tanya Nare.
"Udah tadi di kamar tamu" jawab Arga yang mulai mendudukkan dirinya di ranjang milik Nare.
Nare merebahkan dirinya ke kasur memunggungi Arga. "Saya tidur ya pak ngantuk nih, bapak terserah mau tidur dimana"
"Hmm"
Arga yang sedang mengecek email di handphone nya tersentak pelan saat Nare membalikkan badannya.
Dilihatnya wajah Nare yang menggemaskan.
"Cantik" gumam Arga tanpa sadar.
Karena merasa lelah Arga ikut membaringkan tubuhnya dan menuju alam mimpi.
•••
Sinar matahari menembus dari jendela kamar Nare yang membuat sang empu menggeliat dalam tidurnya. Nare mulai membuka matanya saat merasakan tempat tidurnya mendadak terasa sempit
Betapa terkejutnya ia saat menoleh kebelakang. "Astagfirullah bapak ngapain disini?" pekik Nare.
"Oh iya kan udah jadi laki gue" gumamnya setelah sadar.
"Makan lapak banget anjir" gerutu Nare saat menyadari dirinya hanya kebagian sedikit lapak untuk tidur.
"Pak, bangun saya susah gerak nih"
Bukannya membuka mata Arga malah mengeratkan pelukannya. "Saya masih ngantuk" gumamnya.
"Yaudah ini lepas duluu" rengek Nare.
"Tidur lagi aja"
Nare membelalakkan matanya saat melihat jam sudah jam 8:30
Gila aja tidurnya jam segini, pikirnya.
"Udah jam setengah sembilan pak" ucap Nare kesal
Arga langsung membuka matanya dan melepaskan pelukannya.
"Kamu kok gak bangunin saya?"
Nare mencebikkan bibirnya kesal. "Lo-nya aja yang b***k” gumam Nare.
Tanpa menghiraukan Arga, Nare berjalan ke kamar mandi, tak lupa membawa pakaiannya.
Setelah mandi Nare melihat Arga yang tidur lagi. "Ck, pak bangun heh!"
"Hmm"
Karena kesal, Nare melempar handuknya yang habis ia pakai ke arah wajah Arga. "Sono mandi buruan."
Arga menatap sinis Nare. "Saya mau handuk baru"
"Di lemari, ambil aja"
Arga langsung membuka lemari Nare. Tapi yang dilihatnya bukan handuk melainkan pakaian dalam Nare.
"Sebelah mana Sha?" ucapnya menyembunyikan rasa gugupnya
"Kiri atas" ucap Nare yang sedang memakai rangkaian skincare nya.
Arga langsung menutup lemari yang ia salah buka tadi, sebelum khilaf.
"Kamu turun duluan atau nunggu saya?" tanya Arga.
"Saya tunggu aja."
Sambil menunggu Arga selesai mandi Nare memainkan ponselnya. Begitu banyak notif i********: yang mention dirinya di IG story teman-teman nya.
"SHA" teriak Arga dari kamar mandi
"IYAA"
"AMBILIN BAJU DI KOPER, YANG WARNA HITAM"
"GAUSAH TERIAK PAK SAYA GA b***k"
Di dalam kamar mandi Arga menggerutu kesal. "Padahal dia juga teriak"
Tok... tok..tok...
"BUKA DULU, INI BAJUNYA" teriak Nare.
Arga membuka sedikit pintu dan mengulurkan tangannya. "Makasih"
Setelah mandi Arga menghampiri Nare yang sedang memainkan ponselnya.
"Eh udahan, ayo kebawah" ajak Nare setelah menyadari Arga telah selesai.
Mereka berjalan beriringan menuruni tangga.
"Duh pengantin baru kesiangan yaa" goda Salsa dengan mengerlingkan matanya.
"Makan dulu Re" suruh Aidan.
"Iyaa ini mau makan"
Salsa mengkode Nare untuk mengajak Arga. Tapi karena Nare tidak peka, ia menghiraukan kode dari Salsa dan fokus mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Ajak dulu kali suaminya" sindir Salsa.
Nare menepuk keningnya pelan. "Ohh iya lupa, ayo Pak kita makan"
"Kok masih panggil Pak, Re?" tanya Wina heran.
"Pak suami maksudnya ma" ucap Nare dengan cengirannya.
Salsa, Aidan, dan Wina yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Bapak mau pake apa?" tanya Nare pada Arga yang duduk di sebelahnya.
Arga menunjuk ayam dan sayur sop dengan dagunya.
Dengan cekatan Nare mengambilkan makanan untuk Arga dan menyerahkannya piring yang sudah berisi nasih serta lauk pauk yang Arga inginkan kepada sang empunya.
"Makasih" ucap Arga. Nare mengangguk dengan tersenyum simpul.
Mereka makan dengan khidmat, hanya ada suara sendok yang berdentingan.
•••
Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk duduk bergabung bersama para orang tua di ruang keluarga. Nare duduk diantara Arga dan Aidan dengan cemilan di pangkuannya.
"Gimana semalem, Re?" tanya Salsa yang menggoda anaknya.
"Tidur" jawab Nare dengan polosnya.
Salsa berdecak kesal mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Kamu tuh sebenernya ngerti gak sih?" tanya Salsa.
Nare menggeleng. "Ibu gak pernah ngajarin sih" jawabnya.
Jawaban Nare membuat orang yang berada disana tertawa, termasuk Arga.
"Makanya diajarin dong Sal" ledek Wina yang masih belum bisa meredakan tawanya.
"Udah-udah kasihan Nare tertekan, nanti kena mental" lerai Aidan.
Nare yang kesal lantaran diledek terus-menerus pun memukul pelan lengan Aidan.
"Loh?, kok ayah dipukul Re?" tanya Aidan bingung.
Nare mencebik. "Lagian ayah ngeselin" ucapnya.
"Udah" tegur Arga.
Nare tambah mencebikkan bibirnya kesal karena Arga yang tak membelanya. Dengan menghela nafas kasar, akhirnya Nare memutuskan untuk diam sambil memainkan ponselnya. Nare memutuskan untuk mengepost poto pernikahan nya di sosial media, banyak sekali yang menyukai serta berkomentar mengucapkan selamat.
Karena Nare adalah orang yang baik dan tidak sombong, Nare membalas komentar teman-temannya. Namun karena saking banyaknya komentar, Nare hanya membiarkannya saja dan mengaminkan dalam hati.
"Mau ikut gak?" tanya Arga yang membuat Nare mengalihkan perhatiannya.
"Kemana?"
"Beli makan buat nanti siang, Ibu sama Mama gak masak" kata Arga.
"Ikut deh"
"Ayo buruan, gak usah ganti baju" ucap Arga.
Nare berdecak kesal namun tak urung mengikuti langkah Arga.